✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 294
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ صِفَةِ اَلصَّلَاةِ  ·  Hadits No. 294
Shahih 👁 5
294 - وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : { كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ يَقُولُ: فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ : "سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ]رَبَّنَا] وَبِحَمْدِكَ , اَللَّهُمَّ اِغْفِرْ لِي } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
📝 Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan dalam rukuk dan sujudnya: 'Subhanaka Allahumma rabbana wa bihamdika, Allahumma ighfir li' (Maha Suci Engkau Ya Allah Tuhan kami dan segala puji bagi-Mu, Ya Allah ampunilah aku). Hadits ini telah disepakati keshahihannya (Muttafaq 'alaih) oleh Bukhari dan Muslim.
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini menjelaskan tentang dzikir dan doa yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika berada dalam posisi rukuk dan sujud. Aisyah radhiallahu 'anha adalah istri Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits dan sangat mengetahui detail ibadah beliau. Hadits ini diterima oleh kedua imam hadits terbesar (Bukhari dan Muslim), menunjukkan tingkat kesahihan tertinggi. Dalam konteks shalat, rukuk dan sujud adalah momen khusus di mana hamba dekat dengan Allah, sehingga perlu diisi dengan dzikir dan doa yang sungguh-sungguh.

Kosa Kata

سُبْحَانَكَ (Subhanaka): Bermakna "Maha Suci Engkau", merupakan tasbih yang berarti menafikan segala kekurangan dari Allah Ta'ala

اَللَّهُمَّ (Allahumma): Bentuk khitab langsung kepada Allah, merupakan panggilan yang penuh kerendahan dan kekhusyukan

رَبَّنَا (Rabbana): "Tuhan kami", menekankan kepemilikan dan ketergantungan kepada Tuhan

وَبِحَمْدِكَ (wa bihamdika): "Dan dengan segala puji-pujian bagi-Mu", menggabungkan tasbih dengan pujian kepada Allah

اِغْفِرْ لِي (ighfir li): Meminta ampunan, yang merupakan doa penting dalam setiap ibadah

الرُّكُوع (Rukuk): Membungkukkan badan dalam shalat sebagai bentuk ketaatan dan kerendahan

السُّجُود (Sujud): Menempatkan dahi dan wajah ke tanah, posisi tertinggi kerendahan hamba

Kandungan Hukum

1. Disunatkan melakukan dzikir dalam rukuk dan sujud - Ini adalah praktek yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan menjadi sunnah muakadah 2. Dzikir dalam rukuk dan sujud bersifat mustahab (dianjurkan), bukan wajib walaupun sangat dianjurkan untuk mengikuti sunnah Nabi 3. Bentuk dzikir yang dilakukan adalah tasbih diikuti doa - menggabungkan antara puja-puji kepada Allah dengan doa pribadi 4. Mencakup hajat pribadi dalam doa shalat - Hadits menunjukkan bahwa doa untuk ampunan diri sendiri adalah hal yang dibenarkan dalam shalat 5. Konsistensi dalam melakukan dzikir di setiap rakaat - "kana yaqul" (beliau selalu mengucapkan) menunjukkan kebiasaan dan konsistensi Nabi

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi memandang bahwa melakukan dzikir dalam rukuk dan sujud adalah mustahab (dianjurkan) berdasarkan sunnah. Dalam kitab Al-Bahr Al-Ra'iq, disebutkan bahwa tasbih dalam rukuk dan sujud merupakan perbuatan sunnah yang dikerjakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Hanafiah tidak mewajibkan dzikir tertentu dalam rukuk dan sujud, tetapi menyarankan mengikuti sunnah Nabi. Mereka memperbolehkan berbagai bentuk dzikir dalam rukuk dan sujud, selama dalam rangka memuji Allah dan berdoa kepada-Nya. Pengikut Hanafi yang taat akan senantiasa mengikuti praktek Nabi ini sebagai bagian dari sunnah yang muakadah.

Maliki:
Madzhab Maliki, berdasarkan kaidah Malikiyah yang mengutamakan amalan ahlul-Madinah, menerima hadits ini dengan baik. Dalam Muwatta' Malik disebutkan bahwa tasbih dan doa dalam rukuk dan sujud adalah bagian dari sunnah yang diajarkan. Malikiyah menganggap ini sebagai praktek yang sangat baik dan dianjurkan kuat. Mereka berpandangan bahwa dzikir dalam rukuk dan sujud merupakan bagian integral dari kesempurnaan shalat. Imam Malik sendiri menerima hadits Aisyah ini dan menganggapnya sebagai sunnah yang patut diikuti oleh setiap orang yang menunaikan shalat dengan khusyuk.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i sangat menekankan pentingnya dzikir dalam rukuk dan sujud sebagai bagian dari sunnah yang muakadah. Dalam Al-Umm, Imam Syafi'i menjelaskan bahwa setiap rukuk dan sujud sebaiknya diisi dengan dzikir kepada Allah. Syafi'iyyah menganggap dzikir dalam posisi ini sebagai hal yang sangat dianjurkan dan menjadi salah satu penyempurna shalat. Mereka juga mengakui bahwa doa personal seperti meminta ampunan dalam rukuk dan sujud adalah sesuatu yang baik dan dibenarkan. Pengikut Syafi'i ditasihi untuk selalu membaca tasbih dan doa dalam setiap rukuk dan sujud mereka.

Hanbali:
Madzhab Hanbali memiliki pandangan yang paling kuat tentang pentingnya dzikir dalam rukuk dan sujud. Dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, disebutkan bahwa tasbih dalam rukuk dan sujud adalah sunnah yang sangat dianjurkan, bahkan untuk melengkapi dan menyempurnakan shalat. Hanabilah berpandangan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu melakukan ini, dan hal tersebut menunjukkan bahwa ini adalah bagian penting dari shalat yang khusyuk. Mereka menekankan bahwa dzikir ini bukan hanya untuk kebaikan diri sendiri, tetapi juga bentuk ibadah kepada Allah yang mencerminkan kerendahan dan ketundukan hamba kepada Pencipta-nya.

Hikmah & Pelajaran

1. Pentingnya Konsistensi Dalam Ibadah
Penggunaan kata "kana yaqul" (beliau selalu mengucapkan) menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan dzikir ini secara konsisten dalam setiap rakaat shalat. Ini mengajarkan kita bahwa ibadah yang sempurna bukan yang dilakukan sekali-kali, tetapi yang dilakukan dengan konsisten dan istiqamah. Konsistensi dalam dzikir dan doa merupakan kunci untuk mendapatkan manfaat spiritual dari ibadah shalat.

2. Makna Tasbih Sebagai Penafian Kekurangan Dari Allah
Kalimat "Subhanaka Allahumma Rabbana" mengandung tasbih yang berarti menafikan segala kekurangan dan ketidaksempurnaan dari sifat-sifat Allah. Dalam rukuk dan sujud, kita menempatkan diri dalam posisi paling rendah sebagai bentuk pengakuan atas kesempurnaan Allah. Hikmah ini mengajarkan bahwa setiap hamba harus merendahkan diri dan mengakui bahwa Allah saja yang sempurna, sementara manusia penuh dengan kekurangan.

3. Keseimbangan Antara Tasbih dan Doa Personal
Hadits ini menunjukkan bahwa dzikir dalam shalat tidak hanya berupa pujian kepada Allah, tetapi juga mencakup doa personal. Kalimat "Allahumma ighfir li" adalah doa untuk diri sendiri. Ini mengajarkan keseimbangan antara berbuat baik untuk kemuliaan Allah (tasbih) dan meminta bantuan Allah untuk kebutuhan pribadi (doa). Kedua aspek ini penting dan saling melengkapi dalam ibadah.

4. Momentum Rukuk dan Sujud Untuk Taqarrub Kepada Allah
Rukuk dan sujud adalah posisi di mana hamba paling dekat dengan Allah secara fisik dan spiritual dalam shalat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menggunakan momen ini untuk melakukan dzikir yang dalam dan doa yang tulus. Hikmah ini mengajarkan bahwa setiap posisi dalam shalat memiliki makna dan kedalaman tersendiri, dan kita harus memanfaatkan momen-momen ini dengan penuh kesadaran dan konsentrasi. Rukuk dan sujud bukan sekadar gerakan mekanis, tetapi ekspresi kerendahan diri dan kedekatan dengan Sang Pencipta yang harus diisi dengan dzikir bermakna.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat