Kitab 1 · Bab 14
Keseimbangan dalam beribadah.
✦ 13 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى : ﴿ طه، ما أنزلنا عليك القرآن لتشقى ﴾ .سورة طه(1-2)
Terjemahan
Allah berfirman: "Thaa Haa. Kami tidak menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah." (Thaahaa: 1-2).
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Al-Qur'an diturunkan adalah sebagai rahmat dan petunjuk untuk kemudahan, bukan beban yang menyusahkan. Ia mengingatkan agar pendekatan kita kepada Al-Qur'an tidak menjadikan kita bersikap ekstrem atau memberatkan diri di luar batas kemampuan. Pelajaran utamanya adalah menyeimbangkan antara kesungguhan dalam beribadah dengan mencari kelapangan dan kemudahan yang telah Allah sediakan dalam agama-Nya.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Al-Qur'an diturunkan adalah sebagai rahmat dan petunjuk untuk kemudahan, bukan beban yang menyusahkan. Ia mengingatkan agar pendekatan kita kepada Al-Qur'an tidak menjadikan kita bersikap ekstrem atau memberatkan diri di luar batas kemampuan. Pelajaran utamanya adalah menyeimbangkan antara kesungguhan dalam beribadah dengan mencari kelapangan dan kemudahan yang telah Allah sediakan dalam agama-Nya.
# 2
وقال تعالى : ﴿ يريد اللَّه بكم اليسر ولا يريد بكم العسر ﴾ .سورة البقرة(185)
Terjemahan
Allah berfirman: "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (Al-Baqarah: 185).
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan prinsip dasar syariat Islam, yaitu kemudahan dan menghilangkan kesulitan (raf'ul haraj). Ini menjadi dalil utama bahwa Allah SWT tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan. Oleh karena itu, dalam beribadah dan menjalani kehidupan, umat Islam dianjurkan untuk mengambil rukhsah (keringanan) saat menghadapi kesulitan, serta menjauhi sikap berlebihan dan mempersulit diri sendiri.
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan prinsip dasar syariat Islam, yaitu kemudahan dan menghilangkan kesulitan (raf'ul haraj). Ini menjadi dalil utama bahwa Allah SWT tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan. Oleh karena itu, dalam beribadah dan menjalani kehidupan, umat Islam dianjurkan untuk mengambil rukhsah (keringanan) saat menghadapi kesulitan, serta menjauhi sikap berlebihan dan mempersulit diri sendiri.
# 3
عن عائشةَ رضي اللَّهُ عنها أَن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم دخَلَ عليْها وعِنْدها امْرأَةٌ قال : منْ هَذِهِ ؟ قالت : هَذِهِ فُلانَة تَذْكُرُ مِنْ صَلاتِهَا قالَ : « مَهُ عليكُمْ بِما تُطِيقُون ، فَوَاللَّه لا يَمَلُّ اللَّهُ حتَّى تَمَلُّوا وكَانَ أَحَبُّ الدِّينِ إِلَيْهِ ما داوَمَ صَاحِبُهُ علَيْهِ » متفقٌ عليه .
« ومهْ » كَلِمة نَهْى وزَجْرٍ . ومَعْنى « لا يملُّ اللَّهُ » أي : لا يَقْطَعُ ثَوابَهُ عنْكُمْ وَجَزَاءَ أَعْمَالِكُمْ ، ويُعَامِلُكُمْ مُعاملَةَ الْمالِّ حَتَّى تَملُّوا فَتَتْرُكُوا ، فَينْبَغِي لكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا ما تُطِيقُونَ الدَّوَامَ علَيْهِ لَيَدُومَ ثَوَابُهُ لَكُمْ وفَضْلُه عَلَيْكُمْ
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi ﷺ masuk menemuinya dan di sisinya ada seorang wanita. Beliau bertanya: "Siapa ini?" Dia ('Aisyah) menjawab: "Ini Fulanah, dia menyebutkan tentang shalatnya (yang banyak)." Beliau bersabda: "Hendaklah kalian lakukan apa yang kalian mampu. Demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan. Dan amalan agama yang paling dicintai-Nya adalah yang dilakukan secara terus-menerus oleh pelakunya." Muttafaqun 'alaih.
"Mah" adalah kata larangan dan cegahan. Makna "Allah tidak bosan" adalah Dia tidak memutus pahala dan balasan amal kalian, dan memperlakukan kalian seperti orang yang bosan hingga kalian bosan lalu meninggalkan (amal). Maka sebaiknya kalian mengambil amalan yang mampu kalian lakukan secara terus-menerus, agar pahala dan karunia-Nya terus mengalir untuk kalian.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan prinsip istiqamah (kontinuitas) dalam beribadah. Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk memilih amalan yang mampu dilakukan secara konsisten, sekalipun ringan, karena amalan yang sedikit tetapi berkelanjutan lebih dicintai Allah daripada yang banyak tetapi terputus. Larangan "mah" (janganlah) menunjukkan agar tidak memaksakan diri hingga berujung kejenuhan dan meninggalkan ibadah sama sekali.
"Mah" adalah kata larangan dan cegahan. Makna "Allah tidak bosan" adalah Dia tidak memutus pahala dan balasan amal kalian, dan memperlakukan kalian seperti orang yang bosan hingga kalian bosan lalu meninggalkan (amal). Maka sebaiknya kalian mengambil amalan yang mampu kalian lakukan secara terus-menerus, agar pahala dan karunia-Nya terus mengalir untuk kalian.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan prinsip istiqamah (kontinuitas) dalam beribadah. Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk memilih amalan yang mampu dilakukan secara konsisten, sekalipun ringan, karena amalan yang sedikit tetapi berkelanjutan lebih dicintai Allah daripada yang banyak tetapi terputus. Larangan "mah" (janganlah) menunjukkan agar tidak memaksakan diri hingga berujung kejenuhan dan meninggalkan ibadah sama sekali.
# 4
وعن أَنسٍ رضي اللَّه عنه قال : جاءَ ثَلاثةُ رهْطِ إِلَى بُيُوتِ أَزْواجِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يسْأَلُونَ عنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَلَمَّا أُخبِروا كأَنَّهُمْ تَقَالَّوْها وقالُوا : أَين نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَدْ غُفِر لَهُ ما تَقَدَّم مِنْ ذَنْبِهِ وما تَأَخَّرَ . قالَ أَحَدُهُمْ : أَمَّا أَنَا فأُصلِّي الليل أَبداً ، وقال الآخَرُ : وَأَنا أَصُومُ الدَّهْرَ أبداً ولا أُفْطِرُ ، وقالَ الآخرُ : وأَنا اعْتَزِلُ النِّساءَ فلا أَتَزوَّجُ أَبداً، فَجاءَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إلَيْهمْ فقال : « أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كذا وكذَا ؟، أَما واللَّهِ إِنِّي لأَخْشَاكُمْ للَّهِ وَأَتْقَاكُم له لكِني أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصلِّي وَأَرْقُد، وَأَتَزَوّجُ النِّسَاءَ، فمنْ رغِب عن سُنَّتِي فَلَيسَ مِنِّى» متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa ada tiga orang datang ke rumah istri-istri Nabi ﷺ untuk bertanya tentang ibadah Nabi kepada Allah. Setelah diberitahu, mereka menganggapnya sedikit. Mereka berkata: "Bagaimana kami bisa seperti Nabi ﷺ? Beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang." Salah seorang di antara mereka berkata: "Adapun aku, aku akan shalat malam selamanya." Yang lain berkata: "Aku akan puasa terus, aku tidak akan berbuka." Yang terakhir berkata: "Aku akan menjauhi wanita, aku tidak akan menikah selamanya." Rasulullah ﷺ datang kepada mereka dan bersabda: "Kaliankah yang berkata begini dan begitu? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya. Tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka dia bukan dari golonganku." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ibadah yang berlebihan dan menyimpang dari sunnah Nabi ﷺ adalah tercela. Nabi menegur tiga sahabat yang ingin melampaui batas dalam ibadah, lalu bersabda, "Barangsiapa yang benci sunnahku, maka dia bukan dari golonganku." Hikmahnya, kesempurnaan ibadah terletak pada konsistensi (istimrar) sesuai tuntunan Nabi, bukan pada sikap ekstrem yang justru memberatkan dan meninggalkan kewajiban lain.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ibadah yang berlebihan dan menyimpang dari sunnah Nabi ﷺ adalah tercela. Nabi menegur tiga sahabat yang ingin melampaui batas dalam ibadah, lalu bersabda, "Barangsiapa yang benci sunnahku, maka dia bukan dari golonganku." Hikmahnya, kesempurnaan ibadah terletak pada konsistensi (istimrar) sesuai tuntunan Nabi, bukan pada sikap ekstrem yang justru memberatkan dan meninggalkan kewajiban lain.
# 5
وعن ابن مسعودٍ رضي اللَّه عنه أن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ » قالَهَا ثلاثاً ، رواه مسلم .
« الْمُتَنطِّعُونَ » : الْمُتعمِّقونَ الْمُشَدِّدُون فِي غَيْرِ موْضَعِ التَّشْدِيدِ .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Celakalah orang-orang yang berlebih-lebihan." Beliau mengulanginya tiga kali. "Al-Mutanaththi'un" artinya orang-orang yang memberat-beratkan diri dan berlebih-lebihan dalam sesuatu yang bukan tempatnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan bahaya sikap berlebih-lebihan (tatharruf) dalam beragama. Nabi ﷺ mengecam orang yang terlalu mempersulit diri dan bersikap ekstrem dalam hal-hal yang tidak semestinya. Hikmahnya, Islam mengajarkan keseimbangan (tawazun); ibadah dan sikap kita harus sesuai tuntunan syariat, bukan berdasarkan sikap ekstrem yang justru memberatkan dan dapat menjauhkan dari kemudahan agama.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengingatkan bahaya sikap berlebih-lebihan (tatharruf) dalam beragama. Nabi ﷺ mengecam orang yang terlalu mempersulit diri dan bersikap ekstrem dalam hal-hal yang tidak semestinya. Hikmahnya, Islam mengajarkan keseimbangan (tawazun); ibadah dan sikap kita harus sesuai tuntunan syariat, bukan berdasarkan sikap ekstrem yang justru memberatkan dan dapat menjauhkan dari kemudahan agama.
# 6
عن أَبِي هريرة رضي اللَّه عنه النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، ولنْ يشادَّ الدِّينُ إلاَّ غَلَبه فسدِّدُوا وقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، واسْتعِينُوا بِالْغدْوةِ والرَّوْحةِ وشَيْءٍ مِن الدُّلْجةِ » رواه البخاري .
وفي رواية له « سدِّدُوا وقَارِبُوا واغْدوا ورُوحُوا ، وشَيْء مِنَ الدُّلْجةِ ، الْقَصْد الْقصْد تَبْلُغُوا » .
قوله : « الدِّينُ » هُو مرْفُوعٌ عَلَى ما لَمْ يُسَمَّ فَاعِلُهُ . وروِي مَنْصُوباً ، وروِيَ: « لَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ » .. وقوله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِلاَّ غَلَبَهُ » : أَيْ : غَلَبَه الدِّينُ وَعَجزَ ذلكَ الْمُشَادُّ عنْ مُقَاومَةِ الدِّينِ لِكَثْرةِ طُرقِهِ . « والْغَدْوةُ » سيْرُ أَوَّلِ النَّهَارِ . «وَالرَّوْحةُ » : آخِرُ النَّهَارِ «والدُّلْجَةُ » : آخِرُ اللَّيْلِ . وَهَذا استَعارةٌ ، وتَمْثِيلٌ ، ومعْناهُ : اسْتَعِينُوا عَلَى طَاعةِ اللَّهِ عز وجلَّ بالأَعْمالِ فِي وقْتِ نشاطِكُمْ ، وفَراغِ قُلُوبِكُمْ بحيثُ تًسْتلذُّونَ الْعِبادَةَ ولا تسـأَمُونَ مقْصُودَكُمْ ، كَما أَنَّ الْمُسافِرَ الْحاذِقَ يَسيرُ في هَذهِ الأَوْقَاتِ وَيستَريِحُ هُو ودابَّتُهُ فِي غَيْرِهَا ، فيصِلُ الْمقْصُود بِغَيْرِ تَعبٍ ، واللَّهُ أَعلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya agama itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (olehnya). Maka luruslah, mendekatlah (pada kebenaran), dan bergembiralah. Dan minta tolonglah (dalam beribadah) dengan beramal di waktu pagi, sore, dan sebagian malam." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Dalam riwayat lain darinya: "Luruslah, mendekatlah, beramallah di waktu pagi dan sore, serta sebagian malam. Sedang-sedanglah, niscaya kalian akan sampai."
Sabda beliau: "Ad-din" (agama) adalah marfu' sebagai mubtada' yang tidak disebutkan fa'ilnya. Ada juga riwayat yang memakainya manshub, dan ada riwayat: "Tidaklah seseorang mempersulit agama..." Sabda Nabi ﷺ: "Kecuali dia akan dikalahkan" maksudnya: agama akan mengalahkannya dan orang yang mempersulit itu akan lemah untuk melawan agama karena banyaknya jalannya. "Al-Ghadwah" adalah perjalanan di awal siang. "Ar-Rauhah" adalah akhir siang. "Ad-Duljah" adalah akhir malam. Ini adalah isti'arah (kiasan) dan perumpamaan. Maknanya: mintalah tolong untuk taat kepada Allah dengan beramal di waktu kalian bersemangat dan hati kalian lapang, sehingga kalian merasakan lezatnya ibadah dan tidak bosan mencapai tujuan, sebagaimana musafir yang cerdik berjalan di waktu-waktu ini dan beristirahat bersama kendaraannya di waktu lain, sehingga sampai tujuan tanpa kelelahan. Wallahu a'lam.
Penjelasan singkat: Agama Islam dibangun di atas kemudahan, bukan kesulitan. Hadis ini mengajarkan untuk bersikap pertengahan (tawassuth) dan konsisten (istimrar) dalam beribadah, serta menjauhi sikap berlebihan yang justru akan memberatkan dan mengakibatkan kegagalan. Kunci meraih tujuan adalah dengan ketekunan yang proporsional.
Dalam riwayat lain darinya: "Luruslah, mendekatlah, beramallah di waktu pagi dan sore, serta sebagian malam. Sedang-sedanglah, niscaya kalian akan sampai."
Sabda beliau: "Ad-din" (agama) adalah marfu' sebagai mubtada' yang tidak disebutkan fa'ilnya. Ada juga riwayat yang memakainya manshub, dan ada riwayat: "Tidaklah seseorang mempersulit agama..." Sabda Nabi ﷺ: "Kecuali dia akan dikalahkan" maksudnya: agama akan mengalahkannya dan orang yang mempersulit itu akan lemah untuk melawan agama karena banyaknya jalannya. "Al-Ghadwah" adalah perjalanan di awal siang. "Ar-Rauhah" adalah akhir siang. "Ad-Duljah" adalah akhir malam. Ini adalah isti'arah (kiasan) dan perumpamaan. Maknanya: mintalah tolong untuk taat kepada Allah dengan beramal di waktu kalian bersemangat dan hati kalian lapang, sehingga kalian merasakan lezatnya ibadah dan tidak bosan mencapai tujuan, sebagaimana musafir yang cerdik berjalan di waktu-waktu ini dan beristirahat bersama kendaraannya di waktu lain, sehingga sampai tujuan tanpa kelelahan. Wallahu a'lam.
Penjelasan singkat: Agama Islam dibangun di atas kemudahan, bukan kesulitan. Hadis ini mengajarkan untuk bersikap pertengahan (tawassuth) dan konsisten (istimrar) dalam beribadah, serta menjauhi sikap berlebihan yang justru akan memberatkan dan mengakibatkan kegagalan. Kunci meraih tujuan adalah dengan ketekunan yang proporsional.
# 7
وعن أَنسٍ رضي اللَّهُ عنه قال : دَخَلَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم الْمسْجِدَ فَإِذَا حبْلٌ مَمْدُودٌ بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ فقالَ : « ما هَذَا الْحبْلُ ؟ قالُوا ، هَذا حبْلٌ لِزَيْنَبَ فَإِذَا فَترَتْ تَعَلَقَتْ بِهِ . فقال النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « حُلّوهُ ، لِيُصَلِّ أَحدُكُمْ نَشَاطَهُ ، فَإِذا فَترَ فَلْيرْقُدْ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ masuk masjid, lalu ada tali yang diikat di antara dua tiang. Beliau bertanya: "Tali apa ini?" Mereka menjawab: "Ini tali Zainab. Dia mengikatnya untuk menopang dirinya saat lelah shalat." Nabi ﷺ bersabda: "Lepaskan tali itu. Hendaklah kalian shalat dalam keadaan segar, dan jika lelah, tidurlah." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan prinsip kemudahan dan menghindari memberatkan diri (masyaqqah) dalam beribadah. Nabi ﷺ melarang sikap berlebihan yang justru dapat mengurangi kekhusyukan dan menimbulkan kejenuhan. Ibadah harus dilaksanakan dengan semangat dan kesegaran, serta diistirahatkan saat lelah agar tetap dapat dilakukan dengan konsisten dan ikhlas.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan prinsip kemudahan dan menghindari memberatkan diri (masyaqqah) dalam beribadah. Nabi ﷺ melarang sikap berlebihan yang justru dapat mengurangi kekhusyukan dan menimbulkan kejenuhan. Ibadah harus dilaksanakan dengan semangat dan kesegaran, serta diistirahatkan saat lelah agar tetap dapat dilakukan dengan konsisten dan ikhlas.
# 8
وعن عائشة رضي اللَّه عنها أن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِذَا نَعَسَ أَحدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي ، فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ ، فإِن أَحدَكم إِذَا صلَّى وهُو نَاعَسٌ لا يَدْرِي لعلَّهُ يذهَبُ يسْتَغْفِرُ فيَسُبُّ نَفْسَهُ » . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian mengantuk saat shalat, hendaknya dia tidur hingga hilang kantuknya. Karena jika dia shalat dalam keadaan mengantuk, dia tidak tahu apa-apa, bisa jadi dia bermaksud memohon ampun malah mencela dirinya sendiri." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya kewaspadaan dan kesadaran penuh (khusyuk) dalam shalat. Rasulullah ﷺ melarang shalat dalam keadaan mengantuk berat karena dapat menghilangkan konsentrasi, sehingga berisiko salah dalam ucapan dan niat. Perintah untuk tidur terlebih dahulu menunjukkan bahwa kualitas ibadah lebih diutamakan daripada sekadar memaksakan diri menyelesaikannya. Dengan demikian, hadis ini menekankan prinsip menjaga kehormatan dan kesempurnaan shalat.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya kewaspadaan dan kesadaran penuh (khusyuk) dalam shalat. Rasulullah ﷺ melarang shalat dalam keadaan mengantuk berat karena dapat menghilangkan konsentrasi, sehingga berisiko salah dalam ucapan dan niat. Perintah untuk tidur terlebih dahulu menunjukkan bahwa kualitas ibadah lebih diutamakan daripada sekadar memaksakan diri menyelesaikannya. Dengan demikian, hadis ini menekankan prinsip menjaga kehormatan dan kesempurnaan shalat.
# 9
وعن أَبِي عبد اللَّه جابر بن سمُرَةَ رضي اللَّهُ عنهما قال : كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم الصَّلَوَاتِ ، فَكَانَتْ صلاتُهُ قَصداً وخُطْبَتُه قَصْداً » رواه مسلم .
قولُهُ : قَصْداً : أَيْ بَيْنَ الطُّولِ وَالْقِصَرِ .
Terjemahan
Dari Abu 'Abdillah Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: "Aku shalat bersama Nabi ﷺ, shalat beliau sedang (tidak terlalu panjang) dan khutbah beliau juga sedang." Diriwayatkan oleh Muslim.
Ucapan beliau: "Qasdan" artinya pertengahan antara panjang dan pendek.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip pertengahan (tawassuth) dan kemudahan dalam ibadah. Nabi � mencontohkan shalat dan khutbah dengan durasi yang seimbang, tidak terlalu panjang hingga memberatkan, juga tidak terlalu singkat hingga mengurangi kekhusyukan. Ini menjadi panduan bagi imam dan khatib untuk memperhatikan kondisi jamaah, sehingga ibadah tetap berkualitas namun tidak menimbulkan keletihan atau kebosanan.
Ucapan beliau: "Qasdan" artinya pertengahan antara panjang dan pendek.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan prinsip pertengahan (tawassuth) dan kemudahan dalam ibadah. Nabi � mencontohkan shalat dan khutbah dengan durasi yang seimbang, tidak terlalu panjang hingga memberatkan, juga tidak terlalu singkat hingga mengurangi kekhusyukan. Ini menjadi panduan bagi imam dan khatib untuk memperhatikan kondisi jamaah, sehingga ibadah tetap berkualitas namun tidak menimbulkan keletihan atau kebosanan.
# 10
وعن أَبِي جُحَيْفَةَ وَهبِ بْنِ عبد اللَّه رضي اللَّهُ عنه قال : آخَى النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بَيْن سَلْمَانَ وأَبِي الدَّرْدَاءِ ، فَزَارَ سلْمَانُ أَبَا الدَّرْدَاءِ ، فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاء مُتَبَذِّلَةً فقالَ : ما شَأْنُكِ؟ قالَتْ : أَخْوكَ أَبُو الدَّرداءِ ليْسَ له حَاجةٌ فِي الدُّنْيَا . فَجَاءَ أَبُو الدرْدَاءِ فَصَنَعَ لَه طَعَاماً ، فقالَ لَهُ : كُلْ فَإِنِّي صَائِمٌ ، قالَ : ما أَنا بآكلٍ حَتَّى تأْكلَ ، فَأَكَلَ ، فَلَّمَا كانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْداءِ يقُوم فقال لَه : نَمْ فَنَام ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُوم فقالَ لَه : نَمْ ، فَلَمَّا كان من آخرِ اللَّيْلِ قالَ سلْمانُ : قُم الآنَ، فَصَلَّيَا جَمِيعاً ، فقالَ له سَلْمَانُ : إِنَّ لرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَإِنَّ لنَفْسِكَ عَلَيْكَ حقًّا ، ولأهلِك عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّه ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَذَكر ذلكَ لَه ، فقالَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « صَدَقَ سلْمَانُ » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Juhaifah Wahb bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ mempersaudarakan Salman dan Abu Darda'. Suatu hari Salman menjenguk Abu Darda', lalu melihat Ummu Darda' (istri Abu Darda') berpakaian lusuh. Dia bertanya: "Kenapa berpakaian seperti ini?" Dia (Ummu Darda') menjawab: "Saudaramu, Abu Darda', tidak menginginkan sesuatu pun dari dunia." Abu Darda' datang dan menghidangkan makanan untuknya (Salman), lalu berkata: "Silakan makan, aku sedang puasa (tidak bisa makan)." Dia menjawab: "Aku tidak akan makan jika kamu tidak makan." Maka dia (Abu Darda') pun makan. Malam hari, Abu Darda' ingin bangun shalat (sunnah), Salman berkata kepadanya: "Tidurlah lagi." Abu Darda' pun tidur lagi. Kemudian Abu Darda' ingin bangun shalat lagi. Salman berkata kepadanya: "Tidurlah lagi." Abu Darda' pun tidur lagi. Hingga di akhir malam (menjelang subuh), Salman berkata: "Sekarang, bangunlah dan shalat." Maka keduanya shalat. Salman berkata: "Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah hak kepada yang berhak secara tepat." Abu Darda' menemui Nabi ﷺ dan menceritakan hal itu. Beliau bersabda: "Salman benar." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keseimbangan dalam beribadah. Sikap Abu Darda' yang berlebihan hingga mengabaikan hak diri dan keluarga dikoreksi oleh Salman. Nabi ﷺ kemudian menegaskan bahwa hak tubuh, keluarga, dan ibadah khusus seperti puasa sunah harus dipenuhi secara proporsional. Islam menolak sikap ekstrem dan menganut jalan tengah.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keseimbangan dalam beribadah. Sikap Abu Darda' yang berlebihan hingga mengabaikan hak diri dan keluarga dikoreksi oleh Salman. Nabi ﷺ kemudian menegaskan bahwa hak tubuh, keluarga, dan ibadah khusus seperti puasa sunah harus dipenuhi secara proporsional. Islam menolak sikap ekstrem dan menganut jalan tengah.
# 11
وعن أَبِي محمد عبدِ اللَّهِ بن عمرو بنِ العاص رضي اللَّه عنهما قال : أُخْبرَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أنِّي أَقُول : وَاللَّهِ لأَصومَنَّ النَّهَارَ ، ولأَقُومنَّ اللَّيْلَ ما عشْتُ ، فَقَالَ رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «أَنْتَ الَّذِي تَقُول ذلك ؟ فَقُلْت له : قَدْ قُلتُه بأَبِي أَنْتَ وأُمِّي يا رسولَ اللَّه . قَالَ: « فَإِنكَ لا تَسْتَطِيعُ ذلِكَ ، فَصُمْ وأَفْطرْ ، ونَمْ وَقُمْ ، وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ الْحسنَةَ بعَشْرِ أَمْثَالهَا ، وذلكَ مثْلُ صِيامٍ الدَّهْرِ قُلْت : فَإِنِّي أُطيق أفْضَلَ منْ ذلكَ قالَ : فَصمْ يَوْماً وَأَفْطرْ يَوْمَيْنِ ، قُلْت : فَإِنِّي أُطُيق أفْضَلَ مِنْ ذلكَ ، قَالَ : « فَصُم يَوْماً وَأَفْطرْ يوْماً ، فَذلكَ صِيَام دَاوود صلى الله عليه وسلم، وَهُو أَعْدَل الصِّيَامِ » . وَفي رواية : « هوَ أَفْضَلُ الصِّيامِ » فَقُلْتُ فَإِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذلكَ ، فقال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا أَفْضَلَ منْ ذلك» وَلأنْ أَكْونَ قَبلْتُ الثَّلاثَةَ الأَيَّامِ الَّتِي قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَحَبُّ إِليَّ منْ أَهْلِي وَمَالِى.
وفي روايةٍ : « أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصومُ النَّهَارَ وتَقُومُ اللَّيْلَ ؟ » قلت : بلَى يَا رسول اللَّهِ . قال : « فَلا تَفْعل : صُمْ وأَفْطرْ ، ونَمْ وقُمْ فَإِنَّ لجَسَدكَ علَيْكَ حقًّا ، وإِنَّ لعيْنَيْكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لزَوْجِكَ علَيْكَ حَقًّا ، وَإِنَّ لزَوْركَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وإِنَّ بحَسْبكَ أَنْ تَصْومَ فِي كُلِّ شَهْرٍ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ ، فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ حَسَنةٍ عشْرَ أَمْثَالِهَا ، فَإِذن ذلك صِيَامُ الدَّهْرِ» فشَدَّدْتُ فَشُدِّدَ عَلَيَّ ، قُلْتُ : يا رسول اللَّه إِنّي أَجِدُ قُوَّةً، قال : « صُمْ صِيَامَ نَبِيِّ اللَّهِ داوُدَ وَلا تَزدْ عَلَيْهِ» قلت: وما كَان صِيَامُ داودَ؟ قال : « نِصْفُ الدهْرِ » فَكَان عَبْدُ اللَّهِ يقول بعْد مَا كَبِر : يالَيْتَنِي قَبِلْتُ رُخْصةَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم .
وفي رواية : « أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّك تصُومُ الدَّهْرِ ، وَتْقَرَأُ الْقُرْآنَ كُلَّ لَيْلَة ؟ » فَقُلْتُ : بَلَى يا رسولَ اللَّهِ ، ولَمْ أُرِدْ بذلِكَ إِلاَّ الْخيْرَ ، قَالَ : « فَصُمْ صَوْمَ نَبِيِّ اللَّهِ داودَ ، فَإِنَّه كَانَ أَعْبَدَ النَّاسِ ، واقْرأْ الْقُرْآنَ في كُلِّ شَهْرٍ » قُلْت : يَا نَبِيِّ اللَّهِ إِنِّي أُطِيق أَفْضل مِنْ ذلِكَ ؟ قَالَ : « فَاقْرَأه فِي كُلِّ عِشرِينَ » قُلْت : يَا نبيِّ اللَّهِ إِنِّي أُطِيق أَفْضَل مِنْ ذَلِكَ ؟ قَالَ : «فَاقْرَأْهُ فِي كُلِّ عَشْر » قُلْت : يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنِّي أُطِيق أَفْضلَ مِنْ ذلِكَ ؟ قَالَ : « فَاقْرَأْه في كُلِّ سَبْعٍ وَلاَ تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ » فَشَدَّدْتُ فَشُدِّدَ عَلَيَّ ، وقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِنَّكَ لاَ تَدْرِي لَعلَّكَ يَطُول بِكَ عُمُرٌ قالَ : فَصِرْت إِلَى الَّذِي قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَلَمَّا كَبِرْتُ وَدِدْتُ أنِّي قَبِلْت رخْصَةَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم .
وفي رواية : « وَإِنَّ لوَلَدِكَ علَيْكَ حَقًّا » وفي روايةٍ : لا صَامَ من صَامَ الأَبَدَ » ثَلاثاً . وفي روايةٍ : « أَحَبُّ الصَّيَامِ إِلَى اللَّه تَعَالَى صِيَامُ دَاوُدَ ، وَأَحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى صَلاةُ دَاوُدَ : كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيلِ ، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ ، وَيَنَامُ سُدُسَهُ ، وَكَانَ يَصُومُ يوْماً ويُفْطِرُ يَوْماً ، وَلا يَفِرُّ إِذَا لاقَى » .
وفي رواية قَالَ : أَنْكَحَنِي أَبِي امْرَأَةً ذَاتَ حسَبٍ ، وكَانَ يَتَعَاهَدُ كَنَّتهُ أي : امْرَأَة ولَدِهِ فَيسْأَلُهَا عَنْ بَعْلِهَا ، فَتَقُولُ لَهُ : نِعْمَ الرَّجْلُ مِنْ رجُل لَمْ يَطَأْ لنَا فِرَاشاً ولَمْ يُفتِّشْ لنَا كَنَفاً مُنْذُ أَتَيْنَاهُ فَلَمَّا طالَ ذَلِكَ عليه ذكَرَ ذلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . فقَالَ : « الْقَني به » فلَقيتُهُ بَعْدَ ذلكَ فَقَالَ : « كيفَ تَصُومُ ؟ » قُلْتُ كُلَّ يَوْم ، قَالَ : « وَكيْفَ تَخْتِم ؟ » قلتُ: كُلَّ لَيلة ، وذَكَر نَحْوَ مَا سَبَق وكَان يقْرَأُ عَلَى بعْض أَهْلِه السُّبُعَ الَّذِي يقْرؤهُ ، يعْرضُهُ مِن النَّهَارِ لِيكُون أَخفَّ علَيِهِ بِاللَّيْل ، وَإِذَا أَراد أَنْ يَتَقَوَّى أَفْطَر أَيَّاماً وَأَحصَى وصَام مِثْلَهُنَّ كَراهِيةَ أَن يتْرُك شيئاً فارقَ علَيهِ النَّبِي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم .
كُلُّ هذِه الرِّوَايات صحيِحةٌ مُعْظَمُهَا فِي الصَّحيحيْنَ وقليلٌ منْهَا في أَحَدِهِما .
Terjemahan
Dari Abu Muhammad 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Diberitahukan kepada Nabi ﷺ bahwa aku berkata: "Demi Allah, aku akan puasa di siang hari dan shalat (sunnah) di malam hari selama aku hidup." Rasulullah ﷺ bertanya kepadaku: "Benarkah engkau yang berkata demikian?" Aku menjawab: "Demi Allah, benar, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Sungguh engkau tidak akan mampu. Maka berpuasalah dan berbukalah, tidurlah dan shalatlah. Berpuasalah tiga hari setiap bulan, karena setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Jika engkau berpuasa seperti itu, engkau mendapat pahala seperti puasa setahun penuh." Aku ('Abdullah) berkata: "Aku mampu lebih dari itu." Beliau bersabda: "Berpuasalah sehari dan berbukalah dua hari." Aku ('Abdullah) berkata: "Aku mampu lebih dari itu." Beliau bersabda: "Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Itulah puasa Nabi Dawud 'alaihissalam, itu adalah puasa yang paling utama (dalam satu riwayat: itu adalah puasa yang terbaik)." Aku ('Abdullah) berkata: "Aku mampu lebih dari itu." Beliau bersabda: "Tidak ada puasa yang lebih utama dari itu." 'Abdullah berkata: "Seandainya aku menerima nasihat Rasulullah untuk puasa tiga hari sebulan, itu lebih kusukai daripada keluarga dan hartaku (aku menyesal tidak menerimanya)."
Dalam riwayat lain: "Dikatakan kepadaku: 'Engkau puasa di siang hari dan shalat (sunnah) di malam hari, benarkah?' Aku ('Abdullah) menjawab: 'Benar, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Jangan lakukan itu. Berpuasalah dan berbukalah, tidurlah dan bangunlah shalat. Karena tubuhmu memiliki hak atasmu, kedua matamu memiliki hak atasmu, istrimu memiliki hak atasmu. Cukuplah bagimu berpuasa tiga hari setiap bulan, karena setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Jika engkau berpuasa seperti itu, engkau mendapat pahala seperti puasa setahun penuh.' 'Abdullah berkata: 'Aku meminta agar ditambah kewajiban, lalu beliau menambah kewajiban atasku.' Aku berkata: 'Wahai Rasulullah! Aku benar-benar kuat.' Beliau bersabda: 'Berpuas
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip moderasi (tawazun) dalam beribadah. Rasulullah ﷺ melarang ekstremitas dengan mengabaikan hak tubuh, seperti berniat puasa dan qiyamul lail setiap hari tanpa henti. Beliau mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan istirahat, serta menganjurkan amalan yang berkelanjutan (istimrar), seperti puasa tiga hari setiap bulan, yang pahalanya setara dengan puasa sepanjang waktu.
Dalam riwayat lain: "Dikatakan kepadaku: 'Engkau puasa di siang hari dan shalat (sunnah) di malam hari, benarkah?' Aku ('Abdullah) menjawab: 'Benar, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Jangan lakukan itu. Berpuasalah dan berbukalah, tidurlah dan bangunlah shalat. Karena tubuhmu memiliki hak atasmu, kedua matamu memiliki hak atasmu, istrimu memiliki hak atasmu. Cukuplah bagimu berpuasa tiga hari setiap bulan, karena setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Jika engkau berpuasa seperti itu, engkau mendapat pahala seperti puasa setahun penuh.' 'Abdullah berkata: 'Aku meminta agar ditambah kewajiban, lalu beliau menambah kewajiban atasku.' Aku berkata: 'Wahai Rasulullah! Aku benar-benar kuat.' Beliau bersabda: 'Berpuas
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan prinsip moderasi (tawazun) dalam beribadah. Rasulullah ﷺ melarang ekstremitas dengan mengabaikan hak tubuh, seperti berniat puasa dan qiyamul lail setiap hari tanpa henti. Beliau mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan istirahat, serta menganjurkan amalan yang berkelanjutan (istimrar), seperti puasa tiga hari setiap bulan, yang pahalanya setara dengan puasa sepanjang waktu.
# 12
وعن أَبِي ربْعِيٍّ حنْظَلةَ بنِ الرَّبيع الأُسيدِيِّ الْكَاتِب أَحدِ كُتَّابِ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : لَقينَي أَبُو بَكْر رضي اللَّه عنه فقال : كَيْفَ أَنْتَ يا حنْظلَةُ ؟ قُلْتُ : نَافَقَ حنْظَلَةُ ، قَالَ : سُبْحانَ اللَّه ما تقُولُ ؟، : قُلْتُ : نَكُونُ عِنْد رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُذكِّرُنَا بالْجنَّةِ والنَّارِ كأَنَّا رأْيَ عين ، فَإِذَا خَرجنَا مِنْ عِنْدِ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عافَسنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلادَ وَالضَّيْعاتِ نَسينَا كَثِيراً قال أَبُو بكْر رضي اللَّه عنه : فَواللَّهِ إِنَّا لنَلْقَى مِثْلَ هَذَا فانْطلقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْر حتى دخَلْنَا عَلى رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . فقُلْتُ نافَقَ حنْظَلةُ يا رسول اللَّه ، فقالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « ومَا ذَاكَ؟» قُلْتُ: يا رسولَ اللَّه نُكونُ عِنْدكَ تُذَكِّرُنَا بالنَّارِ والْجنَةِ كَأَنَّا رأْيَ العَيْنِ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسنَا الأَزوَاج والأوْلاَدَ والضَّيْعاتِ نَسِينَا كَثِيراً . فقال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيدِهِ أن لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْر لصَافَحتْكُمُ الملائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُم وفي طُرُقِكُم ، وَلَكِنْ يا حنْظَلَةُ ساعةً وساعةً » ثَلاثَ مرَّاتٍ ، رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Rib'i Hanzhalah bin Ar-Rabi' Al-Usaidi Al-Katib, salah seorang juru tulis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata: Abu Bakar menemuiku dan bertanya: 'Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?' Aku menjawab: 'Hanzhalah telah munafik!' Abu Bakar berkata: 'Subhanallah! Apa yang kamu katakan?' Aku berkata: 'Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau mengingatkan kami tentang surga dan neraka hingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Namun ketika kami pergi dan sibuk dengan istri, anak, dan urusan dunia, banyak yang kami lupakan.' Abu Bakar berkata: 'Demi Allah, aku pun merasakan hal yang sama.' Lalu kami menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan aku berkata: 'Hanzhalah telah munafik, wahai Rasulullah!' Beliau bersabda: 'Mengapa demikian?' Aku berkata: 'Ketika kami bersamamu, engkau mengingatkan kami tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami melihatnya. Namun ketika kami pergi dan sibuk dengan istri, anak, dan harta, banyak yang kami lupakan.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian selalu berada dalam keadaan seperti ketika bersama aku dan selalu berzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian di tempat tidur dan di jalanan. Tetapi, wahai Hanzhalah, sesaat dan sesaat (bergantian).' Beliau mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa fluktuasi keimanan dalam hati adalah hal manusiawi. Perasaan khusyuk yang luar biasa ketika berada dalam majelis ilmu (zikir) bisa berkurang saat seseorang kembali disibukkan oleh urusan duniawi yang halal. Ini bukanlah kemunafikan, melainkan dinamika keimanan yang perlu disadari. Hikmahnya, kita harus terus mengisi dan menyegarkan keimanan dengan mengingat akhirat, serta tidak putus berusaha menjaga kekhusyukan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa fluktuasi keimanan dalam hati adalah hal manusiawi. Perasaan khusyuk yang luar biasa ketika berada dalam majelis ilmu (zikir) bisa berkurang saat seseorang kembali disibukkan oleh urusan duniawi yang halal. Ini bukanlah kemunafikan, melainkan dinamika keimanan yang perlu disadari. Hikmahnya, kita harus terus mengisi dan menyegarkan keimanan dengan mengingat akhirat, serta tidak putus berusaha menjaga kekhusyukan itu dalam kehidupan sehari-hari.
# 13
وعن ابن عباس رضي اللَّه عنهما قال : بيْنما النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَخْطُبُ إِذَا هُوَ بِرجُلٍ قَائِمٍ ، فسأَلَ عَنْهُ فَقَالُوا : أَبُو إِسْرائيلَ نَذَر أَنْ يَقُومَ فِي الشَّمْس وَلا يقْعُدَ ، ولا يستَظِلَّ ولا يتَكَلَّمَ ، ويصومَ ، فَقالَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مُرُوهُ فَلْيَتَكَلَّمْ ولْيَستَظِلَّ ولْيُتِمَّ صوْمَهُ » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang berkhutbah, tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki berdiri. Beliau pun bertanya tentang orang itu. Para sahabat menjawab, "Dia adalah Abu Israil, ia bernadzar untuk berdiri di bawah terik matahari, tidak duduk, tidak berteduh, tidak berbicara, dan berpuasa." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Perintahkanlah dia untuk berbicara, berteduh, duduk, dan menyempurnakan puasanya." (HR. Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan bahwa nadzar untuk melakukan hal-hal yang menyusahkan diri sendiri dan tidak ada manfaatnya dalam agama tidaklah diperintahkan. Nabi Muhammad SAW memerintahkan orang tersebut untuk meninggalkan kesulitan yang tidak perlu dan hanya menyempurnakan puasanya saja, yang merupakan ibadah yang disyariatkan.
Penjelasan singkat: Hadits ini mengajarkan bahwa nadzar untuk melakukan hal-hal yang menyusahkan diri sendiri dan tidak ada manfaatnya dalam agama tidaklah diperintahkan. Nabi Muhammad SAW memerintahkan orang tersebut untuk meninggalkan kesulitan yang tidak perlu dan hanya menyempurnakan puasanya saja, yang merupakan ibadah yang disyariatkan.