Kitab 4 · Bab 1
Hendaknya memakai pakaian berwarna putih. Diperbolehkan memakai warna merah, hijau, kuning, hitam, dan pakaian yang terbuat dari kapas, bulu, kulit... kecuali sutra.
✦ 12 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى:﴿ يا بني آدم قد أنزلنا عليكم لباساً يواري سوآتكم وريشاً، ولباس التقوى ذلك خير ﴾ .سورة الأعراف(26)
Terjemahan
Allah berfirman: "Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan untukmu pakaian untuk menutupi auratmu..." (Al-A'raf: 26)
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa Allah memberikan dua jenis pakaian kepada manusia. Pertama, pakaian lahir (bahan) untuk menutup aurat dan sebagai perhiasan. Kedua, yang lebih utama, adalah "pakaian takwa" yaitu nilai-nilai ketakwaan yang melindungi dan menghiasi hati serta perilaku. Hikmahnya, kesempurnaan seorang muslim tidak hanya diukur dari penampilan fisik yang menutup aurat, tetapi lebih penting dari ketakwaan yang menyelimuti seluruh kehidupannya.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa Allah memberikan dua jenis pakaian kepada manusia. Pertama, pakaian lahir (bahan) untuk menutup aurat dan sebagai perhiasan. Kedua, yang lebih utama, adalah "pakaian takwa" yaitu nilai-nilai ketakwaan yang melindungi dan menghiasi hati serta perilaku. Hikmahnya, kesempurnaan seorang muslim tidak hanya diukur dari penampilan fisik yang menutup aurat, tetapi lebih penting dari ketakwaan yang menyelimuti seluruh kehidupannya.
# 2
وقال تعالى: ﴿ وجعل لكم سرابيل تقيكم الحر وسرابيل تقيكم بأسكم ﴾ سورة النحل(81)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dia menjadikan untukmu pakaian yang memeliharamu dari panas (dan dingin), dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan." (An-Nahl: 81)
Penjelasan singkat: Ayat ini bukan hadis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Ia mengingatkan kita bahwa pakaian dan perlindungan fisik adalah nikmat dan tanda kasih sayang Allah. Nikmat ini mengajak kita untuk selalu bersyukur, sekaligus menunjukkan bahwa persiapan lahiriah (seperti baju besi dalam perang) adalah bagian dari ikhtiar yang diperintahkan.
Penjelasan singkat: Ayat ini bukan hadis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Ia mengingatkan kita bahwa pakaian dan perlindungan fisik adalah nikmat dan tanda kasih sayang Allah. Nikmat ini mengajak kita untuk selalu bersyukur, sekaligus menunjukkan bahwa persiapan lahiriah (seperti baju besi dalam perang) adalah bagian dari ikhtiar yang diperintahkan.
# 3
وعن ابنِ عبَّاس رضيَ اللَّه عنْهُما أنَّ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ البَيَاضَ ، فَإِنَّهَا مِن خَيْرِ ثِيابِكُمْ ، وَكَفِّنُوا فِيها مَوْتَاكُمْ » رواهُ أبو داود ، والترمذي وقال : حديث حسن صحيح.
Terjemahan
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Pakailah pakaian berwarna putih, karena itu adalah sebaik-baik pakaian untuk kalian, dan kafanilah mayit kalian dengannya." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits ini hasan)
Penjelasan singkat: Hadis ini menganjurkan umat Islam untuk memprioritaskan pakaian putih dalam kehidupan sehari-hari dan untuk kafan saat meninggal. Warna putih melambangkan kesucian, kebersihan, dan kesederhanaan. Anjuran ini mengajarkan untuk menyukai hal-hal yang baik dan bersih dalam hidup, serta menyiapkan kematian dengan cara yang sesuai sunnah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menganjurkan umat Islam untuk memprioritaskan pakaian putih dalam kehidupan sehari-hari dan untuk kafan saat meninggal. Warna putih melambangkan kesucian, kebersihan, dan kesederhanaan. Anjuran ini mengajarkan untuk menyukai hal-hal yang baik dan bersih dalam hidup, serta menyiapkan kematian dengan cara yang sesuai sunnah.
# 4
وعن سَمُرَةَ رضيَ اللَّه عنه قال : قالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «الْبَسُوا البَيَاضَ ، فَإِنها أَطْهرُ وأَطَيبُ ، وكَفِّنُوا فِيها مَوْتَاكُمْ » رواهُ النسائى ، والحاكم وقال : حديث صحيح .
Terjemahan
Dari Samurah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Pakailah pakaian berwarna putih, karena ia lebih bersih dan paling baik, dan kafanilah mayit kalian dengannya." (Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Al-Hakim, dan ia berkata: Hadits ini shahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini menganjurkan umat Islam untuk mengutamakan pakaian putih dalam kehidupan sehari-hari dan juga sebagai kain kafan. Warna putih dipilih karena melambangkan kesucian, kebersihan, dan kebaikan. Anjuran ini mengajarkan kesederhanaan, keseragaman dalam kematian, serta mempersiapkan kematian dengan hal yang terbaik.
Penjelasan singkat: Hadis ini menganjurkan umat Islam untuk mengutamakan pakaian putih dalam kehidupan sehari-hari dan juga sebagai kain kafan. Warna putih dipilih karena melambangkan kesucian, kebersihan, dan kebaikan. Anjuran ini mengajarkan kesederhanaan, keseragaman dalam kematian, serta mempersiapkan kematian dengan hal yang terbaik.
# 5
وعن البراءِ رضيَ اللَّه عنه قال : كانَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَرْبُوعاً وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ في حُلَّةِ حمْراءَ ما رأَيْتُ شَيْئاً قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ . متَّفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Al-Bara' radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah ﷺ adalah seorang yang berperawakan sedang dan tegap. Sungguh aku pernah melihat beliau mengenakan jubah berwarna merah. Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah dari itu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kesempurnaan fisik Rasulullah ﷺ sebagai bagian dari kenabian, dengan postur tubuh yang proporsional dan tegap. Penggambaran keindahan beliau saat memakai jubah merah menunjukkan keteladanan dalam berpenampilan pantas dan rapi. Secara implisit, hadis ini juga mengajarkan tentang kecintaan dan kekaguman sahabat kepada pribadi Rasulullah ﷺ, yang terpancar dari pengamatan sederhana terhadap penampilan beliau.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kesempurnaan fisik Rasulullah ﷺ sebagai bagian dari kenabian, dengan postur tubuh yang proporsional dan tegap. Penggambaran keindahan beliau saat memakai jubah merah menunjukkan keteladanan dalam berpenampilan pantas dan rapi. Secara implisit, hadis ini juga mengajarkan tentang kecintaan dan kekaguman sahabat kepada pribadi Rasulullah ﷺ, yang terpancar dari pengamatan sederhana terhadap penampilan beliau.
# 6
وعن أبي جُحَيْفَةَ وهْبِ بنِ عبدِ اللَّهِ رضيَ اللَّه عنهُ قال : رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بمَكَّةَ وَهُوَ بِالأَبْطَحِ في قُبَّةٍ لَهُ حمْراءَ مِنْ أَدَمٍ فَخَرَجَ بِلالٌ بِوَضوئِهِ ، فَمِنْ نَاضِحٍ ونَائِلٍ ، فَخَرَجَ النبى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وعَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ ، كَأَنِّى أَنْظرُ إِلى بَيَاضِ ساقَيْهِ ، فَتَوضَّأَ وَأَذَّنَ بِلالٌ ، فَجَعَلْتُ أَتَتبَّعُ فَاهُ ههُنَا وههُنَا ، يقولُ يَمِيناً وشِمَالاً: حَيَّ عَلى الصَّلاةِ ، حيَّ على الفَلاَحِ . ثُمَّ رُكِزَتْ لَهُ عَنَزَةٌ ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ الكَلْبُ وَالحِمَارُ لاَ يُمْنعُ. متَّفقٌ عليه . «العَنَزَةُ» بفتح النونِ نحْوُ العُكازَة .
Terjemahan
Dari Abu Juhaifah Wahb bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku melihat Rasulullah ﷺ di Abthah, Makkah, di dalam kemah beliau yang berwarna merah, terbuat dari kulit yang telah disamak. Saat itu, Bilal keluar membawakan air wudhu untuk beliau. Sebagian orang berebut mengambil sisa air wudhu beliau, dan sebagian lain hanya mengambil percikannya saja. Kemudian beliau keluar dengan mengenakan pakaian luar berwarna merah. Aku masih ingat betis beliau yang putih di kedua sisi. Beliau berwudhu, sementara Bilal mengumandangkan azan. Aku memperhatikan mulutnya ke arah sini dan ke arah sana (saat mengumandangkan azan). Beliau mengumandangkan dengan menengok ke kanan dan ke kiri: "Hayya 'alash shalah, hayya 'alal falah" (Marilah menunaikan shalat, marilah menuju kemenangan). Kemudian ditancapkan sebuah tombak di depan beliau sebagai sutrah (pembatas dalam shalat). Beliau maju dan melaksanakan shalat. Tiba-tiba ada seekor anjing dan keledai lewat di depan (sutrah), tetapi tidak ada yang mencegahnya (karena ada pembatas). (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan praktik langsung Nabi ﷺ dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari. Kita dapat mengambil pelajaran tentang kesederhanaan beliau (tinggal di kemah kulit), keteladanan dalam berwudhu, serta semangat para sahabat dalam mencari berkah (tabarruk) dari sisa air wudhu dan bekas tubuh Rasulullah ﷺ. Selain itu, tata cara azan Bilal yang menengok ke kanan dan kiri menunjukkan metode penyampaian dakwah yang efektif.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan praktik langsung Nabi ﷺ dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari. Kita dapat mengambil pelajaran tentang kesederhanaan beliau (tinggal di kemah kulit), keteladanan dalam berwudhu, serta semangat para sahabat dalam mencari berkah (tabarruk) dari sisa air wudhu dan bekas tubuh Rasulullah ﷺ. Selain itu, tata cara azan Bilal yang menengok ke kanan dan kiri menunjukkan metode penyampaian dakwah yang efektif.
# 7
وعن أبي رِمْثة رفاعَةَ التَّميْمِيِّ رضيَ اللَّه عنه قال : رأَيت رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وعلَيْه ثوبان أَخْضَرانِ . رواهُ أَبو داود ، والترمذي بإِسْنَادٍ صحيحٍ .
Terjemahan
Dan dari Abu Rimtsah Rifa'ah At-Tamimi radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku melihat Rasulullah ﷺ mengenakan dua kain berwarna hijau. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan sanad yang shahih.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kebolehan mengenakan pakaian berwarna hijau, karena Rasulullah ﷺ pernah memakainya. Warna hijau yang dimaksud adalah warna alami dari celupan tanaman, bukan warna identik untuk suatu kelompok. Hadis ini juga menjadi dalil tentang sifat sederhana dan wibawa Nabi dalam berpenampilan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kebolehan mengenakan pakaian berwarna hijau, karena Rasulullah ﷺ pernah memakainya. Warna hijau yang dimaksud adalah warna alami dari celupan tanaman, bukan warna identik untuk suatu kelompok. Hadis ini juga menjadi dalil tentang sifat sederhana dan wibawa Nabi dalam berpenampilan.
# 8
وعن جابر رضيَ اللَّه عنه ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم دَخَلَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وعَلَيْهِ عِمامةٌ سوْداءُ . رواهُ مسلم
Terjemahan
Dan dari Jabir radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ memasuki (Makkah) pada hari Fathu Makkah dengan mengenakan sorban hitam. Diriwayatkan oleh Muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan sunnah Nabi ﷺ dalam berpenampilan, khususnya penggunaan sorban (imamah) dengan warna hitam. Kisahnya terjadi pada momen bersejarah dan penuh kemenangan, yaitu Fathu Makkah, yang mengisyaratkan bahwa sorban adalah bagian dari pakaian yang mulia. Warna hitam yang dipilih Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa warna tersebut diperbolehkan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan sunnah Nabi ﷺ dalam berpenampilan, khususnya penggunaan sorban (imamah) dengan warna hitam. Kisahnya terjadi pada momen bersejarah dan penuh kemenangan, yaitu Fathu Makkah, yang mengisyaratkan bahwa sorban adalah bagian dari pakaian yang mulia. Warna hitam yang dipilih Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa warna tersebut diperbolehkan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
# 9
وعن أبي سعيد عمرو بن حُرَيْثٍ رضيَ اللَّه عنه قال : كأَنى أَنظر إِلى رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وعَليْهِ عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ قدْ أَرْخَى طَرَفيها بَيْنَ كتفيْهِ . رواه مسلم .
وفي روايةٍ له : أَن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم خَطَبَ النَّاسَ ، وعَلَيْهِ عِمَامَة سَودَاءُ .
Terjemahan
Dan dari Abu Sa'id 'Amr bin Huraits radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seakan-akan aku masih melihat Rasulullah ﷺ dengan mengenakan sorban hitam yang ujungnya beliau biarkan terjuntai di antara kedua pundaknya. Diriwayatkan oleh Muslim.
Dan dalam riwayat lain darinya: Bahwa Rasulullah ﷺ berkhutbah di hadapan manusia dengan mengenakan sorban hitam.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan sunnah Nabi ﷺ dalam berpakaian, khususnya penggunaan imamah (sorban) berwarna hitam. Hal ini menunjukkan bolehnya dan keutamaan memakai sorban, terutama saat menghadiri majlis ilmu atau berkhutbah. Kisah ini juga menggambarkan ketelitian para sahabat dalam memperhatikan dan meneladani setiap aspek kehidupan Rasulullah ﷺ, termasuk dalam hal pakaian.
Dan dalam riwayat lain darinya: Bahwa Rasulullah ﷺ berkhutbah di hadapan manusia dengan mengenakan sorban hitam.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan sunnah Nabi ﷺ dalam berpakaian, khususnya penggunaan imamah (sorban) berwarna hitam. Hal ini menunjukkan bolehnya dan keutamaan memakai sorban, terutama saat menghadiri majlis ilmu atau berkhutbah. Kisah ini juga menggambarkan ketelitian para sahabat dalam memperhatikan dan meneladani setiap aspek kehidupan Rasulullah ﷺ, termasuk dalam hal pakaian.
# 10
وعن عائشة رضي اللَّه عنها قالت : كُفِّنَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في ثلاثة أَثْوَابٍ بيضٍ سَحُوليَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ ، لَيْسَ فيهَا قَمِيصٌ وَلا عِمامَةٌ . متفقٌ عليه .
« السَّحُوليَّةُ » بفتحِ السين وضمها وضم الحاء المهملتين : ثيابٌ تُنْسَب إِلى سَحُولٍ : قَرْيَةٍ باليَمنِ « وَالكُرْسُف » : القُطْن .
Terjemahan
Dan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ dikafani dengan tiga helai kain putih yang terbuat dari katun Sahuliyah, tanpa baju dan tanpa sorban. Muttafaqun 'alaih.
"As-Sahuliyyah" dengan memfathahkan atau mendhommahkan sin dan mendhommahkan ha': adalah pakaian yang dinisbatkan ke Sahul, sebuah desa di Yaman. "Al-Kursuf" adalah katun.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan kesederhanaan Nabi Muhammad ﷺ, bahkan dalam urusan kematian. Kain kafan beliau hanya tiga helai berwarna putih dan terbuat dari katun biasa, tanpa atribut khusus seperti baju atau sorban. Ini menjadi teladan bagi umat Islam untuk tidak berlebihan dalam pengurusan jenazah dan menganjurkan penggunaan kain kafan yang sederhana serta berwarna putih.
"As-Sahuliyyah" dengan memfathahkan atau mendhommahkan sin dan mendhommahkan ha': adalah pakaian yang dinisbatkan ke Sahul, sebuah desa di Yaman. "Al-Kursuf" adalah katun.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan kesederhanaan Nabi Muhammad ﷺ, bahkan dalam urusan kematian. Kain kafan beliau hanya tiga helai berwarna putih dan terbuat dari katun biasa, tanpa atribut khusus seperti baju atau sorban. Ini menjadi teladan bagi umat Islam untuk tidak berlebihan dalam pengurusan jenazah dan menganjurkan penggunaan kain kafan yang sederhana serta berwarna putih.
# 11
وعنها قالت : خَرَجَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ذات غَداةٍ وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ منْ شَعْرٍ أَسود رواه مسلم .
« المِرْط » بكسر الميم : وهو كساءَ . « والمُرَحَّل » بالْحاءِ المهملة : هو الذي فيه صورةُ رِحال الإِبل ، وَهيَ الأَكْوَارُ
Terjemahan
Dan darinya ('Aisyah) ia berkata: Rasulullah ﷺ keluar pada suatu pagi dengan mengenakan selimut bergambar pelana onta yang terbuat dari bulu hitam. Diriwayatkan oleh Muslim.
"Al-Mirth" dengan mengkasrahkan mim: adalah selimut. "Al-Murahhal" dengan ha': adalah yang ada gambar pelana onta, yaitu al-akwar (pelana).
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kesederhanaan Nabi Muhammad ﷺ dalam berpakaian dan penggunaan barang-barang yang tersedia, seperti selimut dari bulu hewan. Meski merupakan pemimpin umat, beliau tidak hidup bermewah-mewah. Kisah ini juga menggambarkan kebiasaan sehari-hari beliau yang dicatat dengan rinci oleh istri, menjadi teladan dalam kesahajaan dan keteladanan yang dekat dengan kehidupan biasa.
"Al-Mirth" dengan mengkasrahkan mim: adalah selimut. "Al-Murahhal" dengan ha': adalah yang ada gambar pelana onta, yaitu al-akwar (pelana).
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kesederhanaan Nabi Muhammad ﷺ dalam berpakaian dan penggunaan barang-barang yang tersedia, seperti selimut dari bulu hewan. Meski merupakan pemimpin umat, beliau tidak hidup bermewah-mewah. Kisah ini juga menggambarkan kebiasaan sehari-hari beliau yang dicatat dengan rinci oleh istri, menjadi teladan dalam kesahajaan dan keteladanan yang dekat dengan kehidupan biasa.
# 12
وعن المُغِيرةِ بن شُعْبَةَ رضي اللَّه عنه قال : كُنْتُ مع رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ذاتَ ليلَة في مسيرٍ ، فقال لي : « أَمعَكَ مَاء ؟ » قلت : نَعَمْ ، فَنَزَلَ عن راحِلتِهِ فَمَشى حتى توَارَى في سَوادِ اللَّيْلِ ثم جاءَ فَأَفْرَغْتُ علَيْهِ مِنَ الإِدَاوَةٍ ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَعَلَيهِ جُبَّةٌ مِنْ صُوفٍ ، فلم يَسْتَطِعْ أَنْ يُخْرِجَ ذِراعَيْهِ منها حتى أَخْرَجَهُمَا مِنْ أَسْفَلِ الجُبَّةِ ، فَغَسَلَ ذِرَاعيْهِ وَمَسَحَ برأْسِه ثُمَّ أَهْوَيْت لأَنزعَ خُفَّيْهِ فقال : « دعْهمَا فَإِنى أَدخَلْتُهُما طَاهِرَتَينِ » وَمَسَحَ عَلَيْهِما . متفقٌ عليه .
وفي روايةٍ : وعَلَيْهِ جُبَّةٌ شامِيَّةٌ ضَيقَةُ الْكُمَّيْنِ .
وفي روايةٍ : أَنَّ هذِه القصةَ كانت في غَزْوَةِ تَبُوكَ .
Terjemahan
Dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Pada suatu malam dalam sebuah perjalanan, aku bersama Rasulullah ﷺ. Beliau bertanya kepadaku: "Apakah kamu membawa air?" Aku menjawab: "Ya, ada." Lalu beliau turun dari tunggangannya dan pergi menjauh hingga tak terlihat karena gelapnya malam. Beberapa saat kemudian beliau kembali. Aku menuangkan air dari geriba untuk beliau. Beliau membasuh muka. Saat itu beliau mengenakan jubah besar dari bulu domba, dan tidak bisa mengeluarkan kedua lengannya (karena lengan bajunya sempit). Maka beliau mengeluarkan tangannya dari bawah jubah itu, lalu membasuh kedua tangannya dan mengusap kepalanya. Kemudian aku membungkuk untuk melepas kedua sepatu beliau, tetapi beliau bersabda: "Biarkan saja, karena aku memakainya dalam keadaan suci (sudah berwudhu)." Lalu beliau mengusap kedua sepatunya. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan: Beliau mengenakan jubah dari kain tebal, lengannya sempit.
Dalam riwayat lain disebutkan: Peristiwa ini terjadi dalam perang Tabuk.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab buang hajat, yaitu menjauh dan mencari tempat tertutup agar tidak terlihat orang lain. Selain itu, hadis ini juga menunjukkan tata cara wudhu Nabi ﷺ dengan memulai membasuh wajah, lalu kedua tangan, kemudian mengusap kepala, dan terakhir membasuh kaki beserta khuf (sepatu kulit). Kisah ini menggambarkan kesederhanaan dan kepatuhan Nabi ﷺ dalam menjalankan syariat, meskipun dalam kondisi safar dan mengenakan pakaian yang sederhana.
Dalam riwayat lain disebutkan: Beliau mengenakan jubah dari kain tebal, lengannya sempit.
Dalam riwayat lain disebutkan: Peristiwa ini terjadi dalam perang Tabuk.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab buang hajat, yaitu menjauh dan mencari tempat tertutup agar tidak terlihat orang lain. Selain itu, hadis ini juga menunjukkan tata cara wudhu Nabi ﷺ dengan memulai membasuh wajah, lalu kedua tangan, kemudian mengusap kepala, dan terakhir membasuh kaki beserta khuf (sepatu kulit). Kisah ini menggambarkan kesederhanaan dan kepatuhan Nabi ﷺ dalam menjalankan syariat, meskipun dalam kondisi safar dan mengenakan pakaian yang sederhana.