โฆ Shalat โฆ
51
Syarat Sah Khutbah Jumat
โฝ Teks Arab
(ูุตู) ุดุฑูุท ุงูุฎุทุจุชูู ุนุดุฑุฉ : ุงูุทูุงุฑุฉ ุนู ุงูุญุฏุซูู ุงูุฃุตุบุฑ ูุงูุฃูุจุฑ ูุงูุทูุงุฑุฉ ุนู ุงููุฌุงุณุฉ ูู ุงูุซูุจ ูุงูุจุฏู ูุงูู
ูุงู ูุณุชุฑ ุงูุนูุฑุฉ ูุงูููุงู
ุนูู ุงููุงุฏุฑ ูุงูุฌููุณ ุจูููู
ุง ููู ุทู
ุฃูููุฉ ุงูุตูุงุฉ ูุงูู
ูุงูุงุฉ ุจูููู
ุง ูุจูู ุงูุตูุงุฉ ูุฃู ุชููู ุจุงูุนุฑุจูุฉ ูุฃู ูุณู
ุนูุง ุฃุฑุจุนูู ูุฃู ุชููู ูููุง ูู ููุช ุงูุธูุฑ
โ Transliterasi Latin
Fashl. Syuruuthul-khutbatayni 'asyarotun: ath-thoharootu 'anil-hadatsayni, wath-thoharootu 'anin-najaasati fits-tsawbi wal-badani wal-makaan, wa satrul-'awroh, wal-qiyaamu 'alal-qoodir, wal-juluusu baynahumaa, wa roful-qowli fii arkaanihaa, wa muwaaalaatuhaa, wa muwaalaatuhumaa, wa an takuunaa qobla ash-sholaah, wa an yakuuna khootibuhumaa waahidan.
โฆ Terjemahan
Pasal. Syarat sah dua khutbah Jumat ada sepuluh: suci dari hadats kecil dan besar, suci dari najis pada pakaian, badan, dan tempat, menutup aurat, berdiri bagi yang mampu, duduk di antara dua khutbah, rukun-rukun khutbah diucapkan dengan suara yang terdengar, berkesinambungan dalam tiap khutbah, berkesinambungan antara dua khutbah, keduanya dilaksanakan sebelum shalat, dan yang berkhutbah adalah satu orang yang sama untuk keduanya.
โ Penjelasan
Syarat Sah Dua Khutbah Jumat
Selain memenuhi rukunnya, dua khutbah Jumat juga harus memenuhi sepuluh syarat berikut agar dianggap sah dan shalat Jumat pun menjadi sah karenanya.
Sepuluh Syarat Khutbah Jumat
- Suci dari Hadats: Khatib harus dalam keadaan suci dari hadats kecil (berwudu) maupun hadats besar (mandi wajib) saat berkhutbah.
- Suci dari Najis: Pakaian, badan, dan tempat khatib berdiri harus bersih dari najis.
- Menutup Aurat: Khatib wajib menutup auratnya saat berkhutbah sebagaimana dalam shalat.
- Berdiri bagi yang Mampu: Khatib wajib berkhutbah dalam posisi berdiri. Yang tidak mampu berdiri boleh duduk atau dalam posisi yang dimampuinya.
- Duduk di antara Dua Khutbah: Wajib ada jeda duduk sejenak (thuma'ninah) di antara khutbah pertama dan kedua sebagai pemisah keduanya.
- Rukun Diucapkan dengan Suara Terdengar: Minimal terdengar oleh jamaah yang hadir. Rukun khutbah yang tidak terdengar oleh siapapun dianggap tidak sah.
- Berkesinambungan dalam Tiap Khutbah: Tidak boleh ada jeda panjang di antara rukun-rukun dalam satu khutbah yang merusak kesinambungannya.
- Berkesinambungan antara Dua Khutbah: Jeda antara khutbah pertama dan kedua tidak boleh terlalu panjang hingga merusak kesinambungan antara keduanya.
- Dilaksanakan Sebelum Shalat: Kedua khutbah harus dilaksanakan sebelum shalat Jumat, bukan sesudahnya.
- Khatib yang Sama untuk Keduanya: Orang yang berkhutbah pertama dan kedua harus satu orang yang sama. Tidak sah jika khutbah pertama dan kedua disampaikan oleh dua orang berbeda.
Dalil
ููุงูู ุงููููุจูููู ๏ทบ ููุฎูุทูุจู ููุงุฆูู
ูุง ุซูู
ูู ููุฌูููุณู ุซูู
ูู ูููููู
ู
"Nabi SAW berkhutbah dalam keadaan berdiri, kemudian duduk (di antara dua khutbah), kemudian berdiri lagi." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menjadi landasan wajibnya berdiri dan duduk di antara dua khutbah.
Kitab Safinatun Najah ยท Syaikh Salim bin Samir Al-Hadhrami ยท Mazhab Syafi'i