Kalau ada yang tanya, "Mas, kenapa belajar PHP dulu? Kenapa nggak Python atau JavaScript sekalian?" — jujur, waktu itu saya tidak punya alasan filosofis yang bagus. Tidak ada mentor yang membimbing, tidak ada senior yang menyarankan. Saya cuma iseng buka-buka forum lama di internet, dan yang paling banyak dibahas orang waktu itu ya PHP.
Saya tinggal di Kawunganten, Cilacap. Bukan kota besar. Akses ke komunitas programmer waktu itu nyaris nol. Yang ada cuma warnet, koneksi lemot, dan rasa penasaran yang entah dari mana datangnya. Jaman itu kalau mau belajar sesuatu, ya cari sendiri. Nggak ada yang suguhin materi ke depan muka kamu.
Pertama Kali Lihat Kode PHP
Saya masih ingat betul. Waktu itu saya buka sebuah tutorial membuat buku tamu sederhana. Ada form, ada database, ada tampilan yang bisa berubah-ubah tergantung isi database. Bagi saya yang waktu itu tidak tahu apa-apa, itu seperti sulap.
Saya tidak langsung paham. Pertama kali nyoba, hasilnya error semua. Tapi ada satu hal yang bikin saya tidak berhenti — saya bisa melihat hasilnya langsung di browser. Tulis kode, simpan, refresh. Selesai. Tidak perlu compile dulu, tidak perlu setup yang ribet. Bagi pemula otodidak seperti saya, itu sangat berarti.
PHP punya loop feedback yang cepat. Kamu coba sesuatu, langsung tahu hasilnya. Kalau salah, langsung kelihatan. Kalau benar, ada kepuasan kecil yang bikin nagih untuk coba lagi.
Tidak Ada Kursus, Tidak Ada Buku
Saya belajar PHP bukan dari kursus. Bukan dari buku fisik yang dibeli di toko. Saya belajar dari copy-paste kode orang lain, rusak, coba benerin, rusak lagi, coba lagi. Metode ini terdengar tidak efisien — dan memang tidak efisien. Tapi ada hal yang tidak bisa didapat dari metode lain: pemahaman yang datang dari rasa sakit.
Kalau kamu pernah debugging sendiri selama berjam-jam hanya untuk menemukan bahwa ada titik koma yang ketinggalan, kamu tidak akan pernah lupa pentingnya titik koma itu. Pelajaran yang datang dari frustrasi menempel jauh lebih kuat dari pelajaran yang datang dari ceramah.
Lha yo piye, wong waktu itu saya tidak punya pilihan lain. Mau les? Tidak ada tempatnya. Mau beli buku? Uangnya dari mana. Jadi ya jalan satu-satunya memang otodidak sampai titik darah penghabisan.
PHP Itu Tidak Sempurna, dan Itu Justru Bagus untuk Belajar
Salah satu hal yang saya syukuri adalah belajar PHP di era sebelum framework merajalela. Saya terpaksa menulis koneksi database manual, terpaksa membuat sistem login dari nol, terpaksa handle session sendiri. Semuanya dari awal.
Ini yang bikin saya hari ini tidak takut dengan hal-hal di balik layar. Karena saya pernah membuatnya sendiri, dengan tangan, dengan trial and error yang tidak ada habisnya.
PHP memang sering diejek komunitas programmer. Katanya tidak elegan, katanya legacy, katanya sudah ketinggalan zaman. Tapi kenyataannya, WordPress — yang menjalankan lebih dari 40% website di seluruh dunia — dibangun di atas PHP. Facebook dimulai dengan PHP. Laravel, salah satu framework paling populer saat ini, juga PHP.
Bahasa ini tidak mati. Bahasa ini hanya sering disalahpahami.
Kalau Sekarang Saya Harus Mulai Lagi
Kalau saya harus mengulang dari nol, apakah saya tetap akan pilih PHP? Mungkin. Tapi bukan karena PHP adalah bahasa terbaik. Tapi karena yang paling penting bukan bahasanya — yang paling penting adalah kamu mulai.
Saya lihat banyak orang yang habis waktu berbulan-bulan hanya untuk memilih mau belajar bahasa apa. Python atau JavaScript? Frontend atau backend? Itu pertanyaan yang salah untuk pemula. Pertanyaan yang benar adalah: bahasa apa yang bisa membuat saya melihat hasilnya paling cepat?
Untuk saya waktu itu, jawabannya adalah PHP. Untuk kamu mungkin berbeda. Yang penting, mulai.
Saya tidak punya ijazah IT. Tidak punya sertifikat dari kursus manapun. Tapi saya bisa membangun website dari nol, bisa baca dan tulis kode yang berjalan di server orang lain, dan itu bukan hasil keberuntungan — itu hasil dari tidak berhenti mencoba.
Kalau kamu juga lagi di titik awal dan bingung mau mulai dari mana — saya senang kalau kamu mau cerita di kolom komentar. Siapa tahu perjalanan kamu mirip dengan perjalanan saya, atau justru berbeda dan bisa saling menginspirasi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menulis.
Tulis Komentar