✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 1567
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Al-Jami  ·  بَابُ اَلذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ  ·  Hadits No. 1567
Shahih 👁 6
1567- وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- أَنَّ اَلنَّبِيَّ عَلَّمَهَا هَذَا اَلدُّعَاءَ: { اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ, عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ, مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ, وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ, عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ, مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ, اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ, وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ, اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ اَلْجَنَّةَ, وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ, وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ, وَمَا قَرَّبَ مِنْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ, وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا } أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَهْ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِمُ . .
📝 Terjemahan
Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarnya doa ini: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari segala kebaikan semuanya, yang cepat dan yang lambat (di dunia dan akhirat), apa yang aku ketahui darinya dan apa yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan semuanya, yang cepat dan yang lambat, apa yang aku ketahui darinya dan apa yang tidak aku ketahui. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang dimohon oleh hamba-Ku dan Nabi-Ku, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang dilindungi darinya oleh hamba-Ku dan Nabi-Ku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan padanya dari perkataan atau perbuatan, dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan padanya dari perkataan atau perbuatan. Dan aku memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan setiap qadar (takdir) yang Engkau tetapkan bagiku menjadi kebaikan." Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Status hadits: SHAHIH (Hasan li dzatihi menurut Ibnu Majah, tetapi diperkuat oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim sampai tingkat shahih).
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini mengajarkan tentang doa yang sempurna dan komprehensif yang Rasulullah ﷺ berikan kepada istri beliau, Aisyah radhiyallahu 'anha. Doa ini mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Doa yang agung ini diriwayatkan dengan sanad yang kuat dan telah dikompilasi dalam kitab-kitab hadits terpercaya. Hadits ini menunjukkan perhatian Nabi ﷺ terhadap kebutuhan spiritual umatnya dan keinginannya untuk mengajarkan mereka cara berdoa yang benar kepada Allah Ta'ala.

Kosa Kata Penting

اَللَّهُمَّ (Allahumma): Ya Allah, panggilan kepada Allah dengan penuh kasih sayang dan harapan عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ (Ajilihi wa Ajiluhu): yang cepat (di dunia) dan yang lambat (di akhirat) مَا عَلِمْتُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ (Ma 'alimtu wa ma lam a'lam): apa yang aku ketahui dan apa yang tidak aku ketahui أَعُوذُ (A'udhu): aku berlindung قَرَّبَ (Qarraba): mendekatkan قَضَاءٌ (Qadha'): takdir atau hukuman yang telah ditentukan Allah

Kandungan Hukum

1. Hukum Doa (Du'a'): Doa adalah ibadah yang tinggi dan merupakan hak setiap hamba untuk berdoa kepada Allah. Nabi ﷺ mendorong umatnya untuk berdoa dengan doa-doa yang telah beliau ajarkan.

2. Etika Berdoa yang Sempurna: Hadits ini menunjukkan bahwa doa yang baik harus mencakup:
- Meminta semua kebaikan dengan dimensi waktu (dunia dan akhirat)
- Berlindung dari semua keburukan dengan dimensi waktu yang sama
- Mencerminkan doa para nabi sebelumnya
- Fokus pada tujuan akhir (surga dan penghindaran neraka)
- Tawakal kepada Allah dalam setiap takdir yang Dia tetapkan

3. Hukum Mengajarkan Agama: Hadits ini membuktikan bahwa mengajarkan agama, terutama kepada anggota keluarga, adalah salah satu kewajiban dan tugas mulia.

4. Keutamaan Doa Malam: Doa ini sering dipraktikkan pada waktu-waktu sunnah seperti setelah shalat, di antara adzan dan iqamah, atau pada sepertiga malam terakhir.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi melihat doa ini sebagai doa yang sangat dianjurkan dan menyunnahkan untuk diamalkan secara konsisten. Menurut ulama Hanafiyah, doa adalah ibadah yang paling baik dan bernilai tinggi. Mereka menekankan pentingnya menggunakan doa-doa yang telah diajarkan Nabi ﷺ karena doa tersebut telah terjamin kesahihannya dan mengandung kebaikan yang sempurna. Ulama Hanafi seperti Al-Kasani dalam "Badai' As-Sanai'" menjelaskan bahwa doa dengan formulasi yang benar dan tulus dari hati akan dikabulkan Allah. Mereka juga menekankan pentingnya memahami makna doa agar tidak sekedar membaca tanpa khusyu'.

Maliki:
Madzhab Maliki sangat menganjurkan pengamalan doa ini sebagai bagian dari ibadah yang utama. Menurut pandangan mereka, seperti yang dijelaskan dalam "Al-Mudawwanah Al-Kubra", doa adalah permohonan kepada Allah dan merupakan bentuk khumut (perendahan diri) yang paling sempurna. Madzhab Maliki memberikan perhatian khusus pada adab-adab berdoa dan konsistensi dalam mengamalkan doa-doa yang bermanfaat. Mereka juga menekankan bahwa doa harus disertai dengan usaha dan amal shalih, bukan hanya mengandalkan doa tanpa amal.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i mengklasifikasikan doa ini dalam kategori ibadah yang paling mulia dan mendorong setiap mukallaf untuk mengamalkannya. Menurut "Al-Umm" karangan Imam Syafi'i, doa yang dilakukan dengan khusyu', ikhlas, dan memahami maknanya adalah doa yang paling mungkin untuk dikabulkan. Mereka menekankan aspek i'tiqad (keyakinan) dalam berdoa bahwa Allah pasti mendengar dan mengabulkan doa hambanya yang tulus. Syafi'iyah juga menjelaskan bahwa doa ini mencakup seluruh kebutuhan spiritual dan material manusia, sehingga tidak ada yang tertinggal.

Hanbali:
Madzhab Hanbali, sebagaimana dijelaskan dalam "Al-Musthila Min Ilmil Hadits", sangat menekankan hadits ini dan menganggapnya sebagai doa yang komprehensif dan sempurna. Menurut pandangan Hanbali, doa ini mengandung semua prinsip-prinsip doa yang benar: meminta kepada Allah semua kebaikan, berlindung dari semua keburukan, mengikuti jejak para nabi, dan menyerahkan semua keputusan kepada Allah. Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam "Madarijus Salikin" menjelaskan bahwa doa ini mencerminkan pemahaman mendalam tentang hubungan antara hamba dan Tuhannya.

Hikmah & Pelajaran

1. Kelengkapan dalam Berdoa: Hadits ini mengajarkan bahwa doa yang sempurna harus menyeluruh, mencakup semua aspek kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Manusia tidak boleh sempit dalam berdoa, hanya meminta hal-hal tertentu, tetapi harus membuka diri untuk semua kebaikan yang Allah miliki. Ini menunjukkan bahwa Allah memiliki harta karun yang tak terbatas, dan kami seharusnya meminta kepada-Nya dengan luas dan tulus.

2. Pentingnya Pengetahuan dan Ketidaktahuan dalam Doa: Frasa "ما عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ" (apa yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui) mengajarkan bahwa manusia harus sadar akan keterbatasan pengetahuannya. Ada banyak kebaikan yang tidak kami pahami atau ketahui manfaatnya. Oleh karena itu, kami harus berdoa untuk semua kebaikan, bahkan yang tersembunyi dari penglihatan kami. Ini adalah bentuk kerendahan hati dan pengakuan terhadap keunggulan Allah.

3. Pencerminan Doa Para Nabi: Dengan meminta "kebaikan apa yang telah diminta hamba-Ku dan nabi-Ku", hadits ini menunjukkan bahwa manusia dapat dan harus mengikuti jejak para nabi dalam hal doa. Para nabi adalah model terbaik dalam berdoa, dan dengan meniru doa mereka, kita sedang mengikuti jalan yang telah terbukti kebaikannya. Ini juga menunjukkan penghormatan kepada para nabi dan pengakuan atas superioritas doa mereka.

4. Pentingnya Niat dalam Setiap Tindakan: Frasa "أَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا" (aku meminta kepada-Mu agar setiap takdir yang Engkau tetapkan bagiku dijadikan kebaikan) mengajarkan penerimaan dan kerelaan terhadap ketentuan Allah. Ini adalah bentuk tawakal yang sempurna, di mana manusia tidak hanya pasrah tetapi juga secara aktif meminta kepada Allah agar setiap cobaan dan setiap nikmat yang datang kepadanya mengandung kebaikan. Ini mengubah perspektif tentang takdir dari sesuatu yang menakutkan menjadi rahmat dari Allah.

5. Keseimbangan antara Harapan dan Takut: Doa ini menyeimbangkan antara harapan terhadap kebaikan Allah dan ketakutan terhadap keburukan. Tidak seharusnya manusia hanya mengharapkan kebaikan saja tanpa waspada terhadap kemungkinan keburukan. Keseimbangan ini penting untuk menjaga hati tetap rendah hati dan siap menghadapi segala kemungkinan dengan persiapan spiritual yang matang.

6. Integrasi Ucapan dan Perbuatan dalam Konteks Surga dan Neraka: Dengan menyebutkan "perkataan atau perbuatan" yang mendekatkan kepada surga atau neraka, hadits ini mengajarkan bahwa kesucian harus mencakup baik lisan maupun amal. Tidak cukup hanya berkata-kata baik tanpa perbuatan baik, atau sebaliknya. Keduanya harus berjalan beriringan dalam perjalanan manusia menuju surga.

7. Pentingnya Konsistensi Pengajaran Agama dari Keluarga: Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ secara khusus mengajarkan doa kepada Aisyah, istri beliau. Ini adalah bukti pentingnya peran keluarga dalam mendidik dan mengajarkan agama. Orang tua, khususnya, memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan hal-hal kebaikan kepada anak-anak dan keluarga mereka, dengan cara yang personal dan tulus.

8. Doa sebagai Obat Spiritual: Dalam budaya Islam, doa sering disebut sebagai "senjata mukmin" atau "obat untuk penyakit hati". Hadits ini menunjukkan bahwa doa adalah solusi untuk menghadapi ketidakpastian hidup dan kompleksitas kehidupan manusia. Dengan berdoa seperti ini, manusia dapat menemukan ketenangan, kepastian, dan harapan dalam menghadapi masa depan.

9. Universalitas Hadits untuk Semua Muslim: Meskipun doa ini awalnya diajarkan kepada Aisyah, tetapi doa ini untuk seluruh umat Islam. Ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan Nabi ﷺ dalam mengajarkan agama yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan semua manusia, tidak peduli perbtidak peduli perbedaan jenis kelamin, usia, atau kedudukan sosial. Setiap Muslim berhak dan dianjurkan untuk mengamalkan doa agung ini dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Aplikasi Kontemporer

1. Doa Harian yang Komprehensif: Doa ini sangat layak dijadikan wirid harian karena mencakup segala dimensi kehidupan—kebaikan dunia dan akhirat, yang diketahui dan tidak diketahui, kebutuhan yang diingat maupun yang terlupakan. Bagi Muslim modern yang sibuk, doa ini adalah solusi ringkas namun lengkap.

2. Pendidikan Spiritual dalam Keluarga: Mengajarkan doa ini kepada anak-anak sejak dini menanamkan kesadaran bahwa seluruh kebaikan bersumber dari Allah dan seluruh perlindungan hanya datang dari-Nya. Ini membangun fondasi tawakal yang kuat sejak usia muda.

3. Menghadapi Ketidakpastian Hidup: Di era modern yang penuh ketidakpastian—perubahan teknologi, kondisi ekonomi yang fluktuatif, dan berbagai tantangan global—doa ini memberikan ketenangan jiwa karena menyerahkan seluruh urusan kepada Allah yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi.

Kesimpulan

Doa yang diajarkan Rasulullah Saw. kepada Aisyah ini adalah mahkota dari seluruh doa-doa yang ada dalam Bulughul Maram. Dengan kesederhanaan redaksi namun kedalaman makna yang luar biasa, doa ini merangkum seluruh hajat manusia kepada Allah—kebaikan dunia dan akhirat, kebaikan yang diketahui dan tidak diketahui, serta perlindungan dari segala keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi. Hadits ini juga menutup kitab Bulughul Maram dengan pesan yang sangat indah: bahwa puncak dari seluruh ilmu fikih, adab, dan muamalah yang telah dipelajari adalah kembali kepada Allah melalui doa yang tulus dan penuh harap. Seorang Muslim yang telah mempelajari seluruh kandungan Bulughul Maram hendaknya mengakhiri setiap hari dengan doa ini—menyerahkan seluruh ikhtiar kepada Allah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni segala kekurangan kita, dan mengumpulkan kita bersama Rasulullah Saw. di surga-Nya yang abadi. Amin ya Rabbal 'Alamin.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Al-Jami