Kitab 1 · Bab 11
Jihad di jalan Allah
✦ 23 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى : ﴿ والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا، وإن اللَّه لمع المحسنين ﴾ .سورة العنكبود(69)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (Al-'Ankabut: 69).
Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan bahwa petunjuk Allah adalah buah dari kesungguhan jihad (berusaha) di jalan-Nya. Semakin seseorang bersungguh-sungguh dalam ketaatan, menuntut ilmu, dan melawan hawa nafsu, Allah akan mudahkan jalannya menuju kebaikan dan kebenaran. Janji ini diakhiri dengan jaminan bahwa Allah selalu menyertai orang-orang yang berbuat ihsan.
Penjelasan singkat: Ayat ini menjelaskan bahwa petunjuk Allah adalah buah dari kesungguhan jihad (berusaha) di jalan-Nya. Semakin seseorang bersungguh-sungguh dalam ketaatan, menuntut ilmu, dan melawan hawa nafsu, Allah akan mudahkan jalannya menuju kebaikan dan kebenaran. Janji ini diakhiri dengan jaminan bahwa Allah selalu menyertai orang-orang yang berbuat ihsan.
# 2
وقال تعالى : ﴿ واعبد ربك حتى يأتيك اليقين ﴾ سورة الحجر (99)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal)." (Al-Hijr: 99)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa ibadah kepada Allah adalah kewajiban sepanjang hayat, hingga ajal menjemput. "Al-Yaqin" di sini ditafsirkan sebagai kematian, mengajarkan bahwa tidak ada batas waktu bagi seorang hamba untuk berhenti beribadah. Hikmahnya, kehidupan dunia bersifat sementara dan seluruhnya harus diarahkan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa ibadah kepada Allah adalah kewajiban sepanjang hayat, hingga ajal menjemput. "Al-Yaqin" di sini ditafsirkan sebagai kematian, mengajarkan bahwa tidak ada batas waktu bagi seorang hamba untuk berhenti beribadah. Hikmahnya, kehidupan dunia bersifat sementara dan seluruhnya harus diarahkan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta.
# 3
وقال تعالى : ﴿ واذكر اسم ربك، وتبتل إليه تبتيلا ﴾ أي انقطع إليه. .سورة المزمل(8)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Al-Muzzammil: 8)
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan untuk mengingat Allah (dzikir) dan mengkhususkan ibadah hanya kepada-Nya dengan totalitas (tabattul). Makna "tabattul" adalah memutuskan diri dari segala hal selain Allah dan menghadapkan hati sepenuhnya untuk taat dan mendekatkan diri kepada-Nya. Intinya, seorang muslim dituntut untuk memurnikan ketauhidan dan ketaatan, mengosongkan hati dari segala ikatan duniawi, dan fokus beribadah dengan sungguh-sungguh hanya karena Allah.
Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan untuk mengingat Allah (dzikir) dan mengkhususkan ibadah hanya kepada-Nya dengan totalitas (tabattul). Makna "tabattul" adalah memutuskan diri dari segala hal selain Allah dan menghadapkan hati sepenuhnya untuk taat dan mendekatkan diri kepada-Nya. Intinya, seorang muslim dituntut untuk memurnikan ketauhidan dan ketaatan, mengosongkan hati dari segala ikatan duniawi, dan fokus beribadah dengan sungguh-sungguh hanya karena Allah.
# 4
وقال تعالى : ﴿ فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ﴾ .سورة الزلزلة(7)
Terjemahan
Allah berfirman: "Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (Az-Zalzalah: 7)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan keadilan dan ketelitian catatan amal Allah. Kebaikan sekecil zarrah (atom) pun tidak akan sia-sia dan pasti mendapat balasan. Ini mendorong kita untuk selalu bersemangat berbuat baik, sekecil apa pun, dan menjauhi dosa karena tidak ada yang terlewat dari pengawasan-Nya.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan keadilan dan ketelitian catatan amal Allah. Kebaikan sekecil zarrah (atom) pun tidak akan sia-sia dan pasti mendapat balasan. Ini mendorong kita untuk selalu bersemangat berbuat baik, sekecil apa pun, dan menjauhi dosa karena tidak ada yang terlewat dari pengawasan-Nya.
# 5
وقال تعالى: ﴿ وما تقدموا لأنفسكم من خير تجدوه عند اللَّه هو خيرا وأعظم أجرا ﴾ .سورة المزمل(20)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan dan pahala yang paling baik." (Al-Muzzammil: 20)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan seorang hamba, sekecil apapun, akan dicatat dan dibalas oleh Allah dengan balasan yang lebih baik dan lebih agung. Ini mengandung motivasi untuk bersegera dalam berbuat kebajikan dan keyakinan bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia. Balasan di sisi Allah pasti lebih utama, baik di dunia maupun di akhirat.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan seorang hamba, sekecil apapun, akan dicatat dan dibalas oleh Allah dengan balasan yang lebih baik dan lebih agung. Ini mengandung motivasi untuk bersegera dalam berbuat kebajikan dan keyakinan bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia. Balasan di sisi Allah pasti lebih utama, baik di dunia maupun di akhirat.
# 6
وقال تعالى : ﴿ وما تنفقوا من خير فإن اللَّه به عليم ﴾ .سورة البقرة (273)
Terjemahan
Allah berfirman: "Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu." (Al-Baqarah: 273)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala bentuk kebaikan yang diinfakkan, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Hal ini mengandung motivasi untuk ikhlas dalam berbagi, karena balasan sejati datang dari Allah yang menyaksikan semua amal. Pelajaran utamanya adalah kita dianjurkan untuk terus berbuat baik tanpa perlu mengharap pengakuan manusia, sebab Allah-lah yang akan memberikan ganjaran yang sempurna.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala bentuk kebaikan yang diinfakkan, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Hal ini mengandung motivasi untuk ikhlas dalam berbagi, karena balasan sejati datang dari Allah yang menyaksikan semua amal. Pelajaran utamanya adalah kita dianjurkan untuk terus berbuat baik tanpa perlu mengharap pengakuan manusia, sebab Allah-lah yang akan memberikan ganjaran yang sempurna.
# 7
فالأَول: عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه. قال قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «إِنَّ اللَّه تعالى قال: منْ عادى لي وليًّاً. فقدْ آذنتهُ بالْحرْب. وما تقرَّبَ إِلَيَ عبْدِي بِشْيءٍ أَحبَّ إِلَيَ مِمَّا افْتَرَضْت عليْهِ: وما يَزالُ عبدي يتقرَّبُ إِلى بالنَّوافِل حَتَّى أُحِبَّه، فَإِذا أَحبَبْتُه كُنْتُ سمعهُ الَّذي يسْمعُ به، وبَصره الذي يُبصِرُ بِهِ، ويدَهُ التي يَبْطِش بِهَا، ورِجلَهُ التي يمْشِي بها، وَإِنْ سأَلنِي أَعْطيْتَه، ولَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَّنه» رواه البخاري.
«آذنتُهُ» أَعلَمْتُه بِأَنِّي محارب لَهُ «استعاذنِي» رُوى بالنون وبالباءِ.
Terjemahan
Pertama: Dari Abu Hurairah (رضي الله عنه) berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh Allah berfirman: 'Barang siapa memusuhi wali-Ku (kekasih-Ku yang beriman dan bertakwa), maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku terus-mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri. Jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi.'" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan: Hadits Qudsi ini menjelaskan kedekatan luar biasa yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang taat menjalankan kewajiban dan menambah dengan amalan sunnah. Allah akan melindungi dan memenuhi kebutuhan hamba yang dicintai-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa permusuhan terhadap orang-orang shaleh yang dicintai Allah sama dengan menyatakan perang kepada-Nya. Inti ibadah adalah menunaikan kewajiban (fardhu) dengan ikhlas, lalu dilengkapi dengan amalan sunnah. Ketekunan dalam pendekatan diri (taqarrub) melalui ibadah sunnah akan mengantarkan pada maqam mahabbah (kecintaan Allah), di mana Allah akan melindungi dan memudahkan seluruh gerak-gerik hamba-Nya.
Penjelasan: Hadits Qudsi ini menjelaskan kedekatan luar biasa yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang taat menjalankan kewajiban dan menambah dengan amalan sunnah. Allah akan melindungi dan memenuhi kebutuhan hamba yang dicintai-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa permusuhan terhadap orang-orang shaleh yang dicintai Allah sama dengan menyatakan perang kepada-Nya. Inti ibadah adalah menunaikan kewajiban (fardhu) dengan ikhlas, lalu dilengkapi dengan amalan sunnah. Ketekunan dalam pendekatan diri (taqarrub) melalui ibadah sunnah akan mengantarkan pada maqam mahabbah (kecintaan Allah), di mana Allah akan melindungi dan memudahkan seluruh gerak-gerik hamba-Nya.
# 8
الثاني: عن أَنس رضي اللَّه عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فيمَا يرْوِيهِ عنْ ربهِ عزَّ وجَلَّ قال: «إِذَا تقرب الْعبْدُ إِليَّ شِبْراً تَقرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِراعاً، وإِذَا تقرَّب إِلَيَّ ذراعاً تقرَّبْتُ منه باعاً، وإِذا أَتانِي يَمْشِي أَتيْتُهُ هرْوَلَة» رواه البخاري.
Terjemahan
Kedua: Dari Anas (رضي الله عنه) berkata: Rasulullah ﷺ meriwayatkan dari Tuhannya Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia: "Apabila hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Apabila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan: Hadits Qudsi ini menggambarkan kemurahan Allah. Inisiatif kecil dari hamba untuk mendekat kepada-Nya akan dibalas dengan kedekatan yang jauh lebih besar dari Allah.
Penjelasan singkat: Hadis Qudsi ini menegaskan kemurahan dan kasih sayang Allah yang melampaui usaha hamba. Inisiatif kecil seorang hamba untuk mendekat melalui ketaatan akan dibalas Allah dengan pendekatan yang berlipat ganda. Ini menjadi motivasi untuk selalu bersemangat dalam beribadah dan mendekatkan diri, karena Allah tidak pernah rugi dalam membalas kebaikan.
Penjelasan: Hadits Qudsi ini menggambarkan kemurahan Allah. Inisiatif kecil dari hamba untuk mendekat kepada-Nya akan dibalas dengan kedekatan yang jauh lebih besar dari Allah.
Penjelasan singkat: Hadis Qudsi ini menegaskan kemurahan dan kasih sayang Allah yang melampaui usaha hamba. Inisiatif kecil seorang hamba untuk mendekat melalui ketaatan akan dibalas Allah dengan pendekatan yang berlipat ganda. Ini menjadi motivasi untuk selalu bersemangat dalam beribadah dan mendekatkan diri, karena Allah tidak pernah rugi dalam membalas kebaikan.
# 9
الثالث: عن ابن عباس رضي اللَّه عنه قال: قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «نِعْمتانِ مغبونٌ فيهما كثير من الناس: الصحة والفراغ» رواه مسلم.
Terjemahan
Ketiga: Dari Ibnu 'Abbas (رضي الله عنهما) berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya (yaitu) kesehatan dan waktu luang." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan: Hadits ini mengingatkan kita bahwa kesehatan dan waktu luang adalah nikmat berharga yang sering disia-siakan. Orang merasa punya banyak waktu dan sehat, sehingga menunda-nunda amal saleh.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kesehatan dan waktu luang adalah dua modal utama untuk beramal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah. Kebanyakan manusia lalai akan nilainya, mengira kedua nikmat itu akan selamanya ada, sehingga menyia-nyiakannya untuk hal yang tidak bermanfaat. Oleh karena itu, seorang muslim yang bijak akan memanfaatkan keduanya sebelum datangnya sakit atau kesibukan yang menghalangi ibadah.
Penjelasan: Hadits ini mengingatkan kita bahwa kesehatan dan waktu luang adalah nikmat berharga yang sering disia-siakan. Orang merasa punya banyak waktu dan sehat, sehingga menunda-nunda amal saleh.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kesehatan dan waktu luang adalah dua modal utama untuk beramal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah. Kebanyakan manusia lalai akan nilainya, mengira kedua nikmat itu akan selamanya ada, sehingga menyia-nyiakannya untuk hal yang tidak bermanfaat. Oleh karena itu, seorang muslim yang bijak akan memanfaatkan keduanya sebelum datangnya sakit atau kesibukan yang menghalangi ibadah.
# 10
الرابع: عن عائشة رضي اللَّه عنها أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كَان يقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حتَّى تتَفطَرَ قَدمَاهُ، فَقُلْتُ لَهُ، لِمْ تصنعُ هذا يا رسولَ اللَّهِ، وقدْ غفَرَ اللَّه لَكَ مَا تقدَّمَ مِنْ ذَنبِكَ وما تأخَّرَ؟ قال: «أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أكُونَ عبْداً شكُوراً؟» متفقٌ عليه. هذا لفظ البخاري، ونحوه في الصحيحين من رواية المُغيرة بن شُعْبَةَ.
Terjemahan
Keempat: Dari 'Aisyah (رضي الله عنها) berkata: Rasulullah ﷺ benar-benar berdiri shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Melihat hal itu, aku berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau bersusah payah seperti ini? Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang." Beliau bersabda: "Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). Ini adalah lafaz dalam riwayat Al-Bukhari. Ada riwayat dari Al-Mughirah yang serupa dengan ini dalam kedua kitab Shahih (Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan: Hadits ini menunjukkan keteladanan Nabi Muhammad ﷺ dalam bersyukur dan beribadah kepada Allah, meskipun semua dosanya telah diampuni. Ibadah beliau adalah bentuk syukur, bukan karena takut siksa.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar untuk menghapus dosa, tetapi sebagai wujud syukur dan cinta kepada Allah. Rasulullah ﷺ, yang telah dijamin ampunan, tetap giat beribadah untuk menjadi hamba yang bersyukur (عبداً شكوراً). Ini menjadi teladan bahwa kesempurnaan iman ditunjukkan dengan terus meningkatkan ketakwaan dan rasa syukur, meski telah banyak memiliki kemuliaan.
Penjelasan: Hadits ini menunjukkan keteladanan Nabi Muhammad ﷺ dalam bersyukur dan beribadah kepada Allah, meskipun semua dosanya telah diampuni. Ibadah beliau adalah bentuk syukur, bukan karena takut siksa.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar untuk menghapus dosa, tetapi sebagai wujud syukur dan cinta kepada Allah. Rasulullah ﷺ, yang telah dijamin ampunan, tetap giat beribadah untuk menjadi hamba yang bersyukur (عبداً شكوراً). Ini menjadi teladan bahwa kesempurnaan iman ditunjukkan dengan terus meningkatkan ketakwaan dan rasa syukur, meski telah banyak memiliki kemuliaan.
# 11
الخامس: عن عائشة رضي اللَّه عنها أنها قالت: «كان رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إذَا دَخَلَ الْعشْرُ أحيا اللَّيْلَ، وأيقظ أهْلهْ، وجدَّ وشَدَّ المِئْزَرَ» متفقٌ عليه.
والمراد: الْعشْرُ الأواخِرُ من شهر رمضان: «وَالمِئْزَر»: الإِزارُ وهُو كِنايَةٌ عن اعْتِزَال النِّساءِ، وقِيلَ: المُرادُ تشْمِيرهُ للعِبادَةِ. يُقالُ: شَددْتُ لِهذا الأمرِ مِئْزَرِي، أيْ: تشمرتُ وَتَفَرَّغتُ لَهُ.
Terjemahan
Kelima: Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: "Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam apabila memasuki sepuluh (terakhir Ramadan), beliau menghidupkan malam (dengan ibadah), membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan kainnya (menjauhi istri)." (Muttafaqun 'alaih).
Maksudnya: Sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. "Al-Mi'zar": kain sarung, dan ini adalah kiasan untuk menjauhi (berhubungan dengan) istri. Ada juga yang berpendapat: Maksudnya adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dikatakan: "Aku mengencangkan kainku untuk urusan ini," artinya: aku bersungguh-sungguh dan mengosongkan diri untuknya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang kesungguhan Rasulullah SAW dalam menyambut sepuluh malam terakhir Ramadan dengan meningkatkan ibadah. Beliau menghidupkan malam dengan shalat, membangunkan keluarga untuk turut serta, dan fokus total dengan menjauhi hubungan suami-istri. Ini menjadi teladan bagi umatnya untuk lebih giat beribadah, terutama pada malam-malam yang diharapkan terdapat Lailatul Qadar.
Maksudnya: Sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. "Al-Mi'zar": kain sarung, dan ini adalah kiasan untuk menjauhi (berhubungan dengan) istri. Ada juga yang berpendapat: Maksudnya adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dikatakan: "Aku mengencangkan kainku untuk urusan ini," artinya: aku bersungguh-sungguh dan mengosongkan diri untuknya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang kesungguhan Rasulullah SAW dalam menyambut sepuluh malam terakhir Ramadan dengan meningkatkan ibadah. Beliau menghidupkan malam dengan shalat, membangunkan keluarga untuk turut serta, dan fokus total dengan menjauhi hubungan suami-istri. Ini menjadi teladan bagi umatnya untuk lebih giat beribadah, terutama pada malam-malam yang diharapkan terdapat Lailatul Qadar.
# 12
- السادس: عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال: قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «المُؤمِن الْقَوِيُّ خيرٌ وَأَحبُّ إِلى اللَّهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وفي كُلٍّ خيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا ينْفَعُكَ، واسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجَزْ. وإنْ أصابَك شيءٌ فلاَ تقلْ: لَوْ أَنِّي فَعلْتُ كانَ كَذَا وَكذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قدَّرَ اللَّهُ، ومَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان». رواه مسلم.
Terjemahan
Enam: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah kamu berkata: 'Seandainya aku melakukan ini, niscaya akan begini dan begitu,' tetapi katakanlah: 'Allah telah menetapkan, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.' Karena ucapan 'seandainya...' membuka pintu perbuatan setan." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keutamaan seorang mukmin yang kuat, baik kuat iman, fisik, maupun ekonomi, karena lebih bermanfaat bagi diri dan umat. Perintah untuk bersungguh-sungguh pada hal yang bermanfaat dan meminta tolong hanya kepada Allah (isti‘anah) adalah fondasi amal. Larangan berandai-andai (lau) dan perintah untuk menerima takdir dengan mengucap "qaddarallahu" mengajarkan sikap tawakal yang benar, serta melindungi hati dari penyesalan dan bisikan setan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keutamaan seorang mukmin yang kuat, baik kuat iman, fisik, maupun ekonomi, karena lebih bermanfaat bagi diri dan umat. Perintah untuk bersungguh-sungguh pada hal yang bermanfaat dan meminta tolong hanya kepada Allah (isti‘anah) adalah fondasi amal. Larangan berandai-andai (lau) dan perintah untuk menerima takdir dengan mengucap "qaddarallahu" mengajarkan sikap tawakal yang benar, serta melindungi hati dari penyesalan dan bisikan setan.
# 13
- السابع: عنه أَنَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: «حُجِبتِ النَّارُ بِالشَّهَواتِ، وحُجِبتْ الْجَنَّةُ بَالمكَارِهِ» متفقٌ عليه.
وفي رواية لمسلم: «حُفَّت» بَدلَ «حُجِبتْ» وهو بمعناهُ: أيْ: بينهُ وبيْنَهَا هَذا الحجابُ، فإذا فعلَهُ دخَلها.
Terjemahan
Ketujuh: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu juga, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Neraka dikelilingi oleh pagar syahwat (siapa yang melewati pagar ini akan memasukinya), sedangkan surga dikelilingi oleh pagar perintah (siapa yang bersungguh-sungguh menaati perintah akan memasukinya)." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa jalan menuju surga dipenuhi hal-hal yang berat dan tidak disukai hawa nafsu, seperti ketaatan dan ibadah yang memerlukan kesabaran. Sebaliknya, jalan menuju neraka dihiasi dengan syahwat dan kemaksiatan yang menarik dan mudah dilakukan. Oleh karena itu, kunci meraih surga adalah dengan bersabar dan bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu serta mengerjakan perintah Allah, meskipun terasa berat.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa jalan menuju surga dipenuhi hal-hal yang berat dan tidak disukai hawa nafsu, seperti ketaatan dan ibadah yang memerlukan kesabaran. Sebaliknya, jalan menuju neraka dihiasi dengan syahwat dan kemaksiatan yang menarik dan mudah dilakukan. Oleh karena itu, kunci meraih surga adalah dengan bersabar dan bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu serta mengerjakan perintah Allah, meskipun terasa berat.
# 14
الثامن: عن أبي عبد اللَّه حُذَيْفةَ بن اليمانِ، رضي اللَّهُ عنهما، قال: صَلَّيْتُ مع النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ذَاتَ ليْلَةٍ، فَافَتَتَحَ الْبقرة، فقُلْت يرْكَعُ عِندَ المائة، ثُمَّ مضى، فَقُلْت يُصلِّي بِهَا في رَكْعةٍ، فَمَضَى.
فَقُلْت يَرْكَع بهَا، ثمَّ افْتتَح النِّسَاءَ، فَقَرأَهَا، ثمَّ افْتتح آلَ عِمْرانَ فَقَرَأَهَا، يَقْرُأُ مُتَرَسِّلاً إذَا مرَّ بِآيَةٍ فِيها تَسْبِيحٌ سَبَّحَ، وإِذَا مَرَّ بِسْؤالٍ سَأل، وإذَا مَرَّ بِتَعَوذٍ تَعَوَّذَ، ثم ركع فَجعل يقُول: «سُبحانَ رَبِّيَ الْعظِيمِ» فَكَانَ ركُوعُه نحْوا مِنْ قِيامِهِ ثُمَّ قَالَ: «سمِع اللَّهُ لِمن حمِدَه، ربَّنا لك الْحمدُ» ثُم قَام قِياماً طوِيلاً قَريباً مِمَّا ركَع، ثُمَّ سَجَدَ فَقالَ: «سبحان رَبِّيَ الأعلَى» فَكَانَ سُجُوده قَرِيباً مِنْ قِيامِهِ». رواه مسلم.
Terjemahan
Kedelapan: Dari Abu Abdillah atau Abu Abdirrahman Tsauban, maula (bekas budak yang dimerdekakan) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hendaklah kamu memperbanyak sujud, karena tidaklah kamu bersujud sekali kepada Allah, melainkan Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan satu kesalahanmu karenanya." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan keutamaan dan urgensi memperbanyak sujud dalam shalat, baik shalat wajib maupun sunnah. Setiap kali seorang muslim bersujud kepada Allah dengan ikhlas, ia akan diangkat satu derajat di sisi-Nya dan dihapuskan satu kesalahannya. Ini merupakan motivasi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, mendekatkan diri kepada Allah, serta mengharap ampunan-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan keutamaan dan urgensi memperbanyak sujud dalam shalat, baik shalat wajib maupun sunnah. Setiap kali seorang muslim bersujud kepada Allah dengan ikhlas, ia akan diangkat satu derajat di sisi-Nya dan dihapuskan satu kesalahannya. Ini merupakan motivasi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, mendekatkan diri kepada Allah, serta mengharap ampunan-Nya.
# 15
التاسع: عن ابن مسعودٍ رَضِيَ اللَّهُ عنه قال: صلَّيْت مع النَبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لَيلَةً، فَأَطَالَ الْقِيامَ حتَّى هممْتُ أَنْ أجْلِسَ وَأدعَهُ. متفقٌ عليه.
Terjemahan
Kesembilan: Dari Abu Shafwan Abdullah bin Busr Al-Aslami radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata: hadits hasan).
"Busr": dengan mendhamahkan huruf ba' dan dengan sin yang tidak bertitik.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kualitas hidup manusia tidak diukur oleh panjangnya usia semata, tetapi oleh kebaikan amal perbuatannya selama hidup. Umur yang panjang menjadi bernilai dan "terbaik" hanya jika diisi dengan ketaatan dan karya yang positif. Dengan demikian, hikmahnya adalah motivasi untuk memanfaatkan setiap kesempatan waktu dengan amal shaleh, karena kesempurnaan hidup terletak pada kombinasi antara usia yang panjang dan amalan yang baik.
"Busr": dengan mendhamahkan huruf ba' dan dengan sin yang tidak bertitik.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kualitas hidup manusia tidak diukur oleh panjangnya usia semata, tetapi oleh kebaikan amal perbuatannya selama hidup. Umur yang panjang menjadi bernilai dan "terbaik" hanya jika diisi dengan ketaatan dan karya yang positif. Dengan demikian, hikmahnya adalah motivasi untuk memanfaatkan setiap kesempatan waktu dengan amal shaleh, karena kesempurnaan hidup terletak pada kombinasi antara usia yang panjang dan amalan yang baik.
# 16
العاشر: عن أنس رضي اللَّه عنه عن رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: «يتْبعُ الميْتَ ثلاثَةٌ: أهلُهُ ومالُه وعمَلُه، فيرْجِع اثنانِ ويبْقَى واحِدٌ: يرجعُ أهلُهُ ومالُهُ، ويبقَى عملُهُ» متفقٌ عليه.
Terjemahan
Sepuluh: Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tiga hal yang mengikuti jenazah: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua hal kembali (pulang), dan satu hal tetap bersamanya. Keluarganya dan hartanya kembali, dan hanya amalannya yang tetap bersamanya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang bersifat duniawi, seperti keluarga dan harta, akan ditinggalkan saat manusia meninggal. Hanya amal perbuatan yang akan terus menyertai dan menjadi bekal satu-satunya di akhirat. Oleh karena itu, hikmahnya adalah kita harus memprioritaskan dan bersungguh-sungguh dalam beramal saleh, karena itulah investasi abadi yang menentukan kehidupan sesudah kematian.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang bersifat duniawi, seperti keluarga dan harta, akan ditinggalkan saat manusia meninggal. Hanya amal perbuatan yang akan terus menyertai dan menjadi bekal satu-satunya di akhirat. Oleh karena itu, hikmahnya adalah kita harus memprioritaskan dan bersungguh-sungguh dalam beramal saleh, karena itulah investasi abadi yang menentukan kehidupan sesudah kematian.
# 17
- الحادي عشر: عن ابن مسعودٍ رضيَ اللَّهُ عنه قال: قال النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «الجنة أقَربُ إلى أَحدِكُم مِنْ شِراكِ نَعْلِهِ والنَّارُ مِثْلُ ذلِكَ» رواه البخاري.
Terjemahan
Sebelas: Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Surga itu lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada tali sandalnya, dan neraka pun demikian." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa dekatnya balasan amal manusia. Surga dan neraka sangat dekat, lebih dekat dari tali sandal sendiri, karena keduanya ditentukan oleh setiap langkah dan pilihan kita. Ini adalah peringatan sekaligus motivasi: kebaikan atau keburukan yang kita lakukan akan segera mendatangkan konsekuensinya, sehingga kita harus selalu waspada dan bergegas dalam beramal saleh.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan betapa dekatnya balasan amal manusia. Surga dan neraka sangat dekat, lebih dekat dari tali sandal sendiri, karena keduanya ditentukan oleh setiap langkah dan pilihan kita. Ini adalah peringatan sekaligus motivasi: kebaikan atau keburukan yang kita lakukan akan segera mendatangkan konsekuensinya, sehingga kita harus selalu waspada dan bergegas dalam beramal saleh.
# 18
الثاني عشر: عن أبي فِراس رَبِيعةَ بنِ كَعْبٍ الأسْلَمِيِّ خادِم رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، ومِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ رضي اللَّهُ عنه قال: كُنْتُ أبيتُ مع رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، فآتِيهِ بِوَضوئِهِ، وحاجتِهِ فقال: «سلْني» فقُلْت: أسْألُكَ مُرافَقَتَكَ في الجنَّةِ. فقالَ: «أوَ غَيْرَ ذلِك؟» قُلْت: أسْألُكَ مُرافَقَتَكَ في الجنَّةِ. فقالَ: «أوَ غَيْرَ ذلِك ؟» قُلْت: هو ذَاك. قال: «فأَعِنِّي على نَفْسِكَ بِكَثْرةِ السجُودِ» رواه مسلم.
Terjemahan
Dua belas: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya (dengan ilmu, kekuasaan, dan pendengaran-Ku) ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di tengah kumpulan (orang), Aku mengingatnya di tengah kumpulan yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari.'" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ridha Allah dan surga-Nya adalah tujuan tertinggi. Untuk meraihnya, seorang hamba harus aktif berusaha dengan sungguh-sungguh, bukan hanya pasif berharap. Amalan ibadah yang tekun, khususnya banyak sujud (shalat), adalah jalan konkrit untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengalahkan hawa nafsu.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ridha Allah dan surga-Nya adalah tujuan tertinggi. Untuk meraihnya, seorang hamba harus aktif berusaha dengan sungguh-sungguh, bukan hanya pasif berharap. Amalan ibadah yang tekun, khususnya banyak sujud (shalat), adalah jalan konkrit untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengalahkan hawa nafsu.
# 19
الثالث عشر: عن أبي عبد اللَّه ويُقَالُ: أبُو عبْدِ الرَّحمنِ ثَوْبانَ موْلى رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: سمِعْتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول: عليكَ بِكَثْرةِ السُّجُودِ، فإِنَّك لَنْ تَسْجُد للَّهِ سجْدةً إلاَّ رفَعكَ اللَّهُ بِهَا درجةً، وحطَّ عنْكَ بِهَا خَطِيئَةً» رواه مسلم.
Terjemahan
Ketiga belas: Dari Abu Abdillah atau dikatakan: Abu Abdirrahman Tsauban, maula Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hendaklah kamu memperbanyak sujud, karena tidaklah kamu bersujud sekali kepada Allah, melainkan Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan satu kesalahanmu karenanya." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar dari memperbanyak sujud dalam shalat dan sujud-sujud sunah. Setiap sujud yang ikhlas karena Allah akan mendatangkan dua keuntungan sekaligus: peningkatan derajat spiritual di sisi-Nya dan penghapusan satu kesalahan. Dengan demikian, ibadah sujud merupakan sarana efektif untuk meraih ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah, serta motivasi untuk rajin beribadah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar dari memperbanyak sujud dalam shalat dan sujud-sujud sunah. Setiap sujud yang ikhlas karena Allah akan mendatangkan dua keuntungan sekaligus: peningkatan derajat spiritual di sisi-Nya dan penghapusan satu kesalahan. Dengan demikian, ibadah sujud merupakan sarana efektif untuk meraih ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah, serta motivasi untuk rajin beribadah.
# 20
الرابع عشر: عن أبي صَفْوانَ عبدِ اللَّه بن بُسْرٍ الأسلَمِيِّ، رضي اللَّه عنه، قال: قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «خَيْرُ النَّاسِ مَن طالَ عمُرُه وَحَسُنَ عملُه» رواه الترمذي، وقال حديثٌ حسنٌ.
«بُسْر»: بضم الباءِ وبالسين المهملة.
Terjemahan
Keempat belas: Dari Abu Shafwan Abdullah bin Busr Al-Aslami radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata: hadits hasan).
"Busr": dengan mendhamahkan huruf ba' dan dengan sin yang tidak bertitik.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa nilai utama manusia bukan sekadar panjang usia, tetapi perpaduan antara usia yang panjang dan amal shaleh yang berkualitas. Umur yang diberikan Allah adalah kesempatan berharga untuk terus meningkatkan ketaatan dan memperbaiki diri. Oleh karena itu, kebaikan sejati terletak pada bagaimana seseorang memanfaatkan seluruh waktunya untuk berbuat kebaikan hingga akhir hayat.
"Busr": dengan mendhamahkan huruf ba' dan dengan sin yang tidak bertitik.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa nilai utama manusia bukan sekadar panjang usia, tetapi perpaduan antara usia yang panjang dan amal shaleh yang berkualitas. Umur yang diberikan Allah adalah kesempatan berharga untuk terus meningkatkan ketaatan dan memperbaiki diri. Oleh karena itu, kebaikan sejati terletak pada bagaimana seseorang memanfaatkan seluruh waktunya untuk berbuat kebaikan hingga akhir hayat.
# 21
الخامس عشر: عن أنسٍ رضي اللَّه عنه، قال: غَاب عمِّي أَنَسُ بنُ النَّضْرِ رضي اللَّهُ عنه، عن قِتالِ بدرٍ، فقال: يا رسولَ اللَّه غِبْت عن أوَّلِ قِتالٍ قَاتلْتَ المُشرِكِينَ، لَئِنِ اللَّهُ أشْهَدَنِي قتالَ المشركين لَيُرِيَنَّ اللَّهُ ما أصنعُ، فلما كانَ يومُ أُحدٍ انْكشَفَ المُسْلِمُون فقال: اللَّهُمَّ أعْتَذِرُ إليْكَ مِمَّا صنَع هَؤُلاءِ يَعْني أصْحَابَه وأبرأُ إلَيْكَ مِمَّا صنعَ هَؤُلاَءِ يعني المُشْرِكِينَ ثُمَّ تَقَدَّمَ فَاسْتَقْبَلَهُ سعْدُ بْنُ مُعاذٍ، فَقالَ: يا سعْدُ بْنَ معُاذٍ الْجنَّةُ ورَبِّ الكعْبةِ، إِنِى أجِدُ رِيحَهَا مِنْ دُونِ أُحُدٍ. قال سعْدٌ: فَمَا اسْتَطعْتُ يا رسول اللَّه ماصنَعَ، قَالَ أنسٌ: فَوجدْنَا بِهِ بِضْعاً وثمانِينَ ضَرْبةً بِالسَّيفِ، أوْ طَعْنَةً بِرُمْحٍ، أو رمْيةً بِسهْمٍ، ووجدْناهُ قَد قُتِلَ وَمثَّلَ بِهِ المُشرِكُونَ فَما عرفَهُ أَحدٌ إِلاَّ أُخْتُهُ بِبنَانِهِ. قال أنسٌ: كُنَّا نَرى أوْ نَظُنُّ أنَّ هَذِهِ الآيَة نزلَتْ فيهِ وَفِي أشْباهِهِ: [مِنَ المُؤْمِنِينَ رِجالٌ صدقُوا ما عَاهَدُوا اللَّه علَيهِ] [الأحزاب: 23] إلى آخرها. متفقٌ عليه.
قوله: «لَيُريَنَّ اللَّهُ» رُوى بضم الياءِ وكسر الراءِ، أي لَيُظْهِرنَّ اللَّهُ ذَلِكَ لِلنَّاسِ، ورُوِى بفتحهما، ومعناه ظاهر، واللَّه أعلم.
Terjemahan
Lima belas: Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa pamannya Anas bin An-Nadhr radhiyallahu 'anhu tidak hadir dalam Perang Badar. Dia berkata: "Wahai Rasulullah, aku tidak hadir dalam pertempuran pertama yang engkau hadapi melawan orang-orang musyrik. Jika Allah memberiku kesempatan hadir dalam pertempuran melawan orang-orang musyrik, Allah akan melihat apa yang akan kulakukan." Pada hari Perang Uhud, kaum Muslimin mengalami kekalahan. Dia (Anas bin An-Nadhr) berkata: "Ya Allah, aku memohon ampunan atas apa yang dilakukan oleh mereka (maksudnya sahabat-sahabatnya yang mundur), dan aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh mereka (maksudnya orang-orang musyrik)." Kemudian dia maju dan bertemu dengan Sa'ad bin Mu'adz. Dia (Anas bin An-Nadhr) berkata: "Wahai Sa'ad bin Mu'adz, demi Tuhan An-Nadhr, sungguh aku mencium aroma surga di dekat Uhud." Sa'ad berkata: "Wahai Rasulullah, aku tidak mampu melakukan seperti yang dia lakukan." Anas (bin Malik) berkata: "Kami melihat tubuhnya (Anas bin An-Nadhr) terluka lebih dari delapan puluh tempat oleh tebasan pedang, tombak, dan panah. Kami melihat dia terbunuh, dan orang-orang musyrik telah melukainya sedemikian rupa sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mengenalinya, kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya melalui ujung jarinya." Anas berkata: "Kami berpikir dan menduga bahwa ayat ini turun berkenaan dengan dirinya dan orang-orang yang seperti dia, yaitu firman Allah: 'Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah...' (QS. Al-Ahzab: 23) sampai akhir ayat." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang semangat jihad dan loyalitas kepada agama yang melebihi fanatisme golongan. Anas bin An-Nadhr radhiyallahu 'anhu menunjukkan penyesalan mendalam karena tertinggal dari perang pertama, lalu membuktikan komitmennya di medan Uhud. Sikapnya yang membedakan kesalahan saudara seiman dari kekafiran musuh, serta keberaniannya maju sendirian, menggambarkan keteguhan prinsip dan kecintaan sejati kepada kebenaran meski dalam situasi kritis.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang semangat jihad dan loyalitas kepada agama yang melebihi fanatisme golongan. Anas bin An-Nadhr radhiyallahu 'anhu menunjukkan penyesalan mendalam karena tertinggal dari perang pertama, lalu membuktikan komitmennya di medan Uhud. Sikapnya yang membedakan kesalahan saudara seiman dari kekafiran musuh, serta keberaniannya maju sendirian, menggambarkan keteguhan prinsip dan kecintaan sejati kepada kebenaran meski dalam situasi kritis.
# 22
السادس عشر: عن أبي مسعود عُقْبَةَ بن عمروٍ الأنصاريِّ البدريِّ رضي اللَّهُ عنه قال: لمَّا نَزَلَتْ آيةُ الصَّدقَةِ كُنَّا نُحَامِلُ عَلَى ظُهُورِنا. فَجَاءَ رَجُلٌ فَتَصَدَّقَ بِشَيْءٍ كَثِيرٍ فَقَالُوا: مُراءٍ، وجاءَ رَجُلٌ آخَرُ فَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ فقالُوا: إنَّ اللَّه لَغَنِيٌّ عَنْ صاعِ هَذَا، فَنَزَلَتْ {الَّذِينَ يَلْمِزُونَ المُطَّوِّعِينَ مِنَ المُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لاَ يَجِدُونَ إلاَّ جُهْدَهُمْ} [التوبة 79] الآية. متفقٌ عليه.
«ونُحَامِلُ» بضم النون، وبالحاءِ المهملة: أَيْ يَحْمِلُ أَحَدُنَا على ظَهْرِهِ بِالأجْرَةِ، وَيَتَصَدَّقُ بها.
Terjemahan
Enam belas: Dari Abu Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Ketika ayat tentang sedekah turun, kami biasa membawa barang-barang (untuk dijual). Lalu ada orang yang bersedekah dengan harta yang banyak. Orang-orang munafik berkata: 'Dia bersedekah hanya untuk dipuji.' Ada pula yang bersedekah satu sha' (sekitar 2,5 kg), mereka berkata: 'Allah tidak butuh sedekah satu sha' ini.' Maka Allah menurunkan wahyu yang artinya: 'Orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak mendapat (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya...' (QS. At-Taubah: 79)." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan larangan mencela atau meremehkan sedekah orang lain, baik karena dianggap riya' (pamer) maupun karena jumlahnya dianggap sedikit. Allah menilai amal berdasarkan keikhlasan dan kemampuan pelakunya, bukan dari besar kecilnya nominal. Hikmahnya, kita harus menjaga lisan dari ghibah atas amal saleh orang lain dan fokus pada keikhlasan dalam berbuat baik.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan larangan mencela atau meremehkan sedekah orang lain, baik karena dianggap riya' (pamer) maupun karena jumlahnya dianggap sedikit. Allah menilai amal berdasarkan keikhlasan dan kemampuan pelakunya, bukan dari besar kecilnya nominal. Hikmahnya, kita harus menjaga lisan dari ghibah atas amal saleh orang lain dan fokus pada keikhlasan dalam berbuat baik.
# 23
السابَع عشر: عن سعيدِ بنِ عبدِ العزيزِ، عن رَبيعةَ بنِ يزيدَ، عن أَبِي إدريس الخَوْلاَنيِّ، عن أَبِي ذَرٍّ جُنْدُبِ بنِ جُنَادَةَ، رضي اللَّهُ عنه، عن النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فيما يَرْوِى عَنِ اللَّهِ تباركَ وتعالى أنه قال: «يا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً فَلاَ تَظالمُوا، يَا عِبَادِي كُلُّكُم ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوني أهْدكُمْ، يَا عِبَادي كُلُّكُمْ جائعٌ إِلاَّ منْ أطعمتُه، فاسْتطْعموني أطعمْكم، يا عبادي كلكم عَارٍ إلاَّ مِنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوني أكْسُكُمْ، يَا عِبَادِي إنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً، فَاسْتَغْفِرُوني أغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوني، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوني، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أوَّلَكُمْ وآخِركُمْ، وَإنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أتقَى قلبِ رجلٍ واحدٍ منكم ما زادَ ذلكَ فِي مُلكي شيئاً، يا عِبَادِي لو أَنَّ أوَّلكم وآخرَكُم وإنسَكُم وجنكُمْ كَانوا عَلَى أفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِركُمْ وَإنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، قَامُوا فِي صَعيدٍ وَاحدٍ، فَسألُوني فَأعْطَيْتُ كُلَّ إنْسانٍ مَسْألَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا َيَنْقُصُ المِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ البَحْرَ، يَا عِبَادِي إنَّما هِيَ أعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ، ثُمَّ أوَفِّيكُمْ إيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمِدِ اللَّه، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إلاَّ نَفْسَهُ». قَالَ سعيدٌ: كان أبو إدريس إذا حدَّثَ بهذا الحديث جَثَا عَلَى رُكبتيه. رواه مسلم. وروينا عن الإمام أحمد بن حنبل رحمه اللَّه قال: ليس لأهل الشام حديث أشرف من هذا الحديث.
Terjemahan
Tujuh belas: Dari Sa'id bin Abdirrahman bin Abza, dari ayahnya, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dari apa yang beliau riwayatkan dari Tuhannya, bahwa Dia berfirman: "Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku juga mengharamkannya di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-hamba-Ku! Kalian semua sesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi petunjuk kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku! Kalian semua lapar kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi makan kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku! Kalian semua telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi pakaian kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kalian berbuat dosa siang dan malam, dan Aku adalah Yang Maha Mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian. Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kalian tidak akan mampu memberi mudarat kepada-Ku, dan tidak pula mampu memberi manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku! Seandainya orang-orang terdahulu dan yang kemudian di antara kalian, seluruh manusia dan jin, semuanya bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan menambah sedikit pun dalam kerajaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku! Seandainya orang-orang terdahulu dan yang kemudian di antara kalian, seluruh manusia dan jin, semuanya durhaka seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu tidak akan mengurangi sedikit pun dari kerajaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku! Seandainya orang-orang terdahulu dan yang kemudian di antara kalian, seluruh manusia dan jin, berkumpul di satu tempat, lalu mereka meminta kepada-Ku, lalu Aku penuhi permintaan setiap orang di antara mereka, niscaya hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali seperti jarum yang dicelupkan ke laut lalu diangkat..."
Penjelasan singkat: Hadis qudsi ini menegaskan bahwa Allah SWT Mahaadil, mengharamkan kezaliman bagi diri-Nya dan untuk manusia. Intinya, manusia harus meninggalkan segala bentuk kezaliman. Selanjutnya, hadis ini mengingatkan bahwa hidayah dan rezeki sejati hanya dari Allah. Oleh karena itu, kewajiban manusia adalah dengan senantiasa memohon petunjuk dan pertolongan hanya kepada-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis qudsi ini menegaskan bahwa Allah SWT Mahaadil, mengharamkan kezaliman bagi diri-Nya dan untuk manusia. Intinya, manusia harus meninggalkan segala bentuk kezaliman. Selanjutnya, hadis ini mengingatkan bahwa hidayah dan rezeki sejati hanya dari Allah. Oleh karena itu, kewajiban manusia adalah dengan senantiasa memohon petunjuk dan pertolongan hanya kepada-Nya.