✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 463
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ صَلَاةُ اَلْجُمُعَةِ  ·  Hadits No. 463
Shahih 👁 7
463- وَعَنْهُ; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: { فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي, يَسْأَلُ اَللَّهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ . وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: { وَهِيَ سَاعَةٌ خَفِيفَةٌ } .
📝 Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan hari Jumat, lalu bersabda: "Di dalamnya terdapat satu jam (waktu) yang tidak bertemu dengannya seorang hamba Muslim yang sedang berdiri melakukan salat, memohon kepada Allah sesuatu, melainkan Allah akan memberikannya kepadanya," dan Beliau mengisyaratkan dengan tangannya menunjukkan bahwa waktu tersebut sangat singkat. (Hadits Mutafaq 'Alaih - Shahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim: "Dan waktu itu adalah saat yang ringkas (sempit/singkat)."
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini membahas salah satu keistimewaan hari Jumat, yaitu adanya waktu yang sangat spesial di mana doa seorang Muslim yang sedang melaksanakan salat Jumat dijamin akan dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Hari Jumat adalah hari istimewa dalam Islam yang dinamakan "Sayyid al-Ayyam" (pemimpin hari-hari) dengan berbagai keistimewaan yang telah diterangkan dalam Al-Quran dan Hadits. Keutamaan ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk fokus dalam ibadah pada hari Jumat, terutama dalam melaksanakan salat Jumat dengan khusyu' dan konsentrasi penuh.

Kosa Kata

Sa'ah (ساعة): Jam, waktu, atau periode. Dalam konteks hadits ini, sa'ah merujuk pada waktu yang sangat singkat dan spesifik pada hari Jumat, bukan jam dalam pengertian modern (60 menit).

La yuwaafiquha ('abd Muslim (لا يوافقها عبد مسلم): Tidak bertemu dengannya seorang hamba Muslim. Yuwaafiq berarti bertemu, bersatu waktu, atau terkena secara langsung.

Qa'im yushalli (قائم يصلي): Berdiri melaksanakan salat. Istilah ini spesifik merujuk pada kondisi fisik dan spiritual seseorang yang tengah dalam pelaksanaan salat dengan penuh kesungguhan.

Yas'al (يسأل): Memohon, meminta, atau berdoa kepada Allah. Menunjukkan permohonan langsung kepada Allah dengan tulus hati.

Khafifah (خفيفة): Ringkas, sempit, atau sangat singkat. Riwayat ini menunjukkan bahwa waktu istimewa tersebut adalah waktu yang sangat terbatas dan tidak mudah tertangkap.

Mutafaq 'Alaih (متفق عليه): Disepakati oleh kedua imam (Al-Bukhari dan Muslim) sebagai hadits yang paling otentik derajatnya.

Kandungan Hukum

1. Keutamaan Hari Jumat dan Waktu Istimewa di Dalamnya

Hadits ini menetapkan bahwa terdapat waktu khusus pada hari Jumat ketika doa seorang Muslim yang sedang salat dijamin dikabulkan. Ini adalah hukum teologis yang menunjukkan kehendak Allah Ta'ala memberikan keutamaan kepada hari-hari tertentu.

2. Syarat Pengabdian Doa (Istijabah)

Untuk doa dapat dikabulkan pada waktu istimewa ini, terdapat beberapa syarat: - Harus dalam keadaan melaksanakan salat (sedang berdiri melaksanakan salat Jumat) - Harus Muslim yang tulus hati - Harus dalam kondisi khusyu' dan konsentrasi - Harus memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh

3. Kemuliaan Status Seorang Muslim yang Sedang Melaksanakan Salat

Melaksanakan salat, terutama pada waktu-waktu istimewa, adalah kondisi yang disukai Allah Ta'ala dan membuka pintu untuk dikabulkannya doa.

4. Pentingnya Mencari Waktu Istimewa (Sa'at al-Ijabah)

Umat Islam didorong untuk berusaha memanfaatkan waktu-waktu istimewa dalam melaksanakan ibadah, terutama dengan konsentrasi penuh dalam salat dan doa.

5. Keaslian dan Otentisitas Hadits

Status hadits sebagai Mutafaq 'Alaih menunjukkan derajat kesahihan tertinggi yang harus diterima sebagai hujjah syar'iyyah (dalil hukum Islam).

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi: Madzhab Hanafi menerima hadits ini sebagai hadits yang shahih dan tidak meragukan keutamaan waktu istimewa tersebut. Mereka berpandangan bahwa waktu tersebut berkemungkinan adalah waktu antara khutbah dan dimulainya salat Jumat, atau waktu setelah salat dimulai hingga selesainya khutbah. Para fuqaha Hanafi menekankan pentingnya konsentrasi penuh dalam salat dan menghindari hal-hal yang dapat mengganggu khusyu' agar doa dapat dikabulkan. Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya mengambil hadits ini sebagai dasar untuk menekankan keutamaan salat Jumat dan pentingnya mempersiapkan diri dengan baik sebelum hadir ke masjid.

Maliki: Ulama Malikiyyah menerima hadits ini sepenuhnya dan menggunakan dalil ini untuk menunjukkan keutamaan hari Jumat di antara hari-hari lainnya. Mereka khususnya mengutamakan riwayat Muslim yang menyebutkan "sa'ah khafifah" (waktu yang sangat ringkas) sebagai penunjuk bahwa waktu tersebut tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya, sehingga umat Muslim harus fokus sepanjang hari Jumat, khususnya selama melaksanakan salat. Madzhab Maliki juga menekankan bahwa doa yang dikabulkan adalah doa yang disertai dengan niat tulus dan hati yang bersih, sesuai dengan prinsip-prinsip Malikiyyah yang mengutamakan perhatian pada niat dan kondisi batin pemula ibadah.

Syafi'i: Madzhab Syafi'iyyah mengakui sepenuhnya keotentikan hadits ini dan menjadikannya sebagai dalil utama tentang keutamaan waktu istimewa pada hari Jumat. Mereka berpandangan bahwa waktu istimewa tersebut (sa'at al-ijabah) kemungkinan berada pada saat-saat menjelang berakhirnya hari Jumat, tepatnya ketika Matahari akan terbenam (qurb al-ghurub). Namun, mereka juga mengakui bahwa waktu tersebut bersifat tersembunyi agar umat Muslim selalu waspada dan fokus sepanjang waktu. Imam Nawawi, ahli fiqih Syafi'i, dalam kitab Al-Minhaj memberikan penjelasan mendalam tentang hadits ini dan menekankan pentingnya kesungguhan dalam melaksanakan salat Jumat.

Hanbali: Madzhab Hanbali menerima hadits ini sebagai bukti nyata dari Sunnah yang harus diamalkan. Mereka mengutamakan riwayat Al-Bukhari dan Muslim sebagai sumber otentik yang tidak dapat ditolak. Imam Ahmad ibn Hanbal sendiri meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang ketat dalam Musnad-nya. Para ulama Hanbali menekankan bahwa waktu istimewa tersebut sangat sulit untuk ditentukan secara pasti, oleh karena itu umat Islam harus memanfaatkan seluruh waktu hari Jumat dengan sebaik-baiknya untuk beribadah dan berdoa. Mereka juga mengambil hadits ini sebagai alasan untuk meningkatkan perhatian terhadap salat Jumat dan mencegah segala hal yang dapat merusak kesungguhan dalam melaksanakannya.

Hikmah & Pelajaran

1. Keutamaan Hari Jumat dalam Islam: Hari Jumat adalah hari yang istimewa dan penuh berkah yang dipilih Allah Ta'ala dari seluruh hari-hari dalam seminggu. Terdapat waktu spesifik di dalamnya ketika doa akan dikabulkan, sehingga umat Muslim harus memberikan perhatian khusus pada hari ini dengan penuh syukur dan kepatuhan.

2. Pentingnya Khusyu' dan Konsentrasi dalam Salat: Hadits ini menunjukkan bahwa salat bukan hanya gerakan fisik semata, akan tetapi membutuhkan keterlibatan penuh hati, pikiran, dan jiwa. Hanya dengan khusyu' yang sempurna, doa dalam salat akan mencapai Allah dan dikabulkan-Nya. Ini adalah peringatan untuk menjauhkan diri dari segala hal yang dapat mengganggu konsentrasi dalam beribadah.

3. Kekuatan Doa dalam Salat: Doa yang dipanjatkan dalam kondisi salat, terutama pada waktu-waktu istimewa seperti hari Jumat, memiliki kekuatan dan keampuhan yang luar biasa. Ini mendorong umat Muslim untuk menjadikan salat sebagai momen utama untuk berkomunikasi langsung dengan Allah Ta'ala dan mengajukan segala kebutuhan mereka dengan tulus hati.

4. Pentingnya Memanfaatkan Waktu Istimewa: Karena waktu istimewa tersebut bersifat tersembunyi (tidak diketahui kapan tepatnya), umat Muslim didorong untuk selalu siap dan waspada dalam memanfaatkan setiap kesempatan untuk berdoa dan beribadah. Ini mengajarkan pentingnya kesiapan jiwa dalam setiap waktu dan moment, serta tidak menunda-nunda untuk melakukan kebaikan sebelum terlambat.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat