✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 1552
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Al-Jami  ·  بَابُ اَلذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ  ·  Hadits No. 1552
Shahih 👁 5
1552- وَعَنْ سَلْمَانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ { إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ, يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفَرًا } أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ . .
📝 Terjemahan
Dari Salman (Salman Al-Farisi) ra., dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Rabb kalian adalah Maha Malu dan Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya ketika mengangkat kedua tangannya kepada-Nya untuk tidak mengembalikannya dengan kosong (tidak diberi). (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Imam Al-Hakim mengesahkannya - Shahih)
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini berbicara tentang sifat-sifat mulia Allah Ta'ala yang meliputi al-haya' (malu) dan al-karam (kemurahan). Hadits ini mendorong umat Islam untuk senantiasa berdoa kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doa mereka akan dikabulkan. Konteks ini penting untuk memahami hubungan antara hamba dan Tuhannya, di mana Allah tidak ingin hamba-Nya meninggalkan doa dalam keadaan kosong (tidak mendapat apa-apa). Salman Al-Farisi adalah sahabat terkemuka yang dikenal dengan pengetahuan dan kebijaksanaannya.

Kosa Kata

Hayy (حَيِيٌّ): Malu. Dalam konteks Allah, ini adalah sifat kesempurnaan yang mencegah Dia untuk menampakkan keburukan atau menolak keperluan hamba yang berdoa dengan tulus.

Karim (كَرِيمٌ): Mulia dan Pemurah. Sifat Allah yang memberi dengan murah hati dan tidak menolak pemberian.

Yasta­hyi (يَسْتَحِي): Malu. Bentuk permintaan/usaha, menunjukkan bahwa Allah dengan kesempurnaannya enggan untuk mengecewakan hamba yang berdoa.

Rafa'a ilayhi yadayhi (رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ): Mengangkat kedua tangan. Gesture doa yang menunjukkan kerendahan diri dan pengharapan.

Sirfa (صِفَرًا): Kosong, tidak ada apa-apa. Mengembalikan dengan tangan kosong tanpa pemberian.

Kandungan Hukum

1. Hukum Doa

- Doa adalah ibadah yang sangat mulia dan dianjurkan dalam agama Islam - Doa harus dilakukan dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan mengabulkannya - Mengangkat tangan ketika berdoa adalah sunnah yang dilakukan Rasulullah ﷺ

2. Sifat-Sifat Allah

- Al-Haya' (malu) adalah sifat kesempurnaan Allah yang tidak sejalan dengan memberi respons negatif terhadap hamba yang tulus - Al-Karam (kemurahan) menunjukkan bahwa Allah adalah Pemberi yang paling Pemurah - Sifat-sifat ini mendorong umat untuk percaya pada janji Allah

3. Etika Berdoa

- Hamba harus memiliki rasa percaya diri bahwa doanya akan didengar - Tidak boleh pesimis atau berputus asa dari rahmat Allah - Kesungguhan dalam berdoa dengan mengangkat tangan adalah tanda ketulusan hati

4. Janji Allah

- Allah menjanjikan bahwa Dia tidak akan menolak doa hamba yang berdoa dengan tulus - Kepercayaan terhadap janji ini adalah bentuk tauhid yang kuat - Allah menghargai usaha dan kesungguhan hamba dalam berdoa

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi: Madzhab Hanafi menekankan bahwa doa adalah hak setiap hamba kepada Allah. Mereka menganggap hadits ini sebagai dasar untuk memahami bahwa Allah tidak akan menolak doa yang diajukan dengan cara yang benar. Dengan sifat al-haya' dan al-karam, Allah menjamin pengabulan doa. Dalam konteks shalat, mereka menekankan pentingnya mengangkat tangan saat doa (raf'u al-yadain) sebagai sunnah yang terbukti dari hadits-hadits tentang doa. Para ulama Hanafi menghubungkan hadits ini dengan kepercayaan pada janji Allah yang mutlak dan tidak dapat mengingkari janji-Nya.

Maliki: Madzhab Maliki melihat hadits ini sebagai motivasi kuat untuk berdoa dan percaya pada kabulnya doa. Mereka mengutamakan aspek spiritual dan hati dalam berdoa daripada sekedar bentuk eksternal. Menurut Imam Malik, sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam hadits ini menunjukkan bahwa Allah akan memenuhi kebutuhan hamba yang dengan ikhlas berdoa kepada-Nya. Madzhab Maliki juga menekankan bahwa aib bagi Allah untuk mengecewakan hamba, sesuai dengan kesempurnaan sifat-Nya. Mereka menganggap hadits ini penting untuk membangun kepercayaan yang kuat kepada Allah.

Syafi'i: Madzhab Syafi'i memandang hadits ini sebagai ayat yang menunjukkan kemurahan dan kesempurnaan Allah. Imam Syafi'i menganggap bahwa doa dengan mengangkat tangan adalah sunnah yang terbukti sah dari berbagai hadits tentang doa Rasulullah. Mereka percaya bahwa janji dalam hadits ini berlaku bagi setiap muslim yang berdoa dengan cara yang benar. Madzhab Syafi'i juga menekankan pentingnya menjaga adab dalam berdoa dan percaya penuh pada kabulnya doa. Sifat al-haya' Allah menunjukkan bahwa Allah akan menjaga martabat dan harapan hamba yang tulus.

Hanbali: Madzhab Hanbali, khususnya menurut Imam Ahmad, sangat menekankan kekuatan doa dan janji Allah untuk mengabulkannya. Mereka menganggap hadits ini sebagai dasar kuat untuk kepercayaan pada kabulnya doa. Dalam konteks shalat, mereka juga menganggap mengangkat tangan sebagai sunnah yang ditekankan. Madzhab Hanbali percaya bahwa sifat al-haya' dan al-karam dalam hadits ini menunjukkan bahwa Allah tidak akan pernah menolak doa hamba yang berdoa dengan tulus dan ikhlas. Mereka juga menganggap hadits ini sebagai motivasi untuk berdoa dengan penuh harapan dan keyakinan.

Hikmah & Pelajaran

1. Pentingnya Kepercayaan pada Janji Allah: Hadits ini mengajarkan bahwa kita harus memiliki kepercayaan penuh kepada Allah bahwa doa kita akan didengar dan dikabulkan. Sifat al-haya' dan al-karam Allah adalah jaminan bahwa Dia tidak akan mengecewakan hamba yang tulus berdoa. Ini adalah fondasi dari tauhid dan hubungan spiritual yang kuat dengan Allah.

2. Kemuliaan Doa sebagai Ibadah: Doa bukanlah sekedar permintaan biasa, melainkan sebuah ibadah yang mulia di hadapan Allah. Dengan mengangkat tangan dan memohon, kita menunjukkan kerendahan diri dan pengakuan atas kebesaran Allah. Ini adalah bentuk tertinggi dari penyerahan diri kepada Tuhan.

3. Kesempurnaan Sifat-Sifat Allah: Melalui hadits ini, kita memahami bahwa sifat-sifat Allah seperti malu dan kemurahan adalah sifat kesempurnaan yang tidak mungkin menghasilkan penolakan terhadap doa hamba yang tulus. Allah bukan hanya Pemberi, tetapi Pemberi yang paling Mulia dan tidak pernah kecewa dengan hamba-Nya.

4. Optimisme dalam Menghadapi Kehidupan: Hadits ini mengajarkan kita untuk selalu optimis dan bersemangat dalam berdoa, tanpa pesimisme atau keputusasaan. Percaya bahwa Allah akan memenuhi kebutuhan kita adalah kunci untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian batin dalam menjalani hidup.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Al-Jami