Kitab 3 · Bab 8
Boleh makan makanan dari pinggir piring dan larangan makan dari bagian tengah piring.
✦ 2 Hadith ✦
# 1
عن ابن عباس رضيَ اللَّه عنهما عن النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: «الْبَرَكَةُ تَنْزِلُ وَسَطَ الطَّعَام فَكُلُوا مِنْ حَافَّتَيْهِ ولاَ تَأْكُلُوا مِن وَسَطِهِ» رواه أبو داود، والترمذي، وقال: حديثٌ حسنٌ صحيحٌ.
Terjemahan
Dari Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما, ia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Berkah itu turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggir-pingginya dan jangan makan dari tengahnya."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan ia berkata: hadits ini hasan shahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab makan agar tidak mengambil makanan dari bagian tengah piring, tetapi dari bagian pinggirnya. Hikmahnya adalah menghormati keberkahan yang Allah turunkan pada makanan dan berbagi dengan orang lain. Selain itu, ini juga bentuk tawadhu' serta menjaga perasaan orang yang makan bersama kita.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan ia berkata: hadits ini hasan shahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab makan agar tidak mengambil makanan dari bagian tengah piring, tetapi dari bagian pinggirnya. Hikmahnya adalah menghormati keberkahan yang Allah turunkan pada makanan dan berbagi dengan orang lain. Selain itu, ini juga bentuk tawadhu' serta menjaga perasaan orang yang makan bersama kita.
# 2
وعن عبدِ اللَّه بن بُسْرٍ رضيَ اللَّه عنه قال: كان لِلنبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَصْعَةٌ يُقالُ لها: الْغَرَّاءُ، يحْمِلُهَا أَرْبَعَةُ رِجالٍ، فَلمَّا أَضْحوا وَسَجَدُوا الضُّحى أُتِي بتَلْكَ الْقَصْعَةِ، يعني وقد ثُرِدَ فيها، فالتَفُّوا عليها، فَلَمَّا كَثُرُوا جَثَا رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقالَ أَعرابيٌّ: ما هذه الجِلْسةُ؟ قال رسولُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: إِنَّ اللَّه جَعَلني عَبْداً كَرِيماً، ولَمْ يجْعَلْني جَباراً عَنيداً، ثمَّ قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: «كُلُوا مِنْ حَوَالَيْهَا، وَدَعُوا ذِرْوَتَهَا يُبَارَكْ فيها» رواه أبو داودٍ بإِسناد جيد.
« ذِرْوَتَهَا » أَعْلاَهَا : بكسر الذال وضمها .
Terjemahan
Dari Abdullah bin Busr رضي الله عنه, ia berkata: Nabi ﷺ memiliki nampan besar yang disebut Al-Gharraq, yang diangkat oleh empat orang. Pada suatu pagi setelah shalat Dhuha, nampan itu dibawa dalam keadaan telah terisi makanan. Mereka pun duduk mengelilinginya. Ketika jumlah mereka bertambah banyak, Rasulullah ﷺ duduk dengan satu lutut ditegakkan dan satu lagi dipanjangkan. Lalu seorang badui yang kasar berkata: "Duduk macam apa ini?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Sesungguhnya Allah menjadikanku sebagai hamba yang mulia (tawadhu'), Dia tidak menjadikanku sombong lagi keras kepala." Kemudian beliau bersabda: "Makanlah dari pinggir-pingginya dan biarkan bagian yang tinggi (tengahnya), niscaya Allah akan memberkahinya."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang baik)
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan akhlak Rasulullah ﷺ yang rendah hati dan lemah lembut. Beliau tidak marah atas pertanyaan kasar seorang badui tentang cara duduknya, justru menjelaskan dengan bijak bahwa Allah menjadikannya seorang hamba yang mulia, bukan penguasa yang sombong. Pelajaran utamanya adalah pentingnya sikap tawadhu' (rendah hati) dan kesabaran dalam menghadapi sikap kurang sopan dari orang lain, serta meneladani kemuliaan akhlak Nabi.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang baik)
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan akhlak Rasulullah ﷺ yang rendah hati dan lemah lembut. Beliau tidak marah atas pertanyaan kasar seorang badui tentang cara duduknya, justru menjelaskan dengan bijak bahwa Allah menjadikannya seorang hamba yang mulia, bukan penguasa yang sombong. Pelajaran utamanya adalah pentingnya sikap tawadhu' (rendah hati) dan kesabaran dalam menghadapi sikap kurang sopan dari orang lain, serta meneladani kemuliaan akhlak Nabi.