✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 280
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ صِفَةِ اَلصَّلَاةِ  ·  Hadits No. 280
Shahih 👁 5
280- وَعَنْ أَنَسٍ { أَنَّ اَلنَّبِيَّ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ اَلصَّلَاةِ بِـ (اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ ) } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ زَادَ مُسْلِمٌ: { لَا يَذْكُرُونَ : (بِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ ) فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا } . وَفِي رِوَايَةٍ لِأَحْمَدَ , وَالنَّسَائِيِّ وَابْنِ خُزَيْمَةَ : { لَا يَجْهَرُونَ ‏بِبِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيم ِ } وَفِي أُخْرَى لِابْنِ خُزَيْمَةَ : { كَانُوا يُسِرُّونَ } . وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ اَلنَّفْيُ فِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ , خِلَافًا لِمَنْ أَعَلَّهَا. ‏‏.
📝 Terjemahan
Dari Anas bin Malik r.a., sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar 'Alaihimu assalam memulai salat dengan membaca (Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin). Hadits ini disepakati keabsahannya oleh Bukhari dan Muslim. Muslim menambahkan riwayat: mereka tidak menyebutkan (Bismillaahir rahmaanir rahiim) di awal bacaan dan juga di akhirnya. Dalam riwayat Ahmad, An-Nasa'i, dan Ibnu Khuzaimah: mereka tidak mengeraskan (Bismillaahir rahmaanir rahiim). Dalam riwayat lain dari Ibnu Khuzaimah: mereka merahasiakan(nya). Berdasarkan ini, peniadaan dalam riwayat Muslim dipahami sebagai tidak mengeraskan, bertentangan dengan siapa yang menganggap hadits ini cacat. [Hadits Shahih Muttafaq 'alaih]
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini membahas tentang bagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat terkemuka (Abu Bakar dan Umar) memulai bacaan salat. Hadits ini sangat penting karena berkaitan dengan tata cara memulai salat dan status Basmallah (Bismillaahir rahmaanir rahiim) dalam bacaan Al-Qur'an. Konteks hadits ini turun untuk menjelaskan praktik yang sebenarnya dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa memendam atau berlebihan dalam hal pembukaan Basmallah.

Kosa Kata

Yaftatihuun (يَفْتَتِحُونَ) - memulai, membuka, dari kata kerja iftitaah yang berarti membuka dengan cara tertentu

Ash-Salah (الصَّلَاة) - salat/shalat, ibadah yang terdiri dari bacaan dan gerakan tertentu

Al-Hamdu (الْحَمْدُ) - segala puji, pujian sempurna

Lillah (لِلَّهِ) - untuk Allah, kepada Allah

Rabb (رَبّ) - Tuhan, Penguasa, Pemelihara

Al-'aalamiin (الْعَالَمِينَ) - alam semesta, seluruh makhluk

Bismillah (بِسْمِ اللَّهِ) - dengan nama Allah, doa pembuka

Ar-Rahman (الرَّحْمَنِ) - Yang Maha Pemurah

Ar-Rahim (الرَّحِيمِ) - Yang Maha Pengasih

Laa yadhkurun (لَا يَذْكُرُونَ) - tidak menyebutkan, tidak mengucapkan

Laa yajharun (لَا يَجْهَرُونَ) - tidak mengeraskan, tidak memperkeras suara

Yusirrrun (يُسِرُّونَ) - mereka merahasiakan, membaca dengan suara lembut

Isr (إِسْرَار) - merahasiakan, membaca dalam hati atau dengan suara lembut

Kandungan Hukum

1. Hukum Memulai Bacaan Salat dengan Surah Al-Fatihah

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memulai bacaan salatnya dengan Surah Al-Fatihah. Ini menunjukkan bahwa Al-Fatihah adalah surah yang paling utama dan yang pertama kali dibaca dalam salat. Praktik ini menjadi sunnah yang diterapkan oleh semua ulama Islam.

2. Status Basmallah dalam Bacaan Salat

Hadits ini mengandung perdebatan tentang apakah Basmallah harus disebutkan atau tidak, dan apakah harus digeraskan atau tidak. Berbagai riwayat dalam hadits menunjukkan nuansa perbedaan antara tidak menyebutkan sama sekali dan merahasiakan (membaca dengan suara lembut).

3. Praktik Abu Bakar dan Umar sebagai Bukti Sunnah

Penyebutan nama Abu Bakar dan Umar menunjukkan bahwa praktik ini bukan hanya datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi juga diterapkan oleh para khalifah, yang merupakan bukti kuat tentang keabsahan sunnah ini.

4. Perbedaan Antara Qiraat Jember dan Sirr (Mengeraskan dan Merahasiakan)

Hadits ini membedakan antara mengeraskan Basmallah dan merahasiakannya, menunjukkan bahwa keduanya adalah cara yang mungkin dilakukan.

5. Konsistensi dalam Sunnah

Hadits menekankan bahwa ada konsistensi dalam praktik Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam hal pembukaan salat.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi memahami hadits ini bahwa Basmallah tidak harus disebutkan dalam pembukaan Surah Al-Fatihah di awal salat. Mereka menekankan bahwa pendekatan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah memulai dengan "Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin" tanpa Basmallah terlebih dahulu. Namun, ketika membaca Surah Al-Qur'an yang lain setelah Al-Fatihah, Basmallah dibaca. Abu Hanifah dan pengikutnya mengatakan bahwa Basmallah bukan bagian dari Surah Al-Fatihah, melainkan bagian dari pembukaan setiap surah. Dalil mereka adalah hadits Anas ini yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memulai dengan Al-Fatihah tanpa Basmallah. Mereka juga merujuk pada praktik mayoritas sahabat yang tidak mencantumkan Basmallah di depan Al-Fatihah.

Maliki:
Madzhab Maliki memiliki pendekatan yang serupa dengan Hanafi dalam hal tidak mengeraskan Basmallah. Mereka percaya bahwa Basmallah tidak seharusnya diucapkan keras (dijahran) di awal Surah Al-Fatihah, tetapi boleh diucapkan dengan suara lembut (sirr). Maliki memandang Basmallah sebagai bagian dari setiap surah, tetapi dalam konteks salat, khususnya untuk Al-Fatihah, pengucapannya harus merahasiakan. Alasan mereka adalah untuk memastikan bahwa fokus utama salat adalah pada Surah Al-Fatihah itu sendiri. Mereka juga mengikuti praktik penduduk Madinah, khususnya Imam Malik, yang tidak mengeraskan Basmallah dalam salat.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Mereka menganggap Basmallah sebagai bagian integral dari setiap surah, termasuk Al-Fatihah, dan oleh karena itu harus dibaca. Namun, mereka membedakan antara salat yang di dalamnya dilakukan pembacaan yang digeraskan (seperti salat Subuh, Magrib, dan Isya') dan salat yang pembacaannya disembunyikan (seperti Dzuhur dan Ashar). Dalam salat-salat yang pembacaannya digeraskan, Basmallah dibaca dengan keras di awal Al-Fatihah. Dalam salat-salat yang pembacaannya disembunyikan, Basmallah dibaca dengan suara lembut. Pendapat ini didasarkan pada pemahaman bahwa Basmallah adalah bagian dari Surah Al-Qur'an, sebagaimana dinyatakan dalam hadits-hadits lain dan pandangan mayoritas ulama.

Hanbali:
Madzhab Hanbali mengikuti pandangan yang mirip dengan Syafi'i, tetapi dengan penekanan yang lebih kuat bahwa Basmallah adalah bagian dari setiap surah. Mereka menganggap bahwa Basmallah harus dibaca dalam salat, dan dalam salat-salat yang pembacaannya digeraskan, Basmallah juga dibaca dengan keras. Ahli hadits Hanbali seperti Ibnu Khuzaimah dan Ahmad ibn Hanbal memiliki pandangan yang menekankan pembacaan Basmallah. Namun, mereka juga mengakui berbagai riwayat yang menunjukkan praktik berbeda. Mereka memahami bahwa sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mencakup berbagai cara, dan semua itu dapat diterima. Hanbali menekankan bahwa membaca Basmallah dengan keras dalam salat yang digeraskan adalah sunnah yang kuat.

Hikmah & Pelajaran

1. Pentingnya Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Rincian Ibadah: Hadits ini menunjukkan bahwa setiap detail dalam ibadah salat memiliki pentingnya sendiri. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan umatnya tentang cara yang tepat memulai salat, dan ini menjadi bukti bahwa Islam memberikan perhatian khusus pada setiap aspek ibadah.

2. Keselarasan Antara Teori dan Praktik: Penyebutan tiga tokoh penting (Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar) menunjukkan bahwa sunnah ini bukan sekadar ajaran teoritis, tetapi juga dipraktikkan oleh para pemimpin umat. Hal ini menekankan pentingnya konsistensi antara apa yang diajarkan dan apa yang dijalankan.

3. Fleksibilitas dalam Sunnah yang Kuat: Hadits ini juga mengajarkan bahwa dalam beberapa aspek ibadah, ada ruang untuk variasi yang dibolehkan, sepanjang tetap mengikuti garis besar sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Perbedaan antara mengeraskan dan merahasiakan Basmallah menunjukkan bahwa Islam tidak selalu menuntut satu cara saja, tetapi memahami konteks dan kebutuhan berbeda.

4. Kesempurnaan Dalam Memulai Ibadah: Surah Al-Fatihah, yang dalam hadits ini disebutkan sebagai pembuka salat, adalah surah yang mengandung pujian kepada Allah, pengakuan atas keesaan-Nya, dan permohonan atas tuntunan. Ini mengajarkan bahwa memulai salat dengan jiwa yang penuh kerendahan hati dan pengakuan akan kebesaran Allah adalah inti dari ibadah salat. Memulai dengan pujian kepada Allah (Al-Hamdu) adalah cara yang sempurna untuk memasuki percakapan spiritual dengan Allah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat