✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Adab-Adab Makan
Kitab 3 · Bab 1

Membaca "Bismillah" saat mulai makan/minum, dan "Alhamdulillah" saat selesai.

✦ 8 Hadith ✦
# 1
عن عُمَرَ بنِ أبي سلَمَة رضي اللَّه عنهما قال: قال لي رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «سَمِّ اللَّه وكُلْ بِيمِينكَ ، وكُلْ مِمَّا يَلِيكَ». متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari 'Umar bin Abi Salamah radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebutlah nama Allah (bacalah Bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga adab dasar dalam makan yang penuh berkah. Pertama, memulai dengan menyebut nama Allah sebagai bentuk syukur dan pengakuan bahwa rezeki berasal dari-Nya. Kedua, menggunakan tangan kanan karena ia adalah tangan yang dimuliakan. Ketiga, mengambil makanan yang dekat, bukan yang di depan orang lain, sebagai bentuk tawadhu' dan menjaga hak serta perasaan sesama.

# 2
وعن عَائشة رضي اللَّه عنها قالَتْ: قالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «إذا أكل أَحَدُكُمْ فَليَذْكُر اسْمَ اللَّه تعالى، فإنْ نسي أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّه تَعَالَى في أَوَّلِهِ، فَليَقُلْ: بِسْمِ اللَّه أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ». رواه أبو داود، والترمذي، وقال: حديث حسن صحيح.
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia menyebut nama Allah (membaca Bismillah). Jika ia lupa menyebut nama Allah di awal makan, hendaklah ia mengucapkan: 'Bismillahi awwalahu wa ākhirahu' (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadis ini hasan sahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya mengawali makan dengan menyebut nama Allah (Bismillah) sebagai bentuk syukur dan pengakuan bahwa rezeki adalah nikmat dari-Nya. Hikmahnya, Islam memberikan solusi praktis dan penuh rahmat bagi yang lupa, yaitu dengan mengucapkan "Bismillahi awwalahu wa akhirahu" untuk menutup kelalaian tersebut. Dengan demikian, setiap aktivitas makan bernilai ibadah dan terlindung dari gangguan setan.

# 3
وعن جابِرٍ، رضي اللَّه عنه قال: سَمِعتُ رسولَ اللَّه يقولُ: «إِذا دخل الرَّجُل بيْتَهُ، فَذَكَرَ اللَّه تعَالى عِنْد دُخُولهِ وعِنْدَ طَعامِهِ، قال الشَّيْطانُ لأَصحَابِهِ: لا مبيتَ لَكُمْ ولا عشَاءَ، وإذا دخَل، فَلَم يَذكُر اللَّه تَعَالى عِنْد دخُولِهِ، قال الشَّيْطَانُ: أَدْركتمُ المبيت، وإِذا لَم يَذْكُرِ اللَّه تعَالى عِنْد طَعامِهِ قال: أَدْركْتُمُ المبيتَ وَالعَشاءَ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila seorang laki-laki masuk ke rumahnya, lalu ia menyebut nama Allah saat masuk dan saat makan, setan berkata kepada kaumnya: 'Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makanan untuk kalian.' Tetapi jika ia masuk rumah tanpa menyebut nama Allah, setan berkata: 'Kalian mendapat tempat bermalam malam ini.' Dan jika ia makan tanpa menyebut nama Allah, setan berkata: 'Kalian mendapat tempat bermalam dan makanan malam ini'." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya mengingat Allah (berdzikir) dalam aktivitas harian, seperti memasuki rumah dan saat makan. Dzikir berfungsi sebagai perlindungan dari gangguan setan, karena ia akan merasa tidak memiliki akses untuk ikut serta. Sebaliknya, lalai dari berdzikir akan memberi peluang bagi setan untuk turut hadir dan mengganggu ketenteraman hidup kita.

# 4
وعن حُذَيْفَةَ رضي اللَّه عنه قال: كنَّا إِذا حضَرْنَا مع رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم طَعَاماً، لَم نَضَعْ أَيدِينَا حتَّى يَبْدأَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَيَضَع يدَه. وَإِنَّا حَضَرْنَا معهُ مَرَّةً طَعاماً، فجاءَت جارِيَةٌ كأَنَّهَا تُدْفَعُ، فَذَهَبتْ لتَضعَ يَدهَا في الطَّعامِ، فَأَخَذَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِيدِهَا، ثُمَّ جَاءَ أَعْرابِيٌّ كأَنَّمَا يُدْفَعُ ، فَأَخَذَ بِيدِهِ، قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «إِنَّ الشَّيْطانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعامَ أَنْ لا يُذْكَرَ اسمُ اللَّه ِ تَعَالى عليه. وإِنَّهُ جاءَ بهذهِ الجارِيةِ لِيسْتَحِلَّ بِها، فَأَخَذتُ بِيدِهَا، فَجَاءَ بهذا الأَعْرَابِيِّ لِيسَتحِلَّ بِهِ، فَأَخَذْتُ بِيدِهِ، والذي نَفسي بِيَدِهِ إِنَّ يدَهُ في يَدي مَعَ يَديْهِما» ثُمَّ ذَكَرَ اسم اللَّهِ تعالى وأَكَل. رواه مسلم.
Terjemahan
Dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Ketika kami menghadiri jamuan makan bersama Rasulullah ﷺ, kami tidak meletakkan tangan kami pada makanan hingga Rasulullah ﷺ memulai meletakkan tangan beliau pada makanan itu. Suatu ketika, kami sedang makan bersama beliau, tiba-tiba datang seorang gadis kecil dengan tergesa-gesa seakan-akan didorong. Ia langsung meletakkan tangannya pada makanan itu. Rasulullah ﷺ memegang tangan gadis itu. Kemudian datang seorang badui dengan tergesa-gesa seakan-akan didorong. Beliau pun memegang tangan orang badui itu. Beliau bersabda: "Sesungguhnya setan menganggap halal makanan yang tidak disebut nama Allah padanya. Ia telah mendorong gadis ini agar dapat makan makanan ini. Karena itulah aku pegang tangannya. Dan ia telah mendorong orang badui ini agar dapat makan makanan ini. Karena itulah aku pegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan itu bersama tangan mereka berdua." Kemudian beliau menyebut nama Allah dan mulai makan. (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab dan tata krama dalam makan bersama, yaitu menghormati pemimpin atau orang yang lebih diutamakan untuk memulai. Rasulullah ﷺ dengan lembut mencegah orang yang tergesa-gesa, menunjukkan pentingnya ketertiban dan kesabaran. Perbuatan beliau juga mengandung pendidikan langsung (ta’lim) yang penuh kasih sayang, bukan sekadar larangan.

# 5
وعن أُميَّةَ بنِ مخْشِيٍّ الصَّحابيِّ رضيَ اللَّه عنه قال: كان رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم جالساً، ورَجُلٌ يأْكُلُ ، فَلَمْ يُسمِّ اللَّه حَتَّى لَمْ يبْقَ مِنْ طَعَامِهِ لُقْمةٌ ، فَلَمَّا رَفَعها إِلى فِيهِ، قال: بسم اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، ثم قال: «مَا زَالَ الشَّيْطَانُ يَأْكُلُ مَعَهُ، فَلمَّا ذَكَر اسمَ اللَّهِ استْقَاءَ مَا في بَطنِهِ». رواه أبو داود، والنسائي.
Terjemahan
Dari Ummayah bin Makhsyi As-Sya'bi رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ pernah duduk, sementara ada seorang laki-laki sedang makan tanpa menyebut nama Allah, hingga makanannya hampir habis dan tersisa satu suapan lagi. Ketika ia mengangkat suapan terakhir ke mulutnya, ia membaca: "Bismillahi awwalahu wa aakhirahu (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)." Maka Rasulullah ﷺ tertawa, lalu bersabda: "Setan terus makan bersamanya, namun ketika ia menyebut nama Allah, setan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa'i)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kewajiban membaca "Bismillah" saat hendak makan. Jika lupa di awal, disunnahkan membaca "Bismillahi awwalahu wa aakhirahu" ketika ingat. Sebutan nama Allah akan mengusir setan yang ikut makan bersama, sehingga keberkahan makanan dapat diperoleh.

# 6
وعن عائشةَ رضيَ اللَّه عنها قالَتْ: كانَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَأْكُلُ طَعَاماً في سِتَّةٍ مِنْ أَصحَابِهِ، فَجَاءَ أَعْرابيٌ، فَأَكَلَهُ بِلُقْمَتَيْنِ فقال رسولُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «أَما إِنَّهُ لوْ سَمَّى لَكَفَاكُمْ». رواه الترمذي، وقال: حديثٌ حسنٌ صحيحٌ.
Terjemahan
Dari 'Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: Rasulullah ﷺ sedang makan bersama enam orang sahabatnya. Tiba-tiba datang seorang badui, lalu ia makan (hampir) semua makanan itu hanya dalam dua suapan. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya, sekiranya ia menyebut nama Allah (sebelum makan), niscaya makanan itu akan mencukupi kalian semua."
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: hadits ini hasan)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya membaca basmalah sebelum makan. Sikap tergesa-gesa dan tidak bersyukur (seperti yang ditunjukkan badui) dapat menghilangkan berkah. Sebaliknya, menyebut nama Allah akan mendatangkan keberkahan, di mana makanan yang sedikit bisa mencukupi banyak orang. Dengan demikian, adab sederhana ini memiliki dampak spiritual dan praktis dalam kehidupan.

# 7
- وعن أبي أُمامة رضيَ اللَّه عنهُ أنَّ النَبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كانَ إِذا رَفَعَ مَائِدَتَهُ قال: «الحَمْدُ للَّه حمداً كَثيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيه، غَيرَ مَكْفِيٍّ وَلا مُسْتَغْنًي عَنْهُ رَبَّنَا» رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Umamah رضي الله عنه, ia berkata: Nabi ﷺ apabila telah selesai makan, beliau membaca:
"Alhamdulillahi katsiiran thayyiban mubaarakan fiih, ghaira makfiyyin wa laa muwadda'in wa laa mustaghnan 'anhu rabbanaa. (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan penuh berkah, tidak terputus, tidak ditinggalkan, dan tidak bisa dilepaskan dari-Nya, wahai Rabb kami)."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya syukur kepada Allah setelah makan. Doa Nabi ﷺ mengandung pujian yang sempurna, mengakui bahwa segala nikmat bersumber dari-Nya dan kita selalu bergantung pada-Nya. Ini membentuk adab makan yang lengkap, mulai dari membaca basmalah hingga menutup dengan hamdalah, sekaligus mencegah sikap kufur nikmat.

# 8
وعن مُعَاذِ بن أَنسٍ رضيَ اللَّهُ عنه قَالَ: قال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: منْ أَكَلَ طَعَاماً فقال: الحَمْدُ للَّهِ الذي أَطْعَمَني هذا، وَرَزَقْنِيهِ مِنْ غيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلا قُوّةٍ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» رواه أبو داود، والترمذي وقال: حدِيثٌ حسنٌ.
Terjemahan
Dari Mu'adz bin Anas رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang makan makanan, lalu ia membaca:
'Alhamdulillahil-ladzii ath'amani haadzaa wa razaqaniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin.'
(Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan memberiku rezeki tanpa daya dan kekuatan dariku)."
Maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan ia berkata: hadits ini hasan)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan syukur yang tulus setelah makan. Intinya, pengampunan dosa dapat diraih dengan mengakui bahwa rezeki dan kemampuan makan semata-mata berasal dari Allah, bukan dari kekuatan diri sendiri. Ini menegaskan pentingnya ketergantungan hati hanya kepada Allah (tawakkal) dan melatih sikap rendah hati (tawadhu') dalam setiap nikmat.