✦ Selamat Idul Fitri 1447 H πŸŒ™ Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
Oprek Blog

Kenapa Blog Ini Pakai PHP Murni, Bukan WordPress

Β· 0 komentar Β· Β± 3 menit baca Β· πŸ‘ 54 dilihat

Pertanyaan itu sering muncul setiap kali ada yang iseng lihat source code blog ini. "Mas, kok gak pakai WordPress aja? Gampang kan." Saya senyum-senyum aja biasanya.

Jawabannya panjang. Tapi biar tidak panjang-panjang, saya coba ringkas di sini.

Awalnya Memang Mau Pakai WordPress

Sekitar lima tahun lalu, waktu pertama kali kepikiran bikin blog, WordPress adalah pilihan pertama yang saya coba. Install di localhost, pilih tema gratis, aktifkan beberapa plugin β€” selesai. Gampang memang.

Tapi ada yang mengganjal. Setiap buka halaman admin, browser saya yang waktu itu speknya pas-pasan terasa berat. Belum lagi loading halaman yang, menurut saya, terlalu lambat untuk konten yang sebetulnya sederhana. Saya coba ukur pakai GTmetrix β€” hasilnya bikin saya geleng-geleng.

Bukan salah WordPress-nya. Plugin yang terlalu banyak, tema yang tidak dioptimasi, hosting yang murah β€” kombinasi itu memang tidak akan menghasilkan performa bagus. Tapi di situlah saya mulai berpikir: kalau saya bisa nulis PHP sendiri, kenapa tidak?

Mulai Dari Nol, Beneran Dari Nol

Saya bukan lulusan IT. Pendidikan formal saya cuma sampai SMP, dan tidak ada yang namanya pelajaran coding di sekolah saya waktu itu. Semua yang saya tahu tentang PHP, saya pelajari sendiri β€” dari tutorial YouTube, baca dokumentasi, dan banyak trial and error yang berakhir dengan halaman putih kosong atau pesan error merah.

Tapi justru karena itu, membangun blog dari nol terasa seperti proyek yang pas. Setiap fitur yang berhasil saya buat β€” sistem login, manajemen artikel, komentar β€” terasa seperti pencapaian yang nyata. Bukan cuma klik-klik di dashboard.

Proses belajarnya memang muter-muter. Kadang saya stuck di masalah yang sebetulnya sepele β€” lupa sanitasi input, salah query SQL, atau session yang tidak tersimpan benar. Tapi dari setiap masalah itu saya paham kenapa sesuatu bekerja, bukan cuma bagaimana mengkliknya.

Kelebihan yang Saya Rasakan Sendiri

Sekarang blog ini jalan di atas PHP murni dengan sedikit sentuhan framework ringan yang saya tulis sendiri. Bukan Laravel, bukan CodeIgniter. Benar-benar dari nol.

Beberapa hal yang saya suka:

Ringan banget. Tidak ada overhead framework besar. Tidak ada puluhan file yang harus di-load hanya untuk menampilkan satu halaman artikel. Halaman utama blog ini load-nya di bawah 1 detik bahkan di hosting shared yang murah.

Saya ngerti setiap barisnya. Kalau ada bug, saya tahu harus cari di mana. Tidak ada lapisan abstraksi yang menyembunyikan masalah. Ketika database query lambat, saya langsung bisa lihat query-nya dan optimasi di sana.

Tidak ada update yang bikin panik. Pengguna WordPress pasti familiar dengan notifikasi update plugin yang kadang, kalau tidak hati-hati, bisa menghancurkan tampilan atau fungsi yang sudah jalan baik. Di sini, tidak ada kejutan seperti itu.

Kekurangannya? Ada Juga

Jujur saja. Pendekatan ini tidak untuk semua orang.

Fitur yang di WordPress bisa jalan dalam hitungan menit β€” komentar, galeri, newsletter β€” di sini saya harus bangun sendiri dari nol. Itu butuh waktu. Kadang berhari-hari untuk fitur yang kelihatannya sederhana.

Dan kalau saya tidak aktif maintain, ada risiko lubang keamanan yang tidak ketahuan. WordPress dengan update rutin punya komunitas besar yang aktif menambal celah. Kode buatan sendiri? Tanggung jawab itu ada di saya sendiri.

Tapi untuk skala blog personal seperti ini, tradeoff itu masih masuk akal.

Rekomendasinya?

Kalau Anda baru mau mulai blog dan tidak tertarik belajar coding β€” pakai WordPress. Tidak ada yang salah dengan itu. Alat yang tepat untuk tujuan yang tepat.

Tapi kalau Anda seperti saya β€” penasaran dengan cara kerjanya, mau belajar sambil jalan, dan tidak keberatan dengan proses yang lebih panjang β€” membangun dari nol adalah pengalaman yang saya rekomendasikan setidaknya sekali seumur hidup sebagai developer.

Saya belajar lebih banyak dari membangun blog ini daripada dari belasan tutorial online yang pernah saya ikuti.

Gimana dengan Anda? Pakai WordPress, static site generator, atau bangun sendiri? Cerita di kolom komentar ya β€” saya penasaran.


Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menulis.

Tulis Komentar

↑