Kawunganten itu kecamatan kecil di Cilacap, Jawa Tengah. Kalau Anda ketik di Google Maps, yang muncul kebanyakan sawah dan jalan sempit. Bukan tempat yang biasanya Anda bayangkan jadi tempat lahirnya programmer otodidak.
Tapi ya, dari sini saya belajar coding. Dan ini ceritanya.
Awalnya Iseng, Beneran Iseng
Tidak ada momen dramatis seperti di film-film β tidak ada mentor inspiratif, tidak ada bootcamp mahal, tidak ada laptop gaming mahal yang jadi simbol keseriusan. Awalnya cuma iseng buka YouTube, nonton tutorial HTML, dan pikir: oh ternyata begini cara bikin website.
Waktu itu internet di sini belum selancar sekarang. Saya sering download tutorial video dulu, baru ditonton offline. Koneksinya lambat, kadang putus di tengah jalan. Tapi ya sudah, itu kondisinya. Ora masalah.
Yang bikin saya terus jalan bukan ambisi jadi programmer profesional. Murni penasaran. Setiap kali kode yang saya tulis berhasil menampilkan sesuatu di browser β sekecil apapun itu β ada kepuasan yang susah dijelaskan.
Lima Tahun yang Tidak Lurus
Perjalanan lima tahun ini tidak linear. Jauh dari itu.
Tahun pertama hampir sepenuhnya diisi HTML dan CSS. Bikin halaman statis, coba-coba tampilan, belajar cara gambar bergeser kalau di-hover. Hal-hal kecil yang kelihatan sepele tapi bikin saya betah berjam-jam di depan layar.
Masuk tahun kedua, mulai PHP. Di sinilah pertama kali saya benar-benar frustrasi. PHP punya logika yang berbeda dari HTML β ada variabel, ada kondisi, ada loop. Kepala saya muter berhari-hari cuma buat ngerti kenapa echo harus ada titik koma di belakangnya.
Tahun ketiga mulai berani bikin proyek sendiri. Blog sederhana, sistem manajemen konten kecil-kecilan. Banyak yang tidak selesai, banyak yang selesai tapi penuh bug. Tapi proses menyelesaikan masalah satu per satu itu yang paling banyak mengajarkan saya.
Tahun keempat saya coba Python. Ketertarikannya datang dari proyek kecil β saya butuh script untuk otomasi sesuatu, dan Python jauh lebih cocok dari PHP untuk kasus itu. Belajarnya lebih cepat karena sudah punya fondasi dari bahasa lain.
Dan tahun kelima β sampai sekarang β lebih banyak diisi dengan membangun proyek yang benar-benar dipakai. Bukan cuma latihan.
Yang Paling Banyak Membantu
Kalau harus milih tiga hal yang paling membantu perjalanan belajar saya:
Bikin proyek nyata sesegera mungkin. Tutorial itu perlu, tapi tidak cukup. Saya belajar paling cepat ketika ada masalah konkret yang harus diselesaikan β bukan ketika mengikuti langkah-langkah di tutorial tanpa konteks yang jelas.
Tidak malu tanya di forum atau baca Stack Overflow. Banyak masalah yang saya hadapi sudah pernah ditanya orang lain. Saya belajar membaca jawaban, memahami konteksnya, dan mengadaptasi ke situasi saya. Bukan copy-paste buta.
Sabar dengan proses yang lambat. Ada periode di mana saya merasa tidak berkembang sama sekali. Seminggu penuh stuck di satu masalah. Tapi biasanya tepat setelah periode gelap itu, ada "klik" yang membuat banyak hal tiba-tiba masuk akal.
Yang Tidak Saya Sesali
Tidak punya latar belakang IT formal kadang terasa jadi hambatan β terutama ketika baca diskusi tentang algoritma atau teori computer science yang saya tidak pernah pelajari secara formal.
Tapi saya tidak menyesal jalan yang saya pilih. Justru karena belajar otodidak, saya terbiasa mencari jawaban sendiri, tidak bergantung pada orang lain untuk menjelaskan, dan tidak takut dengan masalah baru yang belum pernah saya hadapi sebelumnya.
Kalau ada yang dari Kawunganten atau daerah terpencil lain yang baca ini dan lagi galau mau mulai belajar coding: mulai aja. Gak perlu nunggu kondisi sempurna, gak perlu nunggu laptop bagus, gak perlu nunggu ada yang ngajarin. Internet sekarang sudah penuh tutorial gratis berkualitas. Modal utamanya cuma satu: mau duduk dan coba.
Kalau saya yang dari sini bisa, Anda juga bisa.
Ada yang punya cerita belajar coding otodidak juga? Share di komentar, saya selalu senang baca cerita orang lain yang jalannya mirip-mirip kayak saya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menulis.
Tulis Komentar