Pengantar
Hadits ini menjelaskan tentang praktik Rasulullah saw dalam memilih surat-surat Al-Qur'an untuk dibaca pada momen-momen penting dalam ibadah, khususnya dalam salat Jumat dan salat Hari Raya. An-Nu'man ibn Basyir adalah sahabat yang terkenal karena kecermatannya dalam mencatat amalan Nabi saw. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dan juga oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya. Pendokumentasian bacaan Al-Qur'an pada kesempatan-kesempatan khusus ini menunjukkan pentingnya pemilihan surat yang tepat sesuai dengan waktu dan kondisi.Kosa Kata
كَانَ يَقْرَأُ (kana yaqra'u) = beliau membaca, melakukan kebiasaan membaca
اَلْعِيدَيْنِ (al-'eidain) = kedua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha
الْجُمُعَةِ (al-jumu'ah) = hari Jumat, serta salat Jumat
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اَلْأَعْلَى (Sabbihisma Rabbika Al-A'la) = surat Al-A'la (ayat 1), artinya "Sucikanlah nama Rabb-mu yang Maha Tinggi"
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ اَلْغَاشِيَةِ (Hal Ataka Haditsul Ghasiyah) = surat Al-Ghasiyah (ayat 1), artinya "Apakah telah sampai kepadamu berita tentang hari yang menutup segala-galanya (hari kiamat)?"
Kandungan Hukum
1. Sunnah Membaca Surat Al-A'la pada Salat Jumat dan Hari Raya
Membaca surat Al-A'la merupakan sunnah yang disahkan oleh Nabi saw. Pemilihan surat ini memiliki makna khusus yaitu mengingatkan manusia untuk memuji dan mensucikan Allah swt yang Maha Tinggi, yang sangat relevan dengan momen-momen ibadah yang sakral.
2. Sunnah Membaca Surat Al-Ghasiyah pada Kesempatan yang Sama
Surat Al-Ghasiyah juga merupakan bacaan sunnah Nabi saw pada momen yang sama. Surat ini memiliki kandungan tentang peringatan Hari Kiamat dan balasan amal, yang bermakna mendalam untuk meningkatkan kesadaran jamaah akan tanggung jawab mereka di hadapan Allah swt.
3. Bolehnya Variasi Bacaan dalam Salat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi saw tidak terikat pada satu surat tertentu saja, melainkan melakukan variasi bacaan sesuai dengan kondisi dan momen. Ini memberikan fleksibilitas dalam pemilihan surat selama memenuhi syarat-syarat bacaan dalam salat.
4. Pentingnya Pemilihan Surat yang Sesuai dengan Kondisi
Pemilihan surat Al-A'la dan Al-Ghasiyah menunjukkan bahwa Nabi saw mempertimbangkan kesesuaian makna surat dengan momen ibadah. Hal ini mengajarkan pentingnya kesadaran terhadap makna bacaan Al-Qur'an dalam salat.
5. Hukum Membaca Surat Pendek (Mufasshal)
Kedua surat yang disebutkan termasuk dalam juz 'amma dengan ayat-ayat yang relatif ringkas, menunjukkan bahwa membaca surat-surat yang lebih pendek pada kesempatan-kesempatan tertentu adalah praktik yang dibenarkan.
Pandangan 4 Madzhab
Hanafi:
Mazhab Hanafi menganggap bacaan ini sebagai sunnah mu'akkadah (sunnah yang diperkuat). Akan tetapi, mereka memberikan ruang bagi imamat untuk memilih surat lain dengan syarat tidak ada larangan syar'i. Dalam kitab Fath Al-Qadir, dikemukakan bahwa bacaan ini mengandung hikmah khusus namun tidak sampai menjadi wajib. Mereka menekankan bahwa mufti (pemberi fatwa) memiliki diskresi untuk memberikan petunjuk kepada imam tentang bacaan yang tepat sesuai kondisi jama'ah. Bacaan Al-A'la dan Al-Ghasiyah sangat disukai karena kepadatan makna dan efektivitasnya dalam menyentuh hati pendengar.
Maliki:
Mazhab Maliki, sebagaimana dikemukakan dalam Al-Mudawwanah, menganggap bacaan surat-surat ini sebagai sunnah yang amat baik (mustahabb). Mereka melihat bahwa Nabi saw memilih surat-surat ini dengan pertimbangan tertentu. Maliki memberikan ruang bagi imamat untuk beradaptasi dengan kondisi jama'ah, namun tetap menghargai tradisi yang telah disahkan oleh Nabi saw. Dalam perspektif Maliki, mengikuti sunnah ini menunjukkan kepedulian imam terhadap peningkatan kualitas spiritual jama'ah. Mereka juga mengakui bahwa pemilihan surat yang berbeda-beda dalam kesempatan berbeda menunjukkan fleksibilitas yang diperbolehkan dalam syariat.
Syafi'i:
Mazhab Syafi'i, sebagaimana termaktub dalam kitab Al-Umm dan Mukhhtasar Al-Muzanni, menganggap bacaan ini sebagai sunnah yang sangat ditekankan (sunnah mu'akkadah). Syafi'i berpendapat bahwa imamat hendaknya mengikuti praktik Nabi saw dalam hal ini. Akan tetapi, mereka tidak menjadikannya sebagai suatu yang mengakibatkan batalnya salat jika tidak terbaca. Syafi'i menekankan bahwa surat Al-A'la dan Al-Ghasiyah dipilih karena kepadatan makna tauhid dan peringatan (maw'izah) yang sangat relevan dengan kehadiran banyak orang pada momen-momen itu. Beliau mengatakan bahwa imamat yang mengikuti sunnah ini lebih sempurna dan mendapat pahala lebih.
Hanbali:
Mazhab Hanbali, melalui kitab-kitab seperti Al-Mustadrak dan Syarh Al-'Umdah, menganggap bacaan ini sebagai sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah mu'akkadah). Hanbali melihat bahwa hadits ini menunjukkan konsistensi Nabi saw dalam memilih bacaan yang bermakna. Mereka menekankan bahwa imamat harus berusaha untuk mengikuti sunnah ini dalam praktik sehari-hari. Hanbali juga menghargai variasi yang ada dalam hadits-hadits lain yang menyebutkan bacaan-bacaan alternatif, namun tetap memegang teguh bahwa pilihan Nabi saw adalah yang paling bijak. Mereka menambahkan bahwa bagi jama'ah umum, mendengarkan bacaan yang bermakna ini adalah bagian dari hikmah salat.
Hikmah & Pelajaran
1. Pentingnya Kesengajaan dan Pemilihan dalam Beribadah: Hadits ini menunjukkan bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan tindakan yang penuh kesadaran dan makna. Nabi saw dengan sengaja memilih surat-surat tertentu untuk momen-momen tertentu, mengajarkan kita bahwa setiap tindakan ibadah harus dilakukan dengan niat yang tepat dan pemilihan yang bijak.
2. Kesesuaian Bacaan dengan Kondisi Jamaah: Pemilihan surat Al-A'la (tentang kesucian Allah dan keagungan-Nya) dan Al-Ghasiyah (tentang peringatan Hari Kiamat) menunjukkan bahwa Nabi saw mempertimbangkan kondisi psikologis dan spiritual jamaah. Surat-surat ini dipilih untuk menyentuh hati dan meningkatkan kesadaran akan kebesaran Allah dan tanggung jawab di hadapan-Nya. Ini mengajarkan pentingnya komunikasi yang efektif dalam pendidikan agama.
3. Keseimbangan antara Sunnah dan Ijtihad: Hadits ini menunjukkan bahwa meskipun ada sunnah yang disahkan Nabi saw, tetapi masih ada ruang bagi ijtihad dan penyesuaian dengan konteks. Berbagai mazhab memberikan interpretasi yang berbeda namun tetap menghormati garis besar sunnah ini. Hal ini mengajarkan bahwa keislaman yang hidup adalah yang mampu menggabungkan teguhnya prinsip dengan fleksibilitas dalam aplikasi.
4. Penghargaan terhadap Surat-Surat Al-Qur'an yang Bermakna: Pemilihan surat Al-A'la dan Al-Ghasiyah yang relatif pendek namun padat makna menunjukkan bahwa panjang pendeknya surat bukan ukuran utama. Yang penting adalah kedalaman makna dan relevansinya dengan kondisi dan momen. Ini mengajarkan pentingnya membaca Al-Qur'an dengan pemahaman mendalam terhadap maknanya, bukan sekadar membaca berdasarkan kebiasaan.