✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 314
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ صِفَةِ اَلصَّلَاةِ  ·  Hadits No. 314
Shahih 👁 5
314- وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : { اِلْتَفَتَ إِلَيْنَا رَسُولُ اَللَّهِ فَقَالَ : " إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ , وَالصَّلَوَاتُ , وَالطَّيِّبَاتُ , اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا اَلنَّبِيُّ وَرَحْمَةَ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ , اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اَللَّهِ اَلصَّالِحِينَ , أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ , ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ اَلدُّعَاءِ أَعْجَبُهُ إِلَيْهِ , فَيَدْعُو } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ , وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ . وَلِلنَّسَائِيِّ : { كُنَّا نَقُولُ قَبْلِ أَنْ يُفْرَضَ عَلَيْنَا اَلتَّشَهُّدُ } . وَلِأَحْمَدَ : { أَنَّ اَلنَّبِيَّ عَلَّمَهُ اَلتَّشَهُّد , وَأَمَرَهُ أَنْ يُعَلِّمَهُ اَلنَّاسَ } .
📝 Terjemahan
Dari Abdullah bin Mas'ud ra. berkata: Rasulullah saw. menoleh kepada kami seraya bersabda: 'Apabila salah seorang dari kalian melaksanakan salat, hendaklah ia mengucapkan: At-tahiyyātu lillāh wa-ash-shalawātu wa-at-tayyibāt, as-salāmu 'alayka ayyuhā an-nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh, as-salāmu 'alaynā wa 'alā 'ibādillāh ash-shālihīn, ashhadu allā ilāha illallāh wa ashhadu anna muhammadan 'abduhū wa rasūluh, kemudian pilihlah dari doa yang paling disukai hatimu, lalu berdoalah'. (Muttafaq 'alayh, dan lafaz ini milik Bukhari). Riwayat An-Nasa'i menambahkan: 'Kami biasa mengucapkan (do'a ini) sebelum diwajibkan atas kami at-tahiyat (at-tashahhud)'. Riwayat Ahmad menyebutkan: 'Sesungguhnya Nabi saw. mengajarkannya at-tashahhud, dan memerintahnya agar mengajarkan kepada manusia'. Status hadits: SHAHIH (Muttafaq 'alayh - disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim)
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini merupakan hadits mulia yang mengajarkan tentang tasyahud atau At-Tahiyyat (al-Qa'dah), yakni ucapan khusus yang diucapkan dalam posisi duduk selama salat (i'tidal antara dua sujud atau di akhir salat). Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud, sahabat terkemuka yang dekat dengan Rasulullah ﷺ dan terkenal dengan keilmuannya. Pesan utama hadits adalah mengajarkan tasyahud yang benar sebagai bagian integral dari ibadah salat. Hadits ini juga menunjukkan pentingnya pembelajaran dan pengajaran ajaran-ajaran agama secara langsung dari Nabi ﷺ.

Kosa Kata

At-Tahiyyat (التحيات): Penghormatan dan salam. Bentuk jamak dari tahiyyah yang bermakna penghormatan kepada Allah dengan ucapan-ucapan luhur.

As-Salawat (الصلوات): Doa dan berkat. Bentuk jamak dari salah yang bermakna doa dan rahmat Allah.

At-Tayyibat (الطيبات): Hal-hal yang baik dan suci. Semua perbuatan, ucapan, dan tindakan yang baik dan suci.

Assalamu 'alayka: Salam kepada Anda. Ucapan doa keselamatan.

Rahmatullahi wa Barakatuh: Rahmat Allah dan berkahnya. Doa agar Nabi menerima rahmat dan berkat dari Allah.

At-Tahiyyah/Tasyahud: Pengakuan dan penghormatan. Ucapan khusus yang mengandung pengakuan tauhid dan kenabian Muhammad ﷺ.

At-Takhayyur: Memilih. Dalam konteks ini berarti memilih dan menentukan doa yang paling disukai untuk dibaca setelah tasyahud.

Kandungan Hukum

1. Kewajiban Tasyahud dalam Salat: Tasyahud adalah bagian wajib (rukun) dari salat yang harus diucapkan dengan ucapan-ucapan tertentu.

2. Redaksi Tasyahud yang Ditetapkan: Nabi ﷺ telah mengajarkan redaksi spesifik untuk tasyahud yang dimulai dengan "At-Tahiyyatu lillahi" hingga "wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh".

3. Bolehnya Memilih Berbagai Doa Setelah Tasyahud: Setelah menyelesaikan tasyahud wajib, seseorang diperbolehkan memilih dari berbagai doa yang tersedia (seperti doa minta dilindungi dari neraka, meminta surga, dan lainnya).

4. Pentingnya Pembelajaran Langsung: Hadits ini menekankan bahwa Nabi ﷺ secara aktif mengajarkan ibadah kepada sahabat dan memerintahkan mereka untuk menyebarluaskan ajaran tersebut.

5. Status Sunah yang Kuat: Tasyahud merupakan sunah yang sangat ditekankan oleh Nabi ﷺ dan diriwayatkan melalui berbagai sahabat dengan redaksi yang konsisten.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi mewajibkan tasyahud pada qa'dah akhir (dudukan terakhir) salat sebelum salam penutup. Mereka menerima redaksi tasyahud sebagaimana dalam hadits ini dengan penuh ketelitian. Menurut Abu Hanifah dan murid-muridnya (Abu Yusuf dan Muhammad), tasyahud merupakan rukun (bagian esensial) yang tidak sah salat tanpanya. Mereka juga menerima bahwa setelah tasyahud wajib, seseorang dapat memilih doa-doa lain seperti doa Ta'awwudz (minta perlindungan dari neraka), doa istikhrah, atau doa-doa khusus lainnya. Dalil mereka adalah hadits ini dan hadits-hadits serupa yang diriwayatkan secara mutawatir dari berbagai sahabat dengan redaksi yang serupa. Kitab at-Tahawi menyebutkan bahwa redaksi tasyahud dalam hadits Abdullah bin Mas'ud adalah yang paling sahih dan lengkap.

Maliki:
Madzhab Maliki juga mewajibkan tasyahud sebagai bagian penting dari salat (wajib bukan rukun menurut sebagian mereka, namun kesalahannya mengakibatkan sujud sahw). Mereka menerima hadits ini sebagai hadits mutafaq 'alaih (disepakati kesahihannya oleh al-Bukhari dan Muslim) dan menganggapnya sebagai dalil kuat untuk diwajibkannya tasyahud. Dalam praktik madzhab Maliki, mereka mengutamakan redaksi dari hadits ini dengan beberapa penambahan yang diambil dari hadits-hadits lain, seperti penambahan doa istikhrah setelah tasyahud. Malik bin Anas sendiri mengikuti tasyahud dengan cara yang serupa dengan pendapat mayoritas ulama. Mereka juga memperbolehkan adanya variasi minimal dalam redaksi tasyahud sepanjang makna utamanya tetap terjaga.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i dengan tegas mewajibkan tasyahud sebagai rukun salat. Muhammad bin Idris asy-Syafi'i menganggap hadits ini sebagai dalil yang sangat kuat dan jelas untuk kewajiban tasyahud. Dalam al-Umm, asy-Syafi'i menyatakan bahwa tasyahud wajib pada qa'dah akhir dan boleh dilakukan juga pada qa'dah pertama (dudukan setelah dua rakaat pertama). Redaksi tasyahud yang diterima madzhab Syafi'i adalah yang tersebut dalam hadits ini dengan penekanan pada kalimat tauhid dan kesaksian kenabian Nabi Muhammad ﷺ. Setelah tasyahud wajib, asy-Syafi'i memperbolehkan untuk melanjutkan dengan berbagai doa sebagaimana keterangan hadits "liyatakhayyar min ad-du'a". Ulama-ulama Syafi'i seperti an-Nawawi dalam al-Majmu' menjelaskan bahwa bagian-bagian tasyahud semuanya wajib dan tidak boleh dikurangi.

Hanbali:
Madzhab Hanbali, sebagaimana pendapat Ahmad bin Hanbal yang kuat, mewajibkan tasyahud sebagai bagian essential (rukun) dari salat. Ahmad bin Hanbal adalah murid Abu Dawud ath-Thayalisi dan sangat teliti dalam menerima hadits-hadits. Beliau menerima hadits ini melalui jalur riwayat yang kuat dan menjadikannya sebagai dalil utama untuk wajib tasyahud. Dalam Musnad Ahmad, beliau meriwayatkan hadits ini dengan redaksi lengkap dan menambahkan keterangan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan kepada sahabat dan memerintahkan untuk mengajarkannya kepada orang lain. Madzhab Hanbali juga memperbolehkan variasi minor dalam redaksi tasyahud sepanjang unsur-unsur poko (tauhid, pengakuan kenabian, salam untuk Nabi, salam untuk umat) tetap ada. Mereka sangat menekankan pentingnya pengajaran dan pembelajaran tasyahud yang benar sebagaimana ditunjukkan dalam hadits.

Hikmah & Pelajaran

1. Tasyahud sebagai Pengokohan Akidah: Tasyahud yang dimulai dengan "At-Tahiyyatu lillahi" dan diakhiri dengan "Asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh" adalah rangkaian ucapan yang mengokokan akidah tauhid di hati seorang mukmin. Dalam setiap salat, seorang muslim mengucapkan pengakuan tauhid dan kenabian ini, sehingga akidahnya selalu segar dan kuat. Ini adalah hikmah besar bahwa ibadah salat bukan hanya gerak dan diam, tetapi juga pengokokan keyakinan spritual.

2. Pentingnya Salam untuk Nabi dan Keberkahannya: Dengan mengucapkan "Assalamu 'alayka ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh", seorang mukmin menunjukkan penghormatan, cinta, dan doa untuk Nabi Muhammad ﷺ. Ini mencerminkan nilai-nilai akhlak mulia yaitu menghormati dan mencintai Nabi, sekaligus mendoakan kebaikan dan rahmat untuk beliau. Hikmahnya adalah menjaga hubungan spiritual yang erat antara umat dengan Nabi mereka.

3. Inklusi Umat Shalih dalam Tasyahud: Ucapan "Assalamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahi as-salihin" menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak hanya berdoa untuk diri sendiri, tetapi juga untuk seluruh umat Islam dan hamba-hamba Allah yang shalih. Ini mengajarkan tentang rasa persaudaraan, empati, dan doa untuk keselamatan umat yang lebih luas. Hikmahnya adalah menumbuhkan kesadaran tentang kesatuan umat Islam dan saling mendoakan kebaikan.

4. Kebebasan Memilih Doa Setelah Tasyahud Wajib: Perintah Nabi ﷺ "thum liyatakhayyar min ad-du'a a'jaba ilaihi fayad'u" menunjukkan fleksibilitas dalam ibadah. Setelah menyelesaikan bagian-bagian wajib tasyahud, seseorang diperbolehkan memilih doa-doa yang paling sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Ini mengajarkan bahwa Islam menghargai kebutuhan individual dan fleksibilitas dalam ibadah, selama dasar-dasarnya kuat. Hikmahnya adalah menyeimbangkan antara standar dan fleksibilitas, antara kepastian dan kebebasan dalam ibadah.

5. Pentingnya Pengajaran dan Pembelajaran Agama: Bagian akhir hadits yang menyebutkan "annallaha 'allamahu at-tashahhud wa amarahu an yu'allimuhu an-nas" menekankan tanggung jawab untuk mengajarkan ajaran-ajaran agama kepada orang lain. Hadits ini menunjukkan bahwa pengetahuan agama bukanlah untuk diri sendiri saja, tetapi merupakan amanah untuk disebarkan. Hikmahnya adalah membangun kesadaran tentang tanggung jawab setiap muslim untuk menjadi pendidik dan penyebar ilmu agama kepada masyarakat.

6. Kesempatan Doa dan Permohonan Kepada Allah: Dalam setiap rakaat, melalui tasyahud dan doa yang mengikutinya, seorang muslim memiliki kesempatan untuk berkomunikasi langsung dengan Allah Ta'ala, mengungkapkan kebutuhan, memohon bantuan, dan meminta perlindungan. Hikmahnya adalah memberikan peluang bagi setiap muslim untuk secara rutin dan terstruktur
mendekatkan diri kepada Allah dan menguatkan hubungan spiritual yang personal dengan Sang Pencipta.

7. Struktur dan Tertib dalam Ibadah: Hadits ini menunjukkan bahwa dalam ibadah Islam terdapat struktur yang jelas dan tertib yang harus diikuti. Tasyahud memiliki urutan yang sistematis: dimulai dengan penghormatan kepada Allah (At-tahiyyatu lillahi), dilanjutkan dengan salam kepada Nabi, kemudian kepada seluruh umat shalih, dan diakhiri dengan pengakuan tauhid dan kenabian. Hikmahnya adalah mengajarkan kedisiplinan, ketertiban, dan kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah Ta'ala.

8. Universalitas Ajaran Islam: Dengan menyebutkan "wa 'ala 'ibadillahi as-salihin" (dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih), tasyahud menunjukkan bahwa ajaran Islam bersifat universal dan tidak terbatas pada golongan tertentu saja. Setiap orang yang bertakwa dan berbuat shalih, di manapun mereka berada, mendapat tempat dalam doa dan penghormatan. Hikmahnya adalah menumbuhkan sikap inklusif dan menghargai kebaikan dari siapapun yang mengamalkannya.

Implikasi Praktis

1. Dalam Praktik Salat Harian: Setiap muslim wajib menghafal dan memahami makna tasyahud ini karena ia merupakan bagian integral dari salat lima waktu. Tanpa tasyahud yang benar, salat menjadi tidak sempurna menurut kesepakatan ulama.

2. Dalam Pengajaran Agama: Para guru agama, dai, dan orang tua wajib mengajarkan tasyahud ini kepada anak-anak dan murid-murid mereka dengan penuh ketelitian, sebagaimana Nabi ﷺ memerintahkan Abdullah bin Mas'ud untuk mengajarkannya kepada orang lain.

3. Dalam Kehidupan Spiritual: Pemahaman mendalam terhadap makna tasyahud dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan seorang muslim, karena di dalamnya terkandung pengakuan tauhid yang fundamental dan penghormatan kepada Rasulullah ﷺ.

4. Dalam Kehidupan Sosial: Semangat mendoakan kebaikan untuk seluruh umat Islam sebagaimana tercermin dalam tasyahud dapat mendorong terciptanya solidaritas dan persaudaraan yang kuat di antara sesama muslim.

Kesimpulan

Hadits Abdullah bin Mas'ud tentang tasyahud ini merupakan hadits fundamental dalam fikih Islam yang memberikan panduan lengkap tentang salah satu rukun salat yang terpenting. Melalui hadits yang berstatus shahih mutafaq 'alaih ini, kita memperoleh pengajaran langsung dari Rasulullah ﷺ tentang redaksi tasyahud yang benar, yang mencakup penghormatan kepada Allah, salam dan doa untuk Nabi Muhammad ﷺ, salam untuk seluruh umat Muslim dan hamba-hamba Allah yang shalih, serta pengakuan tauhid dan kenabian yang merupakan inti ajaran Islam.

Keempat madzhab fikih sepakat tentang wajibnya tasyahud dalam salat, meski terdapat perbedaan minor dalam hal apakah ia termasuk rukun atau wajib yang dapat diperbaiki dengan sujud sahw. Namun semua madzhab menerima redaksi hadits ini sebagai yang paling otentik dan lengkap. Fleksibilitas yang diberikan setelah tasyahud wajib, dimana seseorang dapat memilih doa-doa yang dipanjatkan sesuai hajat dan kebutuhan—semuanya menunjukkan betapa kaya dan bermaknanya ibadah salat dalam Islam. Hadits ini juga menjadi bukti nyata bagaimana Rasulullah Saw. mendidik para sahabatnya dengan cara yang langsung, personal, dan penuh kasih sayang. Warisan tasyahud yang disampaikan Abdullah bin Mas'ud ini telah terjaga selama lebih dari empat belas abad dan terus diamalkan oleh miliaran Muslim di seluruh penjuru dunia—sebuah keajaiban pelestarian ilmu yang hanya terjadi dalam tradisi Islam.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat