✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 1071
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Nikah  ·  بَابُ اَلطَّلَاقِ  ·  Hadits No. 1071
Shahih 👁 6
1071 - وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : { كَانَ اَلطَّلَاقُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ وَأَبِي بَكْرٍ , وَسَنَتَيْنِ مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ , طَلَاقُ اَلثَّلَاثِ وَاحِدَةٌ , فَقَالَ عُمَرُ بْنُ اَلْخَطَّابِ : إِنَّ اَلنَّاسَ قَدْ اِسْتَعْجَلُوا فِي أَمْرٍ كَانَتْ لَهُمْ فِيهِ أَنَاةٌ , فَلَوْ أَمْضَيْنَاهُ عَلَيْهِمْ ? فَأَمْضَاهُ عَلَيْهِمْ } . رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
📝 Terjemahan
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Talak pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan dua tahun dari masa pemerintahan Umar, talak tiga (sekaligus) dianggap sebagai satu talak. Kemudian Umar bin al-Khattab berkata: 'Sesungguhnya manusia telah tergesa-gesa dalam suatu perkara yang seharusnya mereka memiliki waktu untuk mempertimbangkannya. Seandainya kami memberlakukannya atas mereka?' Lalu dia memberlakukannya (talak tiga sebagai tiga talak) atas mereka." Diriwayatkan oleh Muslim. [Status Hadits: Shahih]
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini merupakan salah satu hadits terpenting yang menyangkut hukum talak dalam Islam. Hadits ini mengisahkan perubahan hukum talak tiga yang sebelumnya dianggap satu talak menjadi tiga talak pada masa Amir al-Mu'minin Umar bin al-Khattab. Perubahan kebijakan ini adalah contoh nyata dari ijtihad seorang khalifah yang bijaksana dalam merespons perubahan sosial kemasyarakatan. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dan termasuk dalam kitab al-Nikah bab al-Talak.

Kosa Kata

Al-Talaq (الطلاق): Perceraian, yaitu memutuskan ikatan pernikahan dengan lafal tertentu. Secara bahasa berarti melepaskan, dan secara istilah adalah pemberian kebebasan kepada istri dari ikatan pernikahan.

'Ahd (عهد): Masa, periode, atau zaman. Dalam konteks ini berarti pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Talaq al-Thalath (طلاق الثلاث): Talak tiga (yang diucapkan sekaligus/dalam satu waktu), yaitu mengatakan "Anda saya talak tiga kali" atau mengatakan "Talak, talak, talak" sekaligus.

Wahidah (واحدة): Satu, dalam konteks ini berarti talak tiga dihitung sebagai satu talak saja.

Istajalu (استعجلوا): Tergesa-gesa, bersikap cepat tanpa pertimbangan.

Anah (أناة): Kesabaran, pertimbangan yang matang, kelembutan dalam bertindak.

Amda (أمضى): Memberlakukan, melaksanakan, menegaskan.

Khalifah (خليفة): Pemimpin, pengganti Rasulullah dalam memimpin umat Islam.

Kandungan Hukum

1. Hukum Talak Tiga pada Masa Rasulullah dan Abu Bakar

Pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar, talak tiga yang diucapkan sekaligus hanya dihitung sebagai satu talak. Hal ini menunjukkan kemudahan dalam hukum talak dan pemberian kesempatan kepada suami untuk kembali ke istri selama masih dalam masa iddah.

2. Perubahan Hukum pada Masa Umar bin al-Khattab

Setelah dua tahun awal pemerintahan Umar bin al-Khattab, beliau mengubah hukum ini sehingga talak tiga dihitung sebagai tiga talak. Perubahan ini dilakukan berdasarkan ijtihad Umar dalam melihat kondisi sosial umat Islam.

3. Alasan Perubahan Hukum

Umar bin al-Khattab melihat bahwa manusia (pada masa itu) telah tergesa-gesa dalam perkara talak tanpa mempertimbangkan konsekuensinya dengan baik. Oleh karena itu, Umar berinisiatif untuk memberlakukan talak tiga sebagai tiga talak guna memberikan efek jera.

4. Kehujjahan Perubahan Hukum

Perubahan yang dilakukan Umar ini merupakan contoh ijtihad seorang pemimpin yang berhak mengubah hukum berdasarkan mashlahat (kemaslahatan) umat, meskipun terjadi perubahan dari hukum yang telah berlaku.

5. Masalah Talak Raji' (Reversible Divorce)

Talak satu dan dua adalah talak raji' (dapat dirujuk) ketika suami kembali ke istri sebelum masa iddah berakhir. Sementara talak ketiga menjadikan perceraian bersifat ba'in (definitive/tidak dapat dirujuk).

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madhhab Hanafi berpendapat bahwa talak tiga yang diucapkan sekaligus dihitung sebagai tiga talak berdasarkan hadits ini dan ijtihad Umar bin al-Khattab. Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya mengikuti perubahan hukum yang dilakukan Umar karena dianggap sebagai ijma' (konsensus) sahabat. Mereka menyatakan bahwa talak tiga sekaligus menyebabkan putusnya pernikahan secara definitif (ba'in). Hanafiyah juga membedakan antara talak dalam satu waktu (dengan satu niat) dan talak dalam waktu berbeda. Dalil yang digunakan adalah hadits Ibnu Abbas dan praktik Umar yang diterima oleh mayoritas sahabat tanpa ada penolakan.

Maliki:
Madhhab Maliki juga menerima perubahan hukum yang dilakukan Umar bin al-Khattab. Menurut Malik, talak tiga yang diucapkan sekaligus adalah tiga talak, dan ini merupakan ijma' (konsensus) yang sudah disepakati oleh para ulama. Maliki mendasarkan pendapatnya pada hadits Ibnu Abbas dan praktik Umar yang diikuti oleh sahabat lainnya tanpa penolakan. Imam Malik melihat ini sebagai keputusan yang tepat dalam menjaga kemaslahatan umat (mashlahat), karena mencegah orang dari tergesa-gesa dalam talak.

Syafi'i:
Madhhab Syafi'i mengikuti pendapat mayoritas sahabat yang menerima ijtihad Umar bin al-Khattab. Menurut Syafi'i, talak tiga yang diucapkan sekaligus dihitung sebagai tiga talak. Ini adalah ijma' sahabat yang tidak boleh ditolak. Syafi'i menekankan bahwa keputusan Umar ini diterima oleh sahabat-sahabat besar lainnya seperti Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, dan lainnya, sehingga menjadi ijma'. Dalil utamanya adalah hadits Ibnu Abbas dalam Shahih Muslim dan perkataan Umar: "Seandainya kami memberlakukannya, maka kami akan memberlakukannya" yang menunjukkan pertimbangan matang Umar sebelum mengubah hukum.

Hanbali:
Madhhab Hanbali juga menerima pendapat bahwa talak tiga yang diucapkan sekalikus adalah tiga talak berdasarkan ijma' sahabat. Imam Ahmad bin Hanbal mengikuti praktik Umar yang diterima oleh sahabat-sahabat tanpa ada penolakan signifikan. Hanbali menganggap ini sebagai ijma' yang pasti (qaati') dan tidak ada khilaf di dalamnya. Mereka mengutip hadits Ibnu Abbas dan menganggap keputusan Umar sebagai kebijaksanaan seorang pemimpin dalam menghadapi perubahan perilaku masyarakat yang cenderung tergesa-gesa dalam masalah talak.

Hikmah & Pelajaran

1. Kebijaksanaan Umar bin al-Khattab dalam Ijtihad: Hadits ini menunjukkan bahwa ijtihad dalam mengubah hukum adalah hal yang dibolehkan ketika kondisi dan keadaan masyarakat berubah, dengan syarat terdapat mashlahat (kemaslahatan) yang jelas. Umar tidak mengubah hukum tanpa pertimbangan, namun melihat realitas sosial dimana manusia telah tergesa-gesa dalam menggunakan hak talak mereka.

2. Pentingnya Pertimbangan dan Kematangan dalam Mengambil Keputusan: Perkataan Umar "Sesungguhnya manusia telah tergesa-gesa dalam suatu perkara yang seharusnya mereka memiliki waktu untuk mempertimbangkannya" mengandung hikmah bahwa setiap keputusan penting dalam hidup memerlukan pertimbangan yang matang. Talak adalah keputusan besar yang mengubah status pernikahan, dan tidak boleh diambil dengan tergesa-gesa.

3. Ijma' Sahabat sebagai Dalil Hukum yang Kuat: Hadits ini menunjukkan bahwa keputusan Umar yang diterima oleh mayoritas sahabat menjadi ijma' (konsensus) yang merupakan salah satu sumber hukum Islam yang paling kuat setelah Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Tidak ada seorang sahabat pun yang menolak perubahan hukum yang dilakukan Umar ini.

4. Perlindungan Hak Istri dalam Pernikahan: Dengan memberlakukan talak tiga sebagai tiga talak, Umar secara tidak langsung melindungi hak-hak istri karena suami tidak bisa dengan mudah dan tergesa-gesa melepaskan istrinya. Ini menunjukkan kepedulian Islam terhadap keselamatan ikatan keluarga dan perlindungan hak-hak kaum wanita dalam pernikahan.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Nikah