Pengantar
Hadits ini merupakan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu 'anhu tentang do'a yang utama dan pilihan untuk dibaca dalam salat. Abu Bakar yang merupakan sahabat terdekat Nabi dan orang pertama yang memeluk Islam meminta pengajaran do'a yang baik untuk diamalkan dalam ibadatnya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan do'a ini yang mengandung pengakuan atas kelemahan diri, permohonan ampun, dan kerahasiaan kepada Allah Ta'ala. Do'a ini dapat dibaca di tengah-tengah salat (tasyahud), dalam ruku', sujud, atau setelah tasyahud akhir sebelum salam, sesuai kehendak dan kondisi masing-masing.Kosa Kata
ظَلَمْتُ نَفْسِي (Dholomtu nafsii) - Aku telah menganiaya diriku sendiri. Penganiayaan di sini berarti kekhilafan, dosa, dan perbuatan maksiat terhadap perintah Allah.ظُلْمًا كَثِيرًا (Dhulman Kathiiran) - Aniaya yang sangat besar. Ini adalah pengakuan atas banyaknya dosa dan kesalahan, baik yang besar maupun yang kecil.
لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ (Laa yaghfiru adh-dhunuba illa anta) - Tidak ada yang menghapus dosa kecuali Engkau. Ini menegaskan keesaan Allah dalam memberikan ampunan.
مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ (Maghfiratan min 'indika) - Ampunan dari sisimu. Meminta ampunan khusus dari Allah, bukan dari makhluk lain.
الغَفُورُ الرَّحِيمُ (Al-Ghafur ar-Rahim) - Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dua sifat Allah yang mencakup pemampunan kesalahan dan pemberian rahmat.
Kandungan Hukum
1. Hukum do'a dalam salat: Do'a dalam salat adalah amalan yang disunnahkan dan sangat dianjurkan. Do'a merupakan inti dari ibadah, sebagaimana firman Allah: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku" (Adz-Dzariyat: 56), dan ibadah mencakup do'a.2. Waktu do'a dalam salat: Do'a dapat dibaca di berbagai tempat dalam salat menurut ulama, yakni dalam ruku', sujud, antara dua sujud, setelah tasyahud akhir, dan tempat-tempat lain yang telah diajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
3. Jenis do'a yang diperbolehkan: Do'a yang berkaitan dengan agama dan dunia, yang mendekatkan kepada Allah dan tidak mengandung kemaksiatan adalah diperbolehkan dan dianjurkan.
4. Pengakuan akan kesalahan: Disunahkan bagi seorang muslim untuk mengakui kesalahannya kepada Allah dengan tulus dan ikhlas.
Pandangan 4 Madzhab
Hanafi: Imam Abu Hanifah dan pengikutnya memperbolehkan do'a dalam salat, terutama di saat sujud yang merupakan waktu paling utama untuk do'a. Mereka mengatakan bahwa do'a dalam salat tidak membatalkan salat, bahkan disunnahkan membaca do'a-do'a yang masyhur dari Quran dan Sunnah. Dalam kitab Al-Ikhtiyar Li Ta'lil Al-Mukhtar, dijelaskan bahwa sujud merupakan waktu terbaik untuk do'a karena orang yang sujud paling dekat dengan Rabb-nya. Ulama Hanafi memandang do'a di tempat-tempat tertentu dalam salat sebagai bentuk ketawadu dan pengakuan akan kelemahan diri di hadapan Allah.
Maliki: Madzhab Maliki memandang do'a dalam salat, khususnya do'a-do'a yang disunnahkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sangat dianjurkan. Imam Malik dalam Al-Muwatta' menyebutkan berbagai bentuk doa dari sahabat yang mereka lakukan dalam salat mereka. Madzhab ini menekankan perlunya ikhtiar dan usaha untuk menghafal do'a-do'a ini agar dapat diamalkan. Mereka juga memandang bahwa do'a yang berisi permohonan ampun sebagaimana dalam hadits ini merupakan doa yang sempurna karena mengandung unsur taubat dan perbaikan diri.
Syafi'i: Imam Syafi'i menekankan bahwa do'a dalam salat adalah amalan yang sangat utama dan dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang telah diajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dalam Al-Umm, Imam Syafi'i menjelaskan bahwa do'a sesudah tasyahud akhir dan sebelum salam merupakan waktu yang sangat tepat untuk do'a, namun do'a juga dapat dilakukan di tempat sujud. Madzhab Syafi'i juga menekankan kesempurnaan do'a yang mengandung pengakuan atas kesalahan dan permohonan ampun kepada Allah.
Hanbali: Madzhab Hanbali sangat menganjurkan do'a dalam salat, terutama di waktu sujud. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan banyak do'a dari sahabat yang mereka lakukan dalam salat. Beliau menekankan bahwa doa adalah inti dari ibadah dan seorang hamba seharusnya selalu menghadirkan do'a dalam setiap ibadatnya. Do'a seperti yang diajarkan Nabi kepada Abu Bakar ini merupakan contoh ideal dari do'a yang sempurna karena mengandung pengakuan akan dosa, permohonan ampun, dan keyakinan akan sifat-sifat Allah.
Hikmah & Pelajaran
1. Kerendahan hati dan tawadu: Do'a ini mengajarkan seorang hamba untuk merendahkan diri di hadapan Allah, mengakui dosa dan kesalahannya. Ini adalah bentuk nyata dari tawadu dan khusyu' yang menjadi kunci dari ibadah yang diterima. Pengakuan atas kesalahan "aku telah menganiaya diriku sendiri dengan aniaya yang sangat besar" menunjukkan kesadaran akan realitas diri yang lemah dan berdosa.
2. Keyakinan penuh kepada Allah: Do'a ini menegaskan bahwa hanya Allah yang dapat memberikan ampunan. Kalimat "tidak ada yang menghapus dosa-dosa melainkan Engkau" adalah pengakuan akan tauhid dan ketergantungan penuh kepada Allah. Ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh berharap ampunan dari makhluk lain, namun semata-mata dari Allah Ta'ala.
3. Kombinasi antara ampunan dan rahmat: Hadits ini mengajarkan pentingnya meminta ampunan sekaligus rahmat. Ampunan menghapus kesalahan masa lalu, sementara rahmat memberi kekuatan untuk berbuat baik di masa depan. Kombinasi keduanya menunjukkan pemahaman sempurna tentang kebutuhan spiritual seorang hamba.
4. Pentingnya pembelajaran agama dari para ahli: Abu Bakar As-Shiddiq, yang merupakan sahabat paling dekat Nabi dan pemimpin umat Islam, masih meminta pembelajaran do'a dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada yang merasa cukup dengan ilmunya, dan selalu ada kebutuhan untuk belajar dan mengamalkan tuntunan agama dengan benar. Ini adalah pelajaran bagi semua umat untuk terus mendalami ilmu agama dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya.
5. Doa sebagai wasilah mendekatkan diri kepada Allah: Hadits ini menunjukkan bahwa do'a adalah sarana utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam salat yang merupakan puncak ibadah, do'a memiliki peran sangat penting untuk meningkatkan derajat ketakwaan dan keikhlasan seorang hamba.
6. Kesesuaian do'a untuk semua kondisi: Do'a ini dapat diamalkan oleh setiap muslim dari berbagai latar belakang, sebab isinya yang universal tentang kesalahan diri dan permohonan ampun adalah kondisi yang sama dihadapi semua manusia. Tidak ada manusia yang bebas dari dosa, sehingga do'a ini relevan untuk semua.