✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 223
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ اَلْأَذَانِ  ·  Hadits No. 223
Shahih 👁 5
223- وَعَنْ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ , عَنْ أَبِيهِ قَالَ : { رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ يُصَلِّي , وَفِي صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ اَلْمِرْجَلِ , مِنْ اَلْبُكَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ , إِلَّا اِبْنَ مَاجَهْ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ .
📝 Terjemahan
Dari Mutharrif bin Abdullah bin Asy-Syakhkhir, dari ayahnya, ia berkata: "Aku melihat Rasulullah ﷺ sedang shalat, dan di dalam dadanya terdengar suara seperti suara periuk yang mendidih, karena menangis." Hadits ini diriwayatkan oleh lima perawi kecuali Ibn Majah, dan Ibn Hibban telah mentashihnya (Status: HASAN SHAHIH).
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini menggambarkan kondisi spiritual Rasulullah ﷺ saat melaksanakan salah satu dari lima tiang islam, yaitu shalat. Meskipun teks ini ada dalam kitab shalat (Kitab ash-Shalah), namun fokus utamanya adalah menunjukkan kekhusyuan dan ikhlash Rasulullah dalam mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa menangis dalam shalat adalah tanda kekhusyuan dan takwa, bukan suatu cacat atau aib. Abdullah bin Asy-Syakhkhir adalah sahabat mulia yang menyaksikan langsung kondisi ini, dan putranya Mutharrif meriwayatkannya dengan sempurna.

Kosa Kata

Mutharrif bin Abdullah (مُطَرِّفُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ): Adalah perawi hadits terkemuka, putra Abdullah bin Asy-Syakhkhir yang juga merupakan sahabat Rasulullah ﷺ.

Asy-Syakhkhir (الشِّخِّيرُ): Nama kunyah/gelar dari Abdullah, salah seorang sahabat mulia.

Yushalli (يُصَلِّي): Dari fi'il madhi "shalla" yang berarti melaksanakan shalat dengan sempurna dan khusyuk.

Aziz (أَزِيزٌ): Suara yang berdengung, berguncang, atau bergemuruh. Dalam konteks hadits, adalah suara tangisan Rasulullah yang terdengar dari dalam dada.

Mirjal (مِرْجَلٌ): Sebuah bejana atau periuk besar untuk memasak yang sering mengeluarkan suara gemeretak saat mendidih.

Min al-Buka' (مِنَ الْبُكَاءِ): Dari menangis. Ini menunjukkan bahwa tangisan Rasulullah adalah karena ketakwaan dan kekhusyuan dalam shalat.

Al-Khamsah (الْخَمْسَةُ): Lima perawi, yaitu Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibn Majah, dan Ahmad. Dalam hal ini, kecuali Ibn Majah.

Kandungan Hukum

1. Kesunahan Menangis dalam Shalat
Hadits ini menunjukkan bahwa menangis dalam shalat adalah hal yang sunnah dan termasuk bentuk kekhusyuan. Rasulullah ﷺ sendiri melakukannya, dan ini adalah tamsilan tertinggi untuk umatnya. Umat hendaknya berusaha mencapai tingkat kekhusyuan seperti ini.

2. Kekhusyuan Sebagai Inti Shalat
Menangis dalam shalat adalah manifestasi dari kekhusyuan hati (khusyu') yang menjadi salah satu pilar utama dalam menjalankan shalat yang sempurna. Alquran menyebutkan dalam Surah Al-Mukminun ayat 1-2 bahwa kaum mukmin adalah mereka yang khusyuk dalam shalatnya.

3. Tidak Ada Cacat dalam Menunjukkan Emosi Spiritual
Hadits ini menafikan anggapan bahwa menunjukkan emosi dalam ibadah adalah tanda kelemahan atau ketidakyakinan. Sebaliknya, ini adalah tanda kecintaan kepada Allah dan kesadaran penuh akan kehidupan akhirat.

4. Berlaku Umum untuk Seluruh Umat
Perbuatan Rasulullah dalam hal ibadah adalah uswa hasanah (teladan terbaik) yang berlaku untuk seluruh umatnya. Oleh karena itu, setiap Muslim dianjurkan untuk berusaha mencapai tingkat kekhusyuan ini.

5. Motivasi Takwa dan Takut kepada Allah
Menangis dalam shalat adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa takut kepada Allah dan kesadaran akan kekuasaan-Nya yang mutlak.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi memandang menangis dalam shalat sebagai tanda kekhusyuan yang dianjurkan. Imam Abu Hanifah dan pengikutnya berpendapat bahwa menangis karena takut kepada Allah adalah bagian dari kekhusyuan hati yang sempurna. Hadits tentang Rasulullah menangis dijadikan dalil untuk mendorong kekhusyuan dalam shalat. Mereka tidak menganggap menangis sebagai sesuatu yang membatalkan shalat atau merusak keabsahan shalat, namun sebaliknya menganggapnya sebagai peningkat kualitas ibadah. Abu Yusuf dan Muhammad al-Qadi (murid-murid Imam Abu Hanifah) juga menekankan pentingnya khusyu' dalam shalat, dan menangis adalah perwujudan dari khusyu' tersebut.

Maliki:
Madzhab Maliki sangat mengapresiasi hadits ini dan menjadikannya sebagai dalil kuat untuk anjuran menangis dalam shalat. Imam Malik sendiri diketahui sebagai seorang yang sering menangis dalam shalatnya. Beliau menekankan bahwa menangis karena ketakutan kepada Allah dan cinta kepada-Nya adalah bentuk tertinggi dari kekhusyuan. Maliki berpendapat bahwa ini bukan hanya sunnah tetapi juga merupakan akhlak mulia yang harus dikembangkan oleh setiap Muslim. Mereka juga menerima hadits ini dengan baik dan menjadikannya sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas spiritual dalam ibadah.

Syafi'i:
Imam Asy-Syafi'i menerima hadits ini dan menggunakannya sebagai bukti kesunahan menangis dalam shalat. Beliau berpendapat bahwa menangis adalah tanda kekhusyuan hati dan takwa kepada Allah. Madzhab Syafi'i menekankan bahwa khusyu' adalah tujuan utama shalat, dan menangis adalah salah satu wujud nyata dari khusyu' tersebut. Oleh karena itu, menangis dalam shalat tidak hanya diperbolehkan tetapi juga dianjurkan asalkan tidak mengganggu kesempurnaan gerakan shalat itu sendiri. An-Nawawi sebagai salah satu mufassir hadits dari madzhab Syafi'i menjelaskan bahwa suara tangisan yang terdengar dari dada Rasulullah adalah tanda keindahan akhlaknya dan kedalaman takwanya.

Hanbali:
Madzhab Hanbali juga menerima hadits ini dengan baik dan menjadikannya sebagai dalil untuk kesunahan menangis dalam shalat. Imam Ahmad bin Hanbal sendiri merupakan seorang yang sering menangis dalam ibadahnya, dan beliau melihat ini sebagai konsekuensi alami dari pemahaman mendalam tentang kebesaran Allah. Mereka berpendapat bahwa menangis karena takut kepada Allah adalah amal yang mulia dan dianjurkan. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, salah seorang tokoh penting madzhab Hanbali, menerangkan secara mendalam tentang manfaat dan hikmah menangis dalam shalat, termasuk pembersihan jiwa dari keangkuhan dan kesombongan.

Hikmah & Pelajaran

1. Kekhusyuan Adalah Inti Shalat: Shalat yang sebenarnya bukan hanya gerakan fisik, tetapi kehadiran hati yang total di hadapan Allah. Menangis adalah bukti nyata bahwa hati kita hadir dan merasakan kebesaran Allah. Kita harus berusaha mencapai tingkat kekhusyuan ini dalam setiap shalat, mulai dari takbir sampai salam.

2. Takwa Tidak Mengenal Batasan Sosial: Rasulullah ﷺ adalah pemimpin, nabi, dan teladan umat, namun beliau tidak malu untuk menangis karena takut kepada Allah. Ini mengajarkan kita bahwa takwa dan cinta kepada Allah harus menjadi prioritas utama, lebih tinggi dari gengsi atau image sosial apapun.

3. Tangisan Spiritual Adalah Obat Jiwa: Menangis karena takut kepada Allah membersihkan jiwa dari dosa, membuka hati untuk hidayah, dan memperkuat hubungan dengan Pencipta. Hadits ini mengajak kita untuk mengeluarkan cairan mata sebagai ungkapan cinta dan takwa kepada Allah.

4. Keteladanan Tertinggi dari Rasulullah: Setiap tindakan Rasulullah adalah uswa hasanah yang harus ditiru. Jika Rasulullah menangis dalam shalat, maka ini adalah isyarat kuat kepada kita bahwa menangis dalam shalat adalah amal yang mulia dan diharapkan untuk ditiru sesuai dengan kemampuan dan kondisi spiritualitas masing-masing individu.

5. Kedalaman Ibadah Lebih Penting dari Formalitas: Hadits ini menunjukkan bahwa ibadah yang sempurna bukan hanya tentang gerakan yang benar dan pengucapan yang tepat, tetapi juga tentang kehadiran jiwa dan kekhusyuan hati. Seorang Muslim harus selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas ibadahnya dari segi batiniah, bukan hanya zahir.

6. Memahami Kebesaran Allah Membawa Rasa Terharu: Ketika hati benar-benar memahami kebesaran Allah, kasih sayangnya, dan pertanggungjawabannya di hari kemudian, maka secara alami akan timbul perasaan terharu yang mengalirkan air mata. Ini adalah kondisi spiritual yang sehat dan menunjukkan kehidupan hati yang sempurna.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat