Kitab 1 · Bab 13
Penjelasan tentang berbagai jalan kebaikan.
✦ 29 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى : ﴿ وما تفعلوا من خير فإن اللَّه به عليم ﴾ .سورة البقرة(215)
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: 'Dan kebaikan apa pun yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.' (QS. Al-Baqarah: 215)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui setiap kebaikan, sekecil apa pun dan bagaimanapun bentuknya. Pelajaran utamanya adalah motivasi untuk ikhlas dan konsisten dalam berbuat baik, karena tidak ada amal yang sia-sia di sisi-Nya. Hikmahnya, kita terdorong untuk selalu berbuat baik tanpa perlu dilihat manusia, serta merasa tenang karena semua kebaikan pasti dicatat dan akan dibalas oleh Allah.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui setiap kebaikan, sekecil apa pun dan bagaimanapun bentuknya. Pelajaran utamanya adalah motivasi untuk ikhlas dan konsisten dalam berbuat baik, karena tidak ada amal yang sia-sia di sisi-Nya. Hikmahnya, kita terdorong untuk selalu berbuat baik tanpa perlu dilihat manusia, serta merasa tenang karena semua kebaikan pasti dicatat dan akan dibalas oleh Allah.
# 2
وقال تعالى : ﴿ وما تفعلوا من خير يعلمه اللَّه ﴾ .سورة البقرة(197)
Terjemahan
Allah berfirman: "Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya." (Al-Baqarah: 197)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui setiap kebaikan, sekecil apa pun dan meski tersembunyi. Pelajaran utamanya adalah untuk ikhlas dalam beramal, karena semua perbuatan baik dicatat dan akan mendapat balasan. Ini juga mendorong kita untuk terus bersemangat dalam kebaikan, tanpa merasa sia-sia atau perlu pamer.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui setiap kebaikan, sekecil apa pun dan meski tersembunyi. Pelajaran utamanya adalah untuk ikhlas dalam beramal, karena semua perbuatan baik dicatat dan akan mendapat balasan. Ini juga mendorong kita untuk terus bersemangat dalam kebaikan, tanpa merasa sia-sia atau perlu pamer.
# 3
وقال تعالى : ﴿ فمن يعمل مثقال ذرة خيراً يره ﴾ .سورة الزلزلة(7)
Terjemahan
Allah berfirman: "Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat biji sawi, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (Az-Zalzalah: 7).
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan keadilan dan ketelitian perhitungan Allah di akhirat. Kebaikan sekecil apapun, meski hanya seberat zarrah (biji sawi), tidak akan sia-sia dan pasti akan diberi balasan. Pelajaran utamanya adalah motivasi untuk terus berbuat baik, sekecil apapun, dan peringatan agar tidak meremehkan suatu kebaikan.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan keadilan dan ketelitian perhitungan Allah di akhirat. Kebaikan sekecil apapun, meski hanya seberat zarrah (biji sawi), tidak akan sia-sia dan pasti akan diberi balasan. Pelajaran utamanya adalah motivasi untuk terus berbuat baik, sekecil apapun, dan peringatan agar tidak meremehkan suatu kebaikan.
# 4
وقال تعالى : ﴿ من عمل صالحاً فلنفسه ﴾ .سورة الجاثية(15)
Terjemahan
Allah berfirman: "Barangsiapa mengerjakan kebajikan, maka itu adalah untuk dirinya sendiri." (Al-Jatsiyah: 15)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan prinsip keadilan dan kemandirian amal dalam Islam. Setiap kebaikan yang dikerjakan seorang hamba sebenarnya kembali untuk kebaikan dan keselamatan dirinya sendiri di dunia dan akhirat. Ini mengandung motivasi untuk berbuat ihsan sekaligus peringatan bahwa manusia tidak dapat memindahkan pahala amal shalehnya kepada orang lain. Dengan demikian, ayat ini mendorong setiap individu untuk bertanggung jawab atas perbuatannya dan bersegera dalam beramal.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan prinsip keadilan dan kemandirian amal dalam Islam. Setiap kebaikan yang dikerjakan seorang hamba sebenarnya kembali untuk kebaikan dan keselamatan dirinya sendiri di dunia dan akhirat. Ini mengandung motivasi untuk berbuat ihsan sekaligus peringatan bahwa manusia tidak dapat memindahkan pahala amal shalehnya kepada orang lain. Dengan demikian, ayat ini mendorong setiap individu untuk bertanggung jawab atas perbuatannya dan bersegera dalam beramal.
# 5
الأوَّل : عن أَبِي ذرٍّ جُنْدَبِ بنِ جُنَادَةَ رضي اللَّه عنه قال : قلت يا رسولَ اللَّه، أيُّ الأعْمالِ أفْضَلُ ؟ قال : « الإِيمانُ بِاللَّهِ ، وَالجِهَادُ فِي سَبِيلِهِ » . قُلْتُ : أيُّ الرِّقَابِ أفْضَلُ ؟ قال : « أنْفَسُهَا عِنْد أهْلِهَا ، وأكثَرُهَا ثَمَناً » . قُلْتُ : فَإِنْ لَمْ أفْعلْ ؟ قال : « تُعينُ صَانِعاً أوْ تَصْنَعُ لأخْرَقَ » قُلْتُ : يا رسول اللَّه أرَأيتَ إنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ الْعملِ ؟ قال : « تَكُفُّ شَرَّكَ عَن النَّاسِ فَإِنَّها صدقةٌ مِنْكَ على نَفسِكَ » . متفقٌ عليه .
« الصانِعُ » بالصَّاد المهملة هذا هو المشهور ، ورُوِى « ضَائعاً » بالمعجمة : أيْ ذَا ضياع مِنْ فقْرِ أوْ عِيالٍ ، ونْحو ذلكَ « والأخْرَقُ » : الَّذي لا يُتقنُ ما يُحاوِلُ فِعْلهُ
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini menjelaskan tentang amalan-amalan utama yang mendekatkan diri kepada Allah, dimulai dari iman dan jihad. Kemudian, jika tidak mampu, dianjurkan untuk memerdekakan budak yang terbaik. Jika itu pun tidak mampu, maka diperintahkan untuk membantu orang miskin atau pekerja yang tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya. Dan jika masih lemah, maka menahan diri dari berbuat buruk kepada orang lain juga merupakan sedekah.
Pertama: Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Beriman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya." Aku bertanya lagi, "Budak apakah yang paling utama untuk dimerdekakan?" Beliau menjawab, "Budak yang paling baik di sisi tuannya dan paling mahal harganya." Aku berkata, "Bagaimana jika aku tidak mampu melakukannya?" Beliau menjawab, "Kamu menolong orang miskin atau pekerja yang tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu (apa yang harus aku lakukan) jika aku lemah tidak mampu melakukan apa-apa?" Beliau menjawab, "Kamu menahan perbuatan burukmu dari manusia, karena itu adalah sedekahmu atas dirimu sendiri." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tangga amal utama sesuai kemampuan. Puncaknya adalah iman dan jihad. Bila tak mampu, beralih ke memerdekakan budak, lalu membantu sesama dalam pekerjaan. Pelajaran terpenting: jika lemah untuk berbuat baik, maka menahan diri dari menyakiti orang lain pun sudah menjadi sedekah yang sangat berharga bagi diri sendiri.
Hadits ini menjelaskan tentang amalan-amalan utama yang mendekatkan diri kepada Allah, dimulai dari iman dan jihad. Kemudian, jika tidak mampu, dianjurkan untuk memerdekakan budak yang terbaik. Jika itu pun tidak mampu, maka diperintahkan untuk membantu orang miskin atau pekerja yang tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya. Dan jika masih lemah, maka menahan diri dari berbuat buruk kepada orang lain juga merupakan sedekah.
Pertama: Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Beriman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya." Aku bertanya lagi, "Budak apakah yang paling utama untuk dimerdekakan?" Beliau menjawab, "Budak yang paling baik di sisi tuannya dan paling mahal harganya." Aku berkata, "Bagaimana jika aku tidak mampu melakukannya?" Beliau menjawab, "Kamu menolong orang miskin atau pekerja yang tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu (apa yang harus aku lakukan) jika aku lemah tidak mampu melakukan apa-apa?" Beliau menjawab, "Kamu menahan perbuatan burukmu dari manusia, karena itu adalah sedekahmu atas dirimu sendiri." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tangga amal utama sesuai kemampuan. Puncaknya adalah iman dan jihad. Bila tak mampu, beralih ke memerdekakan budak, lalu membantu sesama dalam pekerjaan. Pelajaran terpenting: jika lemah untuk berbuat baik, maka menahan diri dari menyakiti orang lain pun sudah menjadi sedekah yang sangat berharga bagi diri sendiri.
# 6
الثاني : عن أَبِي ذرٍّ رضي اللَّه عنه أيضاً أنَّ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : يُصْبِحُ على كلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صدقَةٌ ، فَكُلٌ تَسبِيْحةٍ صَدقةٌ ، وكُلُّ تحْمِيدَةٍ صدقَةٌ ، وكُلُّ تهْلِيلَةٍ صَدَقةٌ ، وكلُّ تَكْبِيرةٍ صَدَقَةٌ ، وأمْرٌ بالمعْرُوفِ صدقَةٌ ، ونَهْيٌ عَنِ المُنْكَرِ صدقَةٌ . ويُجْزِئُ مِنْ ذَلكَ رَكعَتَانِ يرْكَعُهُما مِنَ الضُّحى » رواه مسلم . « السُّلاَمَى » بضم السين المهملة وتخفيف اللام وفتح الميم : المفْصِلُ .
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini menekankan bahwa sedekah tidak hanya berupa harta. Setiap sendi manusia diwajibkan bersedekah setiap pagi. Bacaan-bacaan dzikir seperti Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir adalah sedekah. Begitu pula amar ma'ruf nahi munkar. Dua rakaat shalat Dhuha juga dapat menyamai pahala sedekah-sedekah tersebut.
Kedua: Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap pagi, setiap sendi dari kalian wajib bersedekah. Setiap tasbih (mengucapkan Subhanallah) adalah sedekah. Setiap tahmid (mengucapkan Alhamdulillah) adalah sedekah. Setiap tahlil (mengucapkan La ilaha illallah) adalah sedekah. Setiap takbir (mengucapkan Allahu Akbar) adalah sedekah. Menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah. Mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat shalat Dhuha (shalat saat matahari telah naik setinggi tombak) dapat menyamai semua itu." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa sedekah memiliki makna yang sangat luas, tidak terbatas pada harta benda. Setiap bacaan dzikir seperti tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir bernilai sedekah. Demikian pula amar ma'ruf nahi munkar. Intinya, setiap muslim dapat memenuhi kewajiban sedekah hariannya melalui amalan-amalan ringan yang membawa kebaikan, dengan shalat Dhuha sebagai penyempurna.
Hadits ini menekankan bahwa sedekah tidak hanya berupa harta. Setiap sendi manusia diwajibkan bersedekah setiap pagi. Bacaan-bacaan dzikir seperti Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir adalah sedekah. Begitu pula amar ma'ruf nahi munkar. Dua rakaat shalat Dhuha juga dapat menyamai pahala sedekah-sedekah tersebut.
Kedua: Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap pagi, setiap sendi dari kalian wajib bersedekah. Setiap tasbih (mengucapkan Subhanallah) adalah sedekah. Setiap tahmid (mengucapkan Alhamdulillah) adalah sedekah. Setiap tahlil (mengucapkan La ilaha illallah) adalah sedekah. Setiap takbir (mengucapkan Allahu Akbar) adalah sedekah. Menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah. Mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat shalat Dhuha (shalat saat matahari telah naik setinggi tombak) dapat menyamai semua itu." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa sedekah memiliki makna yang sangat luas, tidak terbatas pada harta benda. Setiap bacaan dzikir seperti tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir bernilai sedekah. Demikian pula amar ma'ruf nahi munkar. Intinya, setiap muslim dapat memenuhi kewajiban sedekah hariannya melalui amalan-amalan ringan yang membawa kebaikan, dengan shalat Dhuha sebagai penyempurna.
# 7
الثَّالثُ عنْهُ قال : قال النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « عُرِضَتْ عَلَيَّ أعْمالُ أُمَّتي حسَنُهَا وسيِّئُهَا فوجَدْتُ في مَحاسِنِ أعْمالِهَا الأذَى يُماطُ عن الطَّرِيقِ ، وَوجَدْتُ في مَساوَىءِ أعْمالِها النُّخَاعَةُ تَكُونُ فِي المَسْجِدِ لاَ تُدْفَنُ » رواه مسلم .
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini menunjukkan bahwa amal kebaikan itu sangat luas, termasuk hal-hal yang dianggap sepele seperti menyingkirkan gangguan dari jalan. Sebaliknya, perbuatan buruk juga mencakup hal yang mungkin dianggap kecil, seperti meludah di masjid tanpa membersihkannya.
Ketiga: Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda, "Ditunjukkan kepadaku amal kebaikan dan amal keburukan umatku. Maka aku melihat di antara amal kebaikan mereka adalah menyingkirkan benda yang mengganggu dari jalan. Dan di antara amal keburukan mereka adalah meludah di masjid tanpa menguburnya." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kebaikan mencakup perbuatan sederhana yang bermanfaat bagi orang lain, seperti menyingkirkan gangguan dari jalan. Sebaliknya, kelalaian dalam menjaga kebersihan dan kesucian tempat ibadah, sekecil apapun, termasuk dalam catatan keburukan. Dengan demikian, Islam menekankan kepekaan sosial dan penghormatan terhadap tempat yang mulia.
Hadits ini menunjukkan bahwa amal kebaikan itu sangat luas, termasuk hal-hal yang dianggap sepele seperti menyingkirkan gangguan dari jalan. Sebaliknya, perbuatan buruk juga mencakup hal yang mungkin dianggap kecil, seperti meludah di masjid tanpa membersihkannya.
Ketiga: Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda, "Ditunjukkan kepadaku amal kebaikan dan amal keburukan umatku. Maka aku melihat di antara amal kebaikan mereka adalah menyingkirkan benda yang mengganggu dari jalan. Dan di antara amal keburukan mereka adalah meludah di masjid tanpa menguburnya." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kebaikan mencakup perbuatan sederhana yang bermanfaat bagi orang lain, seperti menyingkirkan gangguan dari jalan. Sebaliknya, kelalaian dalam menjaga kebersihan dan kesucian tempat ibadah, sekecil apapun, termasuk dalam catatan keburukan. Dengan demikian, Islam menekankan kepekaan sosial dan penghormatan terhadap tempat yang mulia.
# 8
الرابع عنه : أنَّ ناساً قالوا : يا رسُولَ اللَّهِ ، ذَهَب أهْلُ الدُّثُور بالأجُورِ ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى ، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ ، وَيَتَصَدَّقُونَ بَفُضُولِ أمْوَالهِمْ قال : «أوَ لَيْس قَدْ جَعَلَ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُونَ بِهِ : إنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدقَةً، وكُلِّ تَكبِيرةٍ صدقة ، وكلِّ تَحْمِيدةٍ صدقةً ، وكلِّ تِهْلِيلَةٍ صَدقَةً ، وأمرٌ بالمعْرُوفِ صدقةٌ ، ونَهْىٌ عنِ المُنْكر صدقةٌ وفي بُضْعِ أحدِكُمْ صدقةٌ » قالوا : يا رسولَ اللَّهِ أيأتي أحدُنَا شَهْوَتَه ، ويكُونُ لَه فيها أجْر ؟، قال : «أرأيْتُمْ لو وضَعهَا في حرامٍ أَكَانَ عليهِ وِزْرٌ ؟ فكذلكَ إذا وضَعهَا في الحلاَلِ كانَ لَهُ أجْرٌ» رواه مسلم .
« الدُّثُورُ » : بالثاءِ المثلثة : الأموالُ ، واحِدُها : دَثْرٌ .
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini menjawab kekhawatiran orang-orang miskin yang merasa tidak bisa bersedekah harta. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa sedekah mencakup dzikir, amar ma'ruf nahi munkar, bahkan hubungan suami-istri yang halal pun bernilai sedekah jika diniatkan untuk menjaga diri dari yang haram.
Keempat: Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sekelompok orang berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala. Mereka shalat seperti kami shalat, mereka puasa seperti kami puasa, dan mereka memiliki kelebihan harta untuk bersedekah, sedangkan kami tidak." Beliau ﷺ bersabda, "Bukankah Allah telah memberikan sesuatu kepada kalian untuk disedekahkan? Sungguh, setiap tasbih adalah sedekah. Setiap takbir adalah sedekah. Setiap tahmid adalah sedekah. Setiap tahlil adalah sedekah. Menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah. Mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan hubungan suami-istri pun merupakan sedekah." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, dia mendapat pahala?" Beliau menjawab, "Bagaimana pendapatmu jika dia memenuhi syahwatnya pada jalan yang haram, bukankah dia berdosa? Maka jika dia melakukannya pada jalan yang halal, dia mendapat pahala." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa sedekah tidak terbatas pada harta benda. Setiap dzikir, amar ma'ruf nahi munkar, dan bahkan hubungan suami-istri yang halal dapat bernilai sedekah jika diniatkan ibadah. Dengan demikian, setiap muslim, kaya atau miskin, memiliki peluang pahala yang sangat luas dan setara.
Hadits ini menjawab kekhawatiran orang-orang miskin yang merasa tidak bisa bersedekah harta. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa sedekah mencakup dzikir, amar ma'ruf nahi munkar, bahkan hubungan suami-istri yang halal pun bernilai sedekah jika diniatkan untuk menjaga diri dari yang haram.
Keempat: Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sekelompok orang berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala. Mereka shalat seperti kami shalat, mereka puasa seperti kami puasa, dan mereka memiliki kelebihan harta untuk bersedekah, sedangkan kami tidak." Beliau ﷺ bersabda, "Bukankah Allah telah memberikan sesuatu kepada kalian untuk disedekahkan? Sungguh, setiap tasbih adalah sedekah. Setiap takbir adalah sedekah. Setiap tahmid adalah sedekah. Setiap tahlil adalah sedekah. Menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah. Mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan hubungan suami-istri pun merupakan sedekah." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, dia mendapat pahala?" Beliau menjawab, "Bagaimana pendapatmu jika dia memenuhi syahwatnya pada jalan yang haram, bukankah dia berdosa? Maka jika dia melakukannya pada jalan yang halal, dia mendapat pahala." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa sedekah tidak terbatas pada harta benda. Setiap dzikir, amar ma'ruf nahi munkar, dan bahkan hubungan suami-istri yang halal dapat bernilai sedekah jika diniatkan ibadah. Dengan demikian, setiap muslim, kaya atau miskin, memiliki peluang pahala yang sangat luas dan setara.
# 9
الخامس : عنه قال : قال لي النبيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم : «لاَ تَحقِرنَّ مِن المعْرُوفِ شَيْئاً ولَوْ أنْ تلْقَى أخَاكَ بِوجهٍ طلِيقٍ » رواه مسلم .
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini mengajarkan untuk tidak meremehkan kebaikan sekecil apapun, karena senyum kepada saudara sesama muslim pun merupakan suatu kebaikan.
Kelima: Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda kepadaku, "Janganlah kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya dengan tersenyum ketika bertemu saudaramu." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan bahwa semua bentuk kebaikan, sekecil apa pun, memiliki nilai yang agung di sisi Allah. Perintah untuk tidak meremehkannya, bahkan hingga level senyuman tulus kepada sesama muslim, menunjukkan bahwa pintu berbuat baik itu sangat luas dan mudah dijangkau setiap orang. Dengan demikian, hadis ini mendorong umat untuk selalu aktif dalam menyebarkan kebaikan dan kehangatan dalam interaksi sosial sehari-hari.
Hadits ini mengajarkan untuk tidak meremehkan kebaikan sekecil apapun, karena senyum kepada saudara sesama muslim pun merupakan suatu kebaikan.
Kelima: Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda kepadaku, "Janganlah kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya dengan tersenyum ketika bertemu saudaramu." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan bahwa semua bentuk kebaikan, sekecil apa pun, memiliki nilai yang agung di sisi Allah. Perintah untuk tidak meremehkannya, bahkan hingga level senyuman tulus kepada sesama muslim, menunjukkan bahwa pintu berbuat baik itu sangat luas dan mudah dijangkau setiap orang. Dengan demikian, hadis ini mendorong umat untuk selalu aktif dalam menyebarkan kebaikan dan kehangatan dalam interaksi sosial sehari-hari.
# 10
السادس : عن أَبِي هريرة رضي اللَّه عنه قال : قال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ علَيْهِ صدَقةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فيه الشَّمْسُ : تعدِلُ بيْن الاثْنَيْنِ صدَقَةٌ ، وتُعِينُ الرَّجُلَ في دابَّتِهِ ، فَتحْمِلُهُ عَلَيْهَا ، أوْ ترْفَعُ لَهُ علَيْهَا متَاعَهُ صدقةٌ ، والكلمةُ الطَّيِّبةُ صدَقةٌ، وبِكُلِّ خَطْوَةٍ تمْشِيها إلى الصَّلاَةِ صدقَةٌ ، وَتُميطُ الأذَى عَن الطرِيق صَدَقةٌ » متفق عليه .
ورواه مسلم أيضاً من رواية عائشة رضي اللَّه عنها قالت : قال رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « إنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إنْسانٍ مِنْ بني آدم علَى سِتِّينَ وثلاثمائَةِ مَفْصِلٍ ، فَمنْ كَبَّر اللَّه ، وحمِدَ اللَّه ، وَهَلَّلَ اللَّه ، وسبَّحَ اللَّه واستَغْفَر اللَّه ، وعَزلَ حَجراً عنْ طَرِيقِ النَّاسِ أوْ شَوْكَةً أوْ عظْماً عن طَرِيقِ النَّاسِ ، أوْ أمر بمعرُوفٍ أوْ نهى عنْ مُنْكَرٍ ، عَددَ السِّتِّينَ والثَّلاَثمائة ، فَإِنَّهُ يُمْسي يَوْمئِذٍ وَقَد زَحزحَ نفْسَهُ عنِ النَّارِ » .
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini memperluas makna sedekah. Setiap sendi manusia harus bersedekah setiap hari. Kebaikan seperti mendamaikan orang, membantu orang naik kendaraan, berkata baik, langkah menuju shalat, dan menyingkirkan gangguan dari jalan, semuanya adalah bentuk sedekah. Kemudian dijelaskan bahwa manusia diciptakan dengan 360 sendi, dan setiap dzikir serta perbuatan baik yang disebutkan dapat membersihkan sendi-sendi tersebut dari dosa.
Keenam: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap sendi manusia harus bersedekah (shadaqah) setiap hari. Mendamaikan dua orang dengan adil adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke kendaraannya atau mengangkat barangnya ke atas kendaraan adalah sedekah. Perkataan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang kamu ayunkan menuju shalat adalah sedekah. Dan menyingkirkan benda yang dapat membahayakan dari jalan adalah sedekah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Muslim meriwayatkan hadits ini dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya manusia keturunan Adam diciptakan dengan 360 sendi. Maka barangsiapa bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar), bertahmid (Alhamdulillah), bertahlil (La ilaha illallah), bertasbih (Subhanallah), dan beristighfar (Astaghfirullah), menyingkirkan batu dari jalan yang dilalui manusia, menyuruh kepada kebaikan, atau mencegah dari kemungkaran, sebanyak 360 kali, maka pada hari itu dia telah menjauhkan dirinya dari neraka."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa sedekah tidak terbatas pada harta. Setiap kebaikan adalah sedekah yang dapat membersihkan dosa. Membantu, mendamaikan, berkata baik, beribadah, hingga menyingkirkan rintangan di jalan adalah bentuk sedekah harian yang mudah dilakukan. Dengan ini, setiap sendi tubuh kita dapat terlindungi melalui amal kebaikan.
Hadits ini memperluas makna sedekah. Setiap sendi manusia harus bersedekah setiap hari. Kebaikan seperti mendamaikan orang, membantu orang naik kendaraan, berkata baik, langkah menuju shalat, dan menyingkirkan gangguan dari jalan, semuanya adalah bentuk sedekah. Kemudian dijelaskan bahwa manusia diciptakan dengan 360 sendi, dan setiap dzikir serta perbuatan baik yang disebutkan dapat membersihkan sendi-sendi tersebut dari dosa.
Keenam: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap sendi manusia harus bersedekah (shadaqah) setiap hari. Mendamaikan dua orang dengan adil adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke kendaraannya atau mengangkat barangnya ke atas kendaraan adalah sedekah. Perkataan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang kamu ayunkan menuju shalat adalah sedekah. Dan menyingkirkan benda yang dapat membahayakan dari jalan adalah sedekah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Muslim meriwayatkan hadits ini dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya manusia keturunan Adam diciptakan dengan 360 sendi. Maka barangsiapa bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar), bertahmid (Alhamdulillah), bertahlil (La ilaha illallah), bertasbih (Subhanallah), dan beristighfar (Astaghfirullah), menyingkirkan batu dari jalan yang dilalui manusia, menyuruh kepada kebaikan, atau mencegah dari kemungkaran, sebanyak 360 kali, maka pada hari itu dia telah menjauhkan dirinya dari neraka."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa sedekah tidak terbatas pada harta. Setiap kebaikan adalah sedekah yang dapat membersihkan dosa. Membantu, mendamaikan, berkata baik, beribadah, hingga menyingkirkan rintangan di jalan adalah bentuk sedekah harian yang mudah dilakukan. Dengan ini, setiap sendi tubuh kita dapat terlindungi melalui amal kebaikan.
# 11
السابع : عنه عن النَبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « منْ غدَا إلى المَسْجِدِ أو رَاحَ ، أعدَّ اللَّهُ لَهُ في الجنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدا أوْ رَاحَ » متفقٌ عليه .
« النُّزُل » : القُوتُ والرِّزْقُ ومَا يُهَيَّأ للضَّيفِ .
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini menjelaskan keutamaan berjalan menuju masjid untuk shalat berjamaah, baik di pagi maupun sore hari. Allah akan menyediakan tempat di surga setiap kali seorang muslim melakukan perjalanan tersebut.
Ketujuh: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa pergi ke masjid (untuk shalat) pada waktu pagi atau sore, Allah akan menyediakan tempat baginya di surga setiap kali dia pergi pada waktu pagi atau sore." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan kemurahan Allah bagi orang yang setia berjalan menuju masjid untuk shalat berjamaah, baik di waktu pagi (shubuh) maupun sore (ashar dan maghrib). Setiap langkah kaki yang dilakukannya diganjar dengan penyediaan tempat khusus di surga. Ini menunjukkan betapa Allah menghargai dan memuliakan ikhtiar hamba-Nya dalam memakmurkan rumah-Nya.
Hadits ini menjelaskan keutamaan berjalan menuju masjid untuk shalat berjamaah, baik di pagi maupun sore hari. Allah akan menyediakan tempat di surga setiap kali seorang muslim melakukan perjalanan tersebut.
Ketujuh: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa pergi ke masjid (untuk shalat) pada waktu pagi atau sore, Allah akan menyediakan tempat baginya di surga setiap kali dia pergi pada waktu pagi atau sore." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan kemurahan Allah bagi orang yang setia berjalan menuju masjid untuk shalat berjamaah, baik di waktu pagi (shubuh) maupun sore (ashar dan maghrib). Setiap langkah kaki yang dilakukannya diganjar dengan penyediaan tempat khusus di surga. Ini menunjukkan betapa Allah menghargai dan memuliakan ikhtiar hamba-Nya dalam memakmurkan rumah-Nya.
# 12
- الثامن : عنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « يا نِسَاء المُسْلِماتِ لاَ تَحْقِرنَّ جارَةٌ لِجارتِهَا ولَوْ فِرْسِنَ شاةٍ » متفقٌ عليه .
قال الجوهري : الفِرْسِنُ مِنَ الْبعِيرِ : كالحافِرِ مِنَ الدَّابَّةِ ، قال : ورُبَّمَا اسْتُعِير في الشَّاةِ
Terjemahan
Kedelapan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai wanita-wanita muslimah, janganlah sekali-kali seorang tetangga meremehkan (hadiah untuk) tetangganya, meskipun hanya (sepotong) kikil kambing." (Muttafaqun 'alaih).
Al-Jauhari berkata: "Al-Firsin" pada unta seperti "kuku" pada hewan ternak. Dia juga berkata: Kadang kata ini dipinjam untuk (menyebut bagian) kambing.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga, khususnya melalui sikap saling memberi. Larangan meremehkan pemberian sekecil apa pun, seperti sepotong kikil kambing, mengajarkan bahwa nilai sebuah pemberian terletak pada keikhlasan dan simbol kepedulian, bukan pada materi. Esensinya adalah membangun keharmonisan sosial dan mencegah kesombongan, di mana sekecil apa pun bentuk perhatian sangat berarti dalam mempererat tali persaudaraan.
Al-Jauhari berkata: "Al-Firsin" pada unta seperti "kuku" pada hewan ternak. Dia juga berkata: Kadang kata ini dipinjam untuk (menyebut bagian) kambing.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga, khususnya melalui sikap saling memberi. Larangan meremehkan pemberian sekecil apa pun, seperti sepotong kikil kambing, mengajarkan bahwa nilai sebuah pemberian terletak pada keikhlasan dan simbol kepedulian, bukan pada materi. Esensinya adalah membangun keharmonisan sosial dan mencegah kesombongan, di mana sekecil apa pun bentuk perhatian sangat berarti dalam mempererat tali persaudaraan.
# 13
- التاسع : عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسبْعُونَ ، أوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شَعْبَةً : فَأفْضلُهَا قوْلُ لاَ إلَهَ إلاَّ اللَّهُ ، وَأدْنَاهَا إمَاطَةُ الأذَى عنِ الطَّرِيقِ ، وَالحيَاءُ شُعْبةٌ مِنَ الإِيمانِ » متفقٌ عليه .
« البضْعُ » من ثلاثة إلى تسعةٍ ، بكسر الباءِ وقد تفْتَحُ . « والشُّعْبةُ » : القطْعة .
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini menjelaskan bahwa iman memiliki banyak cabang (lebih dari 70). Cabang yang tertinggi adalah mengucapkan kalimat tauhid (Laa ilaha illallah), sedangkan cabang yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu juga merupakan bagian dari iman.
Kesembilan (125): Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda, "Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan Laa ilaha illallah (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang iman." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan bahwa iman bukanlah konsep tunggal, melainkan memiliki puluhan cabang amal yang beragam. Ini menunjukkan keluasan rahmat Allah, di mana kesempurnaan iman mencakup keyakinan hati (seperti syahadat), akhlak (seperti rasa malu), hingga perbuatan fisik yang ringan sekalipun (seperti menyingkirkan duri dari jalan). Dengan demikian, setiap muslim dapat berpartisipasi dalam membangun imannya dari level mana pun sesuai kemampuannya.
Hadits ini menjelaskan bahwa iman memiliki banyak cabang (lebih dari 70). Cabang yang tertinggi adalah mengucapkan kalimat tauhid (Laa ilaha illallah), sedangkan cabang yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu juga merupakan bagian dari iman.
Kesembilan (125): Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda, "Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan Laa ilaha illallah (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang iman." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan bahwa iman bukanlah konsep tunggal, melainkan memiliki puluhan cabang amal yang beragam. Ini menunjukkan keluasan rahmat Allah, di mana kesempurnaan iman mencakup keyakinan hati (seperti syahadat), akhlak (seperti rasa malu), hingga perbuatan fisik yang ringan sekalipun (seperti menyingkirkan duri dari jalan). Dengan demikian, setiap muslim dapat berpartisipasi dalam membangun imannya dari level mana pun sesuai kemampuannya.
# 14
العاشر : عنه أن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: « بَيْنمَا رَجُلٌ يَمْشِي بطَريقٍ اشْتَدَّ علَيْهِ الْعَطشُ ، فَوجد بِئراً فَنزَلَ فيها فَشَربَ ، ثُمَّ خرج فإِذا كلْبٌ يلهثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ ، فقال الرَّجُلُ : لَقَدْ بلَغَ هَذَا الْكَلْبُ مِنَ العطشِ مِثْلَ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي ، فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَملأَ خُفَّه مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَه بِفيهِ ، حتَّى رقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَه فَغَفَرَ لَه. قَالُوا: يا رسولَ اللَّه إِنَّ لَنَا في الْبَهَائِم أَجْراً ؟ فَقَالَ: « في كُلِّ كَبِدٍ رَطْبةٍ أَجْرٌ » متفقٌ عليه .
وفي رواية للبخاري : « فَشَكَر اللَّه لهُ فَغَفَرَ لَه ، فَأدْخَلَه الْجنَّةَ » .
وفي رواية لَهُما : « بَيْنَما كَلْبٌ يُطيف بِركِيَّةٍ قَدْ كَادَ يقْتُلُه الْعطَشُ إِذْ رأتْه بغِيٌّ مِنْ بَغَايا بَنِي إِسْرَائيلَ ، فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فاسْتَقت لَهُ بِهِ ، فَسَقَتْهُ فَغُفِر لَهَا بِهِ».
« الْمُوقُ » : الْخُفُّ . « وَيُطِيفُ » : يَدُورُ حَوْلَ « رَكِيَّةٍ » وَهِيَ الْبِئْرُ .
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini menceritakan kisah seorang yang diampuni dosanya hanya karena memberi minum anjing yang kehausan. Ini menunjukkan besarnya pahala berbuat baik kepada semua makhluk hidup, termasuk hewan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa seorang pelacur dari Bani Israil diampuni karena perbuatan serupa.
Kesepuluh: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Seorang laki-laki sedang berjalan, lalu dia sangat kehausan. Kemudian dia menemukan sebuah sumur, lalu turun dan minum dari sumur itu, setelah itu dia keluar. Tiba-tiba dia melihat seekor anjing sedang menjilat-jilat tanah karena kehausan. Laki-laki itu berkata (dalam hatinya), 'Anjing ini kehausan seperti yang aku alami tadi.' Lalu dia turun kembali ke sumur, mengisi sepatu kulitnya dengan air, lalu menggigitnya (untuk membawanya naik) hingga keluar dari sumur, kemudian memberi minum anjing itu. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dari (berbuat baik kepada) hewan ternak?" Beliau menjawab, "Pada setiap makhluk yang memiliki hati yang basah (hewan) terdapat pahala." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam satu riwayat Al-Bukhari: "Maka Allah berterima kasih kepadanya, mengampuninya, dan memasukkannya ke dalam surga."
Dalam satu riwayat Al-Bukhari dan Muslim: "Ketika seekor anjing berputar-putar di sekitar sumur karena kehausan yang hampir mematikannya, tiba-tiba seorang pelacur dari Bani Israil melihatnya. Lalu dia melepas sepatunya, mengambil air, dan memberi minum anjing itu. Maka Allah mengampuninya."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa rahmat Allah sangat luas. Ampunan dan pahala besar dapat diperoleh melalui perbuatan baik yang tulus kepada semua makhluk, bahkan kepada hewan. Kisah ini menekankan keutamaan belas kasih, kepedulian, dan menyadarkan bahwa kebaikan sekecil apa pun, jika dilakukan ikhlas, bernilai di sisi Allah.
Hadits ini menceritakan kisah seorang yang diampuni dosanya hanya karena memberi minum anjing yang kehausan. Ini menunjukkan besarnya pahala berbuat baik kepada semua makhluk hidup, termasuk hewan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa seorang pelacur dari Bani Israil diampuni karena perbuatan serupa.
Kesepuluh: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Seorang laki-laki sedang berjalan, lalu dia sangat kehausan. Kemudian dia menemukan sebuah sumur, lalu turun dan minum dari sumur itu, setelah itu dia keluar. Tiba-tiba dia melihat seekor anjing sedang menjilat-jilat tanah karena kehausan. Laki-laki itu berkata (dalam hatinya), 'Anjing ini kehausan seperti yang aku alami tadi.' Lalu dia turun kembali ke sumur, mengisi sepatu kulitnya dengan air, lalu menggigitnya (untuk membawanya naik) hingga keluar dari sumur, kemudian memberi minum anjing itu. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dari (berbuat baik kepada) hewan ternak?" Beliau menjawab, "Pada setiap makhluk yang memiliki hati yang basah (hewan) terdapat pahala." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam satu riwayat Al-Bukhari: "Maka Allah berterima kasih kepadanya, mengampuninya, dan memasukkannya ke dalam surga."
Dalam satu riwayat Al-Bukhari dan Muslim: "Ketika seekor anjing berputar-putar di sekitar sumur karena kehausan yang hampir mematikannya, tiba-tiba seorang pelacur dari Bani Israil melihatnya. Lalu dia melepas sepatunya, mengambil air, dan memberi minum anjing itu. Maka Allah mengampuninya."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa rahmat Allah sangat luas. Ampunan dan pahala besar dapat diperoleh melalui perbuatan baik yang tulus kepada semua makhluk, bahkan kepada hewan. Kisah ini menekankan keutamaan belas kasih, kepedulian, dan menyadarkan bahwa kebaikan sekecil apa pun, jika dilakukan ikhlas, bernilai di sisi Allah.
# 15
الْحادي عشَرَ : عنْهُ عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « لَقَد رأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِي الْجنَّةِ فِي شَجرةٍ قطَعها مِنْ ظَهْرِ الطَّريقِ كَانَتْ تُؤْذِي الْمُسلِمِينَ » . رواه مسلم .
وفي رواية : « مرَّ رجُلٌ بِغُصْنِ شَجرةٍ عَلَى ظَهْرِ طرِيقٍ فَقَالَ : واللَّهِ لأُنَحِّينَّ هذا عنِ الْمسلِمِينَ لا يُؤْذِيهُمْ ، فأُدْخِلَ الْجَنَّةَ » .
وفي رواية لهما : « بيْنَما رجُلٌ يمْشِي بِطريقٍ وجد غُصْن شَوْكٍ علَى الطَّرِيقِ ، فأخَّرُه فشَكَر اللَّهُ لَهُ ، فغَفر لَهُ » .
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar dari perbuatan baik yang tampak sederhana, yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan kaum muslimin. Perbuatan ini bisa menjadi sebab seseorang masuk surga.
Kesebelas: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda, "Aku melihat seorang laki-laki masuk surga karena dia memotong pohon yang berada di jalan yang mengganggu kaum muslimin." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Ada riwayat lain: "Seorang laki-laki berjalan lalu menemukan dahan pohon di jalan, dia berkata, 'Demi Allah, aku akan memindahkannya agar tidak mengganggu kaum muslimin.' Maka Allah memasukkannya ke dalam surga."
Dalam satu riwayat dari keduanya (Al-Bukhari dan Muslim): "Ketika seorang laki-laki berjalan di suatu jalan, dia menemukan dahan pohon berduri, lalu dia memindahkannya. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa amal kebaikan sekecil apapun, jika diniatkan ikhlas untuk membantu sesama, memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Menyingkirkan gangguan dari jalan umum, meski terlihat remeh, dapat menjadi sebab diampuninya dosa dan dimasukkan ke dalam surga. Ini mendorong kita untuk selalu peka dan aktif berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari.
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar dari perbuatan baik yang tampak sederhana, yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan kaum muslimin. Perbuatan ini bisa menjadi sebab seseorang masuk surga.
Kesebelas: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda, "Aku melihat seorang laki-laki masuk surga karena dia memotong pohon yang berada di jalan yang mengganggu kaum muslimin." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Ada riwayat lain: "Seorang laki-laki berjalan lalu menemukan dahan pohon di jalan, dia berkata, 'Demi Allah, aku akan memindahkannya agar tidak mengganggu kaum muslimin.' Maka Allah memasukkannya ke dalam surga."
Dalam satu riwayat dari keduanya (Al-Bukhari dan Muslim): "Ketika seorang laki-laki berjalan di suatu jalan, dia menemukan dahan pohon berduri, lalu dia memindahkannya. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa amal kebaikan sekecil apapun, jika diniatkan ikhlas untuk membantu sesama, memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Menyingkirkan gangguan dari jalan umum, meski terlihat remeh, dapat menjadi sebab diampuninya dosa dan dimasukkan ke dalam surga. Ini mendorong kita untuk selalu peka dan aktif berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari.
# 16
الثَّاني عشَر : عنْه قالَ : قَال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « منْ توضَّأ فأحَسَنَ الْوُضُوءَ ، ثُمَّ أتَى الْجُمعةَ ، فَاستمع وأنْصتَ ، غُفِر لَهُ ما بيْنَهُ وبيْنَ الْجُمعةِ وزِيادةُ ثَلاثَةِ أيَّامٍ ، ومَنْ مسَّ الْحصا فَقد لَغَا » رواه مسلم .
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini menjelaskan keutamaan shalat Jumat. Siapa yang bersuci dengan baik, menghadiri shalat Jumat, mendengarkan khutbah dengan khusyuk (tidak bermain-main), maka dosa-dosanya di antara Jumat itu dan Jumat berikutnya, plus tiga hari, akan diampuni.
Kedua belas (128): Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa mengambil wudhu dengan baik, kemudian pergi shalat Jumat, lalu diam dan menyimak khutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya antara Jumat itu dan Jumat berikutnya, ditambah tiga hari. Dan barangsiapa yang memainkan kerikil (tidak menyimak khutbah), maka shalat Jumatnya tidak sempurna (tidak mendapat pahala penuh)." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan adab menghadiri shalat Jumat. Kunci meraih ampunan dosa selama sepuluh hari adalah menyempurnakan wudhu, hadir di masjid, serta menyimak khutbah dengan tenang dan khusyuk tanpa gangguan. Sebaliknya, perbuatan sia-sia seperti memainkan kerikil (ḥaṣā) saat khutbah dapat menghapus keutamaan tersebut.
Hadits ini menjelaskan keutamaan shalat Jumat. Siapa yang bersuci dengan baik, menghadiri shalat Jumat, mendengarkan khutbah dengan khusyuk (tidak bermain-main), maka dosa-dosanya di antara Jumat itu dan Jumat berikutnya, plus tiga hari, akan diampuni.
Kedua belas (128): Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa mengambil wudhu dengan baik, kemudian pergi shalat Jumat, lalu diam dan menyimak khutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya antara Jumat itu dan Jumat berikutnya, ditambah tiga hari. Dan barangsiapa yang memainkan kerikil (tidak menyimak khutbah), maka shalat Jumatnya tidak sempurna (tidak mendapat pahala penuh)." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan adab menghadiri shalat Jumat. Kunci meraih ampunan dosa selama sepuluh hari adalah menyempurnakan wudhu, hadir di masjid, serta menyimak khutbah dengan tenang dan khusyuk tanpa gangguan. Sebaliknya, perbuatan sia-sia seperti memainkan kerikil (ḥaṣā) saat khutbah dapat menghapus keutamaan tersebut.
# 17
الثَّالثَ عَشر : عنْه أن رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إذَا تَوضَّأَ الْعبْدُ الْمُسْلِم ، أو الْمُؤْمِنُ فغَسلَ وجْههُ خرج مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خطِيئةٍ نظر إِلَيْهَا بعينهِ مَعَ الْماءِ ، أوْ مَعَ آخِر قَطْرِ الْماءِ ، فَإِذَا غَسَل يديهِ خَرج مِنْ يديْهِ كُلُّ خَطِيْئَةٍ كانَ بطشتْهَا يداهُ مع الْمَاءِ أَو مع آخِرِ قَطْرِ الْماءِ ، فَإِذَا غسلَ رِجليْهِ خَرجَتْ كُلُّ خَطِيْئَةٍ مشَتْها رِجْلاُه مع الْماءِ أَوْ مع آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى يخْرُج نقِياً من الذُّنُوبِ» رواه مسلم
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini menjelaskan hikmah dan keutamaan wudhu. Ketika seorang muslim berwudhu dengan sempurna, dosa-dosa yang terkait dengan anggota wudhu (mata, tangan, kaki) akan berguguran bersama air wudhu, sehingga dia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa tersebut.
Ketiga belas (129): Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu, lalu dia membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajahnya setiap dosa yang dilihat oleh matanya bersama air atau bersama tetesan air terakhir. Apabila dia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari tangannya setiap dosa yang dipegang oleh tangannya bersama air atau bersama tetesan air terakhir. Apabila dia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari kakinya setiap dosa yang dilangkahkan oleh kakinya bersama air atau bersama tetesan air terakhir. Sehingga dia keluar dari wudhunya dalam keadaan bersih dari dosa-dosa." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Wudhu bukan hanya membersihkan kotoran fisik, tetapi juga menyucikan dosa-dosa. Setiap percikan air wudhu yang membasuh anggota tubuh mengikis dosa yang dilakukan oleh anggota tersebut. Dengan demikian, wudhu yang khusyuk dan sempurna dapat mengantarkan seorang muslim kepada keadaan suci lahir dan batin.
Hadits ini menjelaskan hikmah dan keutamaan wudhu. Ketika seorang muslim berwudhu dengan sempurna, dosa-dosa yang terkait dengan anggota wudhu (mata, tangan, kaki) akan berguguran bersama air wudhu, sehingga dia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa tersebut.
Ketiga belas (129): Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu, lalu dia membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajahnya setiap dosa yang dilihat oleh matanya bersama air atau bersama tetesan air terakhir. Apabila dia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari tangannya setiap dosa yang dipegang oleh tangannya bersama air atau bersama tetesan air terakhir. Apabila dia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari kakinya setiap dosa yang dilangkahkan oleh kakinya bersama air atau bersama tetesan air terakhir. Sehingga dia keluar dari wudhunya dalam keadaan bersih dari dosa-dosa." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Wudhu bukan hanya membersihkan kotoran fisik, tetapi juga menyucikan dosa-dosa. Setiap percikan air wudhu yang membasuh anggota tubuh mengikis dosa yang dilakukan oleh anggota tersebut. Dengan demikian, wudhu yang khusyuk dan sempurna dapat mengantarkan seorang muslim kepada keadaan suci lahir dan batin.
# 18
الرَّابعَ عشرَ : عنه عن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « الصَّلواتُ الْخَمْسُ ، والْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعةِ ، ورمضانُ إِلَى رمضانَ مُكفِّرَاتٌ لِمَا بينَهُنَّ إِذَا اجْتنِبَت الْكَبائِرُ » رواه مسلم
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini menjelaskan bahwa shalat lima waktu, shalat Jumat ke Jumat, dan puasa Ramadhan ke Ramadhan dapat menghapus dosa-dosa kecil di antara waktu-waktu tersebut, dengan syarat menjauhi dosa-dosa besar.
Keempat belas: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan dari Ramadhan ke Ramadhan, dapat menghapus dosa-dosa di antara waktu-waktu tersebut, selama dia menjauhi dosa-dosa besar." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ibadah-ibadah pokok seperti shalat lima waktu, shalat Jumat, dan puasa Ramadhan memiliki fungsi sebagai penghapus dosa-dosa kecil yang dilakukan di antara pelaksanaannya. Anugerah pengampunan ini berlaku dengan satu syarat mutlak, yaitu menjauhi dosa-dosa besar. Dengan demikian, hadis ini menegaskan pentingnya konsistensi dalam ibadah rutin sekaligus kewajiban untuk meninggalkan perbuatan maksiat yang besar.
Hadits ini menjelaskan bahwa shalat lima waktu, shalat Jumat ke Jumat, dan puasa Ramadhan ke Ramadhan dapat menghapus dosa-dosa kecil di antara waktu-waktu tersebut, dengan syarat menjauhi dosa-dosa besar.
Keempat belas: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan dari Ramadhan ke Ramadhan, dapat menghapus dosa-dosa di antara waktu-waktu tersebut, selama dia menjauhi dosa-dosa besar." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ibadah-ibadah pokok seperti shalat lima waktu, shalat Jumat, dan puasa Ramadhan memiliki fungsi sebagai penghapus dosa-dosa kecil yang dilakukan di antara pelaksanaannya. Anugerah pengampunan ini berlaku dengan satu syarat mutlak, yaitu menjauhi dosa-dosa besar. Dengan demikian, hadis ini menegaskan pentingnya konsistensi dalam ibadah rutin sekaligus kewajiban untuk meninggalkan perbuatan maksiat yang besar.
# 19
الْخَامسَ عشر: عنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ألا أدلُّكَم على ما يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطايا ، ويرْفَعُ بِهِ الدَّرجاتِ ؟ » قالوا : بلى يا رسُولَ اللَّهِ ، قال : « إسباغ الْوُضوءِ على الْمَكَارِهِ وكَثْرةُ الْخُطَا إِلَى الْمسَاجِدِ ، وانْتِظَارُ الصَّلاةِ بعْدِ الصَّلاةِ ، فَذلِكُمُ الرّبَاطُ » رواه مسلم
Terjemahan
Penjelasan Hadits:
Hadits ini menunjukkan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat, yaitu menyempurnakan wudhu dalam keadaan sulit, banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Semua itu termasuk jihad di jalan Allah.
Kelima belas (131): Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa-dosa kalian dan mengangkat derajat kalian (di surga)?" Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "M
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga amalan sederhana yang berpahala besar: menyempurnakan wudhu meski dalam kondisi tidak nyaman, memperbanyak langkah ke masjid, dan menunggu waktu shalat berikutnya di masjid. Ketiganya digolongkan sebagai bentuk "ribath" (jihad non-perang) yang dapat menghapus dosa dan meninggikan derajat di sisi Allah. Intinya, kesungguhan dalam ibadah ritual dan komitmen untuk menjaga hubungan dengan masjid adalah kunci meraih pengampunan dan kemuliaan.
Hadits ini menunjukkan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat, yaitu menyempurnakan wudhu dalam keadaan sulit, banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Semua itu termasuk jihad di jalan Allah.
Kelima belas (131): Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa-dosa kalian dan mengangkat derajat kalian (di surga)?" Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "M
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga amalan sederhana yang berpahala besar: menyempurnakan wudhu meski dalam kondisi tidak nyaman, memperbanyak langkah ke masjid, dan menunggu waktu shalat berikutnya di masjid. Ketiganya digolongkan sebagai bentuk "ribath" (jihad non-perang) yang dapat menghapus dosa dan meninggikan derajat di sisi Allah. Intinya, kesungguhan dalam ibadah ritual dan komitmen untuk menjaga hubungan dengan masjid adalah kunci meraih pengampunan dan kemuliaan.
# 20
السَّادسَ عشرَ : عن أَبِي موسى الأشعري رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « منْ صلَّى الْبَرْديْنِ دَخَلَ الْجنَّةَ » متفقٌ عليه .
« البرْدَانِ » : الصُّبْحُ والْعَصْرُ .
Terjemahan
Keenam belas: Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi...' (HR. Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pengaruh besar pergaulan terhadap akhlak dan iman seseorang. Teman yang baik ibarat penjual minyak wangi yang memberikan kebaikan, wewangian, dan manfaat. Sebaliknya, teman yang buruk seperti pandai besi yang bisa membakar pakaian atau membuat kita terkena bau asap buruk. Hikmahnya adalah kita harus selektif memilih teman karena mereka akan mempengaruhi karakter dan akhirat kita.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pengaruh besar pergaulan terhadap akhlak dan iman seseorang. Teman yang baik ibarat penjual minyak wangi yang memberikan kebaikan, wewangian, dan manfaat. Sebaliknya, teman yang buruk seperti pandai besi yang bisa membakar pakaian atau membuat kita terkena bau asap buruk. Hikmahnya adalah kita harus selektif memilih teman karena mereka akan mempengaruhi karakter dan akhirat kita.
# 21
السَّابِعَ عشَر : عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِذَا مرِضَ الْعبْدُ أَوْ سافَر كُتِب لَهُ ما كانَ يعْملُ مُقِيماً صحيِحاً » رواه البخاري .
Terjemahan
Ketujuh belas: Darinya (Abu Musa), ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Apabila seorang hamba sakit atau sedang dalam perjalanan, maka dicatat untuknya pahala seperti amal yang biasa ia lakukan ketika sehat dan mukim.' (HR. Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kemurahan dan rahmat Allah yang sangat besar. Seorang muslim yang telah membiasakan diri beramal saleh saat sehat dan di rumah, lalu terhalang karena sakit atau safar, tetap mendapatkan pahala amalan rutinnya. Ini menjadi motivasi untuk istiqamah dalam ketaatan di saat mampu, serta penghibur dan penambah semangat di saat menghadapi uzur.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kemurahan dan rahmat Allah yang sangat besar. Seorang muslim yang telah membiasakan diri beramal saleh saat sehat dan di rumah, lalu terhalang karena sakit atau safar, tetap mendapatkan pahala amalan rutinnya. Ini menjadi motivasi untuk istiqamah dalam ketaatan di saat mampu, serta penghibur dan penambah semangat di saat menghadapi uzur.
# 22
الثَّامنَ عشَرَ : عنْ جابرٍ رضي اللَّه عنه قال : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « كُلُّ معرُوفٍ صدقَةٌ » رواه البخاري ، ورواه مسلم مِن رواية حذَيفَةَ رضي اللَّه عنه .
Terjemahan
Kedelapan belas: Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap perbuatan baik adalah sedekah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, dan Muslim meriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu).
Penjelasan singkat: Hadis ini memperluas makna sedekah dari sekadar pemberian materi. Setiap perbuatan baik (ma'ruf) yang bermanfaat bagi orang lain, baik berupa bantuan fisik, ucapan yang menenangkan, atau senyuman tulus, bernilai ibadah dan pahala seperti sedekah. Ini mendorong umat untuk berlomba dalam kebaikan, karena peluang beramal terbuka luas dalam interaksi sehari-hari. Dengan demikian, hidup seorang muslim dapat menjadi ladang sedekah yang terus berbuah pahala.
Penjelasan singkat: Hadis ini memperluas makna sedekah dari sekadar pemberian materi. Setiap perbuatan baik (ma'ruf) yang bermanfaat bagi orang lain, baik berupa bantuan fisik, ucapan yang menenangkan, atau senyuman tulus, bernilai ibadah dan pahala seperti sedekah. Ini mendorong umat untuk berlomba dalam kebaikan, karena peluang beramal terbuka luas dalam interaksi sehari-hari. Dengan demikian, hidup seorang muslim dapat menjadi ladang sedekah yang terus berbuah pahala.
# 23
التَّاسع عشر : عنْهُ قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ما مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْساً إلاَّ كانَ ما أُكِلَ مِنْهُ لهُ صدقةً ، وما سُرِقَ مِنْه لَه صدقَةً ، ولا يرْزؤه أَحَدٌ إلاَّ كَانَ له صدقةً» رواه مسلم . وفي رواية له : « فَلا يغْرِس الْمُسْلِم غرساً ، فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنسانٌ ولا دابةٌ ولا طَيرٌ إلاَّ كانَ له صدقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامة ».
وفي رواية له : « لا يغْرِس مُسلِم غرْساً ، ولا يزْرعُ زرْعاً ، فيأْكُل مِنْه إِنْسانٌ وَلا دابَّةٌ ولا شَيْءٌ إلاَّ كَانَتْ لَه صدقةً ، ورويَاه جميعاً مِنْ رواية أَنَسٍ رضي اللَّه عنه .
قولُهُ : « يرْزَؤُهُ » أي : يَنْقُصهُ .
Terjemahan
Sembilan belas: Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Ketika seorang muslim menanam suatu pohon, lalu ada yang memakan buahnya, itu adalah sedekah baginya. Apa yang dicuri (dari pohon itu) adalah sedekah baginya. Apa yang dimakan binatang adalah sedekah baginya. Dan apa yang diambil orang dari pohon itu adalah sedekah baginya." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Dalam satu riwayatnya: "Pohon yang ditanam seorang muslim, lalu manusia, hewan ternak, dan burung memakan darinya, maka itu adalah sedekah baginya hingga hari kiamat."
Dalam riwayat lain darinya: "Ketika seorang muslim menanam suatu pohon atau menanam tanaman, lalu manusia, hewan, atau makhluk lain memakan darinya, maka itu adalah sedekah baginya."
Dia (Jabir) meriwayatkan keduanya dari Anas radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan keutamaan menanam pohon atau tanaman. Setiap manfaat yang diambil makhluk dari tanaman yang kita tanam, baik oleh manusia, hewan, atau burung, baik diambil dengan izin maupun dicuri, akan dicatat sebagai sedekah jariyah bagi penanamnya hingga hari kiamat. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah dan mendorong umat Islam untuk berkontribusi pada kebaikan yang berkelanjutan.
Dalam satu riwayatnya: "Pohon yang ditanam seorang muslim, lalu manusia, hewan ternak, dan burung memakan darinya, maka itu adalah sedekah baginya hingga hari kiamat."
Dalam riwayat lain darinya: "Ketika seorang muslim menanam suatu pohon atau menanam tanaman, lalu manusia, hewan, atau makhluk lain memakan darinya, maka itu adalah sedekah baginya."
Dia (Jabir) meriwayatkan keduanya dari Anas radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan keutamaan menanam pohon atau tanaman. Setiap manfaat yang diambil makhluk dari tanaman yang kita tanam, baik oleh manusia, hewan, atau burung, baik diambil dengan izin maupun dicuri, akan dicatat sebagai sedekah jariyah bagi penanamnya hingga hari kiamat. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah dan mendorong umat Islam untuk berkontribusi pada kebaikan yang berkelanjutan.
# 24
العْشْرُونَ : عنْهُ قالَ : أَراد بنُو سَلِمَة أَن ينْتَقِلوا قُرْبَ المَسْجِدِ فبلَغَ ذلك رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَقَالَ لَهُمْ : « إِنَّه قَدْ بَلَغَنِي أَنَّكُمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَنْتَقِلُوا قُربَ الْمَسْجِدِ ؟ » فَقَالُوا : نَعَمْ يا رسولَ اللَّهِ قَدْ أَرَدْنَا ذلكَ ، فَقالَ : « بَنِي سَلِمةَ ديارَكُمْ ، تكْتبْ آثَارُكُمْ ، دِياركُم ، تُكْتَبْ آثارُكُمْ » رواه مسلم .
وفي روايةٍ : « إِنَّ بِكُلِّ خَطْوةٍ درجةً » رواه مسلم . ورواه البخاري أيضاً بِمعنَاهُ مِنْ روايةِ أَنَسٍ رضي اللَّه عنه .
و « بنُو سَلِمَةَ » بكسر اللام : قبيلة معروفة من الأَنصار رضي اللَّه عنهم ، و «آثَارُهُمْ» خُطاهُمْ .
Terjemahan
Kedua puluh: Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, bahwa Bani Salamah ingin pindah tempat tinggal untuk tinggal dekat masjid. Berita itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda kepada mereka: "Aku mendapat kabar bahwa kalian ingin pindah untuk tinggal dekat masjid, benar?" Mereka menjawab: "Benar, wahai Rasulullah, kami memang berkeinginan demikian." Beliau bersabda: "Wahai Bani Salamah, tetaplah di tempat tinggal kalian, langkah-langkah kalian (ke masjid) akan dicatat (pahalanya)." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Dalam satu riwayat: "Setiap langkah yang kalian ayunkan akan dicatat (pahala) satu derajat." Diriwayatkan oleh Muslim. Dan Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu dengan makna yang sama.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan berjalan kaki menuju masjid untuk shalat berjamaah. Rasulullah ﷺ menganjurkan Bani Salamah tetap di rumah mereka yang jauh, karena setiap langkah kaki menuju masjid dicatat sebagai kebaikan dan meninggikan derajat. Hikmahnya, kesulitan dan jarak yang ditempuh justru menjadi peluang pahala, serta mengajarkan kesungguhan dalam menunaikan ibadah.
Dalam satu riwayat: "Setiap langkah yang kalian ayunkan akan dicatat (pahala) satu derajat." Diriwayatkan oleh Muslim. Dan Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu dengan makna yang sama.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan berjalan kaki menuju masjid untuk shalat berjamaah. Rasulullah ﷺ menganjurkan Bani Salamah tetap di rumah mereka yang jauh, karena setiap langkah kaki menuju masjid dicatat sebagai kebaikan dan meninggikan derajat. Hikmahnya, kesulitan dan jarak yang ditempuh justru menjadi peluang pahala, serta mengajarkan kesungguhan dalam menunaikan ibadah.
# 25
الْحَادي والْعِشْرُونَ : عنْ أَبِي الْمُنْذِر أُبيِّ بنِ كَعبٍ رضي اللَّه عنه قال : كَان رجُلٌ لا أَعْلمُ رجُلا أَبْعَدَ مِنَ الْمَسْجِدِ مِنْهُ ، وكَانَ لا تُخْطِئُهُ صلاةٌ فَقِيل لَه ، أَوْ فقُلْتُ لهُ: لَوْ اشْتَريْتَ حِماراً ترْكَبُهُ في الظَّلْماءِ ، وفي الرَّمْضَاءِ فَقَالَ : ما يسُرُّنِي أَن منْزِلِي إِلَى جنْب الْمسْجِدِ ، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ يُكْتَب لِي ممْشَايَ إِلَى الْمَسْجد ، ورُجُوعِي إِذَا رجعْتُ إِلَى أَهْلِي ، فقالَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « قَدْ جمع اللَّهُ لكَ ذلِكَ كُلَّهُ » رواه مسلم .
وفي روايةٍ : « إِنَّ لَكَ مَا احْتسَبْت » . « الرمْضَاءُ » الأَرْضُ الَّتِي أَصَابَهَا الْحرُّ الشَّديدُ.
Terjemahan
Kedua puluh satu: Dari Abu Mantsur 'Ubaidah bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu, bahwa ada seorang laki-laki yang rumahnya paling jauh dari masjid, tidak ada yang lebih jauh darinya, dan dia tidak pernah absen shalat (di masjid). Ada yang berkata kepadanya (dalam satu riwayat: aku berkata kepadanya): "Mengapa engkau tidak membeli seekor keledai untuk kau tunggangi (ke masjid) di malam gelap atau siang yang panas?" Dia menjawab: "Aku tidak ingin rumahku dekat masjid. Aku ingin langkah-langkahku dicatat (pahalanya) saat aku berjalan ke masjid dan saat aku pulang ke keluargaku." Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah telah mengumpulkan semua itu untukmu." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Dalam satu riwayat: "Sungguh engkau telah mendapatkan pahala yang engkau inginkan."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan berjalan kaki menuju masjid untuk shalat berjamaah. Setiap langkah kaki seorang muslim ke masjid dicatat sebagai kebaikan dan mengangkat derajatnya. Semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin besar pahala yang diperoleh. Kisah sahabat ini menunjukkan semangat untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya melalui kesungguhan dalam beribadah.
Dalam satu riwayat: "Sungguh engkau telah mendapatkan pahala yang engkau inginkan."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan berjalan kaki menuju masjid untuk shalat berjamaah. Setiap langkah kaki seorang muslim ke masjid dicatat sebagai kebaikan dan mengangkat derajatnya. Semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin besar pahala yang diperoleh. Kisah sahabat ini menunjukkan semangat untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya melalui kesungguhan dalam beribadah.
# 26
الثَّاني والْعشْرُونَ : عنْ أَبِي محمدٍ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرو بن العاص رضي اللَّه عنهما قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَرْبعُونَ خَصْلةً أَعلاها منِيحةُ الْعَنْزِ، ما مِنْ عامَلٍ يعملَ بِخَصْلَةٍ مِنْها رجاءَ ثَوَابِهَا وتَصْدِيقَ موْعُودِهَا إِلاَّ أَدْخلَهُ اللَّهُ بِهَا الْجنَّةَ » رواه البخارى.
« الْمنِيحةُ » : أَنْ يُعْطِيَهُ إِيَّاهَا ليأْكُل لبنَهَا ثُمَّ يَردَّهَا إِليْهِ .
Terjemahan
Kedua puluh dua: Dari Abu Muhammad 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Ada empat puluh perkara, yang tertinggi adalah meminjamkan kambing (untuk diambil susunya). Tidaklah seorang hamba mengamalkan satu perkara darinya dengan mengharap pahalanya dan membenarkan janjinya, kecuali Allah akan memasukkannya ke surga karenanya." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
"Al-Maniihah" adalah meminjamkan kambingnya agar orang lain meminum susunya, lalu mengembalikannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan amal-amal kebajikan, khususnya saling menolong dalam hal sederhana seperti meminjamkan kambing untuk diambil susunya. Intinya, keikhlasan dalam berbuat baik sekecil apa pun, disertai keyakinan akan janji Allah, dapat menjadi sebab seseorang dimasukkan ke dalam surga. Hadis ini mendorong umat untuk aktif berbuat baik tanpa meremehkan amal sekalipun tampak ringan.
"Al-Maniihah" adalah meminjamkan kambingnya agar orang lain meminum susunya, lalu mengembalikannya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan amal-amal kebajikan, khususnya saling menolong dalam hal sederhana seperti meminjamkan kambing untuk diambil susunya. Intinya, keikhlasan dalam berbuat baik sekecil apa pun, disertai keyakinan akan janji Allah, dapat menjadi sebab seseorang dimasukkan ke dalam surga. Hadis ini mendorong umat untuk aktif berbuat baik tanpa meremehkan amal sekalipun tampak ringan.
# 27
الثَّالثُ والْعشْرونَ : عَنْ عدِيِّ بنِ حاتِمٍ رضي اللَّه عنه قال : سمِعْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « اتَّقُوا النار وَلوْ بِشقِّ تَمْرةٍ » متفقٌ عليه .
وفي رواية لهما عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سيُكَلِّمُه ربُّه لَيْس بَيْنَهُ وبََينَهُ تَرْجُمَان ، فَينْظُرَ أَيْمنَ مِنْهُ فَلا يَرى إِلاَّ مَا قَدَّم ، وينْظُر أشأمَ مِنْهُ فلا يَرَى إلاَّ ما قَدَّمَ ، وَينْظُر بَيْنَ يدَيْهِ فَلا يَرى إلاَّ النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ ، فاتَّقُوا النَّارَ ولوْ بِشِقِّ تَمْرةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجدْ فَبِكَلِمَة طيِّبَةٍ » .
Terjemahan
Kedua puluh tiga: Dari 'Adiy bin Hatim radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Jagalah dirimu dari neraka, walau hanya dengan separuh biji kurma." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat keduanya: Rasulullah ﷺ bersabda: "(Di akhirat) setiap kalian akan diajak bicara oleh Allah tanpa penerjemah. Saat itu dia melihat ke kanan, tidak melihat apa-apa selain amal yang telah dia perbuat. Melihat ke kiri, tidak melihat apa-apa selain amal yang telah dia perbuat. Kemudian melihat ke depan, tidak melihat apa-apa selain amal yang telah dia perbuat. Oleh karena itu, jagalah dirimu dari neraka, walau hanya dengan separuh biji kurma."
Barangsiapa yang tidak memiliki separuh biji kurma (untuk disedekahkan), maka ucapkanlah perkataan yang baik.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua pelajaran utama. Pertama, anjuran untuk bersedekah dan berbuat baik sekecil apa pun, karena itu dapat menjadi perisai dari neraka. Kedua, gambaran tentang hari perhitungan di mana setiap manusia akan bertanggung jawab sendiri atas amalnya di hadapan Allah, tanpa perantara. Ini menanamkan rasa takut (khauf) dan tanggung jawab atas setiap perbuatan.
Dalam riwayat keduanya: Rasulullah ﷺ bersabda: "(Di akhirat) setiap kalian akan diajak bicara oleh Allah tanpa penerjemah. Saat itu dia melihat ke kanan, tidak melihat apa-apa selain amal yang telah dia perbuat. Melihat ke kiri, tidak melihat apa-apa selain amal yang telah dia perbuat. Kemudian melihat ke depan, tidak melihat apa-apa selain amal yang telah dia perbuat. Oleh karena itu, jagalah dirimu dari neraka, walau hanya dengan separuh biji kurma."
Barangsiapa yang tidak memiliki separuh biji kurma (untuk disedekahkan), maka ucapkanlah perkataan yang baik.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua pelajaran utama. Pertama, anjuran untuk bersedekah dan berbuat baik sekecil apa pun, karena itu dapat menjadi perisai dari neraka. Kedua, gambaran tentang hari perhitungan di mana setiap manusia akan bertanggung jawab sendiri atas amalnya di hadapan Allah, tanpa perantara. Ini menanamkan rasa takut (khauf) dan tanggung jawab atas setiap perbuatan.
# 28
الرَّابِعِ والْعشرونَ : عنْ أَنَسٍ رضي اللَّه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِنَّ اللَّه لَيرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فيحْمدَهُ عليْهَا ، أَوْ يشْربَ الشَّرْبَةَ فيحْمدَهُ عليْهَا » رواه مسلم .
« وَالأَكْلَة » بفتح الهمزة : وهي الْغَدوة أَوِ الْعشوة .
Terjemahan
Kedua puluh empat: Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah ridha kepada hamba-Nya yang memakan sesuap makanan lalu memuji-Nya karenanya, atau meminum seteguk minuman lalu memuji-Nya karenanya." Diriwayatkan oleh Muslim.
"Al-Aklah" (dengan fathah hamzah) adalah makan pagi atau makan sore.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa keridhaan Allah dapat diraih melalui syukur dalam hal-hal yang remeh-temeh. Dengan mengucapkan "alhamdulillah" setelah makan atau minum, seorang hamba mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah. Ini menunjukkan bahwa rasa syukur adalah inti ibadah dan mendekatkan diri kepada-Nya, sekalipun atas nikmat yang dianggap kecil.
"Al-Aklah" (dengan fathah hamzah) adalah makan pagi atau makan sore.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa keridhaan Allah dapat diraih melalui syukur dalam hal-hal yang remeh-temeh. Dengan mengucapkan "alhamdulillah" setelah makan atau minum, seorang hamba mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah. Ini menunjukkan bahwa rasa syukur adalah inti ibadah dan mendekatkan diri kepada-Nya, sekalipun atas nikmat yang dianggap kecil.
# 29
الْخَامِسُ والْعشْرُونَ : عن أَبِيموسى رضي اللَّه عنه ، عن النبى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صدقةٌ » قال : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَجدْ ؟ قالَ : « يعْمَل بِيَديِهِ فَينْفَعُ نَفْسَه وَيَتَصدَّقُ » : قَال : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يسْتطِعْ ؟ قال : يُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْملْهوفَ » قالَ : أَرأَيْت إِنْ لَمْ يسْتَطِعْ قالَ : « يَأْمُرُ بِالمَعْرُوفِ أَوِ الْخَيْرِ » قالَ : أَرأَيْتَ إِنْ لَمْ يفْعلْ ؟ قالْ : «يُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهَا صدَقةٌ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Kedua puluh lima: Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Setiap muslim wajib bersedekah." Dia (Abu Musa) bertanya: "Bagaimana pendapatmu jika dia tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan?" Beliau menjawab: "Hendaknya dia bekerja dengan tangannya, memberi manfaat bagi dirinya dan untuk bersedekah." Dia bertanya lagi: "Bagaimana pendapatmu jika dia tidak mampu melakukan itu?" Beliau menjawab: "Hendaknya dia menolong orang yang membutuhkan dan sedang kesusahan." Dia bertanya lagi: "Bagaimana pendapatmu jika dia tidak mampu lagi?" Beliau menjawab: "Hendaknya dia menyuruh orang lain berbuat baik dan mencegah dari perbuatan buruk." Dia bertanya lagi: "Bagaimana pendapatmu jika dia tidak mampu lagi?" Beliau menjawab: "Hendaknya dia menahan dirinya dari perbuatan buruk, karena itu juga sedekah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kewajiban bersedekah bagi setiap muslim sangat luas maknanya. Jika tidak memiliki harta, maka bekerja untuk mandiri dan bersedekah adalah jalan keluarnya. Jika tidak mampu, bantuan kepada yang kesusahan, amar ma'ruf, atau bahkan menahan diri dari berbuat kejahatan pun dinilai sebagai sedekah. Intinya, setiap muslim selalu memiliki kesempatan untuk berbuat kebaikan yang bernilai sedekah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kewajiban bersedekah bagi setiap muslim sangat luas maknanya. Jika tidak memiliki harta, maka bekerja untuk mandiri dan bersedekah adalah jalan keluarnya. Jika tidak mampu, bantuan kepada yang kesusahan, amar ma'ruf, atau bahkan menahan diri dari berbuat kejahatan pun dinilai sebagai sedekah. Intinya, setiap muslim selalu memiliki kesempatan untuk berbuat kebaikan yang bernilai sedekah.