Kitab 1 · Bab 12
Mendorong untuk bersungguh-sungguh beramal saleh di akhir masa kehidupan.
✦ 6 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى : ﴿ أولم نعمركم ما يتذكر فيه من تذكر وجاءكم النذير ﴾ سورة فاطر(37)
قال ابن عباس والمحققون: معناه: أولم نعمركم ستين سنة، ويؤيده الحديث الذي سنذكره إن شاء اللَّه تعالى. وقيل معناه: ثماني عشرة سنة. وقيل: أربعين سنة. قاله الحسن والكلبي ومسروق، ونقل عن ابن عباس أيضاً، ونقلوا أن أهل المدينة كانوا إذا بلغ أحدهم أربعين سنة تفرغ للعبادة. وقيل هو: البلوغ. وقوله تعالى: ﴿ وجاءكم النذير ﴾ قال ابن عباس والجمهور: هو النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم. وقيل: الشيب. قاله عكرمة وابن عيينة وغيرهما، والله أعلم.
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?" (QS. Fathir: 37).
Ibnu Abbas dan para peneliti berkata: Maknanya: Bukankah Kami telah memanjangkan umur kalian enam puluh tahun? Hal ini dikuatkan oleh hadits yang akan kami sebutkan insya Allah Ta'ala. Ada yang mengatakan maknanya: delapan belas tahun. Ada yang mengatakan: empat puluh tahun. Ini dikatakan oleh Al-Hasan, Al-Kalbi, dan Masruq, dan juga dinukil dari Ibnu Abbas. Mereka menukilkan bahwa penduduk Madinah, jika salah seorang dari mereka mencapai usia empat puluh tahun, dia mengosongkan diri untuk beribadah. Ada yang mengatakan: itu adalah usia baligh. Firman-Nya: "Dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?" Ibnu Abbas dan jumhur berkata: Dia adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ada yang mengatakan: uban. Ini dikatakan oleh Ikrimah, Ibnu 'Uyainah, dan selain mereka. Wallahu a'lam.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan manusia tentang nikmat usia yang diberikan Allah sebagai kesempatan untuk berpikir dan mengambil pelajaran sebelum ajal tiba. Para ulama berbeda pendapat tentang batasan usia yang dimaksud (60, 40, 18 tahun, atau sejak baligh), namun intinya sama: masa hidup adalah modal berharga untuk beramal. Kedatangan "pemberi peringatan" (Nabi atau uban) adalah tanda agar segera bertaubat dan meningkatkan ketakwaan.
Ibnu Abbas dan para peneliti berkata: Maknanya: Bukankah Kami telah memanjangkan umur kalian enam puluh tahun? Hal ini dikuatkan oleh hadits yang akan kami sebutkan insya Allah Ta'ala. Ada yang mengatakan maknanya: delapan belas tahun. Ada yang mengatakan: empat puluh tahun. Ini dikatakan oleh Al-Hasan, Al-Kalbi, dan Masruq, dan juga dinukil dari Ibnu Abbas. Mereka menukilkan bahwa penduduk Madinah, jika salah seorang dari mereka mencapai usia empat puluh tahun, dia mengosongkan diri untuk beribadah. Ada yang mengatakan: itu adalah usia baligh. Firman-Nya: "Dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?" Ibnu Abbas dan jumhur berkata: Dia adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ada yang mengatakan: uban. Ini dikatakan oleh Ikrimah, Ibnu 'Uyainah, dan selain mereka. Wallahu a'lam.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengingatkan manusia tentang nikmat usia yang diberikan Allah sebagai kesempatan untuk berpikir dan mengambil pelajaran sebelum ajal tiba. Para ulama berbeda pendapat tentang batasan usia yang dimaksud (60, 40, 18 tahun, atau sejak baligh), namun intinya sama: masa hidup adalah modal berharga untuk beramal. Kedatangan "pemberi peringatan" (Nabi atau uban) adalah tanda agar segera bertaubat dan meningkatkan ketakwaan.
# 2
وأمَّا الأحاديث فالأوَّل : عن أَبِي هريرة رضي اللَّه عنه ، عن النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : «أعْذَرَ اللَّهُ إلى امْرِىءٍ أخَّرَ أجلَه حتى بلَغَ سِتِّينَ سنةً » رواه البخارى.
قال العلماءُ معناه : لَمْ يتْركْ لَه عُذْراً إذ أمْهَلَهُ هذِهِ المُدَّةَ . يُقال : أعْذَرَ الرَّجُلُ إذا بلغَ الغاية في الْعُذْرِ .
Terjemahan
Adapun hadits-hadits, yang pertama: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Allah telah memberikan uzur (tidak ada alasan lagi) kepada seseorang yang Dia akhirkan ajalnya hingga mencapai usia enam puluh tahun." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Para ulama berkata: Maknanya: Allah tidak meninggalkan alasan baginya karena Dia telah memberinya penangguhan selama ini. Dikatakan: "Seorang laki-laki telah memberikan uzur" jika dia telah mencapai puncak dalam memberikan alasan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa usia 60 tahun adalah batas panjangnya kesempatan (ajal) yang diberikan Allah kepada manusia untuk beramal. Dengan penangguhan selama itu, seseorang dianggap telah mendapat uzur penuh, sehingga tidak ada alasan lagi untuk lalai atau tidak bersiap menghadap-Nya. Hikmahnya adalah agar kita memanfaatkan hidup, terutama sebelum usia senja, untuk taat dan bertaubat.
Para ulama berkata: Maknanya: Allah tidak meninggalkan alasan baginya karena Dia telah memberinya penangguhan selama ini. Dikatakan: "Seorang laki-laki telah memberikan uzur" jika dia telah mencapai puncak dalam memberikan alasan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa usia 60 tahun adalah batas panjangnya kesempatan (ajal) yang diberikan Allah kepada manusia untuk beramal. Dengan penangguhan selama itu, seseorang dianggap telah mendapat uzur penuh, sehingga tidak ada alasan lagi untuk lalai atau tidak bersiap menghadap-Nya. Hikmahnya adalah agar kita memanfaatkan hidup, terutama sebelum usia senja, untuk taat dan bertaubat.
# 3
الثاني : عن ابن عباس ، رضي اللَّه عنهما ، قال : كان عمر رضي اللَّه عنه يُدْخِلُنى مَع أشْياخ بْدرٍ ، فَكأنَّ بعْضَهُمْ وجدَ فِي نفسه فقال : لِمَ يَدْخُلُ هَذِا معنا ولنَا أبْنَاء مِثْلُه ،؟ فقال عمرُ : إِنَّهُ من حيْثُ علِمْتُمْ ، فدَعَانى ذاتَ يَوْمٍ فَأدْخلَنى معهُمْ ، فما رأَيْتُ أنَّه دعانى يوْمئِذٍ إِلاَّ لِيُرِيهُمْ قال : ما تقولون في قول اللَّه تعالى : { إذا جاءَ نَصْرُ اللَّهِ والْفَتْحُ} [الفتح : 1 ] فقال بَعضُهُمْ : أمِرْنَا نَحْمَدُ اللَّهَ ونَسْتَغْفِره إذَا نَصرنَا وفَتَحَ علَيْنَا . وسكَتَ بعضهُمْ فلم يقُلْ شيئاً فقال لى : أكَذلك تقول يا ابنَ عباس ؟ فقلت : لا . قال فما تقول ؟ قلت : هُو أجلُ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، أعْلمَه له قال : { إذا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ والْفتحُ} وذلك علامة أجلِك { فَسَبِّحْ بِحمْدِ رَبِّكَ واسْتغْفِرْهُ إِنَّه كانَ تَوَّاباً} [ الفتح : 3 ] فقال عمر رضي اللَّه عنه : ما أعْلَم منها إلاَّ ما تَقُول . رواه البخارى .
Terjemahan
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah mengajakku menghadiri majelis bersama para tetua (sahabat) Badar. Sebagian dari mereka tampak tidak suka dan berkata: "Mengapa kamu (Umar) mengajak anak kecil ini duduk bersama kami, padahal kami memiliki anak seperti dia tetapi kamu tidak mengizinkannya?" Umar berkata: "Karena dia memiliki ilmu sebagaimana yang kalian ketahui." Suatu hari, dia (Umar) memanggilku untuk duduk bersama mereka. Aku berpikir: "Dia memanggilku pasti tidak lain agar aku menunjukkan kemampuan kepada mereka." Dia bertanya kepada mereka: "Bagaimana pendapat kalian tentang firman Allah: 'Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan' (QS. An-Nashr: 1)?" Sebagian mereka menjawab: "Kami diperintahkan untuk memuji Allah dan memohon ampun kepada-Nya ketika Dia menolong kami dan memberikan kemenangan kepada kami." Sebagian yang lain diam tidak berkata apa-apa. Dia (Umar) bertanya kepadaku: "Wahai Ibnu Abbas, apakah kamu menjawab seperti mereka?" Aku menjawab: "Tidak." Dia bertanya: "Lalu apa jawabanmu?" Aku menjawab: "Itu adalah tanda ajal Rasulullah yang Allah beritahukan kepadanya, dengan firman-Nya: 'Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan' (QS. An-Nashr: 1), dan itu adalah tanda ajalmu, 'maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.' (QS. An-Nashr: 3)." Umar berkata: "Aku tidak mengetahui tentang ayat ini selain dari apa yang kamu katakan." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan ilmu dan penghormatan kepada pemiliknya, meskipun usianya masih muda. Umar radhiyallahu 'anhu mengutamakan Ibnu Abbas dalam majelis para veteran Perang Badar karena kapasitas ilmunya, bukan karena usia atau garis keturunan. Ini menjadi pelajaran bahwa kedudukan seseorang di sisi Allah dan masyarakat ditentukan oleh ilmu dan ketakwaannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan ilmu dan penghormatan kepada pemiliknya, meskipun usianya masih muda. Umar radhiyallahu 'anhu mengutamakan Ibnu Abbas dalam majelis para veteran Perang Badar karena kapasitas ilmunya, bukan karena usia atau garis keturunan. Ini menjadi pelajaran bahwa kedudukan seseorang di sisi Allah dan masyarakat ditentukan oleh ilmu dan ketakwaannya.
# 4
الثالث : عن عائشةَ رضي اللَّه عنها قالت : ما صَلَّى رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم صلاةً بعْد أَنْ نزَلَتْ علَيْهِ { إذَا جَاءَ نصْرُ اللِّهِ والْفَتْحُ } إلاَّ يقول فيها : « سُبْحانك ربَّنَا وبِحمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لى » متفقٌ عليه .
وفي رواية الصحيحين عنها : كان رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُكْثِر أنْ يَقُول فِي ركُوعِه وسُجُودِهِ : « سُبْحانَكَ اللَّهُمَّ ربَّنَا وَبحمْدِكَ ، اللَّهمَّ اغْفِرْ لي » يتأوَّل الْقُرْآن .
معنى : « يتأوَّل الْقُرُآنَ » أيْ : يعْمل مَا أُمِرَ بِهِ في الْقُــرآنِ في قولِهِ تعالى : {فَسبِّحْ بِحمْدِ ربِّكَ واستَغْفِرْهُ } .
وفي رواية لمسلم : كان رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُكْثِرُ أنْ يَقولَ قبْلَ أَنْ يَمُوتَ : «سُبْحانَكَ اللَّهُمَّ وبِحْمدِكَ ، أسْتَغْفِركَ وأتُوبُ إلَيْكَ » . قالت عائشةُ : قلت : يا رسولَ اللَّه ما هذِهِ الكلِمَاتُ الَّتي أرَاكَ أحْدثْتَها تَقولها ؟ قــال : « جُعِلَتْ لِي علامةٌ في أمَّتي إذا رَأيتُها قُلتُها {إذَا جَاءَ نَصْرُ اللِّهِ والْفَتْحُ } إلى آخر السورة».
وفي رواية له : كان رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ : « سُبْحانَ اللَّهِ وبحَمْدِهِ . أسْتَغْفِرُ اللَّه وَأَتُوبُ إلَيْه » . قالت : قلت : يا رسولَ اللَّه ، أَرَاكَ تُكْثِرُ مِنْ قَوْل : سُبْحَانَ اللَّهِ وبحمْدِهِ ، أسْتغْفِر اللَّه وأتُوبُ إليْهِ ؟ فقال : « أخْبرني ربِّي أنِّي سَأرَى علاَمَةً فِي أُمَّتي فَإِذَا رأيْتُها أكْثَرْتُ مِن قَوْلِ : سُبْحانَ اللَّهِ وبحَمْدِهِ ، أسْتَغْفِرُ اللَّه وَأتُوبُ إلَيْهِ : فَقَدْ رَأَيْتُها: {إذَا جَاءَ نَصْرُ اللِّهِ والْفَتْحُ } فَتْحُ مَكَّةَ ، { ورأيْتَ النَّاس يدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أفْوَاجًا ، فَسبحْ بحمْدِ ربِّكَ واسْتَغفِرْهُ إنَّهُ كانَ توَّاباً } .
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: "Setelah Allah menurunkan firman-Nya: 'Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan' (QS. An-Nashr: 1), setiap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat, beliau selalu membaca: 'Subhanaka Allahumma Rabbana wa bihamdika, Allahummaghfirli' (Mahasuci Engkau, ya Allah Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku)." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Terdapat riwayat dalam Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim) dari Aisyah: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam banyak membaca dalam ruku' dan sujudnya: 'Subhanaka Allahumma Rabbana wa bihamdika, Allahummaghfirli' (Mahasuci Engkau, ya Allah Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku)." Beliau mengamalkan Al-Qur'an.
"Yata'awwalul Qur'an" artinya: Beliau mengamalkan apa yang diperintahkan dalam Al-Qur'an, yaitu firman-Nya: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya." (QS. An-Nashr: 3).
Terdapat riwayat dari Muslim: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebelum wafat banyak membaca: 'Subhanaka Allahumma wa bihamdika, astaghfiruka wa atubu ilaik
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa Rasulullah SAW meningkatkan doa dan permohonan ampunan (istighfar) justru di puncak kemenangan, yaitu setelah turunnya surah An-Nashr. Ini menjadi teladan penting bahwa semakin dekat dengan kesuksesan dan akhir kehidupan, seorang muslim harus semakin banyak bersyukur, bertasbih, dan memohon ampun kepada Allah, bukan menjadi lalai atau sombong.
Terdapat riwayat dalam Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim) dari Aisyah: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam banyak membaca dalam ruku' dan sujudnya: 'Subhanaka Allahumma Rabbana wa bihamdika, Allahummaghfirli' (Mahasuci Engkau, ya Allah Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku)." Beliau mengamalkan Al-Qur'an.
"Yata'awwalul Qur'an" artinya: Beliau mengamalkan apa yang diperintahkan dalam Al-Qur'an, yaitu firman-Nya: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya." (QS. An-Nashr: 3).
Terdapat riwayat dari Muslim: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebelum wafat banyak membaca: 'Subhanaka Allahumma wa bihamdika, astaghfiruka wa atubu ilaik
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa Rasulullah SAW meningkatkan doa dan permohonan ampunan (istighfar) justru di puncak kemenangan, yaitu setelah turunnya surah An-Nashr. Ini menjadi teladan penting bahwa semakin dekat dengan kesuksesan dan akhir kehidupan, seorang muslim harus semakin banyak bersyukur, bertasbih, dan memohon ampun kepada Allah, bukan menjadi lalai atau sombong.
# 5
الرابع : عن أنسٍ رضي اللَّهُ عنه قال : إنَّ اللَّه عزَّ وجلَّ تَابعَ الوحْيَ على رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَبْلَ وَفَاتِهِ ، حتَّى تُوُفِّى أكْثَرَ مَا كَانَ الْوَحْيُ . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Keempat: Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla terus-menerus menurunkan wahyu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hingga hari beliau wafat, dan wahyu paling banyak turun pada hari beliau wafat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa wahyu Al-Qur'an adalah petunjuk sempurna dan final dari Allah, yang turun hingga detik-detik akhir kehidupan Rasulullah. Ini menunjukkan kesempurnaan agama Islam dan bahwa syariatnya telah lengkap. Hikmahnya, umat Islam tidak perlu mencari sumber hukum lain, karena seluruh pedoman hidup telah tercakup dalam wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa wahyu Al-Qur'an adalah petunjuk sempurna dan final dari Allah, yang turun hingga detik-detik akhir kehidupan Rasulullah. Ini menunjukkan kesempurnaan agama Islam dan bahwa syariatnya telah lengkap. Hikmahnya, umat Islam tidak perlu mencari sumber hukum lain, karena seluruh pedoman hidup telah tercakup dalam wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.
# 6
الخامس : عن جابر رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « يُبْعثُ كُلُّ عبْدٍ على ما مَاتَ علَيْهِ » رواه مسلم .
Terjemahan
Kelima: Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Setiap orang akan dibangkitkan sesuai dengan kondisinya saat meninggal dunia.' (HR. Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan pentingnya menjaga kualitas iman dan amal hingga akhir hayat. Keadaan seseorang saat meninggal dunia akan menentukan keadaannya di akhirat. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berusaha dalam ketaatan dan memohon kepada Allah agar diberi keteguhan (husnul khatimah) dalam keadaan beriman.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan pentingnya menjaga kualitas iman dan amal hingga akhir hayat. Keadaan seseorang saat meninggal dunia akan menentukan keadaannya di akhirat. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berusaha dalam ketaatan dan memohon kepada Allah agar diberi keteguhan (husnul khatimah) dalam keadaan beriman.