Pengantar
Hadits ini membahas tentang tata cara sujud yang benar dalam melaksanakan salat, khususnya mengenai posisi tangan dan siku. Al-Bara' bin 'Azib adalah sahabat yang hidup bersama Rasulullah dan menyaksikan langsung pengamalan beliau, sehingga riwayatannya tentang sifat-sifat ibadah memiliki kekuatan tinggi. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, yang menunjukkan tingkat kesahihan yang sangat tinggi. Pembahasan mengenai posisi anggota tubuh dalam sujud sangat penting karena hal tersebut merupakan salah satu rukun salat yang harus dilakukan dengan sempurna.Kosa Kata
إِذَا سَجَدْتَ (Idza sajadta): Apabila engkau bersujud - merupakan syarat waktu untuk melakukan perintah yang berikutفَضَعْ كَفَّيْكَ (Fada' kaffahayka): Letakkanlah kedua telapak tanganmu - perintah untuk meletakkan kedua tangan secara rata di atas tanah/sajadah
كَفَّ (Kaff): Telapak tangan - bagian tangan dari pergelangan hingga ujung jari
وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ (Wa-irfa' mirfaqayka): Dan angkatlah kedua sikumu - perintah untuk menjauhkan siku dari tubuh dan lantai
المِرْفَق (Al-mirfaq): Siku - persendian antara lengan atas dan lengan bawah
البَرَاء بن عَازِب (Al-Bara' bin 'Azib): Sahabat Ansari yang termasuk dalam kalangan muhajirun dan anshar, terkenal dengan hafalan dan pemahaman beliau tentang sifat-sifat ibadah
Kandungan Hukum
1. Wajibnya Meletakkan Telapak Tangan dalam Sujud: Hadits ini menunjukkan bahwa tangan harus diletakkan dengan sempurna, bukan hanya jari-jari atau bagian tertentu dari tangan. Meletakkan telapak tangan adalah bagian dari kesempurnaan sujud.
2. Pengangkatan Siku dalam Sujud: Siku tidak boleh menempel di tanah, melainkan harus diangkat dan dijauhkan dari tubuh. Ini merupakan syarat kesempurnaan sujud menurut mayoritas ulama.
3. Perintah (Amr) dalam Hadits: Penggunaan lafaz "ضَعْ" dan "ارْفَعْ" (perintah) menunjukkan bahwa ini adalah ketentuan wajib, bukan hanya anjuran saja.
4. Keindahan Bentuk Sujud: Dengan meletakkan tangan dan mengangkat siku, bentuk sujud menjadi lebih sempurna dan indah, mencerminkan kekhusyuan dalam beribadah.
5. Perbedaan Sujud dari Postur Lainnya: Perintah khusus ini membedakan sujud dari rukuk atau postur lainnya, sehingga setiap gerakan salat memiliki ciri khasnya sendiri.
Pandangan 4 Madzhab
Hanafi:
Madzhab Hanafi memandang hadits ini sebagai menunjukkan kesempurnaan (fadilah) sujud, bukan sebagai kewajiban (wajib). Menurut Abu Hanifah dan murid-muridnya, yang wajib dalam sujud adalah menyentuh tujuh anggota tubuh ke tanah (dahi, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung jari kaki). Adapun posisi siku yang diangkat dipandang sebagai sunah dan kesempurnaan. Mereka mengdasarkan pada prinsip bahwa perintah dalam hadits dapat menunjukkan kesempurnaan jika tidak ada qarinah yang menunjukkan kewajibannya. Mayoritas ulama Hanafi berpendapat bahwa meletakkan tangan dengan sempurna dan mengangkat siku adalah praktek yang sangat dianjurkan (sunan muakkadah) namun bukan wajib.
Maliki:
Madzhab Maliki sangat menekankan hadits-hadits tentang sifat sujud dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menentukan cara sujud yang sempurna. Mereka berpendapat bahwa meletakkan telapak tangan dan mengangkat siku adalah bagian dari perbuatan yang ditunjukkan oleh Rasulullah secara konsisten. Imam Malik memandang bahwa pengetahuan tentang sifat-sifat ibadah harus diambil dari praktik Rasulullah yang teramati secara berulang-ulang. Dalam hal ini, mereka menganggap posisi tangan dan siku sebagai suatu yang sangat penting untuk kesempurnaan sujud, meskipun titik tekan mereka lebih pada mencapai sujud yang sempurna dan berkesan daripada menghukumi dengan wajib atau sunah secara ketat.
Syafi'i:
Madzhab Syafi'i memberikan perhatian besar terhadap hadits tentang sifat sujud ini. Imam al-Syafi'i berpendapat bahwa kesempurnaan sujud mencakup berbagai hal, termasuk posisi tangan dan siku. Namun, dalam hal kewajiban, madzhab Syafi'i membedakan antara rukun salat yang wajib dan sunan yang sangat dianjurkan (sunan muakkadah). Posisi tangan yang benar dan siku yang diangkat dimasukkan dalam kategori sunan muakkadah, artinya sangat dianjurkan dan merupakan praktik konsisten Rasulullah. Imam al-Syafi'i menekankan bahwa meskipun bukan wajib, mengabaikannya secara terus-menerus tanpa alasan dapat mengurangi nilai salat.
Hanbali:
Madzhab Hanbali mengambil posisi yang agak berbeda. Mereka melihat hadits ini sebagai menunjukkan cara sujud yang paling sempurna dan terbaik. Imam Ahmad bin Hanbal, dalam riwayat yang lebih kuat, berpendapat bahwa meletakkan telapak tangan dan mengangkat siku adalah sunah muakkadah atau bahkan dipandang sebagai bagian dari kesempurnaan yang sangat penting. Dalam beberapa riwayat dari mazhab ini, ada yang mengatakan bahwa mengangkat siku hingga tidak menyentuh tanah adalah bagian dari kesempurnaan sujud. Hanbali juga memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan Rasulullah secara konsisten dalam sujud dan menjadikannya sebagai standar kesempurnaan dalam ibadah.
Hikmah & Pelajaran
1. Kesempurnaan dalam Pelaksanaan Ibadah: Hadits ini mengajarkan bahwa dalam beribadah kepada Allah, kita tidak boleh cukup hanya melakukan hal-hal dasar saja. Setiap gerakan dalam salat hendaknya dilakukan dengan sempurna dan sebaik-baiknya sebagai bentuk menghormati dan memuliakan Allah. Dengan meletakkan tangan dengan tepat dan mengangkat siku, kita menunjukkan kesungguhan dalam menyembah.
2. Pentingnya Detail dalam Beribadah: Pembelajaran ini menunjukkan bahwa Rasulullah sangat memperhatikan detail-detail kecil dalam ibadah. Tidak ada hal kecil dalam agama ini yang tidak mempunyai hikmah dan tujuan. Siku yang diangkat, misalnya, memiliki makna bahwa dalam sujud kita sedang berusaha dekat kepada Allah dengan postur yang penuh kehormatan dan pengabdian.
3. Keteladanan Sahabat dalam Menyampaikan Ilmu: Al-Bara' bin 'Azib, sebagai seorang sahabat, dengan teliti mengamati dan mengingat setiap gerakan Rasulullah dalam salat. Hal ini menunjukkan pentingnya perhatian dalam belajar dan pengajaran, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan ibadah yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
4. Keseimbangan antara Hati dan Anggota Tubuh dalam Ibadah: Dengan posisi tangan dan siku yang tepat, gerakan tubuh mencerminkan kehadiran hati dalam sujud. Tubuh yang tertib dan rapi dalam posisi sujud dapat membantu jiwa untuk lebih khusyuk dan tunduk kepada Allah. Ini adalah integrasi sempurna antara aspek jasmaniyah dan ruhiyah dalam ibadah.