Pengantar
Hadits ini merupakan peringatan serius dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang bahaya sifat-sifat tercela seperti kesombongan dan keangkuhan. Hadits dituturkan oleh Abdullah ibn Umar yang merupakan salah satu sahabat paling terpercaya. Pesan utama hadits adalah bahwa dosa kesombongan (kibr/ujub) merupakan salah satu penyakit hati yang paling berat dan akan mengakibatkan murka Allah. Latar belakang hadits ini berada dalam konteks pembinaan akhlak kaum muslimin agar terhindar dari sifat-sifat yang mengakibatkan kejauhan dari rahmat Allah.Kosa Kata
تَعَاظَمَ (Ta'aẓama) - Menyombongkan diri, merasa besar pada dirinya, merasa mulia dan unggul. Kata ini berasal dari 'aẓm yang berarti besar, dan bentuk ta'aẓama menunjukkan proses menganggap diri besar.نَفْسِهِ (Nafsih) - Dirinya sendiri, jiwa, hati. Menunjukkan bahwa kesombongan bermula dari dalam hati sebelum terwujud dalam perbuatan.
اخْتَالَ (Ikhtāla) - Berjalan dengan angkuh, memamerkan keindahan, berjalan dengan kesombongan. Ini adalah manifestasi lahiriah dari kesombongan hati.
مِشْيَتِهِ (Misy'atihi) - Jalannya, cara berjalannya. Menunjukkan bahwa kesombongan terlihat dalam setiap gerakan dan langkah.
لَقِيَ اَللَّهَ (Laqiyallāh) - Bertemu dengan Allah, menghadap kepada Allah pada hari kiamat.
غَضْبَانُ (Ghadbbān) - Murka, marah, tidak senang. Merupakan kondisi yang sangat mengerikan bagi pelaku dosa kesombongan.
Kandungan Hukum
1. Hukum Kesombongan (Kibr/Ujub)
Hadits ini mengisyaratkan bahwa kesombongan adalah dosa besar yang dilarang secara tegas dalam syariat Islam. Kesombongan yang tertanam dalam hati adalah awal dari kerusakan spiritual.2. Manifestasi Kesombongan dalam Perbuatan
Kesombongan tidak hanya dosa dalam hati, tetapi juga termanifestasi dalam perbuatan lahiriah seperti cara berjalan, gaya berpakaian, dan cara berbicara. Hadits menyebutkan khususnya "berjalan dengan angkuh" sebagai salah satu bentuk paling jelas dari kesombongan.3. Ancaman Murka Allah
Ancaman yang ditunjukkan dalam hadits ini adalah murka Allah pada hari kiamat. Ini adalah hukuman yang sangat serius dan menunjukkan bahwa kesombongan adalah dosa yang tidak dapat ditoleransi oleh Allah.4. Tanggung Jawab Individu
Seseorang bertanggung jawab penuh atas sifat-sifat yang ada dalam dirinya. Frasa "pada dirinya sendiri" menunjukkan bahwa kesombongan adalah pilihan individu yang tidak dapat disalahkan kepada orang lain.5. Pentingnya Tazkiyah Nafs (Pensucian Jiwa)
Hadits ini menjadi dasar bagi pentingnya usaha menutup pintu-pintu kesombongan melalui tazkiyah dan mujāhadah nafs (perjuangan melawan keinginan nafs yang buruk).Pandangan 4 Madzhab
Hanafi: Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya sangat menekankan pentingnya takwa hati dan menjauh dari sifat-sifat tercela termasuk kesombongan. Menurut madzhab Hanafi, kesombongan adalah dosa besar yang membatalkan keutamaan amal ibadah. Dalam kitab Al-Hidayah dijelaskan bahwa kesombongan yang tertanam dalam hati adalah akar dari semua keburukan. Madzhab Hanafi memandang bahwa seseorang yang meninggalkan sholat karena kesombongan (merasa diri tidak membutuhkan sholat) adalah kafir. Sekalipun dalam aspek furu'iyah (cabang hukum), mereka tetap melarang dengan keras segala bentuk kesombongan dalam ibadah dan mu'āmalah. Imam Abu Yusuf dan Muhammad al-Shaybani yang merupakan murid Abu Hanifah juga menguatkan bahwa seorang pedagang yang menjual barang dengan harga yang tidak wajar karena kesombongan dirinya termasuk riba dan bathil.
Maliki: Madzhab Maliki menempatkan kesombongan sebagai salah satu penyakit hati yang paling berbahaya. Menurut Malik ibn Anas, kesombongan adalah penolakan terhadap kebenaran dan penolakannya ini sama dengan kufur. Dalam Muwatta' Malik, dikisahkan bahwa Malik sangat memuji orang-orang yang rendah hati dan mencela orang-orang yang sombong. Madzhab Maliki memberikan perhatian khusus pada hadits ini dan menggunakannya sebagai dalil bahwa kesombongan adalah dosa yang mengakibatkan murka Allah dan akhirnya masuk neraka. Mereka juga mengharamkan segala bentuk gerak-gerik dan cara berbicara yang menunjukkan kesombongan, bahkan ketika sedang berdagang di pasar. Imam al-Qadi 'Iyad dalam kitab Musykilat al-Hadits menjelaskan bahwa hadits ini adalah nahy (larangan) yang sangat ketat terhadap sifat kibr.
Syafi'i: Imam al-Syafi'i memandang hadits ini sebagai bukti nyata bahwa kesombongan adalah dosa kecil yang bisa menjadi dosa besar jika terus-menerus dilakukan dengan kesadaran penuh. Dalam Al-Risalah, Imam Syafi'i menulis bahwa kesombongan adalah pelanggaran terhadap perintah Allah untuk berlaku rendah hati. Madzhab Syafi'i menggunakan hadits ini untuk menetapkan bahwa seorang muhtasib (pengawas pasar) boleh menghukum orang yang berjalan dengan angkuh di pasar dengan hukuman ta'zir. Mereka juga menyatakan bahwa kesombongan dalam menerima ilmu adalah halangan bagi penerimaan ilmu itu sendiri. Imam Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan dari Nabi terhadap dua perkara: kesombongan dalam jiwa dan kesombongan dalam perbuatan lahiriah. Kedua-duanya sama-sama dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.
Hanbali: Madzhab Hanbali, sebagaimana yang diajarkan oleh Ahmad ibn Hanbal, sangat keras dalam mengecam kesombongan. Ahmad ibn Hanbal mengatakan bahwa kesombongan adalah asal dari semua kejahatan. Dalam Musnad Ahmad, hadits ini ditempatkan dalam bab-bab tentang ahlaq (akhlak) dan tauhid. Madzhab Hanbali menggunakan hadits ini untuk menetapkan bahwa kesombongan yang disertai dengan penolakan terhadap kebenaran adalah kufur nikmat atau bahkan kufur murni jika orang tersebut menolak perintah Nabi secara eksplisit karena kesombongannya. Mereka juga menekankan bahwa kesombongan bisa mengakibatkan orang keluar dari Islam jika ia merasa diri tidak membutuhkan Allah. Ibn Qayyim al-Jawziyah dalam Igathah al-Lahfan menjelaskan secara detail bagaimana kesombongan adalah penyakit yang menutup hati dari hidayah Allah dan menyebabkan orang tersebut tidak bisa menerima nasihat.
Hikmah & Pelajaran
1. Kesombongan adalah Akar Kerusakan Spiritual - Hadits ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan hanya sekedar akhlak yang kurang baik, tetapi merupakan dosa besar yang menjadi akar dari semua keburukan lainnya. Ketika seseorang merasa besar pada dirinya sendiri, ia akan tertutup dari hidayah Allah dan tidak akan menerima nasihat. Oleh karena itu, menjaga hati dari penyakit kesombongan adalah prioritas utama dalam perjalanan spiritual.
2. Pentingnya Kesadaran akan Kerendahan Diri di Hadapan Allah - Hadits ini mengajarkan bahwa setiap manusia harus selalu mengingat bahwa ia adalah makhluk yang lemah dan penuh kekurangan di hadapan Allah Yang Mahakuasa. Semua yang dimiliki manusia, baik ilmu, harta, keindahan, atau kekuatan, adalah karunia dari Allah yang bisa ditarik kembali kapan saja. Kesadaran ini harus diterjemahkan dalam sikap rendah hati dan penuh syukur kepada Allah.
3. Bahaya Manifestasi Kesombongan dalam Tindakan Nyata - Hadits ini secara khusus menyebutkan cara berjalan dengan angkuh sebagai manifestasi dari kesombongan hati. Ini menunjukkan bahwa kesombongan tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi perbuatan nyata. Setiap gerakan dan langkah kita harus mencerminkan kesadaran akan kerendahan diri kita. Seseorang harus mengawasi setiap aspek perilakunya mulai dari cara berbicara, cara duduk, cara berdiri, hingga cara berjalan, agar semuanya mencerminkan kerendahan hati.
4. Konsekuensi Mengerikan dari Kesombongan: Murka Allah - Hadits ini menutup dengan ancaman yang sangat serius: bertemu Allah dalam keadaan murka. Ini adalah konsekuensi yang harus direnungkan dengan serius oleh setiap Muslim. Murka Allah pada hari kiamat berarti masuk neraka dan menerima azab yang tidak terbatas. Dengan memahami konsekuensi ini, setiap Muslim harus berusaha keras untuk menjauh dari kesombongan dan terus-menerus memohon kepada Allah untuk menjaga hatinya agar tetap rendah hati dan tawadhu' di hadapan Allah.