✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 154
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ اَلْمَوَاقِيتِ  ·  Hadits No. 154
👁 4
154- وَعَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ: { كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ يُصَلِّيَ اَلْعَصْرَ, ثُمَّ يَرْجِعُ أَحَدُنَا إِلَى رَحْلِهِ فِي أَقْصَى اَلْمَدِينَةِ وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ, وَكَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ مِنْ اَلْعِشَاءِ, وَكَانَ يَكْرَهُ اَلنَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا, وَكَانَ يَنْفَتِلُ مِنْ صَلَاةِ اَلْغَدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ اَلرَّجُلُ جَلِيسَهُ, وَيَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إِلَى اَلْمِائَةِ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .
📝 Terjemahan
Dari Abu Barzah Al-Aslami dia berkata: "Rasulullah ﷺ shalat Ashar, kemudian salah seorang dari kami kembali ke rumahnya di ujung kota Madinah dan matahari masih hidup (terang benderang). Beliau menyukai menunda waktu shalat Isya', beliau membenci tidur sebelumnya dan bercerita sesudahnya. Beliau selesai dari shalat Subuh pada waktu seorang laki-laki masih dapat mengenali teman duduknya, dan beliau membaca (Al-Quran) antara enam puluh hingga seratus ayat." Hadits sepakat (Muttafaq 'alaih) - Sahih Bukhari dan Muslim.
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Barzah Al-Aslami, sahabat mulia yang tinggal di Madinah. Hadits ini menjelaskan praktik-praktik Nabi Muhammad ﷺ dalam hal waktu shalat fardhu, khususnya shalat Ashar, Isya', dan Subuh. Hadits ini sangat penting karena memberikan gambaran konkret tentang bagaimana Nabi ﷺ mengamalkan dan mengatur waktu-waktu shalat dengan bijak sesuai dengan keadaan dan kondisi. Status hadits ini adalah Muttafaq 'alaih (disepakati oleh Bukhari dan Muslim), menjadikannya dari hadits yang paling autentik dalam Islam.

Kosa Kata

يُصَلِّيَ (yusalli): melaksanakan shalat يَرْجِعُ (yarji'): kembali الرَّحْل (ar-rahlu): rumah/tempat tinggal أَقْصَى (aqsa): ujung/paling jauh الشَّمْس حَيَّة (asy-syamsu hayyah): matahari masih terang/belum terbenam sepenuhnya يَسْتَحِبُّ (yastahibbu): menyukai/mengutamakan يُؤَخِّر (yu'akhkhir): menunda يَكْرَهُ (yakrahu): membenci/tidak menyukai يَنْفَتِل (yanfatilu): selesai/berakhir الغَدَاة (al-ghadah): Subuh جَلِيسه (jalisahu): teman duduk/teman dekat السِّتِّين (as-sittin): enam puluh المِائة (al-mi'ah): seratus

Kandungan Hukum

1. Waktu Shalat Ashar
Hadits ini menunjukkan bahwa shalat Ashar dimulai ketika matahari masih terang benderang, dan orang yang shalat bersama Nabi ﷺ masih memiliki waktu untuk perjalanan jauh pulang ke rumahnya di ujung Madinah dengan matahari masih tinggi. Ini menunjukkan bahwa shalat Ashar dikerjakan pada waktu yang sangat awal dari waktunya.

2. Kebijakan dalam Waktu Shalat
Nabi ﷺ mengamalkan shalat Ashar lebih awal dari waktunya yang akhir, memberikan fleksibilitas bagi jemaahnya untuk melakukan aktivitas lainnya. Ini menunjukkan bahwa walaupun shalat memiliki waktu-waktu yang ditentukan, ada ruang untuk memilih waktu yang tepat sesuai kebutuhan.

3. Shalat Isya' Ditunda
Nabi ﷺ menyukai menunda shalat Isya' dari awal waktunya. Hal ini bertujuan agar umat mengambil manfaat dari siang hari sepenuhnya dan tidak terburu-buru dalam beribadah.

4. Larangan Tidur Sebelum Isya'
Nabi ﷺ membenci tidur sebelum shalat Isya' untuk memastikan jemaahnya tidak melewatkan shalat tersebut dan tetap waspada dalam beribadah.

5. Larangan Membicarakan Hadits Setelah Isya'
Nabi ﷺ membenci berdiskusi dan bercerita setelah shalat Isya', tujuannya agar umat dapat istirahat yang cukup untuk beribadah subuh di pagi hari.

6. Waktu Subuh dan Tilawah
Shalat Subuh dikerjakan pada waktu ketika orang masih dapat mengenali teman dekatnya (pada saat fajar meningkat terang), dan beliau membaca Al-Quran sebanyak enam puluh hingga seratus ayat dalam shalat Subuh tersebut.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Imam Abu Hanifah dan muridnya mengatakan bahwa shalat Ashar waktunya dimulai ketika bayangan setiap benda sama dengan tinggi benda itu sendiri. Hadits Abu Barzah ini mengkonfirmasi bahwa pada waktu ini matahari masih terang dan orang masih memiliki waktu untuk aktivitas lain. Mereka membolehkan mengerjakan shalat Ashar di awal waktunya untuk mendapatkan manfaat optimal. Adapun tentang menunda Isya', madzhab Hanafi memandang ini sebagai sunnah karena ada hikmah dalam menundanya, tetapi tidak haram mengerjakan di awal waktunya jika ada alasan. Mereka juga setuju dengan larangan tidur sebelum Isya' dan berdiskusi setelah Isya' sebagai adab peribadatan. Tentang shalat Subuh, Hanafi mengatakan waktunya mulai dari fajar sadiq dan shalat Subuh dapat dibaca sepanjang surat atau bagian-bagian dari Al-Quran sesuai kemampuan.

Maliki:
Imam Malik menekankan bahwa shalat Ashar harus dikerjakan pada waktunya yang mulia yaitu ketika bayangan benda sama dengan tingginya. Beliau sangat peduli dengan keadilan dalam waktu shalat. Mengenai shalat Isya', Malik memandang menundanya sebagai yang lebih baik karena ada petunjuk dari hadits ini, namun tidak wajib. Malik juga menekankan pentingnya istirahat malam bagi kesehatan jasmani, sehingga larangan tidur sebelum Isya' dalam konteks pemeliharaan adat istirahat yang baik. Tentang pembacaan Al-Quran dalam Subuh, Malik memandang enam puluh hingga seratus ayat sebagai suatu ukuran yang baik, tetapi tidak menutup kemungkinan lebih atau kurang sesuai situasi. Madzhab Maliki juga mengutamakan keterjagaan dalam ibadah.

Syafi'i:
Imam Syafi'i memahami hadits ini dengan sangat detail. Beliau mengatakan bahwa shalat Ashar waktunya mulai ketika bayangan menjadi sama dengan tinggi benda itu, dan ini adalah waktu yang mulia untuk mengerjakan shalat. Praktik Nabi ﷺ dalam hadits ini menunjukkan hikmah pedagogi dalam memilih waktu shalat. Tentang Isya', Syafi'i melihat penundaan sebagai suatu yang sunnat dan lebih utama berdasarkan hadits Abu Barzah ini. Beliau mengatakan bahwa menunda Isya' sampai sepertiga malam adalah yang paling sempurna. Larangan tidur sebelum Isya' menurut Syafi'i adalah untuk menjaga agar seseorang dapat hadir dalam shalat berjamaah. Tentang shalat Subuh, Syafi'i setuju bahwa waktu Subuh adalah ketika fajar meningkat, dan bacaan dalam Subuh sebaiknya antara enam puluh hingga seratus ayat atau lebih sesuai keadaan.

Hanbali:
Imam Ahmad bin Hanbal sangat kuat dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ, dan hadits Abu Barzah ini menjadi dalil kuat baginya. Hanbali mengatakan bahwa shalat Ashar waktunya yang awal dan mulia adalah ketika bayangan sama dengan tinggi benda itu. Hanbali sangat mengutamakan menunda Isya' berdasarkan hadits ini dan menganggapnya sebagai sunnah yang penting. Larangan tidur sebelum Isya' menurut Hanbali adalah untuk memastikan jemaah dapat melaksanakan shalat Isya' secara khusyuk dan berjamaah. Hanbali juga setuju bahwa berdiskusi setelah Isya' seharusnya dihindari atau diminimalkan. Tentang shalat Subuh, Hanbali mengatakan waktu terbaiknya adalah ketika fajar meningkat terang benderang, dan bacaan Al-Quran sebanyak enam puluh hingga seratus ayat adalah ukuran yang baik dalam shalat Subuh, meskipun boleh lebih atau kurang.

Hikmah & Pelajaran

1. Kebijakan dalam Mengatur Waktu Shalat
Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya melaksanakan shalat pada waktunya, tetapi juga memilih waktu-waktu terbaik untuk mengajarkan kepada umatnya tentang kebijaksanaan dalam beribadah. Shalat Ashar dikerjakan di awal waktunya agar memberikan kesempatan bagi umat untuk melakukan aktivitas produktif lainnya. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan dengan Allah (vertikal), tetapi juga mengatur hubungan dengan kehidupan dunia (horizontal). Hikmah ini mengajarkan kita untuk selalu mencari keseimbangan antara ibadah dan aktivitas sehari-hari.

2. Pentingnya Istirahat dan Kesehatan Jiwa Raga
Larangan Nabi ﷺ untuk tidur sebelum Isya' dan berdiskusi setelah Isya' menunjukkan perhatian beliau terhadap kesehatan fisik dan mental umatnya. Dengan menunda Isya' dan kemudian langsung istirahat setelah melaksanakannya, umat akan mendapatkan waktu istirahat yang cukup untuk bangun di tengah malam untuk tahajjud dan subuh. Ini adalah pengajaran tentang pentingnya menjaga kesehatan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Hadits ini mengajarkan bahwa agama Islam adalah agama yang moderat dan memperhatikan kebutuhan makhluknya.

3. Kualitas dalam Ibadah Melalui Bacaan Al-Quran
Pembacaan Al-Quran sebanyak enam puluh hingga seratus ayat dalam shalat Subuh menunjukkan standar kualitas yang Nabi ﷺ ajarkan. Ini bukan sekadar memenuhi kewajiban shalat, tetapi meningkatkan kualitas ibadah melalui bacaan Al-Quran yang bermakna. Jumlah ini memungkinkan muballigh (orang yang mengingatkan) untuk menyampaikan pesan-pesan penting dari Al-Quran kepada jemaahnya. Hikmah ini mengajarkan bahwa dalam setiap ibadah, kita harus memperhatikan kualitas, bukan hanya kuantitas. Memahami makna ayat-ayat yang dibaca membuat shalat menjadi lebih bermakna dan berpengaruh pada perubahan akhlak.

4. Kepemimpinan Teladan dan Konsistensi
Hadits Abu Barzah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ secara konsisten melaksanakan praktik-praktik ibadah ini. Ini bukan perintah sekali jadi, tetapi adalah kebiasaan dan teladan yang berkelanjutan. Kepemimpinan sejati adalah melalui keteladanan dan konsistensi dalam melaksanakan apa yang diajarkan. Hikmah ini mengajarkan kepada para pemimpin agama dan masyarakat untuk menjadi teladan yang konsisten dalam menjalankan ajaran Islam. Umat akan lebih mudah mengikuti jika mereka melihat pemimpinnya terlebih dahulu melaksanakannya dengan konsisten dan sungguh-sungguh.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat