✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 1457
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Al-Jami  ·  بَابُ اَلْبِرِّ وَالصِّلَةِ  ·  Hadits No. 1457
Shahih 👁 4
1457- وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-, عَنْ اَلنَّبِيِّ قَالَ: { رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ. .
📝 Terjemahan
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: "Rida (keridaan) Allah terletak pada rida (keridaan) kedua orang tua, dan murka Allah terletak pada murka kedua orang tua." Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan disahihkan oleh Ibnu Hibban serta Al-Hakim. (Status hadits: SHAHIH)
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini termasuk dalam pembahasan berbuat baik dan menyambung silaturahmi (Al-Birr wa As-Silah), yang merupakan salah satu amalan mulia dalam Islam. Hadits tersebut mengandung penjelasan penting mengenai hubungan antara ridha Allah dan ridha orang tua, serta hubungan antara murka Allah dan murka orang tua. Ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada orang tua adalah salah satu cara untuk mendapatkan keridhaan Allah, dan sebaliknya, berbuat durhaka kepada orang tua akan mengundang murka Allah. Hadits ini diriwayatkan oleh salah seorang sahabat yang mulia, yaitu Abdullah bin Umar yang terkenal dengan ketaatannya kepada kedua orang tuanya.

Kosa Kata

Ridha (رِضَا): Keridhaan, kepuasan, dan persetujuan Waliday (الْوَالِدَيْنِ): Kedua orang tua (ayah dan ibu) Sakhat (سَخَطُ): Murka, ketidakpuasan, dan kemarahan Al-Jami: Kitab Jami' At-Tirmidzi yang merupakan salah satu kitab hadits yang masyhur

Kandungan Hukum

1. Wajib berbuat baik kepada orang tua: Hadits ini menegaskan bahwa berbuat baik kepada orang tua adalah tanggung jawab yang besar, karena keridhaan Allah bergantung pada ridha mereka. 2. Larang durhaka kepada orang tua: Hadits ini menunjukkan bahwa berbuat durhaka kepada orang tua adalah dosa besar yang mengundang murka Allah. 3. Penghormatan dan kasih sayang: Kewajiban anak adalah memberikan kehormatan, kasih sayang, dan perhatian kepada kedua orang tuanya sepanjang hidup mereka, terutama di hari tua. 4. Prioritas dalam amalan: Keridhaan orang tua harus menjadi prioritas utama dalam menjalankan amalan, karena itu adalah manifestasi dari keridhaan Allah.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi menekankan bahwa berbuat baik kepada orang tua adalah wajib (fardu) berdasarkan Al-Qur'an dan hadits. Mereka berpendapat bahwa kewajiban ini mencakup memberikan nafkah, menghormati, berbicara dengan baik, dan mendo'akan mereka. Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa siapa saja yang sengaja meninggalkan kewajiban berbuat baik kepada orang tua telah melakukan maksiat. Dalil yang digunakan adalah firman Allah: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang" (QS. Al-Isra': 24). Hanafi juga menekankan bahwa doa orang tua untuk anaknya sangat berpengaruh, baik doa baik maupun doa buruk.

Maliki:
Madzhab Maliki berpandangan bahwa berbuat baik kepada orang tua adalah kewajiban yang sangat besar dan merupakan bagian dari tauhid. Mereka menganggap bahwa durhaka kepada orang tua adalah salah satu dosa besar yang paling mungkar. Imam Malik menekankan pentingnya menjaga hati dan perasaan orang tua, tidak hanya dari segi materi tetapi juga emosional dan spiritual. Mereka juga berpandangan bahwa jika orang tua kafir, anak tetap harus berbuat baik kepada mereka selama tidak memerintahkan kepada perbuatan dosa. Dalil yang digunakan adalah hadits yang menerangkan bahwa berbuat baik kepada orang tua adalah amal yang paling dicintai oleh Allah setelah tauhid.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i menekankan bahwa berbuat baik kepada orang tua adalah fardhu 'ain (kewajiban individu) yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun. Imam Syafi'i berpendapat bahwa hadits "ridha Allah dalam ridha orang tua, dan murka Allah dalam murka orang tua" menunjukkan hubungan kausal yang kuat antara sikap anak terhadap orang tua dan keridhaan Allah. Mereka juga menekankan bahwa kewajiban ini berlaku selama orang tua masih hidup, dan bahkan setelah mereka meninggal, anak harus mendoakan dan menjalankan wasiat mereka. Syafi'i menambahkan bahwa anak tidak boleh memarahinya kepada orang tua, bahkan jika mereka memerintahkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hukum Islam, selama itu bukan perintah untuk berbuat dosa.

Hanbali:
Madzhab Hanbali sangat tegas dalam menekankan kewajiban berbuat baik kepada orang tua, dan menganggap hadits ini sebagai dalil yang sangat kuat. Mereka berpendapat bahwa keridhaan orang tua adalah bagian dari keridhaan Allah, dan murka orang tua adalah bagian dari murka Allah. Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa berbuat baik kepada orang tua adalah amal yang sangat mulia, dan durhaka kepada mereka adalah dosa yang besar. Hanbali juga menekankan bahwa anak harus patuh kepada orang tua dalam semua hal yang bukan maksiat, bahkan jika itu berlawanan dengan pendapatnya sendiri. Mereka menggunakan hadits lain sebagai dalil tambahan, seperti hadits yang menceritakan tentang sosok yang tidak masuk surga karena durhaka kepada orang tuanya.

Hikmah & Pelajaran

1. Keridhaan Allah tergantung pada Keridhaan Orang Tua: Hadits ini mengajarkan bahwa usaha kita untuk mendapatkan keridhaan Allah harus didukung dengan keridhaan orang tua. Amalan ibadah yang sempurna tanpa berbuat baik kepada orang tua adalah amal yang tidak akan diterima oleh Allah. Ini menunjukkan bahwa hak orang tua sangat besar dalam agama Islam, dan Allah menempatkan mereka pada posisi yang istimewa dalam kehidupan kita.

2. Durhaka Orang Tua adalah Dosa Besar: Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa murka orang tua akan mengundang murka Allah. Ini berarti bahwa berbuat durhaka kepada orang tua bukan hanya melakukan kesalahan terhadap mereka, tetapi juga melakukan kesalahan terhadap Allah sendiri. Seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya tidak akan mendapatkan berkah dari Allah, bahkan jika dia melakukan amalan-amalan lain yang baik.

3. Penghormatan dan Kasih Sayang adalah Inti Berbuat Baik: Berbuat baik kepada orang tua bukan hanya tentang memberikan uang atau materi, tetapi juga tentang memberikan perhatian, menghormati, berbicara dengan lembut, dan menunjukkan kasih sayang. Hadits ini mengajarkan bahwa setiap tindakan anak terhadap orang tua memiliki nilai ibadah yang mendalam, dan Allah selalu memperhatikan bagaimana anak memperlakukan orang tuanya.

4. Investasi Spiritual Terbesar: Berbuat baik kepada orang tua adalah investasi spiritual terbesar yang dapat dilakukan seorang anak. Setiap kebaikan yang diberikan kepada mereka akan menjadi amal jariyah yang terus memberikan pahala, bahkan setelah mereka meninggal dunia. Doa orang tua yang bahagia dan puas akan menjadi doa yang mustajab untuk anaknya, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, menjaga hati orang tua dan memastikan mereka bahagia adalah salah satu cara terbaik untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Al-Jami