✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
🕌 Mode Baca — Hadits 396
✦ Untuk keperluan belajar mandiri — bukan fatwa ✦
⚠️ Konten ini mungkin mengandung kesalahan terjemahan atau syarah. Kami bukan ulama dan tidak menerbitkan fatwa. Gunakan sebagai bahan belajar, bukan rujukan hukum. Selengkapnya →
❧ ✦ ❧
Kitab Shalat  ·  بَابُ صَلَاةِ اَلتَّطَوُّعِ  ·  Hadits No. 396
👁 3
396- وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ { مَنْ صَلَّى اَلضُّحَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اَللَّهُ لَهُ قَصْرًا فِي اَلْجَنَّةِ } رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَاسْتَغْرَبَهُ . .
📝 Terjemahan
Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang melaksanakan shalat dhuha dua belas rakaat, niscaya Allah akan membangun untuk dirinya sebuah istana di surga." (HR. At-Tirmidzi dan beliau menganggapnya hadits yang ganjil/aneh)
شَرْحٌ وَبَيَانٌ Syarah & Penjelasan
📖 Syarah berikut bersifat akademik dan mungkin mengandung kesalahan interpretasi. Selalu cross-check dengan kitab asli atau ulama tepercaya.

Pengantar

Hadits ini membahas tentang shalat dhuha (shalat sunah yang dilakukan pada waktu dhuha/pagi hari setelah terbit matahari) dan keutamaan melaksanakannya dengan jumlah dua belas rakaat. Hadits ini termasuk dalam kategori motivasi spiritual yang mendorong umat Islam untuk melakukan ibadah sunah guna mendapatkan pahala besar dari Allah Swt berupa istana di surga. At-Tirmidzi menganggap hadits ini ganjil (aneh) dalam sanadnya, meskipun tetap meriwayatkannya. Hadits ini menjadi dalil bagi mereka yang menyukai shalat dhuha dan mendorong perbanyakan pelaksanaannya.

Kosa Kata

Dhuha (الضُّحَى): Waktu ketika matahari telah terbit cukup tinggi, yaitu setelah matahari terbit hingga memasuki waktu dzuhur. Mayoritas ulama menyatakan waktu dhuha dimulai dari setelah terbitnya matahari mencapai ketinggian tombak (sekitar 15 menit setelah terbit) hingga sebelum dzuhur.

Itsna'asy Asy'rah (ثِنْتَيْ عَشْرَةَ): Dua belas, yang merupakan angka spesifik dalam hadits ini.

Raka'ah (رَكْعَةً): Satu unit gerakan dalam shalat yang terdiri dari takbir, membaca Al-Qur'an, ruku', i'tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud.

Qasr (قَصْرًا): Istana atau benteng, merujuk pada bangunan megah di surga yang merupakan pahala dari amal shalih.

Estag'robahu (اسْتَغْرَبَهُ): Menganggap hadits itu ganjil/aneh, istilah dalam ilmu hadits yang menunjukkan bahwa hadits tersebut memiliki sanad yang tidak biasa atau jarang diriwayatkan.

Kandungan Hukum

1. Hukum Shalat Dhuha

Shalat dhuha adalah shalat sunah muakkadah (ditegaskan) menurut mayoritas ulama karena telah diperaktikkan oleh Nabi ﷺ dan sahabat. Beberapa ulama mengatakan derajatnya shalat sunah yang sangat dianjurkan.

2. Waktu Pelaksanaan Shalat Dhuha

Waktu shalat dhuha dimulai setelah matahari terbit dengan ketinggian tombak sampai menjelang waktu dzuhur. Ulama berbeda pendapat tentang waktu yang paling utama (optimal) untuk melaksanakannya.

3. Bilangan Rakaat Shalat Dhuha

Hadits ini menetapkan dua belas rakaat sebagai bilangan khusus yang menjanjikan pahala istana di surga. Namun, shalat dhuha dapat dilakukan dengan bilangan yang berbeda-beda (minimal dua rakaat).

4. Janji Pahala Istana di Surga

Adalah janji dari Nabi ﷺ bahwa pelaksanaan shalat dhuha dua belas rakaat dengan baik dan konsisten akan memperoleh pahala istana di surga sebagai kemurahan Allah.

5. Status Hadits dan Penerimaannya

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan catatan bahwa ia menganggapnya ganjil (aneh). Hal ini mengindikasikan bahwa sanad hadits ini memiliki kejanggalan tertentu meskipun tetap dapat diterima sebagai dasar penguatan hukum.

Pandangan 4 Madzhab

Hanafi:
Madzhab Hanafi mengakui keutamaan shalat dhuha tetapi tidak menjadikan bilangan dua belas rakaat sebagai syarat mutlak. Menurut mereka, shalat dhuha dapat dilakukan dengan berbagai bilangan rakaat, minimal dua rakaat, dan para ulama Hanafi menekankan bahwa bilangan genap lebih disukai. Mereka menerima hadits tentang dhuha sebagai penunjuk keutamaan tetapi tidak menganggapnya sebagai hadits shahih. Imam Abu Hanifah dan pengikutnya mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penerimaan hadits ahad yang menyangkut janji-janji surga.

Maliki:
Madzhab Maliki memandang shalat dhuha sebagai shalat sunah yang dianjurkan, terutama bagi mereka yang konsisten melakukannya. Mereka menerima hadits-hadits tentang dhuha dengan pertimbangan matang. Dalam konteks bilangan rakaat, mereka tidak mengikat pada angka dua belas tetapi menganggapnya sebagai bilangan yang lebih utama (afdal) apabila seseorang mampu melakukannya. Imam Malik mempertimbangkan praktik ahlul Madinah yang merupakan sumber penting dalam metodologinya.

Syafi'i:
Madzhab Syafi'i termasuk yang paling antusias tentang shalat dhuha dan keutamaannya. Mereka menerima hadits-hadits tentang dhuha dan menganggapnya sebagai motivasi untuk melaksanakan shalat ini. Imam Syafi'i mengatakan bahwa shalat dhuha adalah sunnah yang sangat dianjurkan dan memiliki berbagai bilangan rakaat yang dapat dilakukan (dua, empat, enam, delapan, hingga dua belas rakaat). Mereka menjadikan hadits semacam ini sebagai dasar untuk menganjurkan shalat dhuha kepada umat Islam tanpa membatasi hanya pada angka dua belas.

Hanbali:
Madzhab Hanbali sangat menganjurkan shalat dhuha dan menganggapnya sebagai sunnah yang muakkadah (ditegaskan). Mereka menerima hadits-hadits dhuha dengan baik dan menganggapnya sebagai motivasi spiritual yang kuat. Imam Ahmad bin Hanbal sendiri termasuk praktisi shalat dhuha. Mereka memandang janji pahala dalam hadits ini sebagai bentuk dari kemurahan Allah terhadap hambanya yang taat. Bilangan dua belas rakaat dipandang sebagai bilangan yang optimal dan paling utama, meskipun shalat dhuha dapat dilakukan dengan bilangan yang lain.

Hikmah & Pelajaran

1. Motivasi Spiritual dan Peningkatan Amal: Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memberikan motivasi kepada umatnya dengan menjanjikan pahala yang besar untuk amal-amal shalih. Ini mengajarkan kita untuk selalu semangat dalam melakukan ibadah sunah, tidak hanya terbatas pada kewajiban, tetapi juga memperbanyak ibadah tambahan yang membawa kita lebih dekat kepada Allah.

2. Keutamaan Waktu Dhuha dan Pentingnya Manfaatkan Waktu: Shalat dhuha adalah pengingat tentang pentingnya memanfaatkan waktu pagi hari yang merupakan waktu berkah menurut banyak hadits. Waktu dhuha adalah saat ketika seseorang telah memulai aktivitasnya dan masih penuh energi, sehingga melakukan ibadah pada waktu ini menunjukkan prioritas terhadap agama.

3. Keajaibannya Janji Allah atas Amal Shalih: Hadits ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak akan mengabaikan amal shalih hambanya. Setiap ibadah yang dilakukan dengan ikhlas akan mendapatkan balasan dari Allah, bahkan melebihi ekspektasi kita. Istana di surga bukan hanya sekadar pahala material, tetapi simbol dari kehormatan dan kemuliaan di sisi Allah.

4. Konsistensi dan Kedisiplinan dalam Ibadah: Untuk mendapatkan janji pahala ini, seseorang perlu konsisten melaksanakan shalat dhuha, khususnya dua belas rakaat. Ini mengajarkan pentingnya disiplin dan konsistensi dalam ibadah, bukan sekadar melakukan ibadah sekali-sekali, tetapi menjadikannya bagian dari rutinitas spiritual sehari-hari yang membentuk karakter islami.

📚 Diadaptasi dari berbagai sumber syarah Bulughul Maram — untuk keperluan belajar mandiri
📚 Sumber: Bulughul Maram — Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H). Terjemahan & syarah bersifat akademik, bukan teks fatwa.
◈ ✦ ◈
← Kembali ke Kitab Shalat