✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 53
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Thaharah  ·  بَابُ اَلْوُضُوءِ  ·  Hadits No. 53
Shahih 👁 4
53- وَعَنْ عَلِيٍّ -فِي صِفَةِ اَلْوُضُوءِ- { ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلَاثًا, يُمَضْمِضُ وَيَنْثِرُ مِنْ اَلْكَفِّ اَلَّذِي يَأْخُذُ مِنْهُ اَلْمَاءَ } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيّ ُ .
📝 Terjemahan
Dari Ali ibn Abi Thalib -mengenai deskripsi wudhu-: "Kemudian beliau berkumur-kumur dan istintshar (membersihkan hidung) tiga kali, berkumur-kumur dan menarik air dari telapak tangan yang dengannya beliau mengambil air." Diriwayatkan oleh Abu Daud dan An-Nasa'i. [Status hadits: HASAN - hadits ini shahih menurut mayoritas ulama meskipun ada beberapa penelaahan pada sanadnya]
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini berisi penjelasan tentang cara melakukan wudhu yang sempurna, khususnya mengenai tata cara berkumur-kumur (tamdim) dan istintshar (membersihkan hidung). Ali ibn Abi Thalib adalah tokoh utama dalam mentransmisikan ilmu wudhu dari Rasulullah saw. Beliau terkenal karena kedekatannya dengan Nabi dan ketekunannya dalam mengikuti sunah. Hadits ini menjadi rujukan penting bagi para fuqaha' dalam menetapkan cara yang tepat melakukan wudhu dengan sempurna.

Kosa Kata

Tamdim (تمضمض): Berkumur-kumur, yaitu memasukkan air ke dalam mulut kemudian mendorongnya ke depan dan menelan atau membuangnya. Dari kata "`ammada" yang berarti mengisi atau memasukkan.

Istintshar (استنثار): Membersihkan hidung dari air dengan cara menarik air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya. Dari kata "nathara" yang berarti mengeluarkan.

Wasilun min al-kaff (من الكف): Dari telapak tangan, yaitu bagian dalam tangan dari pergelangan hingga jari.

Al-mawal al-ladzi ya'khudzhu minhu al-ma': Tangan yang darinya mengambil air wudhu, yang menunjukkan urutan pengambilan air.

Thalathan (ثلاثا): Tiga kali, mengindikasikan bilangan minimal dan yang sempurna untuk tamdim dan istintshar.

Kandungan Hukum

1. Hukum Tamdim dan Istintshar

Tamdim (berkumur-kumur) dan istintshar (membersihkan hidung) adalah bagian dari wudhu yang disunnahkan. Mayoritas ulama menyatakan bahwa keduanya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan) bukan fardu (wajib).

2. Bilangan Tiga Kali

Hadits ini menunjukkan bahwa tamdim dan istintshar dilakukan tiga kali. Ulama berpendapat bahwa tiga kali adalah jumlah yang disunnahkan, meskipun satu atau dua kali pun sah.

3. Cara Mengambil Air

Nabi menunjukkan bahwa pengambilan air untuk tamdim dan istintshar dilakukan dari satu telapak tangan (al-kaff al-wahidah), bukan dengan dua tangan atau cara lain.

4. Urutan Wudhu

Hadits ini menunjukkan urutan tamdim sebelum istintshar, sesuai dengan hadits-hadits lain mengenai tata cara wudhu sempurna.

5. Kesempurnaan Wudhu

Meskipun tamdim dan istintshar sunnah, melakukannya menunjukkan kehati-hatian dalam menjaga kesucian dan kesempurnaan ibadah.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi menempatkan tamdim dan istintshar sebagai sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah). Menurut mereka, walaupun tidak melakukan keduanya wudhu tetap sah, namun melakukannya menunjukkan mengikuti sunnah Nabi saw. dengan sempurna. Ulama Hanafiyah menekankan bahwa cara yang disunnahkan adalah mengambil air dengan satu telapak tangan, seperti yang dijelaskan dalam hadits ini. Mereka juga memperinci bahwa tamdim dilakukan dengan memasukkan air ke mulut dan mendorongnya ke berbagai tempat di dalam mulut untuk membersihkannya, sementara istintshar dilakukan dengan menarik air ke dalam hidung. Abu Hanifah dan muridnya melihat ini sebagai bagian dari adab dan kesempurnaan wudhu.

Maliki:
Madzhab Maliki juga menganggap tamdim dan istintshar sebagai sunnah. Imam Malik dalam Al-Muwatta' meriwayatkan praktik wudhu Nabi saw. yang menyerupai apa yang disebutkan dalam hadits Ali ini. Malikiyah menekankan pentingnya mengikuti cara praktis yang ditunjukkan Nabi saw. Mereka memandang bahwa melakukan tamdim dan istintshar mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang kesucian (thaharah). Dalam madzhab ini, ada perhatian khusus terhadap kualitas wudhu dan kesempurnaannya, bukan hanya pada kewajibannya saja. Malikiyah juga menerima berbagai hadits dari sahabat yang menjelaskan cara wudhu sempurna.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i menempatkan tamdim dan istintshar dalam kategori sunnah wudhu. Imam Syafi'i dalam Al-Umm dan kitab-kitab fikhnya menerangkan bahwa cara yang paling sempurna untuk tamdim adalah seperti yang dijelaskan dalam hadits-hadits, termasuk hadits Ali ini. Syafi'iyah membedakan antara tamdim yang basit (sederhana) dan tamdim yang kemudian istintshar. Mereka menganggap istintshar sama pentingnya dengan tamdim dalam konteks pembersihan rongga mulut dan hidung. Dalam madzhab Syafi'i, ada penjelasan detail bahwa keduanya adalah bagian dari kesunahan wudhu yang menunjukkan perhatian terhadap kebersihan.

Hanbali:
Madzhab Hanbali, khususnya menurut Imam Ahmad, memandang tamdim dan istintshar sebagai sunnah muakkadah yang sangat ditekankan. Hanbali menerima hadits-hadits yang menunjukkan tamdim dan istintshar sebagai bagian dari sunnah Nabi saw. yang terpercaya. Mereka menekankan bahwa mengikuti cara praktis Nabi saw. seperti yang dideskripsikan dalam hadits Ali ini menunjukkan kesempurnaan dalam menjalankan wudhu. Ahmad ibn Hanbal terkenal dengan ketatannya dalam mengikuti sunnah, dan beliau menerima hadits ini sebagai dasar untuk mengamalkan tamdim dan istintshar dalam wudhu.

Hikmah & Pelajaran

1. Kebersihan Menyeluruh: Hadits ini mengajarkan bahwa wudhu bukan hanya membersihkan anggota tubuh yang terlihat, tetapi juga membersihkan rongga tubuh seperti mulut dan hidung. Ini menunjukkan perhatian Islam terhadap kebersihan menyeluruh sebagai bagian dari kesehatan fisik dan spiritual.

2. Mengikuti Sunnah dengan Sempurna: Hadits ini menunjukkan pentingnya mengikuti cara yang ditunjukkan Nabi saw. tidak hanya dari segi substansi tetapi juga cara pelaksanaannya. Ini merupakan bentuk ta'zhim (penghormatan) terhadap sunnah Nabi saw.

3. Efisiensi dalam Beribadah: Cara yang dijelaskan dalam hadits ini (mengambil air dari satu telapak tangan) menunjukkan efisiensi dan kesederhanaan dalam menjalankan ibadah tanpa mengorbankan kesempurnaan. Ini adalah pelajaran penting bahwa kesempurnaan tidak harus rumit atau berlebihan.

4. Pentingnya Rincian dalam Ibadah: Hadits yang merincikan cara melakukan tamdim dan istintshar menunjukkan bahwa Allah dan Rasul-Nya memberikan perhatian pada detail dalam ibadah. Ini mengajarkan kepada umat untuk memperhatikan setiap aspek dari amal ibadah mereka dengan sungguh-sungguh, karena setiap gerakan dan tindakan dalam ibadah memiliki makna dan hikmah tertentu.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Thaharah