✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 1365
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Jihad  ·  بَابُ اَلْعَقِيقَةِ  ·  Hadits No. 1365
Shahih 👁 7
1365 - وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: { كَانَتْ يَمِينُ اَلنَّبِيِّ "لَا, وَمُقَلِّبِ اَلْقُلُوبِ" } رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ .
📝 Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: 'Sumpah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah: "Tidak, demi Pembalik Hati-hati."' (HR. Al-Bukhari). Status hadits: SHAHIH
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini mengungkapkan bentuk sumpah yang biasa dilakukan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kehidupan sehari-harinya. Hadits ini mencerminkan kesungguhan beliau dalam berbicara dan pentingnya menjaga amanah ucapan. Ibnu Umar menyaksikan langsung kebiasaan Nabi yang mulia ini dan meriwayatkannya untuk meneladani cara beliau yang sempurna dalam menunaikan sumpah. Hadits ini termasuk dalam pembahasan akidah dan adab sehubungan dengan penyebutan nama-nama Allah Ta'ala.

Kosa Kata

Yamīn (يمين) = Sumpah; janji yang diperkuat dengan menyebut nama Allah

Muqallibul-Qulūb (مقلب القلوب) = Pembalik Hati-hati; salah satu asma Allah yang berarti yang mengubah dan mengganti hati dari satu keadaan ke keadaan lain

Kānat (كانت) = Adalah/biasa dilakukan, bentuk lampau yang menunjukkan kebiasaan

Al-Nabī (النبي) = Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam

Kandungan Hukum

1. Kebolehan Bersumpah dengan Asma Allah
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan sumpah dengan menyebut nama-nama Allah, khususnya "Pembalik Hati-hati". Hal ini mengindikasikan bahwa sumpah dengan asma Allah diperbolehkan selama dilakukan dengan tulus dan jujur.

2. Pentingnya Ketulus-ikhlashan dalam Bersumpah
Pemilihan Nabi terhadap nama "Pembalik Hati-hati" menunjukkan bahwa sumpah haruslah dilakukan dengan kesadaran penuh bahwa Allah Ta'ala yang mengawasi dan mengetahui niat hati kita.

3. Tidak Boleh Sumpah Dengan Selain Nama Allah
Dari hadits ini tersirat larangan untuk bersumpah dengan selain Allah Ta'ala, karena Nabi selalu menggunakan asma Allah dalam sumpahnya.

4. Kesempurnaan Akhlak Nabi
Kebiasaan Nabi dalam bersumpah menggambarkan kehati-hatian beliau dalam setiap ucapan dan menjaga kejujuran mutlak.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Ilmuwan Hanafi memandang bahwa sumpah dengan asma Allah Ta'ala adalah bentuk tertinggi dan paling sahih. Mereka mendasarkan pada hadits ini sebagai bukti bahwa praktik Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menunjukkan kesahihan sumpah dengan nama-nama Allah. Imam Abu Hanifah dan pengikutnya menempatkan sumpah dengan asma Allah pada posisi yang lebih kuat dibanding sumpah dengan yang lain. Mereka juga berijtihad bahwa setiap asma Allah yang menunjukkan kesempurnaan dapat dijadikan dasar sumpah yang sah.

Maliki:
Mazhab Maliki melihat hadits ini sebagai panduan dalam etika bersumpah. Imam Malik menekankan pentingnya menjaga kejujuran dalam sumpah sebagaimana ditunjukkan praktik Nabi. Mereka berpendapat bahwa sumpah dengan asma Allah harus dilakukan dalam situasi yang wajar dan bukan karena kepura-puraan. Mazhab ini juga memerhatikan niat dan keadaan jantung ketika bersumpah, sesuai dengan pesan nama "Pembalik Hati-hati" yang dipilih Nabi.

Syafi'i:
Mazhab Syafi'i sepakat dengan kesahihan sumpah dengan asma Allah Ta'ala dan mendasarkan pada hadits-hadits seperti ini. Imam Syafi'i menjelaskan bahwa sumpah dengan asma Allah adalah sumpah yang mengikat dan memiliki konsekuensi hukum yang paling berat. Beliau memandang pemilihan Nabi terhadap nama "Pembalik Hati-hati" mengandung makna mendalam bahwa sumpah harus datang dari jantung yang tulus dan ikhlas. Syafi'iyah juga menekankan bahwa setiap sumpah dengan asma Allah wajib dipenuhi kecuali dalam keadaan darurat tertentu.

Hanbali:
Mazhab Hanbali memandang hadits ini sebagai dalil kuat untuk kesahihan sumpah dengan asma Allah Ta'ala. Ahmad ibn Hanbal sendiri menerima hadits ini sebagai hadits yang sahih dan menggunakannya sebagai dasar dalam masalah sumpah. Mereka berpendapat bahwa sumpah dengan nama-nama Allah, terutama yang menunjukkan atribut kesempurnaan seperti Pembalik Hati, memiliki kekuatan mengikat tertinggi. Hanbali juga menekankan bahwa orang yang bersumpah dengan nama Allah harus menjaga integritas dan kejujurannya.

Hikmah & Pelajaran

1. Kejujuran Adalah Fondasi Sumpah - Sumpah yang didukung oleh jantung yang jujur lebih bermakna daripada sumpah yang diucapkan tanpa tulus. Pemilihan Nabi terhadap asma "Pembalik Hati" menunjukkan bahwa Allah mengetahui kondisi hati manusia, sehingga sumpah harus berasal dari ketulusan sejati.

2. Pentingnya Menghormati Nama-Nama Allah - Ketika bersumpah dengan asma Allah, kita seharusnya merenungkan makna dan keagungan nama tersebut. Pembalik Hati mengingatkan kita bahwa tidak ada yang tetap dalam kehidupan ini kecuali kehendak Allah, sehingga sumpah haruslah diambil dengan bijak.

3. Menjaga Lisan adalah Bentuk Ibadah - Cara Nabi bersumpah mencerminkan kehati-hatian beliau dalam setiap ucapan. Ini mengajarkan kita bahwa lisan adalah amanah yang harus dijaga dan tidak boleh digunakan dengan sembarangan, bahkan dalam hal sumpah yang sepele sekalipun.

4. Kekuatan Doa dan Tawakal kepada Allah - Dengan menyebut nama "Pembalik Hati-hati", Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menunjukkan kepercayaannya kepada Allah untuk memberikan hidayah dan menjaga hati. Ini mengajarkan kita untuk selalu berdoa dan bertawakal kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan, bahkan dalam hal-hal kecil seperti sumpah.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Jihad