✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 37
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Thaharah  ·  بَابُ اَلْوُضُوءِ  ·  Hadits No. 37
Shahih 👁 4
37- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ { إِذَا اِسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثًا, فَإِنَّ اَلشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ .
📝 Terjemahan
Dari Abu Hurairah (radiyallahu 'anhu), ia berkata: Rasulullah (shallallahu 'alaihi wasallam) bersabda: "Apabila salah seorang di antara kamu terbangun dari tidurnya, maka hendaklah ia mengeluarkan air dari hidungnya tiga kali, karena sesungguhnya setan itu bermalam di hidung (rongga hidung) orang tersebut." Hadits ini mutafaq 'alayh (disepakati oleh Bukhari dan Muslim). Status: SHAHIH
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini termasuk dalam pembahasan adab-adab bangun tidur dan persiapan diri untuk beribadah. Konteks hadits ini sangat penting karena berkaitan dengan kebersihan jasmani dan rohani. Saat seseorang tidur, tubuhnya dalam kondisi yang mudah terdapat najis, khususnya di hidung. Rasulullah mengajarkan agar melakukan istinthar (mengeluarkan air dari hidung) sebagai bagian dari upaya menjaga kesucian dan juga mengusir pengaruh setan yang menggoda. Hadits ini juga merupakan pembukaan untuk memahami pentingnya istinjar dan istinthar sebagai bagian integral dari wudu.

Kosa Kata

اِسْتَيْقَظَ (Istiyaqaza) - Terbangun, bangun dari tidur. Bentuk dasar وَقَظَ (waqaza) yang berarti kesadaran penuh setelah tidur.

اَلْمَنَام (al-Manam) - Tidur, keadaan tidak sadar ketika istirahat. Dapat juga berarti mimpi atau pengalaman saat tidur.

يَسْتَنْثِر (Yastanthir) - Mengeluarkan, menyemburkan air dari hidung. Bentuk isithalah (mencari) dari نَثَر (nathara) yang berarti menyebarkan atau mengeluarkan. Istinthar adalah teknik mengeluarkan air dari rongga hidung dengan cara menyemburnya keluar.

ثَلَاثًا (Salasan) - Tiga kali. Angka tiga menunjukkan kesempurnaan dalam pendidikan Islam.

اَلشَّيْطَان (asy-Syaitan) - Setan, makhluk jahat yang menyesatkan manusia. Dalam konteks hadits ini, merujuk pada whisper dan pengaruh negatif saat seseorang baru terbangun.

يَبِيت (Yabit) - Bermalam, menginap, tetap berada selama malam. Menunjukkan bahwa setan memanfaatkan waktu ketika manusia tidur untuk melakukan perbuatan jahatnya.

خَيْشُوم (Khaisyum) - Hidung, khusus merujuk pada rongga hidung bagian dalam. Secara harfiah berarti tempat yang lembut dan dalam.

مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ (Muttafaq 'Alayh) - Disepakati, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dengan sanad yang sahih.

Kandungan Hukum

1. Hukum Istinthar (Mengeluarkan Air dari Hidung)
Istinthar merupakan bagian dari adab-adab bangun tidur dan termasuk dalam sunnah yang terkait dengan wudu. Hadits ini menunjukkan bahwa istinthar adalah amalan yang disunnahkan ketika seseorang baru terbangun dari tidur. Ini bukan bagian yang wajib dalam wudu, tetapi merupakan tathawwu' (amalan sunah) yang sangat direkomendasikan.

2. Alasan Medis dan Spiritual
Hadits memberikan penjelasan mengapa istinthar harus dilakukan: karena setan bermalam (menginap) di hidung manusia. Ini dapat dipahami baik dari aspek spiritual (pengaruh setan untuk memicu pikiran buruk) maupun aspek medis (akumulasi lendir dan bakteri di rongga hidung selama tidur).

3. Jumlah Istinthar (Tiga Kali)
Hadits secara spesifik menyebutkan tiga kali sebagai jumlah yang tepat untuk mengeluarkan air dari hidung. Angka tiga dalam berbagai konteks ibadah Islam menunjukkan kesempurnaan dan kebiasaan nabi.

4. Waktu Pelaksanaan
Istinthar dilakukan segera setelah terbangun dari tidur, bukan di tengah-tengah tidur. Ini menunjukkan urutan yang logis dalam mempersiapkan diri untuk beribadah.

5. Ketergantungan dengan Wudu
Meskipun istinthar bukan bagian wajib wudu, namun ia merupakan muqaddimah (persiapan) yang sangat baik sebelum berwudu dengan sempurna.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi menempatkan istinthar sebagai amalan sunah yang mustahabb (sangat direkomendasikan) ketika akan berwudu, terutama setelah bangun tidur. Imam Abu Hanifah dan muridnya memahami bahwa istinthar adalah bagian dari tahharah (upaya kebersihan) yang mendahului wudu. Mereka tidak menjadikannya sebagai rukun (bagian wajib), tetapi sebagai bagian dari sunah-sunah yang diajarkan Nabi untuk kesempurnaan wudu. Dalam kitab Al-Hidayah, disebutkan bahwa istinthar termasuk dalam etika bangun tidur yang direkomendasikan sebelum melakukan amal apa pun. Hanafi membedakan antara istinthar (mengeluarkan air dari hidung dengan disengaja) dan istinshaq (menghisap air ke dalam hidung). Kedua-duanya sunah namun istinthar lebih tekan penting.

Maliki:
Madzhab Maliki memberikan perhatian khusus pada hadits Abu Hurairah ini dan menganggap istinthar sebagai bagian penting dari persiapan wudu yang sempurna. Imam Malik dalam Al-Muwatta' mengajarkan bahwa istinthar hendaklah dilakukan dengan sungguh-sungguh ketika akan berwudu. Beliau memahami bahwa setan memang mempengaruhi pikiran manusia, terutama saat terbangun dari tidur ketika kesadaran belum sepenuhnya pulih. Oleh karena itu, istinthar bukan hanya masalah kebersihan fisik tetapi juga spiritual. Malikiyah merekomendasikan untuk melakukan istinthar tiga kali sesuai dengan hadits, dan ini menjadi bagian dari adab-adab yang sangat dianjurkan dalam setiap bangun tidur.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i memandang istinthar sebagai amalan sunah yang mustahabb dalam konteks wudu dan persiapan salat. Imam Syafi'i dalam Al-Umm menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kepedulian Islam terhadap kebersihan menyeluruh. Istinthar dilakukan sebelum wudu, bukan sebagai bagian dari rukun wudu tetapi sebagai sunnah muakkarah (sunah yang sangat ditegaskan). Syafi'iyah menekankan bahwa istinthar harus dilakukan dengan benar, yaitu mengeluarkan air dari hidung dengan cara menyemburnya, bukan sekadar menghisap. Mereka juga menyebutkan bahwa jika istinthar tidak dilakukan, wudu tetap sah, namun wudu yang dilakukan dengan istinthar lebih sempurna dan lebih sesuai dengan ajaran Nabi.

Hanbali:
Madzhab Hanbali sangat menekankan pentingnya istinthar berdasarkan hadits Abu Hurairah. Imam Ahmad ibn Hanbal memandang istinthar sebagai sunnah yang sangat penting dan merekomendasikan untuk melakukannya tiga kali sesuai dengan text hadits. Dalam kitab Al-Mughni, Ibn Qudamah menjelaskan bahwa istinthar memiliki dua manfaat: pertama, membersihkan hidung dari lendir dan najis yang mungkin ada selama tidur; kedua, mengusir wasawas (bisikan) setan yang mencoba mengganggu pikiran manusia. Hanbali bahkan menganggap istinthar sebagai sunnah yang lebih ditekankan dibanding ulama lain, terutama dalam konteks persiapan wudu setelah tidur. Mereka mengajarkan bahwa istinthar harus dilakukan sebelum wudu dan hendaklah dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Hikmah & Pelajaran

1. Pentingnya Kebersihan Holistik: Hadits ini mengajarkan bahwa kebersihan dalam Islam mencakup aspek fisik dan spiritual. Mengeluarkan air dari hidung bukan hanya membersihkan lendir dan bakteri, tetapi juga merupakan bentuk pembersihan dari pengaruh negatif yang dapat datang dari whisper setan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam memandang manusia sebagai makhluk yang utuh dengan dimensi jasmani dan rohani.

2. Pentingnya Persiapan Sebelum Ibadah: Hadits ini juga mengajarkan bahwa sebelum melakukan ibadah apa pun, khususnya salat, manusia perlu melakukan persiapan yang matang. Istinthar sebagai bagian dari persiapan ini menunjukkan bahwa Rasulullah menghargai kesiapan mentalitas dan fisik sebelum menghadap Allah. Hal ini relevan untuk semua ibadah dan kehidupan sehari-hari.

3. Peran Pendidikan dalam Menghadapi Setan: Hadits ini menunjukkan bahwa Islam tidak meninggalkan umatnya tanpa solusi untuk menghadapi setan. Dengan mengajarkan istinthar, Rasulullah memberikan praktik konkret yang dapat dilakukan setiap hari untuk melindungi diri dari pengaruh setan. Ini mencerminkan hikmat Islam dalam memberikan solusi praktis untuk masalah spiritual.

4. Keberkahan Angka Tiga dalam Ibadah: Spesifikasi tiga kali dalam hadits ini bukan kebetulan. Angka tiga sering muncul dalam praktik ibadah Islam (seperti tiga kali wudu, tiga kali istinjar, tiga kali tasbih dalam salat, dst). Ini menunjukkan bahwa angka tiga memiliki signifikansi spiritual dan menjadi bagian dari sunnah yang dirancang dengan sempurna oleh Nabi. Pemahaman ini membantu umat untuk tidak menambah atau mengurangi tanpa alasan yang jelas.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Thaharah