Pengantar
Hadits ini membahas tentang waktu terbaik untuk berdoa pada hari Jum'at, khususnya mengenai 'Saah Rajaa' (ساعة الرجاء) atau jam-jam yang diharapkan doa dikabulkan pada hari Jum'at. Hal ini merupakan salah satu masalah yang paling kontroversial dalam fiqih Islam dengan lebih dari empat puluh pendapat berbeda. Hadits ini diriwayatkan oleh dua perawi terpercaya (Abu Daud dan An-Nasa'i) dari sahabat Jabir bin Abdillah yang terkenal dengan banyak periwayatannya.Kosa Kata
Saah (ساعة): Waktu, jam, atau periode tertentu. Dalam konteks ini berarti waktu terbaik untuk mengharap terkabulnya doa.Rajaa (رجاء): Harapan, mengharap, atau asa untuk mendapatkan sesuatu.
Asr (عصر): Shalat Ashar, yaitu shalat wajib yang kelima pada waktu menjelang sore hari.
Ghurub (غروب): Terbenam, menghilang di ufuk. Ghurub ash-shams adalah waktu terbenamnya matahari, yang menandai awal masuknya waktu Maghrib.
Ikhtalaf (اختلف): Perbedaan, pertentangan pendapat antara para ulama dalam memahami suatu permasalahan.
Imla' (أملى): Mengumpulkan, merangkum, atau menyusun dalam bentuk tulisan.
Kandungan Hukum
1. Keberadaan Waktu Terbaik untuk Doa pada Hari Jum'at
Hadits ini menetapkan secara eksplisit bahwa terdapat waktu-waktu tertentu pada hari Jum'at yang lebih diharapkan untuk dikabulkan doanya. Imam Al-Bukhari meriwayatkan lebih dari dua puluh riwayat berbeda mengenai waktu ini, menunjukkan pentingnya topik ini dalam pemahaman Islam.
2. Penetapan Waktu Antara Ashar dan Maghrib
Riwayat dari Jabir yang dikutip dalam Bulughul Maram ini menentukan waktu tersebut berada di antara selesainya shalat Ashar hingga terbenamnya matahari. Ini merupakan posisi yang dipilih oleh sejumlah ulama berdasarkan hadits-hadits berbeda.
3. Pertentangan Pendapat Merupakan Hal yang Wajar
Pernyataan "telah terjadi perbedaan pendapat mengenai hal ini lebih dari empat puluh pendapat" menunjukkan bahwa ulama muktazim mengakui kompleksitas masalah ini dan bahwa ijtihad yang berbeda adalah hal yang dibenarkan dalam masalah-masalah furu'iyyah (cabang hukum).
4. Wajibnya Mencari Waktu Terbaik untuk Berdoa
Meskipun masalahnya kontroversial, kehadiran hadits-hadits mengenai hal ini menunjukkan dianjurkannya bagi setiap Muslim untuk berusaha berdoa pada waktu-waktu terbaik pada hari Jum'at.
5. Tidak Dilarangnya Berdoa pada Waktu Lain
Meskipun ada waktu terbaik, ini tidak berarti doa pada waktu lain ditolak atau tidak dikabulkan. Ini adalah prinsip umum dalam Islam bahwa ada waktu-waktu yang lebih utama tanpa mengecilkan fadhilah waktu-waktu lain.
Pandangan 4 Madzhab
Hanafi:
Madzhab Hanafi cenderung menerima riwayat-riwayat yang menunjukkan waktu terbaik itu berada pada akhir hari Jum'at, terutama setelah Ashar. Dalam kitab "Al-Bahr Ar-Ra'iq", para fuqaha Hanafi menyatakan bahwa waktu yang paling diharapkan (awjah al-aqwal) adalah waktu menjelang Maghrib berdasarkan hadits Jabir. Mereka mengutamakan hadits yang mashur dan diriwayatkan oleh perawi-perawi thiqah seperti Abu Daud dan An-Nasa'i. Akan tetapi, karena masalah ini menjadi perdebatan, mereka tetap mengakui keabsahan pendapat-pendapat lain. Dalam hal praktiknya, mereka menganjurkan untuk berdoa pada waktu-waktu yang disebutkan tanpa menolak doa pada waktu-waktu lainnya.
Maliki:
Madzhab Maliki, sebagaimana yang tercermin dalam kitab "Al-Muwatha'" dan syarah-syarahnya, cenderung menerima bahwa waktu terbaik adalah pada akhir hari Jum'at. Imam Malik sendiri meriwayatkan hadits-hadits mengenai hal ini dan secara umum mengikuti pendapat mayoritas yang mengambil riwayat dari sahabat terpercaya. Madzhab Maliki juga menekankan pada pentingnya mengikuti sunah yang mashur (terkenal) di kalangan sahabat dan tabiin, dan riwayat Jabir yang disampaikan melalui Abu Daud dan An-Nasa'i termasuk dalam kategori ini. Mereka tidak menentang pendapat lain secara kategoris tetapi memilih pendapat yang paling kuat berdasarkan tahqiq (pemeriksaan) hadits.
Syafi'i:
Madzhab Syafi'i, melalui penjelasan-penjelasan dalam "Al-Umm" dan kitab-kitab fikih murid-muridnya, memilih pendapat bahwa waktu yang paling diharapkan adalah pada akhir hari Jum'at khususnya setelah Ashar hingga Maghrib. Imam Syafi'i sangat perhatian terhadap sanad dan status hadits, dan mengakui bahwa riwayat Jabir ini memiliki sanad yang cukup kuat. Beliau juga menyebutkan bahwa di antara banyaknya pendapat mengenai waktu ini, pendapat yang mengambil akhir hari Jum'at adalah yang paling konsisten dengan prinsip-prinsip syariat yaitu mendorong hambanya untuk terus berdoa hingga terakhir saat. Syafi'i juga menyatakan bahwa dalam masalah-masalah seperti ini di mana terdapat riwayat-riwayat yang berbeda, umat Muslim dibolehkan mengambil salah satu dari pendapat-pendapat tersebut.
Hanbali:
Madzhab Hanbali, yang dikenal dengan ketelitian dalam menerima hadits, secara umum menerima riwayat Jabir sebagai salah satu riwayat yang sahih dalam menentukan waktu terbaik untuk berdoa pada hari Jum'at. Dalam kitab "Al-Mughni" karya Ibnu Qudamah, disebutkan bahwa waktu antara Ashar dan Maghrib adalah waktu yang sangat diharapkan. Imam Ahmad ibn Hanbal, pendiri madzhab ini, terkenal dengan keluasannya dalam menerima hadits-hadits yang berstatus hasan dan sahih. Beliau mengakui bahwa masalah ini memiliki berbagai riwayat yang masing-masing memiliki kekuatan tersendiri. Namun, beliau dan pengikut-pengikutnya lebih condong kepada pendapat yang mengambil akhir hari Jum'at sebagai waktu yang paling utama berdasarkan kekuatan hadits dan konsistensi dengan prinsip syariat.
Hikmah & Pelajaran
1. Pentingnya Memanfaatkan Waktu-Waktu Terbaik: Hadits ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan Muslim, ada waktu-waktu yang lebih baik dan lebih utama untuk melakukan amal ibadah tertentu. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya memaksimalkan waktu-waktu tersebut dengan doa dan permohonan kepada Allah, terutama pada hari Jum'at yang mulia.
2. Kebolehan Ijtihad dan Perbedaan Pendapat: Dari pernyataan "telah terjadi perbedaan pendapat lebih dari empat puluh pendapat", kita belajar bahwa dalam masalah-masalah yang tidak memiliki nash yang tegas, ijtihad para ulama dapat berbeda-beda. Perbedaan ini adalah rahmat dan bukan perpecahan, selama tetap dalam bingkai akidah Islam yang benar. Seorang Muslim boleh mengikuti salah satu pendapat yang kuat tanpa mengecam pendapat lain.
3. Keutamaan Akhir Hari Jum'at untuk Ibadah: Hadits ini menekankan bahwa waktu-waktu menjelang Maghrib pada hari Jum'at adalah waktu yang istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui doa dan dzikir. Ini menunjukkan perhatian Islam terhadap pengaturan waktu ibadah untuk menciptakan momen-momen khusus dalam kehidupan seorang Muslim.
4. Keutamaan Sahabat Jabir sebagai Perawi Hadits: Riwayat dari Jabir bin Abdillah, yang terkenal sebagai salah satu sahabat paling produktif dalam meriwayatkan hadits, menunjukkan pentingnya menerima ilmu dari sumber-sumber yang terpercaya dan memiliki kredibilitas tinggi. Jabir adalah saksi langsung banyak hadits dari Rasulullah SAW dan pengalamannya langsung tersebut memberikan bobot pada riwayatannya.