Kitab 1 · Bab 10
Bersegera kepada kebaikan dan mendorong orang yang berniat baik untuk melakukannya dengan sungguh-sungguh tanpa keraguan.
✦ 10 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ فاستبقوا الخيرات ﴾ .سورة البقرة (148)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (Ali 'Imran: 133)
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (al-khairat). Perintah "bersegera" menekankan sikap proaktif, penuh semangat, dan tidak menunda-nunda dalam berbuat kebajikan. Hal ini mengajarkan bahwa meraih keridaan Allah dan surga-Nya memerlukan usaha sungguh-sungguh, ketekunan, dan persaingan positif dalam hal ketaatan.
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (al-khairat). Perintah "bersegera" menekankan sikap proaktif, penuh semangat, dan tidak menunda-nunda dalam berbuat kebajikan. Hal ini mengajarkan bahwa meraih keridaan Allah dan surga-Nya memerlukan usaha sungguh-sungguh, ketekunan, dan persaingan positif dalam hal ketaatan.
# 2
وقال تعالى: ﴿ وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السماوات والأرض أعدت للمتقين ﴾ .سورة آل عمران (133)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (Ali 'Imran: 133).
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk bersegera dan berlomba-lomba dalam meraih ampunan Allah serta surga-Nya. Luasnya surga digambarkan seluas langit dan bumi, menunjukkan kemurahan dan keagungan balasan bagi orang bertakwa. Hikmahnya adalah motivasi untuk meningkatkan ketakwaan dengan segera taat, menjauhi maksiat, dan tidak menunda-nunda berbuat kebaikan.
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk bersegera dan berlomba-lomba dalam meraih ampunan Allah serta surga-Nya. Luasnya surga digambarkan seluas langit dan bumi, menunjukkan kemurahan dan keagungan balasan bagi orang bertakwa. Hikmahnya adalah motivasi untuk meningkatkan ketakwaan dengan segera taat, menjauhi maksiat, dan tidak menunda-nunda berbuat kebaikan.
# 3
فالأوَّل : عَنْ أبي هريرة رضي اللَّه عنه أن رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: « بادِروا بالأعْمالِ الصَّالِحةِ ، فستكونُ فِتَنٌ كقطَعِ اللَّيلِ الْمُظْلمِ يُصبحُ الرجُلُ مُؤمناً ويُمْسِي كافراً ، ويُمسِي مُؤْمناً ويُصبحُ كافراً ، يبيع دينه بعَرَضٍ من الدُّنْيا» رواه مسلم .
Terjemahan
Pertama: Dari Abu Hurairah (رضي الله عنه) berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Bersegeralah beramal saleh sebelum datangnya fitnah (kekacauan) seperti potongan malam yang gelap gulita, yaitu seseorang beriman di pagi hari dan menjadi kafir di sore hari, dan ada yang beriman di sore hari dan menjadi kafir di pagi hari. Ia menjual agamanya demi keuntungan duniawi." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan: Hadits ini mengingatkan kita untuk segera beramal saleh sebelum datangnya masa-masa sulit yang dapat menggoncangkan iman, di mana seseorang bisa dengan mudah meninggalkan agamanya demi keuntungan dunia.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan urgensi untuk segera dan bersungguh-sungguh dalam beramal saleh. Kita diperingatkan akan datangnya fitnah yang dapat menggoncangkan keyakinan, di mana seseorang bisa dengan mudah meninggalkan agamanya demi keuntungan dunia yang kecil. Oleh karena itu, momentum iman dan kesempatan beramal yang ada sekarang harus dimanfaatkan sebelum datangnya masa yang penuh ujian dan kesesatan.
Penjelasan: Hadits ini mengingatkan kita untuk segera beramal saleh sebelum datangnya masa-masa sulit yang dapat menggoncangkan iman, di mana seseorang bisa dengan mudah meninggalkan agamanya demi keuntungan dunia.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan urgensi untuk segera dan bersungguh-sungguh dalam beramal saleh. Kita diperingatkan akan datangnya fitnah yang dapat menggoncangkan keyakinan, di mana seseorang bisa dengan mudah meninggalkan agamanya demi keuntungan dunia yang kecil. Oleh karena itu, momentum iman dan kesempatan beramal yang ada sekarang harus dimanfaatkan sebelum datangnya masa yang penuh ujian dan kesesatan.
# 4
الثَّاني: عنْ أبي سِرْوَعَةَ بكسرِ السين المهملةِ وفتحها عُقبةَ بنِ الْحارِثِ رضي اللَّه عنه قال: صليت وراءَ النَبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بالمدِينةِ الْعصْرَ ، فسلَّم ثُمَّ قَامَ مُسْرعاً فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إلى بعض حُجَرِ نسائِهِ ، فَفَزعَ النَّاس من سرعَتهِ ، فخرج عَليهمْ ، فرأى أنَّهُمْ قدْ عَجِبوا منْ سُرْعتِه ، قالَ : «ذكرت شيئاً من تبْرٍ عندَنا ، فكرِهْتُ أن يحبسَنِي ، فأمرْتُ بقسْمتِه» رواه البخاري .
وفي رواية له: كنْتُ خلَّفْتُ في الْبيتِ تِبراً من الصَّدقةِ ، فكرِهْتُ أنْ أُبَيِّتَه» . «التِّبْر» قطع ذهبٍ أوْ فضَّةٍ .
Terjemahan
Kedua: Dari Abu Sirwa'ah 'Uqbah bin Al-Harits (رضي الله عنه) berkata: "Aku shalat Ashar bersama Nabi ﷺ di Madinah. Setelah memberi salam (selesai shalat), beliau bangun dengan cepat dan berjalan melintasi orang-orang menuju ke rumah sebagian istrinya. Orang-orang pun heran dengan ketergesa-gesaan beliau ﷺ. Kemudian beliau ﷺ keluar menemui mereka lagi dan melihat mereka heran dengan ketergesa-gesaannya. Beliau lalu bersabda: 'Aku teringat ada sedikit emas di sisi kami, dan aku tidak ingin menahannya lagi, maka aku segera pergi untuk memerintahkan agar emas itu dibagikan.' (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Ada riwayat lain darinya juga: "Aku menyimpan emas dari sedekah di rumah, dan aku tidak ingin menahannya semalam lagi (aku ingin membagikannya segera)."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan kecepatan dan kesungguhan dalam menunaikan amanah, khususnya harta yang menjadi tanggung jawab. Nabi ﷺ sangat bersegera membagikan harta sedekah (tibr/emas) yang tertinggal di rumahnya, karena khawatir tertahan tanpa segera disalurkan kepada yang berhak. Ini menjadi teladan bagi pemimpin dan setiap muslim untuk tidak menunda-nunda dalam mengeluarkan hak orang lain.
Ada riwayat lain darinya juga: "Aku menyimpan emas dari sedekah di rumah, dan aku tidak ingin menahannya semalam lagi (aku ingin membagikannya segera)."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan kecepatan dan kesungguhan dalam menunaikan amanah, khususnya harta yang menjadi tanggung jawab. Nabi ﷺ sangat bersegera membagikan harta sedekah (tibr/emas) yang tertinggal di rumahnya, karena khawatir tertahan tanpa segera disalurkan kepada yang berhak. Ini menjadi teladan bagi pemimpin dan setiap muslim untuk tidak menunda-nunda dalam mengeluarkan hak orang lain.
# 5
- الثَّالث: عن جابر رضي اللَّهُ عنه قال: قال رجلٌ للنبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يومَ أُحُدٍ: أرأيتَ إنْ قُتلتُ فأينَ أَنَا ؟ قال : «في الْجنَّةِ » فألْقى تَمراتٍ كنَّ في يَدِهِ ، ثُمَّ قاتل حتَّى قُتلَ. متفقٌ عليه .
Terjemahan
Ketiga: Dari Jubair (رضي الله عنه) berkata: Pada perang Uhud, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ: "Tolong beritahukan kepadaku, jika aku terbunuh, di manakah tempatku?" Beliau ﷺ menjawab: "Di surga." Laki-laki itu lalu melemparkan beberapa buah kurma yang ada di tangannya, kemudian maju berperang hingga terbunuh. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan: Hadits ini menunjukkan semangat seorang sahabat yang, setelah mengetahui balasan surga, langsung bertindak tanpa ragu untuk meraihnya, meninggalkan hal duniawi yang sedang dipegangnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang kekuatan keyakinan akan janji Allah. Mendengar jaminan surga dari Nabi ﷺ, sahabat tersebut langsung bertindak dengan meninggalkan kesenangan duniawi (kurma) dan berjihad hingga syahid. Hikmahnya, keimanan yang benar akan melahirkan ketulusan dan kesigapan dalam beramal, tanpa keraguan atau penundaan.
Penjelasan: Hadits ini menunjukkan semangat seorang sahabat yang, setelah mengetahui balasan surga, langsung bertindak tanpa ragu untuk meraihnya, meninggalkan hal duniawi yang sedang dipegangnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang kekuatan keyakinan akan janji Allah. Mendengar jaminan surga dari Nabi ﷺ, sahabat tersebut langsung bertindak dengan meninggalkan kesenangan duniawi (kurma) dan berjihad hingga syahid. Hikmahnya, keimanan yang benar akan melahirkan ketulusan dan kesigapan dalam beramal, tanpa keraguan atau penundaan.
# 6
الرابع: عن أبي هُريرةَ رضي اللَّهُ عنه قال: جاءَ رجلٌ إلى النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، فقال: يا رسولَ اللَّهِ، أيُّ الصَّدقةِ أعْظمُ أجْراً ؟ قال: «أنْ تَصَدَّقَ وأنْت صحيحٌ شَحيحٌ تَخْشى الْفقرَ، وتأْمُلُ الْغنى، ولا تُمْهِلْ حتَّى إذا بلَغتِ الْحلُقُومَ. قُلت: لفُلانٍ كذا ولفلانٍ كَذَا، وقَدْ كان لفُلان » متفقٌ عليه .
« الْحلْقُوم » : مجرى النَّفسِ . و « الْمريءُ » : مجرى الطَّعامِ والشَّرابِ .
Terjemahan
Keempat: Dari Abu Hurairah (رضي الله عنه) berkata: Seorang laki-laki datang bertanya kepada Nabi ﷺ: "Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang pahalanya paling besar?" Beliau ﷺ menjawab: "Yaitu sedekah pada saat kamu sehat, merasa pelit (sayang harta), takut miskin, dan berangan-angan jadi orang kaya. Janganlah menunda-nunda hingga ketika nyawa sudah sampai di tenggorokan barulah kamu berkata: 'Untuk si fulan sekian, untuk si fulan sekian,' padahal harta itu hampir menjadi milik orang lain (ahli waris)." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan: Hadits ini menekankan keutamaan bersedekah di saat sulit, yaitu ketika kita masih sehat, sayang harta, dan takut kehilangan, karena itu menunjukkan ketulusan. Jangan menunggu sampai saat sakaratul maut.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa sedekah yang paling utama dan berat timbangannya adalah ketika diberikan dalam kondisi sehat dan masih kuat ikatan hati pada harta. Hikmahnya adalah keutamaan bersedekah di saat sulit, yaitu melawan rasa takut miskin dan keinginan menumpuk kekayaan. Hadis ini juga memperingatkan agar tidak menunda-nunda beramal baik hingga ajal tiba, karena saat itu penyesalan dan pembagian warisan sudah tidak lagi dinilai sebagai sedekah.
Penjelasan: Hadits ini menekankan keutamaan bersedekah di saat sulit, yaitu ketika kita masih sehat, sayang harta, dan takut kehilangan, karena itu menunjukkan ketulusan. Jangan menunggu sampai saat sakaratul maut.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa sedekah yang paling utama dan berat timbangannya adalah ketika diberikan dalam kondisi sehat dan masih kuat ikatan hati pada harta. Hikmahnya adalah keutamaan bersedekah di saat sulit, yaitu melawan rasa takut miskin dan keinginan menumpuk kekayaan. Hadis ini juga memperingatkan agar tidak menunda-nunda beramal baik hingga ajal tiba, karena saat itu penyesalan dan pembagian warisan sudah tidak lagi dinilai sebagai sedekah.
# 7
الخامس: عن أنس رضي اللَّه عنه ، أَنَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَخذَ سيْفاً يوم أُحدٍ فقَالَ: « مَنْ يأْخُذُ منِّي هَذا ؟ فبسطُوا أَيدِيهُم ، كُلُّ إنْسانٍ منهمْ يقُول : أَنا أَنا . قَالَ: «فمنْ يأَخُذُهُ بحقِه ؟ فَأَحْجمِ الْقومُ ، فقال أَبُو دجانة رضي اللَّه عنه : أَنا آخُذه بحقِّهِ ، فأَخَذهُ ففَلق بِهِ هَام الْمُشْرِكينَ». رواه مسلم .
اسم أبي دجانة : سماكُ بْنُ خرسة . قولُهُ : «أَحجم الْقوم» : أي توقَّفُوا . و «فَلق بِهِ» : أَي شَق «هام الْمشرِكين» : أَيْ رؤوسهُمْ .
Terjemahan
Kelima: Dari Anas (رضي الله عنه) berkata: "Sungguh, pada perang Uhud, Rasulullah ﷺ mengambil sebilah pedang lalu bersabda: 'Siapa yang mau mengambil pedang ini dariku?' Semua orang mengulurkan tangan mereka dan berkata: 'Aku, aku.' Beliau ﷺ bersabda lagi: 'Siapa yang mau mengambilnya dengan menunaikan kewajibannya (menggunakannya di jalan Allah)?' Saat itu, orang-orang itu ragu. Abu Dujanah (رضي الله عنه) berkata: 'Aku akan mengambilnya dengan menunaikan kewajibannya.' Dia mengambil pedang itu, lalu mematahkan kepala orang-orang musyrikin (di medan perang Uhud)." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan: Hadits ini menggambarkan keberanian dan kesiapan Abu Dujanah untuk mengambil tanggung jawab besar di jalan Allah, berbeda dengan yang lain yang mungkin hanya ingin memiliki pedangnya saja.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kesempatan berjuang di jalan Allah memerlukan kesiapan dan tanggung jawab, bukan sekadar keinginan atau semangat sesaat. Ketika Rasulullah ﷺ menekankan "hak"-nya (kewajiban menggunakannya secara benar), banyak yang ragu, menunjukkan bahwa amanah perjuangan harus diemban oleh orang yang benar-benar berkomitmen. Sikap Abu Dujanah yang langsung menyanggupi dan membuktikannya dengan keberanian di medan Uhud menjadi teladan dalam memikul amanah dengan penuh tanggung jawab.
Penjelasan: Hadits ini menggambarkan keberanian dan kesiapan Abu Dujanah untuk mengambil tanggung jawab besar di jalan Allah, berbeda dengan yang lain yang mungkin hanya ingin memiliki pedangnya saja.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kesempatan berjuang di jalan Allah memerlukan kesiapan dan tanggung jawab, bukan sekadar keinginan atau semangat sesaat. Ketika Rasulullah ﷺ menekankan "hak"-nya (kewajiban menggunakannya secara benar), banyak yang ragu, menunjukkan bahwa amanah perjuangan harus diemban oleh orang yang benar-benar berkomitmen. Sikap Abu Dujanah yang langsung menyanggupi dan membuktikannya dengan keberanian di medan Uhud menjadi teladan dalam memikul amanah dengan penuh tanggung jawab.
# 8
السَّادس: عن الزُّبيْرِ بنِ عديِّ قال: أَتَيْنَا أَنس بن مالكٍ رضي اللَّه عنه فشَكوْنا إليهِ ما نلْقى من الْحَجَّاجِ. فقال: «اصْبِروا فإِنه لا يأْتي زمانٌ إلاَّ والَّذي بعْده شَرٌ منه حتَّى تلقَوا ربَّكُمْ » سمعتُه منْ نبيِّكُمْ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . رواه البخاري .
Terjemahan
Keenam: Dari As-Sya'bi bin 'Atiyyah berkata: Kami menemui Anas bin Malik (رضي الله عنه) dan kami mengeluh tentang apa yang dilakukan Al-Hajjaj terhadap kami. Dia pun berkata: "Bersabarlah, karena dari satu generasi ke generasi berikutnya, setelahnya selalu lebih buruk dari sebelumnya, hingga kalian bertemu Tuhan kalian." Dia berkata: "Aku mendengar perkataan ini dari Nabi ﷺ kalian." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan: Hadits ini merupakan nubuat tentang kondisi umat yang akan semakin buruk seiring waktu, dan perintah untuk bersabar menghadapinya hingga bertemu Allah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa seiring berjalannya waktu, kondisi umat akan mengalami kemerosotan akhlak dan keimanan. Inti pelajarannya adalah perintah untuk bersabar dan tabah dalam menghadapi setiap ujian zaman yang semakin berat, dengan tetap memegang teguh agama. Hikmahnya, kesabaran itu sendiri merupakan bekal utama hingga seorang hamba bertemu dengan Rabb-nya.
Penjelasan: Hadits ini merupakan nubuat tentang kondisi umat yang akan semakin buruk seiring waktu, dan perintah untuk bersabar menghadapinya hingga bertemu Allah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa seiring berjalannya waktu, kondisi umat akan mengalami kemerosotan akhlak dan keimanan. Inti pelajarannya adalah perintah untuk bersabar dan tabah dalam menghadapi setiap ujian zaman yang semakin berat, dengan tetap memegang teguh agama. Hikmahnya, kesabaran itu sendiri merupakan bekal utama hingga seorang hamba bertemu dengan Rabb-nya.
# 9
السَّابع: عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه أَن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: « بادروا بالأَعْمال سبعاً، هل تَنتَظرونَ إلاَّ فقراً مُنسياً، أَوْ غنيٌ مُطْغياً، أَوْ مرضاً مُفسداً، أَو هرماً مُفْنداً أَو موتاً مُجهزاً أَوِ الدَّجَّال فشرُّ غَائب يُنتَظر، أَوِ السَّاعة فالسَّاعةُ أَدْهى وأَمر،» رواه الترمذي وقال: حديثٌ حسن .
Terjemahan
Ketujuh: Dari Abu Hurairah (رضي الله عنه) berkata: Sungguh, Rasulullah ﷺ bersabda: "Bersegeralah beramal saleh sebelum datang tujuh perkara. Apakah kalian menunggu kemiskinan yang membuat lalai? Atau kekayaan yang membuat melampaui batas? Atau penyakit yang merusak kesehatan? Atau usia tua yang melemahkan akal? Atau kematian yang menghalangi amal? Atau Dajjal yang merupakan makhluk terburuk yang ditunggu? Ataukah kalian menunggu hari Kiamat yang merupakan hari paling berat dan pahit?" (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata: "Hadits ini hasan sahih")
Penjelasan singkat: Hadis ini mendorong umat Islam untuk bersegera beramal saleh dan tidak menunda-nunda. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa manusia sering terhalang oleh tujuh kondisi, seperti kemiskinan, kekayaan, sakit, atau tua, yang dapat melalaikan atau menyulitkan mereka untuk beribadah. Intinya, waktu sehat dan lapang adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan, sebelum datangnya hal-hal yang mempersulit atau bahkan kematian yang menutup segala kesempatan beramal.
Penjelasan singkat: Hadis ini mendorong umat Islam untuk bersegera beramal saleh dan tidak menunda-nunda. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa manusia sering terhalang oleh tujuh kondisi, seperti kemiskinan, kekayaan, sakit, atau tua, yang dapat melalaikan atau menyulitkan mereka untuk beribadah. Intinya, waktu sehat dan lapang adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan, sebelum datangnya hal-hal yang mempersulit atau bahkan kematian yang menutup segala kesempatan beramal.
# 10
الثامن: عنه أَن رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال يوم خيْبر: «لأعطِينَّ هذِهِ الراية رجُلا يُحبُّ اللَّه ورسُوله، يفتَح اللَّه عَلَى يديهِ» قال عمر رضي اللَّهُ عنه: ما أَحببْت الإِمارة إلاَّ يومئذٍ فتساورْتُ لهَا رجَاءَ أَنْ أُدْعى لهَا، فدعا رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عليَ بن أبي طالب، رضي اللَّه عنه، فأَعْطَاه إِيَّاها، وقالَ: «امش ولا تلْتَفتْ حتَّى يَفتح اللَّه عليكَ» فَسار عليٌّ شيئاً، ثُمَّ وقف ولم يلْتفتْ، فصرخ: يا رسول اللَّه، على ماذَا أُقاتل النَّاس؟ قال: «قاتلْهُمْ حتَّى يشْهدوا أَنْ لا إله إلاَّ اللَّه، وأَنَّ مُحمَّداً رسول اللَّه، فَإِذا فعلوا ذلك فقدْ منعوا منْك دماءَهُمْ وأَموالهُمْ إلاَّ بحَقِّها، وحِسابُهُمْ على اللَّهِ» رواه مسلم «فَتَساورْت» هو بالسِّين المهملة: أَيْ وثبت مُتطلِّعاً.
Terjemahan
Kedelapan: Dari Abu Hurairah (رضي الله عنه) juga berkata: Sungguh, pada perang Khaibar, Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku akan serahkan bendera ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah akan memberikan kemenangan melalui tangannya." Umar (رضي الله عنه) berkata: "Aku tidak pernah ingin menjadi pemimpin kecuali hari itu. Aku berusaha menampakkan diri, berharap akan dipanggil untuk diangkat sebagai pemimpin itu." Kemudian Rasulullah ﷺ memanggil Ali bin Abi Thalib (رضي الله عنه) lalu menyerahkan bendera itu kepadanya, dan bersabda: "Berjalanlah maju dan jangan sekali-kali menoleh, hingga Allah memberikan kemenangan melalui tanganmu." Ali (رضي الله عنه) berjalan sebentar lalu berhenti tanpa menoleh, dan berseru: "Wahai Rasulullah! Atas dasar apa aku memerangi mereka?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Perangilah mereka sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah melakukan itu, maka janganlah kamu ganggu nyawa dan harta mereka, kecuali apa yang menjadi hak Islam. Dan perhitungan mereka terserah kepada Allah." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan: Hadits ini menunjukkan keutamaan Ali bin Abi Thalib dan prinsip perang dalam Islam, yaitu untuk menegakkan tauhid, bukan untuk penaklukan semata. Setelah musuh menerima Islam, nyawa dan harta mereka dilindungi.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kepemimpinan dalam Islam diberikan berdasarkan kualifikasi ketakwaan dan kecintaan kepada Allah serta Rasul-Nya, bukan ambisi pribadi. Sikap Umar yang jujur mengakui keinginannya menjadi pelajaran tentang pentingnya keikhlasan dan pengendalian diri. Di sisi lain, keputusan Rasulullah ﷺ mengangkat Ali bin Abi Thalib menunjukkan bahwa Allah-lah yang membuka jalan kemenangan melalui hamba pilihan-Nya yang bertakwa.
Penjelasan: Hadits ini menunjukkan keutamaan Ali bin Abi Thalib dan prinsip perang dalam Islam, yaitu untuk menegakkan tauhid, bukan untuk penaklukan semata. Setelah musuh menerima Islam, nyawa dan harta mereka dilindungi.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kepemimpinan dalam Islam diberikan berdasarkan kualifikasi ketakwaan dan kecintaan kepada Allah serta Rasul-Nya, bukan ambisi pribadi. Sikap Umar yang jujur mengakui keinginannya menjadi pelajaran tentang pentingnya keikhlasan dan pengendalian diri. Di sisi lain, keputusan Rasulullah ﷺ mengangkat Ali bin Abi Thalib menunjukkan bahwa Allah-lah yang membuka jalan kemenangan melalui hamba pilihan-Nya yang bertakwa.