Pengantar
Hadits ini membahas tentang etika dan adab berdoa (du'a) yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hadits ini menunjukkan bahwa ketika mengangkat tangan dalam berserah diri kepada Allah Ta'ala, beliau tidak segera menurunkan tangannya, melainkan mengusapkan kedua tangannya ke wajah setelah selesai berdoa. Perbuatan ini mengandung makna syukur dan penerimaan doa dengan penuh khusyu'. Latar belakang hadits ini menekankan pentingnya adab-adab berdoa dan menunjukkan perhatian Rasulullah terhadap detail-detail ibadah untuk mendapatkan hasil maksimal dalam komunikasi dengan Allah Ta'ala.Kosa Kata
- Maddā (مَدَّ): Mengangkat, merentangkan - kata kerja yang menunjukkan tindakan mengangkat kedua tangan ke arah langit - Yadaihi (يَدَيْهِ): Kedua tangannya - menggunakan bentuk dual dalam bahasa Arab untuk menunjukkan dua tangan - Ad-Du'ā (الدُّعَاءِ): Doa, permohonan, berseru kepada Allah - merupakan salah satu ibadah paling mulia - Yarduhuma (يَرُدَّهُمَا): Menurunkan, mengembalikan - tidak menurunkan tangan sampai selesai dengan apa yang dimaksud - Yamsa'ḥ (يَمْسَحَ): Mengusap, melewatkan tangan - perbuatan yang dilakukan dengan lembut dan penuh perasaan - Wajhahu (وَجْهَهُ): Wajahnya - bagian tubuh paling mulia yang menghadap kepada Allah - Ash-Shawāhid (الشَّوَاهِدُ): Penguat, pendukung - hadits-hadits lain yang mendukung kebenaran hadits utamaKandungan Hukum
1. Hukum Mengangkat Tangan dalam Doa
Mengangkat kedua tangan ketika berdoa kepada Allah Ta'ala adalah sunnah yang disyariatkan dan telah diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini bukan hanya perbuatan biasa tetapi merupakan bentuk penghormatan kepada Allah dan menunjukkan kerendahan hati seorang hamba.2. Hukum Mengusap Wajah Setelah Doa
Mengusapkan kedua tangan ke wajah setelah selesai berdoa adalah sunnah yang diajarkan Rasulullah. Hal ini mengandung makna syukur atas doa yang telah dipanjatkan dan merupakan cara yang tepat untuk menutup sesi doa dengan sempurna.3. Kesederhanaan dan Ketawadhuan dalam Berdoa
Hadits ini menunjukkan bahwa dalam berdoa, seorang hamba harus bersikap tawadhu' (rendah hati) dan tidak terburu-buru menurunkan tangannya, yang menunjukkan keseriusan dan komitmen dalam berdo'a kepada Allah.4. Etika Berdoa
Mengangkat tangan dan tidak menurunkannya hingga selesai menunjukkan konsistensi dan fokus dalam berdoa, serta menunjukkan bahwa berdoa bukan sekadar ucapan lisan tetapi melibatkan seluruh tubuh dan hati.5. Adab Menutup Doa
Mengusap wajah dengan kedua tangan adalah cara yang mulia dan sopan untuk menutup doa, yang mencerminkan pengahargaan terhadap momen khusus yang telah dilewati dalam berkomunikasi dengan Allah.Pandangan 4 Madzhab
Hanafi:
Ulama Hanafi melihat mengangkat tangan dalam doa adalah sunnah yang disyariatkan, meskipun beberapa dari mereka membatasi pengangkatan tangan hanya pada waktu-waktu tertentu. Mereka sepakat bahwa mengusap wajah setelah doa adalah perbuatan yang baik (mustahabb) dan tidak wajib. Dasar pendapat ini adalah bahwa Rasulullah sering melakukannya tetapi tidak selalu, sehingga statusnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang ditegaskan). Imam Abu Hanifah dan muridnya Abu Yusuf membolehkan pengangkatan tangan dalam berbagai kondisi doa, terutama pada doa yang sungguh-sungguh. Menurut mereka, tidak ada larangan untuk mengusap wajah setelah doa, dan hal itu termasuk tindakan yang dianjurkan.
Maliki:
Mazhab Maliki menerima hadits ini dengan baik karena terdapat praktek serupa yang dilakukan oleh para sahabat. Mereka menilai mengangkat tangan dalam doa sebagai sunnah, khususnya dalam doa istikharah dan doa pada saat-saat tertentu. Tentang mengusap wajah, ulama Maliki mengatakan ini adalah perbuatan yang makruh (tidak disukai) jika dilakukan dalam kondisi kering, namun menjadi lebih baik jika tangan masih basah dari wudu'. Mereka berlandaskan pada riwayat yang menunjukkan bahwa pengusapan wajah dengan tangan yang basah lebih bermanfaat. Imam Malik meriwayatkan beberapa hadits tentang mengangkat tangan dalam doa dan menganggapnya sebagai bagian dari etika doa yang sempurna.
Syafi'i:
Mazhab Syafi'i menyetujui bahwa mengangkat tangan dalam doa adalah sunnah yang jelas dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Imam Syafi'i sendiri meriwayatkan hadits-hadits tentang pengangkatan tangan dalam berbagai konteks doa. Mengenai mengusap wajah setelah doa, ulama Syafi'i menganggapnya sebagai perbuatan yang dianjurkan (mustahabb) berdasarkan pada hadits ini dan syawahid-syawahidnya. Mereka berpendapat bahwa mengusap wajah dengan tangan setelah doa menunjukkan rasa syukur dan penerimaan doa. Dalam kitab Al-Muhadzdzab, dijelaskan bahwa ini adalah sunnah yang baik untuk diamalkan dalam berbagai kesempatan berdoa.
Hanbali:
Mazhab Hanbali sangat mendukung hadits ini dan menjadikannya dasar dalam pembahasan etika doa. Imam Ahmad ibn Hanbal sendiri meriwayatkan hadits ini dan hadits-hadits serupa dengan berbagai sanad. Menurut mereka, mengangkat tangan dalam doa adalah sunnah yang sangat ditegaskan (sunnah muakkadah) dan diamalkan dalam berbagai konteks doa, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Tentang mengusap wajah, mereka menilainya sebagai bagian dari kesempurnaan doa dan merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan. Dalam kitab Al-Kafi karya Ibnu Qudamah, dijelaskan bahwa mengusap wajah setelah doa dengan kedua tangan adalah praktek yang disunnahkan dan mengandung hikmah mendalam.
Hikmah & Pelajaran
1. Pentingnya Sikap Khusyu' dalam Berdoa: Hadits ini mengajarkan bahwa berdoa bukan sekadar persoalan lisan, tetapi melibatkan seluruh anggota tubuh. Mengangkat tangan menunjukkan keseriusan, kerendahan hati, dan ketergantungan penuh kepada Allah Ta'ala. Ini adalah cara untuk mengkonsentrasikan hati dan jiwa pada saat berkomunikasi dengan Penciptanya.
2. Sunnah adalah Jalan Kesempurnaan: Mengikuti sunnah Rasulullah dalam hal-hal kecil seperti cara berdoa menunjukkan bahwa kesempurnaan agama terletak pada detail-detail yang sering dianggap sepele. Setiap gerakan dan tindakan yang dilakukan Rasulullah memiliki makna dan manfaat yang mendalam, sehingga kita harus berusaha mengikutinya dengan sepenuh hati.
3. Doa adalah Pertemuan dengan Allah: Tidak terburu-buru menurunkan tangan setelah berdoa mencerminkan bahwa doa adalah momen khusus di mana seorang hamba bertemu dengan Tuhannya. Oleh karena itu, momen ini harus dihargai dan diakhiri dengan tata cara yang sempurna, yaitu dengan mengusap wajah sebagai bentuk terima kasih atas kesempatan berbicara langsung dengan Allah.
4. Etika Doa Mencakup Gerakan dan Tata Cara: Dari hadits ini dapat dipahami bahwa etika berdoa dalam Islam bukan hanya tentang apa yang diucapkan, tetapi juga tentang bagaimana cara melakukannya. Mengangkat tangan, menjaga khusyu', dan menutup doa dengan cara yang tepat semuanya merupakan bagian integral dari doa yang sempurna. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memperhatikan keseimbangan antara aspek batiniah (hati) dan lahiriah (gerakan tubuh) dalam setiap ibadah.