✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 285
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ صِفَةِ اَلصَّلَاةِ  ·  Hadits No. 285
👁 6
285- وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : { جَاءَ رَجُلٌ إِلَى اَلنَّبِيِّ فَقَالَ : إِنِّي لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ آخُذَ مِنْ اَلْقُرْآنِ شَيْئًا , فَعَلِّمْنِي مَا يُجْزِئُنِيٌ]مِنْهُ] . قَالَ : "سُبْحَانَ اَللَّهِ , وَالْحَمْدُ لِلَّهِ , وَلَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ , وَلَا حَوْلٌ وَلَا قُوَّةً إِلَّا بِاَللَّهِ اَلْعَلِيِّ اَلْعَظِيمِ . . . } اَلْحَدِيثَ . رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَأَبُو دَاوُدَ , وَالنَّسَائِيُّ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ , وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَالْحَاكِمُ .
📝 Terjemahan
Dari Abdullah bin Abi Awfa radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: 'Sesungguhnya aku tidak mampu mengambil (menghafal) sesuatu dari Al-Qur'an, maka ajari aku apa yang dapat mencukupiku darinya.' Nabi bersabda: 'Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar, wa la hawla wa la quwwata illa billahil 'aliyil 'azim (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung).' Hadits diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'i dan dinilai sahih oleh Ibnu Hibban, Ad-Daraquthni, dan Al-Hakim.
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini menjelaskan tentang alternatif bagi seseorang yang tidak mampu menghafal Al-Qur'an dalam shalat atau dzikir. Laki-laki tersebut mengakui ketidakmampuannya dalam mengambil (menghafal) ayat-ayat Al-Qur'an dan meminta kepada Nabi untuk mengajarkan padanya hal yang dapat mencukupi kebutuhannya. Nabi kemudian mengajarkan kepadanya kalimat-kalimat dzikir dan tasbih yang agung, yang masing-masing memiliki makna mendalam dan keutamaan luar biasa. Hadits ini menunjukkan kemudahan dan rahmat Islam dalam memberikan alternatif bagi mereka yang kesulitan menghafal Al-Qur'an.

Kosa Kata

- آخُذَ (akhudz): mengambil, menghafal - يُجْزِئُنِي (yujzi'uni): mencukupiku, memadaiku - سُبْحَانَ اَللَّهِ (Subhanallah): Maha Suci Allah, ungkapan glorifikasi - اَلْحَمْدُ لِلَّهِ (alhamdulillah): segala puji bagi Allah - لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ (la ilaha illallah): tiada tuhan selain Allah, kalimat tawhid - اَللَّهُ أَكْبَرُ (Allahu akbar): Allah Maha Besar - لَا حَوْلٌ وَلَا قُوَّةً (la hawla wa la quwwah): tiada daya dan kekuatan

Kandungan Hukum

1. Kebolehan Menggunakan Dzikir Sebagai Pengganti Hafalan Qur'an: Bagi mereka yang tidak mampu menghafal Al-Qur'an, diperbolehkan menggunakan kalimat-kalimat dzikir yang telah diajarkan Nabi sebagai pengganti. 2. Keutamaan Kalimat-Kalimat Mulia: Kalimat-kalimat yang diajarkan Nabi mengandung tawhid, glorifikasi, pujian kepada Allah, dan pengakuan akan ketergantungan kepada Allah. 3. Kemudahan dalam Agama: Islam memberikan kemudahan bagi mereka yang kesulitan dalam hal-hal tertentu dengan menyediakan alternatif. 4. Pentingnya Dzikir: Dzikir merupakan bagian penting dari ibadah dalam Islam yang dapat menggantikan hafalan Al-Qur'an dalam kondisi-kondisi tertentu.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi memandang hadits ini dengan apresiasi tinggi terhadap kalimat-kalimat dzikir yang diajarkan Nabi. Mereka menganggap bahwa dzikir ini dapat digunakan sebagai alternatif dalam shalat bagi mereka yang tidak mampu menghafal Al-Qur'an, terutama dalam hal-hal yang sunnat. Dalam shalat wajib, mereka tetap mengharuskan membaca beberapa ayat Al-Qur'an, namun untuk dzikir tambahan dan amalan-amalan lain, kalimat-kalimat ini sangat disunnahkan. Para ulama Hanafi seperti Abu Hanifah dan murid-muridnya menekankan pentingnya dzikir dan tasbiih sebagai ibadah mulia yang mendapat pahala besar.

Maliki:
Madzhab Maliki melihat hadits ini sebagai petunjuk tentang fleksibilitas dalam beribadah. Mereka mengakui keutamaan kalimat-kalimat yang diajarkan Nabi dan memandang bahwa seseorang yang berhalangan dapat menggantinya. Namun, mereka tetap menekankan pentingnya belajar Al-Qur'an bagi setiap Muslim. Maliki juga menekankan bahwa dalam melakukan dzikir dan tasbih, niat yang baik dan kehadiran hati sangat penting. Mereka memandang hadits ini sebagai petunjuk rahmat Allah kepada umatnya.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i memberikan perhatian khusus pada setiap kalimat yang diajarkan Nabi. Mereka memandang kalimat-kalimat ini sebagai dzikir-dzikir pilihan yang memiliki makna sempurna dalam mengagungkan Allah dan memujinya. Syafi'i menganggap bahwa dzikir ini dapat digunakan dalam berbagai konteks ibadah, bukan hanya sebagai pengganti hafalan Al-Qur'an, melainkan juga sebagai ibadah tersendiri yang bernilai tinggi. Para ulama Syafi'i merekomendasikan dzikir-dzikir ini untuk dibaca secara rutin, terutama setelah shalat dan di waktu-waktu mulia lainnya.

Hanbali:
Madzhab Hanbali sangat mengapresiasi hadits ini dan menganggapnya sebagai petunjuk langsung dari Nabi tentang kalimat-kalimat mulia yang memiliki keutamaan tinggi. Mereka memandang bahwa seseorang yang kesulitan menghafal Al-Qur'an dapat menggunakan dzikir-dzikir ini sebagai alternatif, namun tetap didorong untuk berusaha belajar Al-Qur'an. Ahmad bin Hanbal sendiri mengutamakan dzikir dan tasbih sebagai bagian integral dari ibadah harian seorang Muslim. Hanbali juga menekankan bahwa kalimat 'la hawla wa la quwwata illa billahil 'aliyil 'azim' (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah) memiliki keutamaan khusus dalam menghadapi kesulitan dan musibah.

Hikmah & Pelajaran

1. Kemudahan dan Rahmat Islam: Islam adalah agama yang mudah, tidak memberatkan pengikutnya. Bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam menghafal Al-Qur'an, masih terbuka pintu lain untuk beribadah dengan sempurna melalui dzikir dan tasbih.

2. Keutamaan Kalimat-Kalimat Tawhid: Kalimat "Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar" mengandung makna glorifikasi dan tawhid yang sempurna. Setiap kalimat memiliki manfaat spiritual yang luar biasa dalam mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat iman.

3. Pengakuan Ketergantungan kepada Allah: Kalimat "la hawla wa la quwwata illa billahil 'aliyil 'azim" mengajarkan bahwa manusia tidak memiliki daya dan kekuatan apapun kecuali dengan pertolongan Allah. Ini menumbuhkan sikap tawakkal dan menghilangkan kesombongan.

4. Pentingnya Kesungguhan dalam Belajar: Meskipun hadits ini memberikan jalan keluar bagi mereka yang kesulitan menghafal Al-Qur'an, namun tetap menunjukkan pentingnya berusaha untuk belajar. Nabi tidak langsung memberi jalan mudah, tetapi terlebih dahulu memahami kesulitan seseorang, kemudian memberikan solusi yang praktis namun tetap bermakna secara spiritual.

5. Nilai Dzikir dalam Kehidupan Sehari-hari: Dzikir bukan sekadar formalitas dalam ibadah, melainkan praktik spiritual yang dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja untuk memperkuat koneksi dengan Allah, meningkatkan kesadaran akan keagamaan, dan membantu menghadapi berbagai tantangan hidup dengan sabar dan tawakkal.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat