✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 1551
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Al-Jami  ·  بَابُ اَلذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ  ·  Hadits No. 1551
Shahih 👁 6
1551- وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ { اَلدُّعَاءُ بَيْنَ اَلْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ لَا يُرَدُّ } أَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ, وَغَيْرُهُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَغَيْرُهُ . .
📝 Terjemahan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Doa antara adzan dan iqamah tidak ditolak." Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa'i dan yang lainnya, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan yang lainnya. [Status: SAHIH]
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini berkaitan dengan saat-saat mustajab untuk berdoa, khususnya pada waktu antara adzan dan iqamah. Periode antara dua adzan (adzan dan iqamah) merupakan waktu yang istimewa dalam Islam karena menandai kedekatan dimulainya salat berjamaah. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam memberikan kabar gembira bahwa doa pada waktu ini tidak akan ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hadits ini mengajarkan kepada umat Muslim untuk memanfaatkan waktu-waktu yang telah ditunjukkan oleh Nabi untuk berdoa dengan harapan akan dikabulkan.

Kosa Kata

Ad-Du'a (الدعاء) - Doa, yaitu memohon dan meminta kepada Allah dengan hati yang tunduk dan rendah diri.

Al-Adzan (الأذان) - Panggilan untuk salat yang diucapkan dengan suara keras oleh muadzin, merupakan bentuk pengumuman waktu salat.

Al-Iqamah (الإقامة) - Panggilan kedua sebelum memulai salat berjamaah, yang dilakukan dengan kalimat yang lebih ringkas dari adzan.

La Yuradduu (لا يُرَدُّ) - Tidak ditolak, tidak dikembalikan dengan sia-sia. Ini mengandung makna bahwa doa tersebut pasti akan dikabulkan atau setidaknya mendapat perhatian khusus dari Allah.

Kandungan Hukum

1. Waktu-Waktu Mustajab untuk Berdoa
Hadits ini menegaskan bahwa waktu antara adzan dan iqamah adalah waktu yang mustajab (dikabulkan) untuk berdoa. Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan waktu-waktu tertentu dimana doa lebih mudah dikabulkan.

2. Keutamaan Waktu Antara Adzan dan Iqamah
Waktu ini memiliki keistimewaan tersendiri karena:
- Merupakan waktu bersiap-siapnya hati untuk menghadap ke hadirat Allah
- Adalah waktu yang penuh dengan banyak hamba Allah yang sedang berkumpul
- Menunjukkan persiapan untuk menunaikan salat yang merupakan tiang agama

3. Sunah Membaca Doa pada Saat Ini
Merupakan sunnah yang sangat direkomendasikan untuk memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah untuk membaca doa, baik doa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain (doa untuk saudara).

4. Keutamaan Adzan dan Iqamah
Hadits ini menunjukkan pentingnya adzan dan iqamah sebagai dua panggilan sakral yang memiliki hikmah dan keutamaan tersendiri dalam syariat Islam.

5. Larangan Menolak Doa
Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, hadits mengimplikasikan bahwa pada waktu ini hendaknya jangan ada yang menolak orang yang sedang berdoa, jangan mengganggu konsentrasinya dalam memohon kepada Allah.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi memandang hadits ini sebagai bukti kuat tentang waktu-waktu mustajab untuk berdoa. Mereka merekomendasikan untuk memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah untuk berdoa dengan sungguh-sungguh. Menurut mereka, berdoa pada waktu ini termasuk amalan yang disunnahkan dan akan mendapat berkah lebih dari doa di waktu lain. Para ulama Hanafi menekankan pentingnya memilih kata-kata yang baik dalam berdoa dan niat yang ikhlas.

Maliki:
Madzhab Maliki menerima hadits ini sebagai bukti kuat tentang waktu-waktu istimewa untuk berdoa. Mereka menekankan bahwa berdoa antara adzan dan iqamah merupakan peluang emas yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ulama Maliki juga menambahkan bahwa kondisi penerima doa (mustad'i) juga harus memperhatikan adab-adab berdoa, seperti kesucian hati dan jauh dari maksiat.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i mengakui keutamaan doa pada waktu antara adzan dan iqamah berdasarkan hadits ini. Mereka menganggap hadits ini sebagai hadits sahih dan dijadikan sebagai dasar untuk merekomendasikan amalan berdoa pada waktu tersebut. Ulama Syafi'i juga menghubungkan dengan hadits-hadits lain tentang waktu-waktu mustajab lainnya, seperti waktu berbuka puasa dan waktu terakhir malam.

Hanbali:
Madzhab Hanbali sangat mengutamakan hadits ini dan merekomendasikan secara kuat untuk berdoa antara adzan dan iqamah. Mereka menganggapnya sebagai waktu yang paling mustajab karena didasarkan pada hadits yang berkualitas sahih. Ulama Hanbali juga mengaitkan keutamaan waktu ini dengan kondisi jiwa yang sedang mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Allah melalui salat.

Hikmah & Pelajaran

1. Memanfaatkan Waktu-Waktu Emas: Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan waktu-waktu istimewa untuk berdoa kepada umat-Nya. Kita harus cerdas dalam memanfaatkan momen-momen ini dengan berdoa yang tulus dan ikhlas untuk memperoleh ampunan dan berkah dari Allah.

2. Pentingnya Persiapan Spiritual: Waktu antara adzan dan iqamah menunjukkan bahwa persiapan spiritual sebelum melakukan ibadah sangat penting. Ketika hati sedang dalam keadaan siap untuk bertemu Allah, doa akan lebih mudah diterima.

3. Harapan dan Optimisme dalam Beribadah: Hadits ini mengajarkan kepada kita untuk selalu optimis bahwa doa kita akan dikabulkan oleh Allah. Janji Allah bahwa doa pada waktu ini tidak ditolak harus membuat kita penuh harapan dan tidak putus asa.

4. Pentingnya Kebersamaan dan Kehadiran Jamaah: Waktu antara adzan dan iqamah adalah waktu berkumpulnya hamba-hamba Allah untuk menunaikan salat. Kebersamaan ini menciptakan suasana yang kondusif dan penuh barakah untuk berdoa dengan khusyu dan konsentrasi penuh.

5. Keutamaan Ibadah yang Terstruktur: Adzan dan iqamah menunjukkan bahwa Islam memiliki sistem ibadah yang terstruktur dan terorganisir dengan baik, bukan asal-asalan. Struktur ini menciptakan kedisiplinan dan keteraturan yang menghasilkan berkah dalam setiap ibadah.

6. Tanggung Jawab Pribadi: Meskipun doa antara adzan dan iqamah dijanjikan tidak ditolak, tetap saja dibutuhkan usaha pribadi untuk mempersiapkan diri dengan baik, membersihkan hati dari dosa, dan berdoa dengan ikhlas dan penuh harap kepada Allah.

7. Hubungan Dinamis dengan Allah: Hadits ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala membuka pintu komunikasi dengan hambanya melalui doa pada waktu-waktu tertentu. Ini mencerminkan hubungan dinamis antara hamba dan Tuhannya yang saling membutuhkan dan saling memahami.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Al-Jami