✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 273
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ صِفَةِ اَلصَّلَاةِ  ·  Hadits No. 273
Shahih 👁 5
273- وَنَحْوُهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعًا عِنْدَ اَلْخَمْسَةِ . وَفِيهِ : وَكَانَ يَقُولُ بَعْدَ اَلتَّكْبِيرِ : { أَعُوذُ بِاَللَّهِ اَلسَّمِيعِ اَلْعَلِيمِ مِنَ اَلشَّيْطَانِ اَلرَّجِيمِ , مِنْ هَمْزِهِ , وَنَفْخِهِ , وَنَفْثِهِ }
📝 Terjemahan
Dari Abu Sa'id al-Khudri secara marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ) diriwayatkan oleh lima imam hadits (Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i, dan Ibnu Majah). Dan di dalamnya disebutkan: 'Dan beliau (Nabi ﷺ) berkata setelah takbir: "Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari bisikan jahatnya, dari tiupannya, dan dari isingannya."' (Hadits Hasan Shahih)
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini berkenaan dengan sifat-sifat takbir ihram dan bacaan perlindungan yang dilakukan Nabi Muhammad ﷺ setelah takbir pembukaan salat. Hadits ini termasuk dalam bagian penting tentang kesempurnaan cara melaksanakan salat sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ. Abu Sa'id al-Khudri adalah sahabat mulia yang banyak meriwayatkan hadits tentang sifat salat. Hadits ini diriwayatkan oleh kelima imam hadits utama, menunjukkan kekuatan dan kredibilitas perawinya. Bacaan ta'awwuz (perlindungan diri dari setan) setelah takbir menunjukkan pentingnya persiapan spiritual sebelum memasuki dialog langsung dengan Allah dalam salat.

Kosa Kata

At-Takbir (التكبير): Pengucapan "Allahuakbar" (Allah lebih besar), merupakan tanda permulaan salat dan merupakan amalan yang wajib hukumnya sebagai bagian integral dari syarat sah salat.

At-Ta'awwuz (التعوذ): Pencarian perlindungan atau berlindung, dalam konteks ini adalah berlindung kepada Allah dari gangguan setan.

As-Samî' (السميع): Yang Maha Mendengar, sifat Allah yang menunjukkan kesempurnaannya dalam mendengarkan semua ucapan, doa, dan keluhan.

Al-'Alîm (العليم): Yang Maha Mengetahui, sifat Allah yang mencakup pengetahuan tentang semua hal yang tersembunyi maupun yang tampak.

Ash-Syaythân ar-Rajîm (الشيطان الرجيم): Setan yang terkutuk, iblis yang dikutuk oleh Allah dan dijauhkan dari rahmatnya.

Al-Hamz (الهمز): Bisikan jahat, godaan halus yang ditanamkan setan ke dalam hati untuk memudahkan perbuatan dosa.

An-Nafakh (النفخ): Tiupan, kiasan untuk sifat-sifat jahat yang diprovokasikan setan dengan cara yang eksplosif atau mendadak.

An-Nafth (النفث): Isingan/semburan, yang merujuk kepada bisikan halus dan berbisik-bisikan setan yang mempengaruhi pikiran manusia.

Kandungan Hukum

1. Hukum Ta'awwuz (Perlindungan Diri) Setelah Takbir

Hadits ini menunjukkan bahwa ta'awwuz setelah takbir ihram adalah sunnah muakkadah (sunah yang sangat dianjurkan) berdasarkan praktik Nabi ﷺ yang konsisten. Hadits menyebutkan "kana yaqul" (beliau biasa mengatakan), menunjukkan perbuatan yang berulang-ulang.

2. Lafal Spesifik Ta'awwuz

Nabi ﷺ menggunakan formulasi khusus: "A'udzu billaahi as-samî' al-'alîm min ash-syaythân ar-rajîm..." Penggunaan nama-nama Allah as-Samî' (Maha Mendengar) dan al-'Alîm (Maha Mengetahui) menunjukkan pentingnya memahami sifat-sifat Allah ketika berlindung kepadanya.

3. Jenis-Jenis Gangguan Setan yang Diminta Perlindungan

Hadits menyebutkan tiga kategori gangguan setan: - Al-Hamz: godaan internal melalui bisikan halus - An-Nafakh: godaan yang bersifat meledak-ledak atau tibatiba - An-Nafth: isingan yang sistematis dan berkelanjutan

Ini menunjukkan bahwa perlindungan harus mencakup semua bentuk godaan setan.

4. Waktu Dilaksanakannya Ta'awwuz

Ta'awwuz dilaksanakan setelah takbir ihram dan sebelum membaca Basmalah dan Fatihah. Ini menunjukkan urutan yang tepat dalam melaksanakan salat menurut sunah.

5. Status Tawaqqul (Bergantung pada Allah)

Dilakukan ta'awwuz merupakan bentuk tawaqqul dan pengakuan ketergantungan hamba kepada Allah dari semua keburukan, terutama godaan setan.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi berpendapat bahwa ta'awwuz setelah takbir adalah sunnah (dianjurkan), bukan wajib. Hal ini dinyatakan dalam kitab ad-Durru al-Mukhtar karya Al-Haskafi dan syarahnya Raddu al-Muhtar karya Ibnu Abidin. Menurut mereka, ta'awwuz dapat dilakukan dengan lafal apapun yang mempunyai makna perlindungan dari setan. Namun, mengikuti sunah Nabi ﷺ dengan lafal yang sama adalah afdhal (lebih baik). Mereka membolehkan ta'awwuz dilakukan dengan samar-samar (tidak dengan suara keras) atau bahkan dalam hati. Imam Abu Hanifah lebih suka tidak membaca ta'awwuz dengan suara keras, tetapi membacanya dalam hati saja agar tidak mengganggu khusyu' salat.

Maliki:
Madzhab Maliki menganggap ta'awwuz adalah sunnah muakkadah (sunah yang amat dianjurkan) berdasarkan keseksamaan praktik Nabi ﷺ. Dalam kitab Al-Mudawwanah karya Sahnun dan Al-Ashliyah karya Al-Qadi Abd al-Wahab, mereka menekankan pentingnya membaca ta'awwuz dengan jelas agar niat perlindungan betul-betul terekspresikan. Ulama Maliki, khususnya Al-Qadi 'Iyad, memandang bahwa ta'awwuz merupakan bagian dari persiapan rohani untuk hadirnya di hadapan Allah. Mereka menyetujui penggunaan lafal-lafal lain selain yang disebutkan hadits, tetapi tetap mempertahankan makna dan substansi yang sama.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i menganggap ta'awwuz adalah sunnah muakkadah yang harus dilakukan setelah takbir dan sebelum membaca Basmalah. Imam Syafi'i sendiri dalam Al-Umm menekankan pentingnya ta'awwuz sebagai bagian integral dari salat yang sempurna. Ulama Syafi'i seperti An-Nawawi dalam Al-Majmu' dan Az-Zarkasyee dalam Syarh Al-Muhadzdzab menyatakan bahwa pengabaian ta'awwuz dianggap pengabaian sunah yang penting. Mereka mensyaratkan ta'awwuz dibaca setelah takbir dan sebelum basmalah, serta menggunakan lafal-lafal yang sudah terbukti dari hadits, meskipun tidak mengharamkan lafal lain yang memiliki makna serupa.

Hanbali:
Madzhab Hanbali menganggap ta'awwuz adalah sunnah muakkadah, bahkan ada pendapat bahwa ta'awwuz adalah wajib menurut beberapa ulama Hanbali. Imam Ahmad Ibn Hanbal dalam Musnad-nya dan muridnya Abu Bakr Al-Khallal dalam kitab-kitabnya menekankan pentingnya ta'awwuz. Ulama Hanbali seperti Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni dan Al-Khiraqi dalam mukhtasarnya berpendapat bahwa ta'awwuz adalah bagian sunah yang tidak boleh ditinggalkan. Mereka menekankan penggunaan lafal spesifik yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih, dan menyatakan bahwa meninggalkan ta'awwuz berarti meninggalkan salah satu sunah penting dalam kesempurnaan salat.

Hikmah & Pelajaran

1. Kesadaran Atas Musuh Rohani: Hadits ini mengajarkan bahwa setan adalah musuh nyata manusia yang selalu berusaha mengganggu salat dan ibadah. Dengan membaca ta'awwuz secara sadar, Muslim diingatkan untuk senantiasa waspada dan tidak lalai terhadap godaan setan dalam kehidupan sehari-hari. Ini mencerminkan kehidupan spiritual yang sehat dan matang, di mana seseorang memahami bahwa tidak setiap godaan atau pemikiran buruk adalah berasal dari dirinya sendiri, tetapi mungkin ada pengaruh eksternal yang harus ditolak dengan tegas.

2. Pentingnya Tawaqqul dan Tawassul kepada Allah: Dengan membaca ta'awwuz, seorang Muslim menegaskan kepercayaannya sepenuhnya kepada Allah. Ini adalah bentuk tawaqqul (bergantung penuh pada Allah) dan tawassul (menggunakan sifat-sifat Allah sebagai perantara permintaan). Penggunaan nama-nama Allah "As-Samî' Al-'Alîm" menunjukkan bahwa Allah mendengarkan dan mengetahui kebutuhan hamba-Nya, sehingga layak untuk menjadi tempat bergantung. Hadits ini mengajarkan bahwa keberhasilan spiritual manusia bergantung pada upaya membangun hubungan yang kuat dengan Allah melalui pengakuan atas ketergantungannya.

3. Kewaspadaan Terhadap Bentuk-Bentuk Gangguan Setan: Disebutkannya tiga jenis gangguan setan (hamz, nafakh, nafth) menunjukkan bahwa setan memiliki berbagai strategi untuk mengganggu manusia. Hamz adalah godaan halus dan tersembunyi, nafakh adalah serangan yang tiba-tiba dan kuat, sementara nafth adalah isingan berkelanjutan. Dengan menyadari keragaman strategi ini, Muslim dapat mengembangkan pertahanan spiritual yang komprehensif dan tidak mudah tergelincir ke dalam perangkap setan dengan bentuk apapun.

4. Komitmen terhadap Persiapan Spiritual Sebelum Ibadah: Hadits ini menekankan bahwa ibadah yang sempurna memerlukan persiapan mental dan spiritual yang baik. Dengan melakukan ta'awwuz sebelum memasuki salat, Nabi ﷺ memberikan contoh bahwa seseorang harus membersihkan hatinya dari keraguan, godaan, dan gangguan sebelum berdiri di hadapan Allah. Ini adalah prinsip penting yang dapat diterapkan pada semua ibadah: persiapan yang matang dan konsisten akan menghasilkan ibadah yang lebih berkualitas dan memuaskan secara rohani. Hadits ini juga mengajarkan bahwa kesuksesan dalam ibadah bukan hanya tentang melakukan gerakan fisik, tetapi juga tentang kehadiran spiritual dan kesadaran penuh.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat