Kitab 13 · Bab 1
Pahala Ilmu Pengetahuan
✦ 21 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾[سورة طه(114)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan katakanlah (Muhammad), 'Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'"
(Thaha: 114)
Penjelasan singkat: Ayat ini bukan hadis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Perintah ini mengajarkan bahwa menuntut ilmu adalah ibadah sepanjang hayat. Seorang mukmin harus selalu merasa kurang ilmunya dan terus memohon tambahan ilmu kepada Allah. Ilmu yang diminta adalah ilmu yang bermanfaat, yang mendekatkan diri kepada-Nya dan membawa kemaslahatan.
(Thaha: 114)
Penjelasan singkat: Ayat ini bukan hadis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Perintah ini mengajarkan bahwa menuntut ilmu adalah ibadah sepanjang hayat. Seorang mukmin harus selalu merasa kurang ilmunya dan terus memohon tambahan ilmu kepada Allah. Ilmu yang diminta adalah ilmu yang bermanfaat, yang mendekatkan diri kepada-Nya dan membawa kemaslahatan.
# 2
وقال تعالى: ﴿ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ﴾[سورة الزمر(9)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
(Az-Zumar: 9)
Penjelasan singkat: Ayat ini bukan hadis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Ia menegaskan keutamaan dan kemuliaan ilmu, serta perbedaan mendasar antara orang yang berilmu dan yang jahil. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar'i yang membimbing kepada pengenalan terhadap Allah dan pelaksanaan agama-Nya. Ayat ini mendorong setiap muslim untuk menuntut ilmu agar hidupnya tidak sama dengan orang yang berada dalam kebodohan.
(Az-Zumar: 9)
Penjelasan singkat: Ayat ini bukan hadis, melainkan firman Allah dalam Al-Qur'an. Ia menegaskan keutamaan dan kemuliaan ilmu, serta perbedaan mendasar antara orang yang berilmu dan yang jahil. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar'i yang membimbing kepada pengenalan terhadap Allah dan pelaksanaan agama-Nya. Ayat ini mendorong setiap muslim untuk menuntut ilmu agar hidupnya tidak sama dengan orang yang berada dalam kebodohan.
# 3
وقال تعالى: ﴿ يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ﴾[سورة المجادلة(11)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
(Al-Mujadilah: 11)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan keutamaan iman dan ilmu. Allah secara khusus mengangkat derajat orang berilmu di atas orang beriman biasa, menunjukkan kemuliaan ilmu syar'i. Ini memotivasi untuk mencari ilmu yang menguatkan iman dan bermanfaat, serta menjadi pengingat bahwa kemuliaan sejati di sisi Allah diraih dengan ketakwaan dan pengetahuan agama.
(Al-Mujadilah: 11)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan keutamaan iman dan ilmu. Allah secara khusus mengangkat derajat orang berilmu di atas orang beriman biasa, menunjukkan kemuliaan ilmu syar'i. Ini memotivasi untuk mencari ilmu yang menguatkan iman dan bermanfaat, serta menjadi pengingat bahwa kemuliaan sejati di sisi Allah diraih dengan ketakwaan dan pengetahuan agama.
# 4
وقال تعالى: ﴿ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ﴾[سورة فاطر(28)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."
(Fathir: 28)
Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan bahwa rasa takut (khasyyah) yang sejati kepada Allah hanya dimiliki oleh para ulama yang memahami ilmu agama secara mendalam. Semakin dalam ilmu seseorang tentang Allah, sifat-Nya, dan kekuasaan-Nya, semakin besar rasa takut dan pengagungannya. Dengan demikian, ilmu yang benar harusnya membuahkan ketakwaan, bukan kesombongan.
(Fathir: 28)
Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan bahwa rasa takut (khasyyah) yang sejati kepada Allah hanya dimiliki oleh para ulama yang memahami ilmu agama secara mendalam. Semakin dalam ilmu seseorang tentang Allah, sifat-Nya, dan kekuasaan-Nya, semakin besar rasa takut dan pengagungannya. Dengan demikian, ilmu yang benar harusnya membuahkan ketakwaan, bukan kesombongan.
# 5
وعَنْ مُعاوِيةَ ، رضي اللَّه عنْهُ ، قال : قَال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ يُرِد اللَّه بِهِ خيْراً يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah pahamkan ia dalam agama."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan bahwa pemahaman yang mendalam tentang agama (ilmu syar'i) adalah tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa petunjuk utama Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba adalah dengan memberinya kefahaman (tafaqquh) dalam agama. Kebaikan yang dimaksud bersifat menyeluruh, dunia dan akhirat. Oleh karena itu, semangat menuntut ilmu syar'i adalah bukti cinta dan perhatian Allah kepada hamba-Nya. Sebaliknya, kebodohan dalam agama merupakan tanda terhalangnya seseorang dari kebaikan.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menunjukkan bahwa pemahaman yang mendalam tentang agama (ilmu syar'i) adalah tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa petunjuk utama Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba adalah dengan memberinya kefahaman (tafaqquh) dalam agama. Kebaikan yang dimaksud bersifat menyeluruh, dunia dan akhirat. Oleh karena itu, semangat menuntut ilmu syar'i adalah bukti cinta dan perhatian Allah kepada hamba-Nya. Sebaliknya, kebodohan dalam agama merupakan tanda terhalangnya seseorang dari kebaikan.
# 6
وعنْ ابنِ مسْعُودٍ ، رضي اللَّه عنْه ، قَال : قَال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا حَسَد إلاَّ في اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ آتَاهُ اللَّه مَالاً فَسلَّطهُ عَلى هلَكَتِهِ في الحَقِّ ، ورَجُلٌ آتاهُ اللَّه الحِكْمَةَ فهُوَ يَقْضِي بِهَا ، وَيُعَلِّمُهَا » مُتَّفَقٌ عَليهِ .
والمرادُ بالحسدِ الْغِبْطَةُ ، وَهُوَ أنْ يتَمنَّى مثْلَهُ .
Terjemahan
Dan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak boleh hasad (iri) kecuali terhadap dua hal: (terhadap) seorang laki-laki yang Allah beri harta, lalu ia infakkan di jalan yang benar; dan seorang laki-laki yang Allah beri hikmah (ilmu), lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya."
(Muttafaqun 'alaih)
Yang dimaksud dengan hasad di sini adalah ghibthah (iri yang diperbolehkan), yaitu mengharapkan bisa seperti orang tersebut.
Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan bahwa hanya ada dua hal yang boleh diiri, yaitu orang yang menggunakan hartanya untuk kebaikan dan orang yang berilmu lalu mengamalkan serta mengajarkannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa hasad (iri hati) yang dilarang adalah yang disertai keinginan untuk menghilangkan nikmat orang lain. Adapun iri yang diperbolehkan (ghibthah) hanya dalam dua hal: kepada orang yang diberi harta lalu ia infakkan di jalan kebenaran, dan kepada orang yang diberi ilmu lalu ia amalkan serta ajarkan. Inti pelajarannya adalah mendorong umat untuk berlomba dalam kebaikan, dengan meneladani dan berharap dapat meniru orang yang menggunakan nikmatnya untuk kemaslahatan agama.
(Muttafaqun 'alaih)
Yang dimaksud dengan hasad di sini adalah ghibthah (iri yang diperbolehkan), yaitu mengharapkan bisa seperti orang tersebut.
Penjelasan singkat: Hadits ini menjelaskan bahwa hanya ada dua hal yang boleh diiri, yaitu orang yang menggunakan hartanya untuk kebaikan dan orang yang berilmu lalu mengamalkan serta mengajarkannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa hasad (iri hati) yang dilarang adalah yang disertai keinginan untuk menghilangkan nikmat orang lain. Adapun iri yang diperbolehkan (ghibthah) hanya dalam dua hal: kepada orang yang diberi harta lalu ia infakkan di jalan kebenaran, dan kepada orang yang diberi ilmu lalu ia amalkan serta ajarkan. Inti pelajarannya adalah mendorong umat untuk berlomba dalam kebaikan, dengan meneladani dan berharap dapat meniru orang yang menggunakan nikmatnya untuk kemaslahatan agama.
# 7
وعَنْ أبي مُوسى ، رضي اللَّه عنْهُ ، قال : قَالَ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَثَلُ مَا بعثَنِي اللَّه بِهِ مِنَ الهُدى والْعِلْمِ كَمَثَل غَيْثٍ أصاب أرْضاً ، فَكَانَتْ مِنْهَا طَائفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ المَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ ، وَالْعُشْب الْكَثِيرَ ، وَكَانَ مِنْهَا أجَادِبُ أمسَكَتِ المَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّه بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وزَرَعُوا ، وأَصَاب طَائفَةً مِنْهَا أُخْرى إنَّما هِي قِيعانٌ ، لا تمْسِكُ مَاءً ، وتُنْبِتُ كَلأً ، فَذلكَ مثَلُ منْ فَقُهَ في دِينِ اللَّهِ ، وَنَفَعَهُ ما بَعَثَنِي اللَّه بِهِ فَعلِمَ وَعلَّمَ، وَمَثَلُ منْ لَمْ يَرْفَعْ بِذلكَ رأساً ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذي أُرْسِلْتُ بِهِ » متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dan dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku dengannya adalah seperti hujan yang menyirami bumi. Di antaranya ada tanah yang subur yang menerima air lalu menumbuhkan rerumputan yang banyak. Di antaranya ada tanah yang keras yang menahan air, lalu Allah memberi manfaat kepada manusia dengannya; mereka minum, memberi minum, dan bercocok tanam. Dan di antaranya ada tanah yang lain, yaitu tanah yang tandus, tidak dapat menahan air dan tidak menumbuhkan rumput. Itulah perumpamaan orang yang paham agama Allah dan bermanfaat baginya apa yang Allah utus aku dengannya, lalu ia belajar dan mengajar; dan perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepala (tidak peduli) terhadapnya dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya."
(Muttafaqun 'alaih)
Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan tiga jenis manusia dalam menerima ilmu dan petunjuk agama: yang menerima, mengamalkan, dan mengajarkannya (seperti tanah subur); yang menerima dan menyimpannya untuk dimanfaatkan orang lain (seperti tanah yang menahan air); dan yang sama sekali tidak menerimanya (seperti tanah tandus).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan tiga tipe manusia dalam menerima ilmu dan hidayah Islam. Pertama, seperti tanah subur yang segera mengamalkan dan mengajarkannya. Kedua, seperti tanah keras yang menyimpan ilmu untuk kemanfaatan orang lain. Ketiga, seperti tanah tandus yang tidak bisa menahan ilmu, sehingga tidak memberi manfaat. Hikmahnya adalah kita harus berusaha menjadi dua tipe pertama: mengamalkan ilmu dan membagikannya untuk kemaslahatan umat.
(Muttafaqun 'alaih)
Penjelasan singkat: Hadits ini menggambarkan tiga jenis manusia dalam menerima ilmu dan petunjuk agama: yang menerima, mengamalkan, dan mengajarkannya (seperti tanah subur); yang menerima dan menyimpannya untuk dimanfaatkan orang lain (seperti tanah yang menahan air); dan yang sama sekali tidak menerimanya (seperti tanah tandus).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan tiga tipe manusia dalam menerima ilmu dan hidayah Islam. Pertama, seperti tanah subur yang segera mengamalkan dan mengajarkannya. Kedua, seperti tanah keras yang menyimpan ilmu untuk kemanfaatan orang lain. Ketiga, seperti tanah tandus yang tidak bisa menahan ilmu, sehingga tidak memberi manfaat. Hikmahnya adalah kita harus berusaha menjadi dua tipe pertama: mengamalkan ilmu dan membagikannya untuk kemaslahatan umat.
# 8
وعَنْ سَهْلِ بن سعدٍ ، رضي اللَّه عنْهُ ، أنَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ لِعَليًّ ، رضي اللَّه عنْهُ : « فو اللَّهِ لأنْ يهْدِيَ اللَّه بِكَ رجُلاً واحِداً خَيْرٌ لكَ من حُمْرِ النَّعم » متفقٌ عليهِ.
Terjemahan
Dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda kepada 'Ali radhiyallahu 'anhu: "Demi Allah, sungguh jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang melalui dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah (harta yang sangat berharga)."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menekankan keutamaan besar dari berdakwah dan mengajarkan ilmu, di mana dapat membimbing satu orang saja kepada hidayah nilainya melebihi harta dunia yang paling berharga.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan berdakwah dan memberi petunjuk (hidayah) kepada orang lain. Nilai dari mengislamkan atau membimbing satu orang saja melebihi segala harta dunia yang paling berharga sekalipun, yaitu unta merah. Ini menjadi motivasi agung untuk mengajak pada kebaikan, dengan pahala yang tak terkira di sisi Allah.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini menekankan keutamaan besar dari berdakwah dan mengajarkan ilmu, di mana dapat membimbing satu orang saja kepada hidayah nilainya melebihi harta dunia yang paling berharga.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan berdakwah dan memberi petunjuk (hidayah) kepada orang lain. Nilai dari mengislamkan atau membimbing satu orang saja melebihi segala harta dunia yang paling berharga sekalipun, yaitu unta merah. Ini menjadi motivasi agung untuk mengajak pada kebaikan, dengan pahala yang tak terkira di sisi Allah.
# 9
وعن عبدِ اللَّه بن عمرو بن العاص ، رضي اللَّه عنْهُما ، أنَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: «بلِّغُوا عَنِّي ولَوْ آيَةً ، وحَدِّثُوا عنْ بني إسْرَائيل وَلا حَرجَ ، ومنْ كَذَب علَيَّ مُتَعمِّداً فَلْيتبَوَّأْ مَقْعَدهُ من النَّار » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Dan ceritakanlah (riwayat) dari Bani Israil, itu tidak mengapa. Tetapi barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadits ini memerintahkan untuk menyebarkan ilmu agama walau sedikit, membolehkan meriwayatkan kisah dari Bani Israil selama tidak bertentangan dengan syariat, dan memberikan ancaman sangat keras bagi pemalsu hadits.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengandung tiga inti pelajaran. Pertama, kewajiban menyebarkan ilmu agama meski hanya sedikit. Kedua, kebolehan meriwayatkan kisah-kisah Bani Israil sebagai pelajaran, dengan kehati-hatian. Ketiga, ancaman sangat keras bagi siapa saja yang sengaja memalsukan hadis, dengan ancaman neraka. Hadis ini menekankan tanggung jawab besar dalam menjaga otentisitas ajaran Nabi.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadits ini memerintahkan untuk menyebarkan ilmu agama walau sedikit, membolehkan meriwayatkan kisah dari Bani Israil selama tidak bertentangan dengan syariat, dan memberikan ancaman sangat keras bagi pemalsu hadits.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengandung tiga inti pelajaran. Pertama, kewajiban menyebarkan ilmu agama meski hanya sedikit. Kedua, kebolehan meriwayatkan kisah-kisah Bani Israil sebagai pelajaran, dengan kehati-hatian. Ketiga, ancaman sangat keras bagi siapa saja yang sengaja memalsukan hadis, dengan ancaman neraka. Hadis ini menekankan tanggung jawab besar dalam menjaga otentisitas ajaran Nabi.
# 10
وعنْ أبي هُريرةَ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، أنَّ رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قالَ : « .... ومَنْ سلَك طرِيقاً يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْماً ، سهَّلَ اللَّه لَهُ بِهِ طَرِيقاً إلى الجَنَّةِ » رواهُ مسلمٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "...Dan barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
Penjelasan: Orang yang bersungguh-sungguh mencari ilmu agama yang bermanfaat akan diberi kemudahan oleh Allah untuk masuk surga.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan kemuliaan mencari ilmu, khususnya ilmu agama. Ibadah mencari ilmu disejajarkan dengan jihad di jalan Allah, karena ia adalah jalan menuju surga. Allah menjamin kemudahan dan tuntunan bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh menempuh jalan ini sebagai balasan langsung dari-Nya. Dengan demikian, semangat menuntut ilmu menjadi bukti kecintaan seorang hamba kepada surga Tuhannya.
Penjelasan: Orang yang bersungguh-sungguh mencari ilmu agama yang bermanfaat akan diberi kemudahan oleh Allah untuk masuk surga.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan kemuliaan mencari ilmu, khususnya ilmu agama. Ibadah mencari ilmu disejajarkan dengan jihad di jalan Allah, karena ia adalah jalan menuju surga. Allah menjamin kemudahan dan tuntunan bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh menempuh jalan ini sebagai balasan langsung dari-Nya. Dengan demikian, semangat menuntut ilmu menjadi bukti kecintaan seorang hamba kepada surga Tuhannya.
# 11
وَعَنهُ ، أيضاً ، رضي اللَّه عنْه أنَّ رَسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « مَنْ دعا إلى هُدىً كانَ لهُ مِنَ الأجْر مِثلُ أُجورِ منْ تَبِعهُ لا ينْقُصُ ذلكَ من أُجُورِهِم شَيْئاً » رواهُ مسلمٌ.
Terjemahan
Dari dia (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang menyeru orang lain kepada petunjuk (kebenaran), maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan keutamaan besar dalam berdakwah mengajak kepada kebaikan. Siapa pun yang mengajak orang lain kepada petunjuk (hidayah) Islam atau amal saleh, maka ia akan mendapat pahala setara dengan pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Ini menjadi motivasi kuat untuk selalu aktif dalam kebaikan dan menyebarkannya, karena pahalanya terus mengalir seiring dengan diikuti ajakannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan keutamaan besar dalam berdakwah mengajak kepada kebaikan. Siapa pun yang mengajak orang lain kepada petunjuk (hidayah) Islam atau amal saleh, maka ia akan mendapat pahala setara dengan pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Ini menjadi motivasi kuat untuk selalu aktif dalam kebaikan dan menyebarkannya, karena pahalanya terus mengalir seiring dengan diikuti ajakannya.
# 12
وعنْهُ قال : قَالَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إذا ماتَ ابْنُ آدَم انْقَطَع عَملُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدقَةٍ جارية ، أوْ عِلمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أوْ وَلدٍ صالحٍ يدْعُو لَهُ » رواهُ مسلمٌ .
Terjemahan
Dari dia (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakannya." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan: Ada tiga amal yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia: amal wakaf, ilmu yang diajarkan, dan doa anak yang shaleh.
Penjelasan singkat: Hadis ini memberikan motivasi untuk beramal jangka panjang. Intinya, kematian memutus semua amal biasa, namun pahala akan terus mengalir dari tiga sumber: wakaf atau proyek sosial yang terus berfungsi, ilmu yang diajarkan dan dimanfaatkan orang lain, serta doa tulus dari anak yang shaleh. Dengan demikian, hikmahnya adalah kita didorong untuk berinvestasi pada amal yang manfaatnya lestari, baik berupa harta, ilmu, maupun pendidikan anak, sebagai bekal akhirat yang tak terputus.
Penjelasan: Ada tiga amal yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia: amal wakaf, ilmu yang diajarkan, dan doa anak yang shaleh.
Penjelasan singkat: Hadis ini memberikan motivasi untuk beramal jangka panjang. Intinya, kematian memutus semua amal biasa, namun pahala akan terus mengalir dari tiga sumber: wakaf atau proyek sosial yang terus berfungsi, ilmu yang diajarkan dan dimanfaatkan orang lain, serta doa tulus dari anak yang shaleh. Dengan demikian, hikmahnya adalah kita didorong untuk berinvestasi pada amal yang manfaatnya lestari, baik berupa harta, ilmu, maupun pendidikan anak, sebagai bekal akhirat yang tak terputus.
# 13
وَعنْهُ قَالَ : سمِعْتُ رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : « الدُّنْيَا ملْعُونَةٌ ، ملْعُونٌ ما فِيهَا، إلاَّ ذِكرَ اللَّه تَعَالى ، وما والاَهُ ، وعَالماً ، أوْ مُتَعلِّماً » رواهُ الترمذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ.
قولهُ « وَمَا وَالاهُ » أي : طاعةُ اللِّه .
Terjemahan
Dari dia (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhu, aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dunia ini dilaknat, dan segala yang ada di dalamnya dilaknat, kecuali dzikir kepada Allah, ketaatan kepada-Nya, orang yang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia mengatakan hadits ini hasan)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kecintaan pada dunia secara berlebihan dan melalaikan akhirat adalah tercela. Hanya amalan dan aktivitas yang bernilai ibadah serta berorientasi akhirat yang selamat dari laknat tersebut. Pengecualiannya mencakup dzikir, ketaatan kepada Allah, serta kegiatan menuntut dan mengajarkan ilmu agama, karena semua itu merupakan bekal untuk kehidupan hakiki di akhirat.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kecintaan pada dunia secara berlebihan dan melalaikan akhirat adalah tercela. Hanya amalan dan aktivitas yang bernilai ibadah serta berorientasi akhirat yang selamat dari laknat tersebut. Pengecualiannya mencakup dzikir, ketaatan kepada Allah, serta kegiatan menuntut dan mengajarkan ilmu agama, karena semua itu merupakan bekal untuk kehidupan hakiki di akhirat.
# 14
وَعَنْ أنسٍ ، رضي اللَّه عنْهُ قالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ، صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَن خرَج في طَلَبِ العِلمِ ، فهو في سَبيلِ اللَّهِ حتى يرجِعَ » رواهُ الترْمِذيُّ وقال : حديثٌ حَسنٌ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu, maka dia berada di jalan Allah (fi sabilillah) hingga dia pulang." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia mengatakan hadits ini hasan)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar bagi orang yang berusaha mencari ilmu. Aktivitas menuntut ilmu, sejak berangkat hingga pulang, dihitung sebagai ibadah di jalan Allah (fi sabilillah). Ini menunjukkan bahwa seluruh proses mencari ilmu—baik perjalanan, kesulitan, maupun waktu yang dihabiskan—bernilai pahala. Dengan demikian, hadis ini memotivasi umat Islam untuk bersemangat dalam menuntut ilmu agama.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar bagi orang yang berusaha mencari ilmu. Aktivitas menuntut ilmu, sejak berangkat hingga pulang, dihitung sebagai ibadah di jalan Allah (fi sabilillah). Ini menunjukkan bahwa seluruh proses mencari ilmu—baik perjalanan, kesulitan, maupun waktu yang dihabiskan—bernilai pahala. Dengan demikian, hadis ini memotivasi umat Islam untuk bersemangat dalam menuntut ilmu agama.
# 15
وعَنْ أبي سَعيدٍ الخدْرِيِّ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، عَنْ رسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لَنْ يَشبَع مُؤمِنٌ مِنْ خَيْرٍ حتى يكون مُنْتَهَاهُ الجَنَّةَ » . رواهُ الترمذيُّ ، وقَالَ : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Seorang mukmin tidak akan pernah kenyang dari kebaikan hingga tempat kembalinya adalah surga." (HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata: hadits hasan)
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan karakter mukmin sejati yang selalu haus akan kebaikan. Ia tidak akan pernah merasa puas dengan amal shaleh yang telah dikerjakannya di dunia. Semangat ini akan terus menyala hingga akhir hayat, dengan satu tujuan pencapaian tertinggi, yaitu meraih surga sebagai tempat kembali yang kekal.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan karakter mukmin sejati yang selalu haus akan kebaikan. Ia tidak akan pernah merasa puas dengan amal shaleh yang telah dikerjakannya di dunia. Semangat ini akan terus menyala hingga akhir hayat, dengan satu tujuan pencapaian tertinggi, yaitu meraih surga sebagai tempat kembali yang kekal.
# 16
وعَنْ أبي أُمَامة ، رضي اللَّه عنْهُ ، أنَّ رَسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « فضْلُ الْعالِم على الْعابِدِ كَفَضْلي على أَدْنَاكُمْ » ثُمَّ قال : رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إنَّ اللَّه وملائِكَتَهُ وأَهْلَ السَّمواتِ والأرضِ حتَّى النَّمْلَةَ في جُحْرِهَا وحتى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلى مُعلِّمِي النَّاسِ الخَيْرْ» رواهُ الترمذي وقالَ : حَديثٌ حَسنٌ .
Terjemahan
Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda lagi: "Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam sarangnya dan ikan, semuanya mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia mengatakan hadits ini hasan)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan ilmu dan para pengajarnya. Orang berilmu yang mengamalkan dan mengajarkan kebaikan jauh lebih utama daripada ahli ibadah, diibaratkan seperti keutamaan Nabi atas orang biasa. Pahala mereka sangat agung, hingga seluruh makhluk di alam semesta, termasuk hewan, memohonkan rahmat bagi para pengajar kebaikan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan ilmu dan para pengajarnya. Orang berilmu yang mengamalkan dan mengajarkan kebaikan jauh lebih utama daripada ahli ibadah, diibaratkan seperti keutamaan Nabi atas orang biasa. Pahala mereka sangat agung, hingga seluruh makhluk di alam semesta, termasuk hewan, memohonkan rahmat bagi para pengajar kebaikan.
# 17
وَعَنْ أبي الدَّرْداءِ ، رضي اللَّه عَنْهُ ، قَال : سمِعْتُ رَسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، يقولُ: « منْ سلك طَريقاً يَبْتَغِي فِيهِ علْماً سهَّل اللَّه لَه طَريقاً إلى الجنةِ ، وَإنَّ الملائِكَةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتَهَا لِطالب الْعِلْمِ رِضاً بِما يَصْنَعُ ، وَإنَّ الْعالِم لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ منْ في السَّمَواتِ ومنْ في الأرْضِ حتَّى الحِيتانُ في الماءِ ، وفَضْلُ الْعَالِم على الْعابِدِ كَفَضْلِ الْقَمر عَلى سائر الْكَوَاكِبِ، وإنَّ الْعُلَماءَ وَرَثَةُ الأنْبِياءِ وإنَّ الأنْبِياءَ لَمْ يُورِّثُوا دِينَاراً وَلا دِرْهَماً وإنَّما ورَّثُوا الْعِلْمَ ، فَمنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحظٍّ وَافِرٍ » . رواهُ أبو داود والترمذيُّ .
Terjemahan
Dari Abu Ad-Darda radhiyallahu 'anhu, aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Para malaikat membentangkan sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Sungguh, orang yang berilmu akan dimohonkan ampunan oleh segala yang ada di langit dan bumi, bahkan ikan di air. Keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan menuntut ilmu syar'i. Ilmu adalah jalan menuju surga dan mendatangkan keridhaan Allah serta malaikat. Orang alim diutamakan atas ahli ibadah tanpa ilmu, karena mereka adalah pewaris para nabi yang meneruskan petunjuk ilahi.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan menuntut ilmu syar'i. Ilmu adalah jalan menuju surga dan mendatangkan keridhaan Allah serta malaikat. Orang alim diutamakan atas ahli ibadah tanpa ilmu, karena mereka adalah pewaris para nabi yang meneruskan petunjuk ilahi.
# 18
وعنِ ابن مسْعُودٍ ، رضي اللَّه عنْهُ ، قال : سمِعْتُ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : «نَضَّرَ اللَّه امْرءاً سمِع مِنا شَيْئاً ، فبَلَّغَهُ كما سَمعَهُ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أوْعى مِنْ سَامِع » . رواهُ الترمذيُّ وقال : حديثٌ حَسنٌ صَحيحٌ .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semoga Allah memberikan cahaya kepada orang yang mendengar suatu perkataan, lalu dia menyampaikannya (kepada orang lain) sebagaimana dia mendengarnya. Terkadang orang yang disampaikan ilmu lebih paham daripada yang mendengar langsung." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia mengatakan hadits ini hasan shahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keutamaan dan tanggung jawab dalam menyampaikan ilmu, khususnya hadis Nabi, dengan tepat dan jujur tanpa perubahan. Orang yang mendengar lalu menyampaikan ilmu secara benar akan mendapat keberkahan dan cahaya dari Allah. Hikmahnya, ilmu bisa lebih dipahami dan diamalkan oleh penerima berikutnya, meski tidak mendengar langsung dari sumber aslinya, sehingga mata rantai ilmu terjaga keasliannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keutamaan dan tanggung jawab dalam menyampaikan ilmu, khususnya hadis Nabi, dengan tepat dan jujur tanpa perubahan. Orang yang mendengar lalu menyampaikan ilmu secara benar akan mendapat keberkahan dan cahaya dari Allah. Hikmahnya, ilmu bisa lebih dipahami dan diamalkan oleh penerima berikutnya, meski tidak mendengar langsung dari sumber aslinya, sehingga mata rantai ilmu terjaga keasliannya.
# 19
وعن أبي هُريرةَ ، رضي اللَّه عنْهُ ، قال : قال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « منْ سُئِل عنْ عِلمٍ فَكَتَمَهُ ، أُلجِم يَومَ القِيامةِ بِلِجامٍ مِنْ نَارٍ » .
رواهُ أبو داود والترمذي ، وقال : حديثٌ حسنٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat dia akan diberi kendali dari api neraka di mulutnya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia mengatakan hadits ini hasan)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kewajiban seorang muslim untuk menyebarkan ilmu yang dimilikinya. Menyembunyikan ilmu agama ketika ditanya merupakan dosa besar yang diancam dengan azab yang sangat pedih di akhirat. Ancaman ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan ilmu dan beserta tanggung jawab untuk mengajarkannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kewajiban seorang muslim untuk menyebarkan ilmu yang dimilikinya. Menyembunyikan ilmu agama ketika ditanya merupakan dosa besar yang diancam dengan azab yang sangat pedih di akhirat. Ancaman ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan ilmu dan beserta tanggung jawab untuk mengajarkannya.
# 20
وعنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « منْ تَعلَّمَ عِلماً مِما يُبتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عز وَجَلَّ لا يَتَعلَّمُهُ إلا ليصِيبَ بِهِ عرضاً مِنَ الدُّنْيا لَمْ يجِدْ عَرْفَ الجنَّةِ يوْم القِيامةِ » يعني : ريحها ، رواه أبو داود بإسناد صحيح .
Terjemahan
Dari dia (Abu Hurairah) radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mempelajari ilmu (agama) untuk mencari ridha Allah, tetapi dia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan harta dunia, maka dia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa niat adalah penentu nilai amal. Ilmu agama yang mulia menjadi sia-sia dan justru membawa kecelakaan jika dipelajari dengan niat yang salah, yaitu untuk meraih keuntungan duniawi seperti harta, pangkat, atau pujian. Ancaman tidak mencium aroma surga menunjukkan betapa seriusnya dosa menyalahgunakan ilmu agama. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu wajib ikhlas dan selalu memurnikan niatnya hanya untuk mencari ridha Allah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa niat adalah penentu nilai amal. Ilmu agama yang mulia menjadi sia-sia dan justru membawa kecelakaan jika dipelajari dengan niat yang salah, yaitu untuk meraih keuntungan duniawi seperti harta, pangkat, atau pujian. Ancaman tidak mencium aroma surga menunjukkan betapa seriusnya dosa menyalahgunakan ilmu agama. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu wajib ikhlas dan selalu memurnikan niatnya hanya untuk mencari ridha Allah.
# 21
وعنْ عبدِ اللَّه بن عمرو بن العاص رضي اللَّه عَنهُما قال : سمِعتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « إنَّ اللَّه لا يقْبِض العِلْم انْتِزَاعاً ينْتزِعُهُ مِنَ النَّاسِ ، ولكِنْ يقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَماءِ حتَّى إذا لمْ يُبْقِ عالماً ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤوساً جُهَّالاً فَسئِلُوا ، فأفْتَوْا بغَيْرِ علمٍ ، فَضَلُّوا وأَضَلُّوا » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sekaligus mencabutnya dari manusia, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa ilmu agama dijaga dengan keberadaan para ulama yang benar-benar berilmu. Ketiadaan mereka akan menyebabkan munculnya pemimpin yang bodoh, yang berfatwa tanpa dasar ilmu. Akibatnya, kesesatan akan merajalela, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi umat yang mengikutinya. Oleh karena itu, umat Islam harus menghormati dan menjaga para ulama, serta kritis dalam mencari sumber ilmu yang sahih.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa ilmu agama dijaga dengan keberadaan para ulama yang benar-benar berilmu. Ketiadaan mereka akan menyebabkan munculnya pemimpin yang bodoh, yang berfatwa tanpa dasar ilmu. Akibatnya, kesesatan akan merajalela, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi umat yang mengikutinya. Oleh karena itu, umat Islam harus menghormati dan menjaga para ulama, serta kritis dalam mencari sumber ilmu yang sahih.