Dan dari Sahl bin Sa'd ra. berkata: "Datang seorang lelaki kepada Nabi Muhammad saw. kemudian berkata: Wahai Rasulullah! Tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang apabila aku mengerjakannya, Allah akan mencintaiku dan manusia akan mencintaiku. Beliau bersabda: Berzuhuklah dari dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan berzuhuklah dari apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu." Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan sanadnya adalah hasan.
Pengantar
Dua hadits ini merupakan wasiat dari Rasulullah ﷺ yang penuh dengan hikmah ilahiah, yang merangkum prinsip-prinsip akhlak mulia dan tingkah laku yang menyenangkan hati Allah dan hati manusia. Hadits pertama merupakan nasihat kepada Ibnu Abbas ketika ia masih muda, sedangkan hadits kedua adalah jawaban dari Nabi ﷺ atas pertanyaan seorang sahabat mengenai amal yang menciptakan cinta dari Allah dan manusia. Kedua hadits ini berfokus pada konsep zuhud (tidak lengkap kepada dunia) sebagai kunci kebahagiaan lahir dan batin.Kosa Kata
Ihfaz (احفظ): Peliharalah, jagalah, pertahankan; dalam konteks ini bermakna menjaga perintah-perintah dan batasan-batasan Allah.Tajidhu (تجده): Engkau akan mendapatkannya, menemukannya; menunjukkan bahwa penjagaan Allah adalah penjagaan yang nyata dan terasa.
Tujahaka (تجاهك): Di hadapanmu, di depanmu; menunjukkan kehadiran dan perlindungan Allah yang senantiasa bersama.
Zuhd (زهد): Tidak mementingkan, tidak ber-cita-cita, menjauhi; dalam fiqih bermakna meninggalkan sesuatu karena apa yang ada di sisi Allah lebih baik.
Dunya (دنيا): Kehidupan duniawi, kehidupan sekarang; segala sesuatu yang bersifat fana dan tidak kekal.
Al-Nas (الناس): Manusia; mereka yang hidup di sekitar kita dan berhubungan dengan kita.
Kandungan Hukum
Kedua hadits ini mengandung hukum-hukum penting:
1. Pelajaran Tawhid dan Ketergantungan kepada Allah: Peliharalah perintah-perintah Allah dengan sempurna akan menghasilkan perlindungan dari-Nya. Ini adalah aplikasi nyata dari tawhid rububiyyah (pengakuan atas rububiah Allah).
2. Ketentuan Balasan Amal Dunia: Zuhud terhadap dunia dan apa yang dimiliki manusia adalah amal yang menghasilkan cinta dari Allah dan manusia. Ini menunjukkan hukum sebab-akibat dalam syariat Islam.
3. Akhlak Mulia sebagai Sarana Cinta: Hadits kedua menunjukkan bahwa akhlak mulia (yang tercermin dalam sikap zuhud) adalah sarana untuk meraih cinta dari Allah dan manusia.
4. Prioritas dalam Permintaan dan Pertolongan: Hadits pertama mengajarkan bahwa semua kebutuhan harus dipasrahkan kepada Allah, bukan kepada makhluk lain.
Pandangan 4 Madzhab
Hanafi:
Madzhab Hanafi memandang hadits ini sebagai pengajaran tentang pentingnya menjaga perintah Allah dan melaksanakan kewajibannya. Zuhud menurut ulama Hanafiyyah bukan berarti meninggalkan dunia secara total, tetapi menggunakan dunia sebagai alat untuk mencapai akhirat. Imam Abu Hanifah dan muridnya seperti Abu Yusuf mengatakan bahwa zuhud yang sempurna adalah zuhud batin (tidak lengkap hati dengan dunia) sedangkan zuhud lahir (tidak menggunakan dunia) tidaklah wajib. Mereka menekankan bahwa seorang Muslim boleh bekerja dan mencari rezki, asalkan niatnya untuk ibadah kepada Allah. Dalil yang mereka gunakan adalah bahwa Nabi ﷺ sendiri melakukan perdagangan dan memiliki harta benda.
Maliki:
Madzhab Maliki mengutamakan praktik penduduk Madinah (amal Ahli Madinah) dalam memahami hadits. Mereka melihat bahwa zuhud yang dimaksud adalah zuhud dalam arti sedang (bukan ekstrem), karena Nabi ﷺ dan sahabatnya memiliki harta yang layak namun tidak boros. Imam Malik dalam Al-Muwaththa' menceritakan tentang praktik para sahabat yang seimbang dalam menggunakan dunia. Mereka juga menekankan bahwa mencintai Allah dan manusia adalah hasil dari akhlak yang baik, bukan hanya dari zuhud semata. Oleh karena itu, Malikiyyah menganjurkan praktik yang sesuai dengan kehidupan nyata masyarakat yang sehat.
Syafi'i:
Madzhab Syafi'i memiliki pemahaman yang seimbang tentang zuhud. Imam Syafi'i membedakan antara zuhud yang haram (meninggalkan tanggung jawab keluarga), zuhud yang makruh (berlebihan dalam zuhud), dan zuhud yang mustahabb (tidak lengkap hati meskipun memiliki harta). Beliau mengatakan bahwa zuhud dalam pandangan Syafi'iyyah adalah menjauhkan diri dari kemaksiatan dan mengutamakan akhirat, bukan harus hidup miskin. Beliau merujuk pada hadits yang menceritakan sahabat-sahabat kaya yang tetap mulia dan dicintai. Dalil ini digunakan untuk menunjukkan bahwa kekayaan bukan penghalang untuk mendapat cinta dari Allah.
Hanbali:
Madzhab Hanbali, yang diikuti oleh Imam Ahmad bin Hanbal, menekankan pentingnya mengikuti praktik Nabi ﷺ dan sahabatnya secara harfiah. Mereka memahami zuhud sebagai perbuatan yang mengurangi kelekatan hati kepada dunia. Imam Ahmad menganggap bahwa perlindungan Allah (hifz Allah) adalah penjagaan dalam arti luas, baik melindungi dari dosa maupun dari bencana dunia. Mereka percaya bahwa amal akan menghasilkan hasil yang nyata sesuai dengan janji Allah. Hanbali juga menekankan pentingnya niat dalam setiap amal, sehingga zuhud yang sejati adalah zuhud yang diikuti dengan niat yang ikhlas untuk Allah.
Hikmah & Pelajaran
1. Perlindungan Allah adalah Hasil dari Menjaga Perintah-Nya: Ketika seorang hamba berusaha menjaga batasan-batasan Allah dengan melaksanakan perintahnya dan menghindari larangan-larangannya, maka Allah akan melindunginya dari berbagai marabahaya, baik di dunia maupun di akhirat. Perlindungan ini bukan hanya spiritual tetapi juga praktis dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang menjaga Allah, ia akan merasakan bahwa Allah senantiasa hadir dan melindunginya di setiap langkah.
2. Kehadiran Allah yang Nyata dalam Kehidupan Seorang Mukmin: Frasa "Engkau akan mendapatkannya di hadapanmu" menunjukkan bahwa kepedulian Allah terhadap hamba-Nya bukan sekadar spiritual tetapi nyata dan terasa dalam kehidupan. Ketika seseorang menjaga Allah dengan hati yang tulus, ia akan merasakan rasa aman, ketenangan, dan bantuan dari Allah dalam setiap situasi. Ini bukan semata-mata tentang keajaiban supernatural, tetapi tentang bagaimana Allah membuka jalan dan mempermudah urusan bagi mereka yang menjaganya.
3. Zuhud adalah Kunci Cinta dari Allah dan Manusia: Hadits kedua mengajarkan bahwa zuhud (tidak lengkap kepada dunia) adalah akhlak mulia yang dicintai oleh Allah dan manusia. Ketika seseorang tidak tamak terhadap dunia, ia akan terhindar dari sifat-sifat buruk seperti iri hati, dengki, kecongkakan, dan keserakahan. Orang yang zuhud akan selalu rela memberikan kepada orang lain, murah hati, dan rendah diri. Sifat-sifat ini adalah yang paling disukai oleh Allah dan paling dicintai oleh manusia.
4. Pentingnya Pasrah dan Tawakkal kepada Allah: Hadits pertama menekankan bahwa semua harapan, permintaan, dan pertolongan harus ditujukan kepada Allah semata. Ini mengajarkan konsep tawakkal (pasrah kepada Allah) yang merupakan salah satu sendi penting dalam iman. Ketika seseorang meyakini bahwa hanya Allah yang dapat memberikan dan yang dapat merugikan, ia akan merasa tenang dan tidak akan disibukkan oleh kecemasan yang berlebihan. Tawakkal ini juga menghalangi seseorang dari meminta-minta kepada makhluk atau bergantung sepenuhnya kepada manusia lain.
5. Keseimbangan dalam Menggunakan Dunia: Kedua hadits ini mengajarkan bahwa dunia bukanlah musuh yang harus dihindari sepenuhnya, tetapi dunia adalah medan ujian dan tempat beramal. Yang diperlukan adalah keseimbangan, yaitu menggunakan dunia dengan tidak lengkap hati, tidak boros, dan tidak iri dengan milik orang lain. Seorang Muslim dapat bekerja, memiliki harta, dan menikmati dunia, tetapi semuanya dengan niat yang benar dan tidak melupakan Allah serta akhirat. Inilah zuhud yang praktis dan dapat dilakukan oleh semua orang, bukan hanya oleh para pertapa.
6. Akhlak Mulia Sebagai Investasi Jangka Panjang: Hadits ini menunjukkan bahwa akhlak mulia bukan hanya bernilai di akhirat, tetapi juga memberikan manfaat praktis di dunia. Orang yang memiliki akhlak mulia akan dicintai oleh orang-orang di sekitarnya, dipercaya, dan dihormati. Mereka akan mendapatkan teman-teman yang baik, dukungan dari masyarakat, dan peluang yang lebih baik dalam hidup. Ini adalah hukum alam yang Allah tetapkan: bahwa kebaikan akan menghasilkan kebaikan, baik dari Allah maupun dari manusia.