Kitab 5 · Bab 1
Adab-adab berbaring, tidur miring, duduk, pertemuan, orang-orang yang duduk berkumpul, dan ketika bermimpi.
✦ 6 Hadith ✦
# 1
عن الْبَراءِ بن عازبٍ رضيَ اللَّه عنهما قال : كَانَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إذا أَوَى إلى فِرَاشِهِ نَامَ عَلى شِقَّهِ الأَيمنِ ، ثُمَّ قال : « اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إليْكَ ، وَوجَّهْتُ وَجْهي إلَيْكَ ، وفَوَّضْتُ أَمْرِي إلَيْكَ ، وَأَلجَأْتُ ظهْري إلَيْكَ ، رَغْبةً وَرهْبَةً إلَيْكَ ، لا مَلْجأ ولا مَنْجى مِنْكَ إلاَّ إلَيْكَ ، آمَنْتُ بِكتَابكَ الذي أَنْزلتَ ، وَنَبيِّكَ الذي أَرْسَلْتَ » .
رواه البخاري بهذا اللفظ في كتاب الأدب من صحيحه .
Terjemahan
Dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, apabila beliau pergi tidur, beliau tidur dengan miring ke kanan, kemudian beliau berdoa:
"Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan harapan dan rasa takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan dari (siksa)-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab-Mu yang Engkau turunkan dan Nabi-Mu yang Engkau utus."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab tidur yang diajarkan Rasulullah, yaitu tidur dengan miring ke kanan. Kemudian, inti hikmahnya adalah meneladani sikap pasrah total (tawakkal) kepada Allah sebelum tidur. Doa tersebut mengandung penyerahan diri, keimanan, serta pengakuan bahwa hanya Allah tempat berlindung dan mengharap keselamatan. Dengan demikian, tidur bukan sekadar istirahat, tetapi juga ibadah yang diawali dengan mengingat Allah.
"Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan harapan dan rasa takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan dari (siksa)-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab-Mu yang Engkau turunkan dan Nabi-Mu yang Engkau utus."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab tidur yang diajarkan Rasulullah, yaitu tidur dengan miring ke kanan. Kemudian, inti hikmahnya adalah meneladani sikap pasrah total (tawakkal) kepada Allah sebelum tidur. Doa tersebut mengandung penyerahan diri, keimanan, serta pengakuan bahwa hanya Allah tempat berlindung dan mengharap keselamatan. Dengan demikian, tidur bukan sekadar istirahat, tetapi juga ibadah yang diawali dengan mengingat Allah.
# 2
وعنه قال : قال لي رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إذَا أَتَيْتَ مَضْجَعكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلى شِقِّكَ الأَيمَنِ ، وَقُلْ .. » وذَكَرَ نَحْوهُ ، وفيه : « واجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقول » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Darinya (Al-Bara' bin 'Azib) juga berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku: "Sebelum engkau pergi ke tempat tidur, berwudhulah seperti wudhumu untuk shalat, kemudian tidurlah dengan miring ke kanan, kemudian bacalah doa..." Dia menyebutkan seperti sebelumnya, dan di dalamnya beliau bersabda: "Jadikanlah ia (doa itu) sebagai ucapan terakhirmu (sebelum tidur)."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab tidur yang penuh berkah. Intinya adalah menyucikan diri dengan wudhu, lalu tidur dalam posisi miring ke kanan yang menyehatkan dan merupakan sunnah. Kemudian, mengisi akhir hari dengan doa dan dzikir kepada Allah, menjadikannya sebagai penutup ucapan sebelum tidur. Ini melatih diri untuk selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan, termasuk saat beristirahat.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab tidur yang penuh berkah. Intinya adalah menyucikan diri dengan wudhu, lalu tidur dalam posisi miring ke kanan yang menyehatkan dan merupakan sunnah. Kemudian, mengisi akhir hari dengan doa dan dzikir kepada Allah, menjadikannya sebagai penutup ucapan sebelum tidur. Ini melatih diri untuk selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan, termasuk saat beristirahat.
# 3
وعن عائشةَ رضيَ اللَّه عنها قالتْ : كَانَ النَّبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَصلِّي مِن اللَّيْلِ إحْدَى عَشَرَةَ رَكْعَةً ، فَإذا طلَع الْفَجْرُ صَلَّى ركْعَتيْنِ خَفِيفتيْنِ ، ثمَّ اضْطَجَعَ على شِقِّهِ الأيمن حَتَّى يَجِيءَ المُؤَذِّنُ فيُوذِنَهُ ، متفق عليه .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat malam sebelas rakaat. Apabila fajar terbit, beliau shalat dua rakaat yang ringan, kemudian berbaring di sisi kanannya sampai muadzin datang mengumandangkan adzan untuknya." Muttafaqun 'alaih.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan tata cara salat malam dan witir Nabi Muhammad ﷺ yang berjumlah sebelas rakaat secara keseluruhan. Hikmahnya adalah anjuran untuk mengakhirkan malam dengan ibadah dan mengisi waktu menunggu subuh dengan amalan ringan, yaitu dua rakaat fajar serta istirahat sejenak dengan berbaring di sisi kanan. Hal ini menunjukkan kesempurnaan ibadah beliau yang memadukan ketekunan beribadah dengan menjaga kesehatan dan kesiapan fisik.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan tata cara salat malam dan witir Nabi Muhammad ﷺ yang berjumlah sebelas rakaat secara keseluruhan. Hikmahnya adalah anjuran untuk mengakhirkan malam dengan ibadah dan mengisi waktu menunggu subuh dengan amalan ringan, yaitu dua rakaat fajar serta istirahat sejenak dengan berbaring di sisi kanan. Hal ini menunjukkan kesempurnaan ibadah beliau yang memadukan ketekunan beribadah dengan menjaga kesehatan dan kesiapan fisik.
# 4
وعن حُذَيْفَةَ رضي اللَّه عنه قال : : كان النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إذا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنَ اللَّيْلِ وَضَعَ يَدهُ تَحْتَ خَدِّهِ ، ثمَّ يَقُولُ : « اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أمُوتُ وَ أَحْيَا » وإذا اسْتيْقَظَ قَالَ : «الحَمْدُ للَّهِ اَلَّذي أَحْيَانَا بعْدَ مَا أَمَاتَنَا وإليه النُّشُورُ » . رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, apabila hendak tidur di malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya, kemudian membaca doa:
"Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup."
Dan apabila bangun dari tidur, beliau membaca doa:
"Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kebangkitan."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua adab penting Rasulullah SAW terkait tidur. Pertama, sebelum tidur disunnahkan meletakkan tangan di bawah pipi sebagai posisi yang baik dan membaca doa yang menegaskan ketergantungan hidup dan mati hanya pada Allah. Kedua, saat bangun tidur dianjurkan memuji Allah yang telah mengembalikan kehidupan, mengingatkan bahwa tidur adalah gambaran kecil dari kematian dan kebangkitan di akhirat.
"Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup."
Dan apabila bangun dari tidur, beliau membaca doa:
"Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kebangkitan."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua adab penting Rasulullah SAW terkait tidur. Pertama, sebelum tidur disunnahkan meletakkan tangan di bawah pipi sebagai posisi yang baik dan membaca doa yang menegaskan ketergantungan hidup dan mati hanya pada Allah. Kedua, saat bangun tidur dianjurkan memuji Allah yang telah mengembalikan kehidupan, mengingatkan bahwa tidur adalah gambaran kecil dari kematian dan kebangkitan di akhirat.
# 5
وعن يعِيشَ بنِ طخْفَةَ الغِفَارِيَّ رضي الله عنهما قال : قال أبي «بينما أنَا مضُطَجِعٌ في الْمسَجِدِ عَلَى بَطْنِي إذَا رَجُلٌ يُحَرِّكُنِي بِرِجْلهِ فقال « إنَّ هذِهِ ضَجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللهُ » قال : فَنَظرْتُ ، فإذَا رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم رواه أبو داود بإسنادٍ صحيح
Terjemahan
Dari Ya'isy bin Tikhfah Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu berkata: Ayahku menceritakan kepadaku: Ketika ayahku sedang tidur tengkurap di masjid di atas perutnya, tiba-tiba seorang laki-laki menggoyangkannya dan berkata: "Tidur seperti ini membuat Allah murka." Saat itu ayahku melihat kepada laki-laki tersebut, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang baik).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab tidur yang disukai Allah. Rasulullah melarang tidur tengkurap karena posisi ini menyerupai tidurnya penghuni neraka dan merupakan kebiasaan yang dibenci Allah. Larangan ini menunjukkan perhatian Islam terhadap adab dalam segala hal, bahkan dalam hal yang dianggap sepele seperti posisi tidur, sebagai bentuk ketaatan dan penghindaran dari menyerupai hal-hal yang dimurkai.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang baik).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab tidur yang disukai Allah. Rasulullah melarang tidur tengkurap karena posisi ini menyerupai tidurnya penghuni neraka dan merupakan kebiasaan yang dibenci Allah. Larangan ini menunjukkan perhatian Islam terhadap adab dalam segala hal, bahkan dalam hal yang dianggap sepele seperti posisi tidur, sebagai bentuk ketaatan dan penghindaran dari menyerupai hal-hal yang dimurkai.
# 6
وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَنْ قَعَدَ مَقْعَداً لَمْ يَذْكُرِ الله تعالى فِيهِ كَانَتْ عَلَيِهِ مِنَ الله تعالى تِرةٌ ، وَمَنِ اضْطَجَعَ مُضْطَجَعاً لاَيَذْكُرُ الله تعالى فِيهِ كَانَتْ عَلْيِه مِن اللهِ تِرةٌ » رواه أبو داود بإسنادِ حسن . « التِّرةُ » بكسر التاء
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa duduk di suatu tempat lalu tidak berzikir kepada Allah Ta'ala di dalamnya, maka itu menjadi suatu kekurangan (dosa) baginya dari Allah Ta'ala. Dan barangsiapa berbaring di suatu tempat lalu tidak berzikir kepada Allah Ta'ala di dalamnya, maka itu menjadi suatu kekurangan (dosa) baginya dari Allah." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad hasan. "At-Tirah" dengan kasrah huruf ta'.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya mengisi setiap kesempatan dan keadaan dengan zikir kepada Allah. Setiap tempat duduk atau berbaring yang tidak digunakan untuk mengingat-Nya akan menjadi celaan dan kekurangan bagi pelakunya di sisi Allah. Hikmahnya, seorang Muslim dituntut untuk selalu menyertakan Allah dalam seluruh aktivitas hidupnya, menjadikan zikir sebagai napas keseharian agar setiap saat bernilai ibadah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya mengisi setiap kesempatan dan keadaan dengan zikir kepada Allah. Setiap tempat duduk atau berbaring yang tidak digunakan untuk mengingat-Nya akan menjadi celaan dan kekurangan bagi pelakunya di sisi Allah. Hikmahnya, seorang Muslim dituntut untuk selalu menyertakan Allah dalam seluruh aktivitas hidupnya, menjadikan zikir sebagai napas keseharian agar setiap saat bernilai ibadah.