Kitab 5 · Bab 2
Diperbolehkan tidur telentang dengan meletakkan satu kaki di atas kaki yang lain, jika tidak khawatir aurat terbuka. Dan diperbolehkan duduk iq'a (duduk di atas kedua tumit) dan berlutut.
✦ 5 Hadith ✦
# 1
عن عبدِ الله بن يزيد رضي الله عنه أنه رأى رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مُستَلِقياَ في المسَجْدِ وَاضعاً إحْدَى رِجْليْهِ عَلى الأُخْرىَ متفق عليه .
Terjemahan
Dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu 'anhu berkata: Sungguh dia telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbaring telentang di masjid, dengan meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kebolehan berbaring telentang di masjid dengan satu kaki di atas kaki yang lain. Perilaku Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ini menjadi dalil bahwa sikap tersebut bukanlah perbuatan yang dilarang atau mengurangi kesucian masjid, selama tidak mengganggu jamaah lain. Hal ini mengajarkan tentang kelapangan dan kemudahan dalam Islam, serta meneladani adab dan kenyamanan beliau dalam beristirahat.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kebolehan berbaring telentang di masjid dengan satu kaki di atas kaki yang lain. Perilaku Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ini menjadi dalil bahwa sikap tersebut bukanlah perbuatan yang dilarang atau mengurangi kesucian masjid, selama tidak mengganggu jamaah lain. Hal ini mengajarkan tentang kelapangan dan kemudahan dalam Islam, serta meneladani adab dan kenyamanan beliau dalam beristirahat.
# 2
وعن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال : « كان النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إذَا صَلَّى الْفَجرَ تَرَبَّعَ في مَجْلِسِهِ حتَّى تَطْلُعَ الشَّمسُ حَسْنَاء » حدِيث صحيح ، رواه أبو داود وغيره بأسانيد صحيحة.
Terjemahan
Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu berkata: "Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, apabila telah shalat Subuh, beliau duduk bersila di tempat duduknya sampai matahari terbit dengan terang." Hadis sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya dengan sanad-sanad yang sahih.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya memanfaatkan waktu pagi dengan ibadah dan dzikir. Duduknya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam setelah Subuh hingga matahari terang mengandung hikmah menjaga konsistensi ibadah, merenung, dan memulai hari dengan ketenangan serta kebaikan. Waktu tersebut adalah saat yang mustajab untuk berdoa dan membaca Al-Qur'an, sehingga sebaiknya diisi dengan ketaatan, bukan kesia-siaan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya memanfaatkan waktu pagi dengan ibadah dan dzikir. Duduknya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam setelah Subuh hingga matahari terang mengandung hikmah menjaga konsistensi ibadah, merenung, dan memulai hari dengan ketenangan serta kebaikan. Waktu tersebut adalah saat yang mustajab untuk berdoa dan membaca Al-Qur'an, sehingga sebaiknya diisi dengan ketaatan, bukan kesia-siaan.
# 3
وعنِ ابن عمر رضي الله عنهما قال : رأيت رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بفناء الكَعْبِةَ مُحْتَبياً بِيَدَيْهِ هكَذَا ، وَوَصَفَ بِيَدِيِه الاحْتِباء، وهُوَ القُرفُصَاء رواه البخاري.
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di halaman Ka'bah duduk ihtiba' dengan kedua tangannya seperti ini -dan dia mendeskripsikan ihtiba' dengan tangannya-, yaitu duduk qurfusha' (duduk dengan mendekap kedua lutut). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bentuk duduk Nabi Muhammad ﷺ yang disebut ihtiba' atau qurfusha', yaitu duduk dengan mendekap kedua lutut di halaman Ka'bah. Riwayat ini menunjukkan kebolehan dan kesunahan duduk dengan cara tersebut, khususnya di tempat mulia seperti Masjidil Haram. Selain itu, hadis ini mengajarkan metode sahabat dalam menyampaikan hadis, yaitu dengan ucapan dan peragaan gerakan untuk memastikan kejelasan informasi.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bentuk duduk Nabi Muhammad ﷺ yang disebut ihtiba' atau qurfusha', yaitu duduk dengan mendekap kedua lutut di halaman Ka'bah. Riwayat ini menunjukkan kebolehan dan kesunahan duduk dengan cara tersebut, khususnya di tempat mulia seperti Masjidil Haram. Selain itu, hadis ini mengajarkan metode sahabat dalam menyampaikan hadis, yaitu dengan ucapan dan peragaan gerakan untuk memastikan kejelasan informasi.
# 4
وعن قَيْلَةَ بِنْت مَخْرمَةَ رضي الله عنها قالت : رأيتُ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وهو قَاعِدٌ القُرَفُصَاءَ فلما رأيتُ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم المُتَخَشِّعَ في الِجْلسةِ أُرْعِدتُ مِنَ الفَرَقِ . رواه أبو داود ، والترمذي.
Terjemahan
Dari Qailah binti Makhramah radhiyallahu 'anha berkata: Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang duduk qurfusha' (duduk dengan mendekap lutut). Ketika aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang khusyuk dalam duduknya, aku gemetar karena takut. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan keteladanan Nabi Muhammad ﷺ dalam kekhusyukan dan ketawadhuan. Duduk beliau yang sederhana (qurfusha') dengan penuh perenungan menimbulkan rasa khasyyah (takut yang penuh pengagungan) di hati sahabat, hingga membuatnya gemetar. Pelajaran utamanya adalah keagungan dan wibawa seorang muslim bukan terletak pada sikap sombong, tetapi justru pada ketenangan, kerendahan hati, dan kekhusyukan yang tulus, yang dapat dirasakan oleh orang lain.
Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan keteladanan Nabi Muhammad ﷺ dalam kekhusyukan dan ketawadhuan. Duduk beliau yang sederhana (qurfusha') dengan penuh perenungan menimbulkan rasa khasyyah (takut yang penuh pengagungan) di hati sahabat, hingga membuatnya gemetar. Pelajaran utamanya adalah keagungan dan wibawa seorang muslim bukan terletak pada sikap sombong, tetapi justru pada ketenangan, kerendahan hati, dan kekhusyukan yang tulus, yang dapat dirasakan oleh orang lain.
# 5
وعنِ الشَّريد بن سُوَيْدٍ رضي الله عنه قال : مر بي رسولُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَأنا جَالس هكذا ، وَقَدْ وَضَعتُ يَديِ اليُسْرَى خَلْفَ ظَهْرِي وَاتَّكأْتُ عَلَى إليْة يَدِي فقال : أتقْعُدُ قِعْدةَ المَغضُوبِ عَلَيهْمْ ، رواه أبو داود بإسناد صحيح.
Terjemahan
Dari Asy-Syariid bin Suwaid radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berjalan dan menemuiku, saat aku sedang duduk seperti ini -yaitu aku meletakkan kedua tanganku di belakang punggungku, duduk bersandar pada telapak kakiku-. Beliau bersabda: "Apakah engkau duduk seperti duduknya orang yang dimurkai?"
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang sahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa postur dan cara duduk seorang muslim mencerminkan adab dan kehormatan dirinya. Duduk dengan bersandar pada tangan di belakang seperti orang yang sedang marah atau putus asa adalah sikap yang tidak pantas dan dicela oleh Rasulullah. Oleh karena itu, seorang muslim harus menjaga sikap lahiriahnya agar senantiasa menunjukkan ketawadhu'an, semangat, dan penghormatan, serta menghindari segala bentuk penyerupaan dengan orang-orang yang dimurkai.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang sahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa postur dan cara duduk seorang muslim mencerminkan adab dan kehormatan dirinya. Duduk dengan bersandar pada tangan di belakang seperti orang yang sedang marah atau putus asa adalah sikap yang tidak pantas dan dicela oleh Rasulullah. Oleh karena itu, seorang muslim harus menjaga sikap lahiriahnya agar senantiasa menunjukkan ketawadhu'an, semangat, dan penghormatan, serta menghindari segala bentuk penyerupaan dengan orang-orang yang dimurkai.