✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 194
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ اَلْأَذَانِ  ·  Hadits No. 194
Shahih 👁 4
194- وَلِمُسْلِمٍ: { عَنْ عُمَرَ فِي فَضْلِ اَلْقَوْلِ كَمَا يَقُولُ اَلْمُؤَذِّنُ كَلِمَةً كَلِمَةً, سِوَى اَلْحَيْعَلَتَيْنِ, فَيَقُولُ: "لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ" } .
📝 Terjemahan
Dari Umar (radhiallahu 'anhu) mengenai keutamaan mengucapkan kalimat-kalimat adzan sebagaimana diucapkan oleh muezzin, kalimat demi kalimat, kecuali dua kalimat 'hayya' (ajakan), maka dia mengucapkan: 'Lā hawla wa lā quwwata illā billāh' (Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah). [Riwayat Muslim dalam Shahihnya | Status: Shahih]
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari Umar ibn al-Khattab radhiallahu 'anhu, menjelaskan tentang keutamaan (fadhlilah) membaca kalimat-kalimat adzan dengan cara yang tepat sesuai dengan yang diucapkan oleh muezzin. Konteks hadits ini berkaitan dengan etika mendengarkan adzan dan respons yang tepat terhadap setiap kalimatnya. Hadits ini menunjukkan pentingnya memiliki metode khusus dalam merespons adzan, yaitu dengan mengikuti kalimatnya tetapi memberikan respons alternatif pada bagian tertentu yang dianggap lebih bermanfaat secara spiritual.

Kosa Kata

Fī fadhlil-qawli (في فضل القول): Mengenai keutamaan/keunggulan perkataan atau ucapan Kamā yaqūlu al-mu'azzin (كما يقول المؤذن): Sebagaimana diucapkan oleh muezzin/penyeru adzan Kalimatan kalimah (كلمة كلمة): Kalimat demi kalimat/satu per satu Al-Hayya'atayn (الحيعلتين): Dua kalimat 'hayya ala' yang berarti 'marilah ke' (dalam 'hayya alā al-salāh' dan 'hayya alā al-falāh') Qul (قول): Ucapan atau perkataan Lā hawla wa lā quwwata illā billāh: Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah

Kandungan Hukum

1. Hukum Mendengarkan Adzan
Hadits ini menunjukkan bahwa mendengarkan adzan adalah ibadah yang memiliki etika tersendiri. Orang yang mendengar adzan tidak hanya sekadar mendengarkan, tetapi dianjurkan untuk merespons dengan cara-cara tertentu yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.

2. Hukum Mengikuti Kalimat Adzan
Secara umum, sunnah mengikuti (al-istijābah) setiap kalimat yang diucapkan muezzin dengan mengucapkan kalimat yang sama. Hal ini menunjukkan hormat terhadap adzan dan penghormatan kepada kalimat-kalimat Allah.

3. Pengecualian pada Hayya Alayn
Hadits ini secara eksplisit memberikan pengecualian pada kalimat 'hayya alā al-salāh' dan 'hayya alā al-falāh'. Respons yang disunnahkan bukan mengikuti dengan kalimat yang sama, melainkan mengucapkan do'a atau kalimat lain yang lebih bermakna dan lebih dekat kepada Allah.

4. Keutamaan Mengucapkan Tawhīl (Pengakuan Ketiadaan Kekuatan)
Hadits ini menunjukkan bahwa mengucapkan 'lā hawla wa lā quwwata illā billāh' memiliki keutamaan khusus. Kalimat ini adalah pengakuan penuh atas ketergantungan kepada Allah dan kelemahan manusia tanpa pertolongan Allah.

5. Urgensi Memahami Makna Adzan
Hadits ini mengimplikasikan pentingnya memahami apa yang diucapkan dalam adzan dan merespons dengan penuh kesadaran, bukan hanya sekadar mendengarkan tanpa makna.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi menerima hadits ini dan memandang bahwa sunnah bagi penerima adzan (mustami') untuk mengikuti setiap kalimat yang diucapkan oleh muezzin. Namun, untuk kalimat 'hayya alā al-salāh' dan 'hayya alā al-falāh', imam Hanafi dan pengikutnya mengikuti riwayat Muslim ini dan memberikan pengecualian. Mereka mengucapkan 'lā hawla wa lā quwwata illā billāh' pada dua kalimat tersebut, karena dianggap lebih bermanfaat dan lebih dekat dengan makna tawhīd. Beberapa ahli Hanafi juga menyebutkan bahwa dapat pula mengikuti (ittibā'), dan pengikutan juga sunnah. Namun, yang lebih utama adalah respons khusus ini. Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya menjadikan hadits ini sebagai dasar bagi praktik ini.

Maliki:
Madzhab Maliki juga mengakui keutamaan dari hadits ini. Imam Malik dan para ahli Malikiyah menyetujui bahwa respons terhadap adzan adalah sunnah, dan pada kalimat 'hayya alā al-salāh' dan 'hayya alā al-falāh', mengucapkan 'lā hawla wa lā quwwata illā billāh' adalah yang lebih diutamakan. Namun, beberapa ahli Maliki juga memandang bahwa mengikuti semua kalimat adzan juga diperbolehkan sebagai alternatif (riwayah thāniyah). Mereka melihat bahwa hadits ini menunjukkan tingkat keutamaan, bukan keharaman untuk mengikuti kalimat tersebut.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i mengikuti hadits Muslim ini dengan kuat dan menjadikannya dasar dalam masalah ini. Imam Syafi'i menekankan bahwa mengikuti kalimat-kalimat adzan adalah sunnah, tetapi pada dua kalimat 'hayya', pengecualian yang diberikan dalam hadits ini merupakan tingkat kesunnahan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, yang paling utama adalah mengucapkan 'lā hawla wa lā quwwata illā billāh' pada kedua kalimat tersebut. Namun, madzhab Syafi'i juga menyebutkan bahwa ada yang berkata cukup diam (sambil mendengarkan) juga diperbolehkan, meskipun merespons lebih baik dari diam. Imam Nawawi dalam al-Majmu' menjelaskan dengan detail bahwa respons khusus ini adalah yang paling utama.

Hanbali:
Madzhab Hanbali, khususnya menurut pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal, juga mengikuti hadits ini dan menjadikannya sebagai acuan. Para ahli Hanbali meyakini bahwa sunnah bagi penerima adzan untuk mengikuti setiap kalimat yang diucapkan oleh muezzin. Pada kalimat 'hayya alā al-salāh' dan 'hayya alā al-falāh', mereka mengucapkan 'lā hawla wa lā quwwata illā billāh' mengikuti hadits ini. Beberapa ahli Hanbali, seperti Ibn Qudamah dalam al-Mughni, menjelaskan bahwa ini adalah praktik yang disunnahkan dan didukung oleh hadits shahih. Mereka juga menyebutkan bahwa terdapat fleksibilitas dalam hal ini, tetapi yang lebih utama adalah mengikuti apa yang telah ditunjukkan oleh Umar radhiallahu 'anhu.

Hikmah & Pelajaran

1. Pentingnya Kesadaran dan Perhatian dalam Ibadah: Hadits ini mengajarkan bahwa ibadah sejati bukan hanya gerakan atau suara yang mekanis, tetapi harus disertai dengan kesadaran, perhatian, dan pemahaman terhadap apa yang sedang dilakukan. Ketika mendengarkan adzan, kita harus memahami makna setiap kalimat dan merespons dengan penuh kesadaran.

2. Tawhīd adalah Inti Keislaman: Kalimat 'lā hawla wa lā quwwata illā billāh' yang direkomendasikan sebagai respons pada kalimat 'hayya' menunjukkan bahwa inti dari keislaman adalah pengakuan penuh atas ketergantungan kepada Allah. Dalam momen yang paling penting (saat adzan), umat Islam didorong untuk merenungkan ketidakberdayaan manusia dan kekuasaan mutlak Allah.

3. Kebijaksanaan dalam Syari'at: Hadits ini menunjukkan kebijaksanaan syari'at Islam yang memberikan respons khusus pada momen-momen tertentu. Bukan semua kalimat adzan direspons dengan cara yang sama, melainkan dengan pemahaman dan kesesuaian dengan konteks dan makna. Ini menunjukkan fleksibilitas dan kedalaman hukum Islam.

4. Sunnah Rasulullah sebagai Panduan Hidup: Hadits ini mengingatkan umat Muslim bahwa sunnah Rasulullah SAW bukanlah sekadar tradisi, tetapi merupakan panduan hidup yang mengandung hikah mendalam. Praktik-praktik kecil seperti merespons adzan dengan cara tertentu adalah bagian dari kehidupan spiritual yang sempurna yang digariskan oleh Nabi Muhammad SAW dan dicontohkan oleh para sahabat seperti Umar radhiallahu 'anhu.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat