Pengantar
Hadits ini merupakan salah satu hadits paling berharga dalam pembinaan akhlak dan zuhdiyyah (asketisme Islami). Diceritakan dari Abdullah bin Umar, salah satu sahabat termulia yang dikenal dengan ketakwaannya yang mendalam. Rasulullah ﷺ memberikan nasihat langsung dengan cara yang penuh kesungguhan—dengan memegang kedua bahuku—menunjukkan pentingnya pesan ini. Pesan ini menyangkut perubahan paradigma dalam memandang kehidupan dunia dan persiapan untuk akhirat.Kosa Kata
غَرِيبٌ (Gharib): Orang asing; seseorang yang jauh dari kampung halamannya dan tidak memiliki hubungan kuat dengan tempat tersebut.عَابِرُ سَبِيلٍ (Abiru Sabīl): Pejalan kalan; seseorang yang melalui jalan dengan maksud meninggalkan tempat tersebut dengan cepat, tidak bermaksud tinggal lama.
مَنْكِبِي (Mankibay): Bahuku; ini adalah bentuk dual (dua bahuku), menunjukkan tindakan fisik yang langsung dan personal dari Rasulullah ﷺ.
الزُّهْدُ (Az-Zuhd): Zuhdiyyah atau asketisme Islami; tidak menyenangi hal-hal yang berlebihan dan tidak perlu dalam dunia.
الْوَرَعُ (Al-Wara'): Kehati-hatian dan takwa; menghindari hal-hal yang meragukan dan mencari yang jelas dalam agama.
Kandungan Hukum
Hadits ini mengandung hukum-hukum yang penting:1. Sunnah untuk hidup sederhana dan tidak berlebihan: Kehidupan di dunia seharusnya tidak menjadi tujuan utama, melainkan hanya sebagai sarana menuju akhirat.
2. Wajib mempersiapkan diri untuk akhirat: Setiap pribadi memiliki tanggung jawab untuk selalu mengingat kematian dan mempersiapkan amal untuk hari pembalasan.
3. Tidak haram memiliki harta dan kemewahan yang wajar: Hadits ini bukan perintah untuk meninggalkan dunia sama sekali, tetapi peringatan untuk tidak terlena dengannya.
4. Memanfaatkan kesempatan dan waktu dengan baik: Hadits mengajarkan agar tidak menunda-nunda taubat dan amal shalih.
Pandangan 4 Madzhab
Hanafi:
Madzhab Hanafi memahami hadits ini sebagai nasihat etis dan moral tentang pentingnya zuhdiyyah. Mereka melihat bahwa kehidupan dunia adalah sarana, bukan tujuan. Imam Abu Hanifah sendiri sangat terkenal dengan ketakwaannya meskipun hidup dalam kemewahan material. Madzhab ini tidak menganggap memiliki harta sebagai penghalang kesempurnaan agama, namun hati harus tetap tidak terikat padanya. Mereka mengutamakan niat dan keikhlasan dalam setiap amal. Dalil mereka adalah firman Allah: "Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha untuk itu dengan sepenuh sungguh-sungguh sedang dia adalah mukmin, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik" (Al-Isra': 19).
Maliki:
Madzhab Maliki menekankan pentingnya kontrol diri dan moderasi dalam kehidupan. Mereka setuju bahwa zuhdiyyah bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi mengatur prioritas dengan benar. Malik bin Anas sendiri adalah salah satu ilmuwan terkaya pada zamannya namun tetap menjadi contoh kesederhanaan hati. Madzhab ini melihat hadits ini sebagai peringatan untuk menjaga hati tetap fokus pada Allah. Mereka juga menekankan kewajiban merawat tubuh sebagai amanah Allah, sehingga kesehatan harus dijaga. Dalilnya dari praktik amal Madinah yang menunjukkan para sahabat menjalani kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat.
Syafi'i:
Madzhab Syafi'i memahami hadits ini dalam konteks psikologi spiritual. Mereka mengatakan bahwa memperlakukan dunia seperti perjalanan sementara akan mengubah cara pandang terhadap kesulitan dunia. Imam Syafi'i yang hidup dalam kemiskinan namun kaya dalam ilmu adalah contoh nyata dari pemahaman ini. Mereka menganggap hadits ini sebagai obat hati dari penyakit cinta dunia yang berlebihan. Zuhdiyyah menurut mereka adalah ketenangan jiwa dari ketergantungan pada dunia material. Dalilnya adalah hadits tentang hati yang tenang ketika mengingat Allah dan meninggalkan harta dunia sebagai persediaan.
Hanbali:
Madzhab Hanbali, yang dikenal dengan ketatnya dalam menjaga tradisi hadits, melihat hadits ini sebagai perintah praktis yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menekankan bahwa nasihat Rasulullah ﷺ adalah perintah yang harus dipatuhi. Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, dari madzhab Hanbali, banyak menulis tentang pentingnya mengikuti sunnah Rasulullah dalam kesederhanaan hidup. Mereka tidak melihat ada pertentangan antara memiliki harta dan menjadi zuhud, namun hati harus selalu siap meninggalkan segala sesuatu untuk Allah. Dalilnya adalah perintah Rasulullah ﷺ yang langsung ini sebagai bentuk pendidikan langsung kepada sahabat.
Hikmah & Pelajaran
1. Memahami Hakikat Dunia: Dunia ini adalah kehidupan sementara yang akan berakhir. Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali amal shalih. Dengan memandang dunia sebagai perjalanan sementara, kita akan lebih bijak dalam menggunakan waktu dan harta kita. Setiap saat yang terlewat tidak akan kembali, dan setiap kesempatan untuk berbuat baik harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
2. Pentingnya Persiapan untuk Akhirat: Ketika kita memandang diri kita sebagai orang asing di dunia, secara otomatis kita akan menyiapkan bekal untuk perjalanan berikutnya, yaitu akhirat. Kematian bukan sesuatu yang jauh, tetapi bisa datang kapan saja. Oleh karena itu, setiap hari kita harus berkisah dengan diri sendiri tentang apa yang telah kita persiapkan untuk menghadap Allah. Amal-amal salih, seperti shalat, doa, berbuat baik kepada sesama, adalah bekal yang tidak akan hilang.
3. Menjaga Keseimbangan Antara Dunia dan Akhirat: Hadits ini bukan menganjurkan untuk tidak bekerja atau meninggalkan tanggung jawab dunia. Sebaliknya, kita harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun tidak membiarkan pekerjaan itu mengalihkan perhatian dari Allah dan akhirat. Nabi Muhammad ﷺ sendiri bekerja sebagai pedagang sebelum menerima wahyu, dan beliau juga mengorganisir pertanian dan perdagangan dalam komunitas Muslim. Keseimbangan ini adalah kunci kehidupan yang sejahtera.
4. Memanfaatkan Masa Kesehatan untuk Persiapan Penyakit dan Masa Hidup untuk Persiapan Kematian: Hadits mengajarkan untuk menggunakan momentum dan kesempatan yang ada sebelum sesuatu yang menimpa. Ketika sehat, kita harus rajin beribadah, berinteraksi dengan keluarga, dan membangun hubungan yang baik. Ketika hidup, kita harus mempersiapkan diri dengan amal-amal shalih agar saat kematian tiba, kita sudah siap. Ini adalah hikmah praktis yang bisa diimplementasikan setiap hari dalam kehidupan kita.