✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 317
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ صِفَةِ اَلصَّلَاةِ  ·  Hadits No. 317
👁 5
317- وَعَنْ أَبِي مَسْعُودٍ اَلْأَنْصَارِيِّ قَالَ : { قَالَ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! أَمَرَنَا اَللَّهُ أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ , فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ ? فَسَكَتَ , ثُمَّ قَالَ : " قُولُوا : اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ , وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ , كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ , وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ , وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ , كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي اَلْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ . وَالسَّلَامُ كَمَا عَلَّمْتُكُمْ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ . وَزَادَ اِبْنُ خُزَيْمَةَ فِيهِ : { فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ , إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا عَلَيْكَ فِي صَلَاتِنَا } .
📝 Terjemahan
Dari Abu Mas'ud Al-Anshari berkata: Bercerita Basyir bin Sa'd: 'Ya Rasulullah! Allah memerintahkan kami untuk bershalawat atas dirimu, lalu bagaimana cara kami bershalawat atasmu?' Maka Rasulullah diam sejenak, kemudian bersabda: 'Katakanlah: Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan shalawat atas keluarga Ibrahim. Dan berkahilah atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau berkahi atas keluarga Ibrahim di seluruh dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji, Maha Agung. Dan salam sebagaimana yang telah Aku ajarkan kepada kalian.' Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim. Ibnu Khuzaimah menambahkan dalam riwayatnya: 'Lalu bagaimana cara kami bershalawat atasmu jika kami telah bershalawat atasmu dalam shalat kami?'

Status Hadits: Hadits Sahih (diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahihnya)
Perawi: Abu Mas'ud Al-Anshari (Uqbah bin Amr) - Sahabat Rasulullah
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini merupakan salah satu hadits paling penting dan utama dalam masalah shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Basyir bin Sa'd mengajukan pertanyaan yang sangat logis dan praktis ketika menerima perintah Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 56 untuk bershalawat atas Nabi ﷺ. Beliau ingin mengetahui formulasi dan cara yang tepat dalam menunaikan perintah mulia tersebut. Nabi Muhammad ﷺ merespons dengan memberikan formula yang sempurna dan syamil (komprehensif) yang menjadi referensi utama bagi seluruh umat Islam hingga hari ini. Hadits ini juga menunjukkan metode pendidikan Nabi ﷺ yang memberikan penjelasan terperinci dan praktis ketika diajukan pertanyaan.

Kosa Kata

- صَلِّ عَلَى (Shalli 'ala): Limpahkan shalawat, doa berkah, dan penghormatan atas - آلِ (Aal): Keluarga, para pengikut setia, dan para penerus ajaran - كَمَا (Kamaa): Sebagaimana, dengan cara yang sama - بَارِكْ (Baarak): Berkahi, tambahkan berkah dan kebaikan berlipat ganda - فِي اَلْعَالَمِينَ (Fi al-'aalamiin): Di seluruh alam, di seluruh dunia dan kehidupan - حَمِيدٌ (Hamid): Maha Terpuji, yang berhak atas pujian - مَجِيدٌ (Majid): Maha Agung, yang memiliki keagungan dan kehormatan - السَّلَامُ (As-Salam): Salam sejahtera, doa keselamatan

Kandungan Hukum

1. Dasar Hukum Shalawat kepada Nabi: Hadits ini menunjukkan bahwa shalawat kepada Nabi ﷺ adalah perintah dari Allah Ta'ala yang didasarkan pada QS. Al-Ahzab ayat 56 2. Formula Shalawat yang Benar: Memberikan rumusan konkret dan sahih tentang bagaimana cara bershalawat dengan baik 3. Pengakuan Posisi Nabi ﷺ: Menunjukkan kemuliaan dan kehormatan Nabi Muhammad ﷺ dengan menyebutkan keluarganya 4. Persamaan dengan Nabi Ibrahim: Menunjukkan persamaan status Nabi Muhammad dengan Nabi Ibrahim, kedua-duanya adalah pemimpin spiritual bagi umatnya 5. Penyertaan Keluarga Nabi: Menunjukkan bahwa keluarga Nabi juga berhak mendapatkan shalawat dan doa 6. Ketentuan tentang Shalawat Dalam Shalat: Hadits menunjukkan cara shalawat yang dilakukan dalam shalat (Tashahhud Akhir) dengan formula khusus

Pandangan 4 Madzhab

Madzhab Hanafi

Ulama Hanafi berpendapat bahwa shalawat kepada Nabi ﷺ adalah sunah (bukan wajib) walaupun sangat dianjurkan. Mereka membedakan antara shalawat dalam shalat (bagian dari Tashahhud Akhir) dan shalawat di luar shalat. Dalam shalat, formula yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits ini menjadi panduan utama, meskipun ada variasi rumusan yang diperbolehkan. Imam Abu Hanifah menerima hadits Muslim ini sebagai hadits sahih.

Dalil: Mereka merujuk pada praktik sahabat yang meneruskan pembelajaran Nabi ﷺ ini tanpa mengkategorikannya sebagai wajib, sehingga menunjukkan status sunah. Dalam kitab Fath Al-Qadeer dijelaskan bahwa shalawat dalam Tashahhud adalah bagian integral dari shalat yang sempurna.

Madzhab Maliki

Ulama Maliki mewajibkan shalawat kepada Nabi ﷺ dalam Tashahhud Akhir shalat. Mereka menganggap bahwa perintah Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 56 dan penjelasan Nabi ﷺ dalam hadits ini menunjukkan keharusan (wujub). Imam Malik menerima hadits ini dengan tingkat kepercayaan tinggi dan menjadikannya landasan dalam fiqih Maliki.

Formula yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits ini adalah shalawat yang sempurna dan paling utama, meskipun shalawat lain yang mencakup pujian dan doa untuk Nabi juga diperbolehkan. Mereka mengutamakan konsistensi dengan formula dari Nabi ﷺ ini.

Dalil: QS. Al-Ahzab (33):56 dan praktik sahabat yang konsisten melakukan shalawat dalam setiap shalat mereka, menunjukkan pemahaman mereka bahwa ini adalah wajib.

Madzhab Syafi'i

Ulama Syafi'i menganggap shalawat kepada Nabi ﷺ dalam Tashahhud Akhir adalah sunah yang sangat dianjurkan (sunah muakkadah), bukan wajib. Namun, mereka menekankan bahwa meninggalkan shalawat kepada Nabi ﷺ dalam shalat adalah tindakan yang makruh (tidak disukai) bahkan boleh dianggap mengabaikan sunah penting.

Imam Syafi'i sangat menghormati hadits Muslim ini dan menjadikannya referensi utama. Mereka mengikuti formula yang diajarkan Nabi ﷺ dengan cermat dan membukukan variasi-variasi yang diperbolehkan. Dalam kitab Al-Umm dijelaskan bahwa shalawat kepada Nabi harus dilakukan dengan formula yang menunjukkan tazkiyah (pensucian) dan ta'zhim (penghormatan).

Dalil: Mereka merujuk pada kenyataan bahwa hadits-hadits berbeda menunjukkan variasi rumusan shalawat, yang menandakan bahwa kondisi shalawat yang diutamakan adalah substansi (shalawat, tazkiyah, penghormatan), meskipun formula spesifik dari hadits Basyir ini adalah yang paling utama.

Madzhab Hanbali

Ulama Hanbali menganggap shalawat kepada Nabi ﷺ dalam Tashahhud Akhir adalah sunah yang penting dan sangat dianjurkan. Ada pendapat yang mengatakan wajib, namun mayoritas ulama Hanbali mengatakan sunah muakkadah (sunah yang dikuatkan). Imam Ahmad bin Hanbal sangat menghormati hadits Muslim ini dan menerbitkannya dalam Musnad-nya dengan rantai isnad yang kuat.

Mereka sangat memperhatikan formula yang diajarkan Nabi ﷺ ini dan menganggapnya sebagai yang paling sempurna di antara formula-formula shalawat lainnya. Tetapi mereka juga mengakui bahwa ada variasi rumusan lain yang sahih dari Nabi ﷺ.

Dalil: Dalam Syarh Muntaha Al-Iradat (kitab fiqih Hanbali) dijelaskan bahwa shalawat adalah pujian kepada Nabi ﷺ atas ketaatannya kepada Allah, dan formula yang diajarkan Nabi ini mengandung seluruh aspek pujian dan doa yang lengkap.

Hikmah & Pelajaran

1. Kesempurnaan Pengajaran Nabi ﷺ: Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya menerima perintah dari Allah, tetapi juga memberikan penjelasan praktis dan terperinci tentang bagaimana menunaikan perintah tersebut. Ini adalah bukti kepemimpinan spiritual yang sempurna dalam mengkomunikasikan hukum-hukum agama kepada umatnya. Umat Islam tidak dibiarkan dalam kebingungan, tetapi diberikan panduan yang jelas dan mudah diikuti.

2. Pentingnya Shalawat dan Berkah untuk Nabi ﷺ: Hadits ini menekankan bahwa shalawat dan berkah kepada Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya bentuk penghormatan biasa, tetapi merupakan perintah langsung dari Allah Ta'ala. Dengan memanjatkan shalawat dan berkah dengan formula yang diajarkan Nabi ﷺ, kita mengungkapkan rasa hormat, cinta, dan doa yang tulus untuk beliau dan keluarganya. Setiap shalawat yang dipanjatkan membawa dampak spiritual yang mendalam.

3. Persamaan Kedudukan Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim dalam Kepemimpinan Spiritual: Dengan membandingkan shalawat dan berkah Nabi Muhammad dan keluarganya dengan shalawat dan berkah Nabi Ibrahim dan keluarganya, hadits ini menunjukkan bahwa kedua nabi ini memiliki posisi yang sama mulia dalam sejarah agama Islam. Keduanya adalah pembimbing umat, pembawa aturan Allah, dan pemimpin yang bijaksana. Ini memberikan pengajaran bahwa keutamaan seorang pemimpin spiritual tidak hanya diukur dari dirinya sendiri, tetapi juga dari dampak positif yang dibawa kepada umatnya dan keluarganya.

4. Aspek Kolektif dalam Beragama: Hadits ini menunjukkan bahwa umat Islam adalah komunitas yang saling berbagi praktik keagamaan yang sama. Ketika sahabat Basyir bin Sa'd bertanya tentang cara bershalawat, Nabi ﷺ memberikan jawaban yang dimaksudkan untuk seluruh umat Muslim. Ini menunjukkan pentingnya keseragaman dalam praktik ibadah yang fundamental, sehingga umat Islam di mana pun mereka berada dapat melakukan ibadah dengan cara yang sama dan konsisten. Hal ini memperkuat rasa persatuan dan kebersamaan umat Muslim.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat