Kitab 5 · Bab 3
Cara duduk dalam berbagai majelis.
✦ 13 Hadith ✦
# 1
عن ابنِ عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم « لايُقِيِمَنَّ أحَدُكُمْ رَجُلاً مِنْ مَجْلسهِ ثم يَجْلسُ فِيه ولكِنْ تَوسَعُّوا وتَفَسَّحوا » وَكَان ابنُ عُمَرَ إذا قام لهُ رَجُلٌ مِنْ مجْلِسه لَمْ يَجِلسْ فِيه . متفق عليه .
Terjemahan
Dari Samurah radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian meminta orang lain berdiri dari tempat duduknya, kemudian dia duduk di tempatnya itu, tetapi hendaklah kalian melapangkan tempat dan memberinya ruang." Ibnu Umar, apabila ada orang yang berdiri untuk memberinya tempat, dia tidak mau duduk di tempat itu.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab tinggi dalam bermasyarakat, yaitu larangan mengambil tempat duduk orang lain yang telah kita suruh berdiri. Perintah untuk saling melapangkan dan memberi ruang menunjukkan keutamaan mengutamakan kepentingan orang lain (itsar) dan menciptakan keharmonisan sosial. Sikap konsisten Ibnu Umar yang menolak duduk di tempat yang dikosongkan untuknya menjadi teladan praktis dalam mengamalkan sunnah Nabi, bukan sekadar mengetahui teorinya.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab tinggi dalam bermasyarakat, yaitu larangan mengambil tempat duduk orang lain yang telah kita suruh berdiri. Perintah untuk saling melapangkan dan memberi ruang menunjukkan keutamaan mengutamakan kepentingan orang lain (itsar) dan menciptakan keharmonisan sosial. Sikap konsisten Ibnu Umar yang menolak duduk di tempat yang dikosongkan untuknya menjadi teladan praktis dalam mengamalkan sunnah Nabi, bukan sekadar mengetahui teorinya.
# 2
وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول لله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إذا قاَم أحَدُكُمْ منْ مَجْلسٍ ثُمَّ رَجَعَ إلَيْهِ فَهُوَ أحَقُّ بِه » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila seseorang dari kalian bangkit dari tempat duduknya (dalam suatu majelis), kemudian dia kembali, maka dia lebih berhak atas tempat duduknya itu."
(Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab bermasyarakat dengan menghormati hak orang lain. Intinya adalah menjaga hak kepemilikan sementara seseorang atas tempat duduknya di suatu majelis, meski ia sempat meninggalkannya. Hikmahnya adalah untuk mencegah perselisihan, menumbuhkan rasa aman, serta mengajarkan sikap menghargai dan memuliakan sesama muslim dalam interaksi sosial sehari-hari.
(Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab bermasyarakat dengan menghormati hak orang lain. Intinya adalah menjaga hak kepemilikan sementara seseorang atas tempat duduknya di suatu majelis, meski ia sempat meninggalkannya. Hikmahnya adalah untuk mencegah perselisihan, menumbuhkan rasa aman, serta mengajarkan sikap menghargai dan memuliakan sesama muslim dalam interaksi sosial sehari-hari.
# 3
وعن جابر بنِ سَمُرَةَ رضي اللَّه عنهما قال : « كُنَّا إذَا أَتَيْنَا النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم جَلَسَ أَحَدُنَا حَيْثُ يَنْتَهي » . رواه أبو داود . والترمذي وقال : حديث حسن .
Terjemahan
Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhuma berkata: "Kami, apabila mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, salah seorang dari kami duduk di tempat yang dia dapatkan (kosong)." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadis hasan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab sederhana namun penting dalam majelis ilmu dan bermasyarakat. Kita diajarkan untuk duduk di tempat yang tersedia tanpa mempersulit diri atau mengganggu orang lain dengan meminta mereka bergeser. Sikap ini mencerminkan tawadhu', menghindari sikap sombong, serta menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama dalam sebuah pertemuan.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab sederhana namun penting dalam majelis ilmu dan bermasyarakat. Kita diajarkan untuk duduk di tempat yang tersedia tanpa mempersulit diri atau mengganggu orang lain dengan meminta mereka bergeser. Sikap ini mencerminkan tawadhu', menghindari sikap sombong, serta menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama dalam sebuah pertemuan.
# 4
وعن أبي عبدِ الله سَلْمان الفارِسي رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم :« لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الجُمُعة وَيَتَطهّرُ ما اسْتَطاعَ منْ طُهر وَيدَّهنُ منْ دُهْنِهِ أوْ يَمسُّ مِنْ طيب بَيْته ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنينْ ثُمَّ يُصَلّي ما كُتِبَ له ُ ثُمَّ يُنْصِتُ إذَا تَكَلَّمَ الإمامُ إلا غُفِرَ لهُ ما بَيْنَهُ وَبَيَْن الجمُعَةِ الأُخْرَى » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Abdullah Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat, bersuci semampunya, memakai minyak rambut atau wewangian di rumahnya, kemudian dia keluar (ke masjid) untuk shalat, tanpa mencelah di antara dua orang (untuk mengambil tempat duduk), kemudian dia shalat (shalat sunnah) yang ditetapkan untuknya, lalu diam mendengarkan imam (berkhotbah), melainkan akan diampuni dosa-dosanya antara Jumat itu dan Jumat berikutnya."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan tata cara dan adab utama pada hari Jumat yang dapat menghapus dosa selama sepekan. Amalan utamanya adalah mandi, bersuci, memakai wewangian, pergi ke masjid dengan sopan tanpa memisahkan jamaah lain, memperbanyak shalat sunnah, dan diam penuh saat khotbah. Kombinasi antara kebersihan lahir, adab sosial, dan kekhusyukan dalam ibadah inilah yang mendatangkan ampunan Allah dari Jumat ke Jumat.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan tata cara dan adab utama pada hari Jumat yang dapat menghapus dosa selama sepekan. Amalan utamanya adalah mandi, bersuci, memakai wewangian, pergi ke masjid dengan sopan tanpa memisahkan jamaah lain, memperbanyak shalat sunnah, dan diam penuh saat khotbah. Kombinasi antara kebersihan lahir, adab sosial, dan kekhusyukan dalam ibadah inilah yang mendatangkan ampunan Allah dari Jumat ke Jumat.
# 5
وعن عمرو بن شُعَيْب عن أبيه عن جده رضي الله عنه أن رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: « لايحَلُّ لِرَجُل أن يُفَرِّقَ بَيْنَ اثْنيْنِ إلا بإذْنِهِمَا » رواه أبو داود، والترمذي وقال : حديث حسن .
وفي رواية لأبي داود : « لايَجلِسُ بَيْنَ رَجُليْن إلا بإذْنِهمَا ».
Terjemahan
Amr bin Shu'aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak diperbolehkan bagi seorang laki-laki untuk memisahkan (duduk di antara) dua orang, kecuali dengan izin dari keduanya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Dawud, dan dia berkata: Hadits ini hasan).
Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan: "Janganlah seseorang duduk di antara dua orang laki-laki, kecuali dengan izin dari keduanya."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab sosial yang tinggi, yaitu menghormati hak dan privasi orang lain. Intinya adalah larangan untuk memisahkan atau duduk di antara dua orang tanpa izin mereka, karena hal itu dapat mengganggu keakraban dan pembicaraan mereka. Hikmahnya adalah menanamkan sikap sensitif terhadap perasaan sesama, menjaga keharmonisan hubungan, serta menghindari sikap egois dan memaksakan kehadiran di tempat yang tidak diinginkan.
Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan: "Janganlah seseorang duduk di antara dua orang laki-laki, kecuali dengan izin dari keduanya."
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab sosial yang tinggi, yaitu menghormati hak dan privasi orang lain. Intinya adalah larangan untuk memisahkan atau duduk di antara dua orang tanpa izin mereka, karena hal itu dapat mengganggu keakraban dan pembicaraan mereka. Hikmahnya adalah menanamkan sikap sensitif terhadap perasaan sesama, menjaga keharmonisan hubungan, serta menghindari sikap egois dan memaksakan kehadiran di tempat yang tidak diinginkan.
# 6
وعن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه أن رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لَعَنَ مَنْ جَلَسَ وَسَطَ الحَلْقَةَ . رواه أبو داود بإسناد حسن .
وروى الترمذي عن أبي مِجْلزٍ أن رَجُلاً قَعَدَ وَسَطَ حَلقْة فقال حُذَيْفَةُ : مُلْعُونٌ عُلَىَ لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أوْ لَعَنَ الله عَلَى لِسَانِ محُمَدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَنْ جَلَسَ وَسَطَ الْحَلْقةِ. قال الترمذي : حديث حسن صحيح .
Terjemahan
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman رضي الله عنه, bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ melaknat orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang baik).
Sementara At-Tirmidzi meriwayatkan dari Mikhnaf, bahwa ada seorang laki-laki duduk di tengah-tengah lingkaran majelis. Saat itu, Hudzaifah berkata: "Telah dilaknat melalui lisan Muhammad ﷺ, atau Allah melaknat melalui lisan Muhammad, orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis."
(At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab bermajelis. Larangan duduk di tengah lingkaran bertujuan menjaga keharmonisan dan menghindari kesan sombong atau memecah kebersamaan. Intinya, seorang muslim harus memilih tempat duduk yang tidak mengganggu atau memutus pandangan orang lain, sebagai bentuk penghormatan dan tawadhu' dalam pergaulan.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang baik).
Sementara At-Tirmidzi meriwayatkan dari Mikhnaf, bahwa ada seorang laki-laki duduk di tengah-tengah lingkaran majelis. Saat itu, Hudzaifah berkata: "Telah dilaknat melalui lisan Muhammad ﷺ, atau Allah melaknat melalui lisan Muhammad, orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis."
(At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab bermajelis. Larangan duduk di tengah lingkaran bertujuan menjaga keharmonisan dan menghindari kesan sombong atau memecah kebersamaan. Intinya, seorang muslim harus memilih tempat duduk yang tidak mengganggu atau memutus pandangan orang lain, sebagai bentuk penghormatan dan tawadhu' dalam pergaulan.
# 7
وعن أبي سعيد الخدريِّ رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول « خَيْرُ الْمَجَالِسِ أوْسَعُهَا » رواه أبو داود بإسناد صحيح على شرطِ البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebaik-baik majelis adalah majelis yang paling lapang."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih, sesuai syarat Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya menciptakan suasana yang nyaman dan inklusif dalam sebuah majelis. Makna "lapang" bukan hanya secara fisik, tetapi juga lapang hati, lapang dalam menerima kehadiran orang lain, dan lapang dalam memberikan ruang untuk berbagi ilmu atau kebaikan. Dengan demikian, majelis yang baik adalah yang mudah diakses dan membuat semua yang hadir merasa diterima.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih, sesuai syarat Al-Bukhari).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya menciptakan suasana yang nyaman dan inklusif dalam sebuah majelis. Makna "lapang" bukan hanya secara fisik, tetapi juga lapang hati, lapang dalam menerima kehadiran orang lain, dan lapang dalam memberikan ruang untuk berbagi ilmu atau kebaikan. Dengan demikian, majelis yang baik adalah yang mudah diakses dan membuat semua yang hadir merasa diterima.
# 8
وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ جَلَسَ في مَجْلس فَكثُرَ فيهِ لَغطُهُ فقال قَبْلَ أنْ يَقُومَ منْ مجلْسه ذلك : سبْحانَك اللَّهُمّ وبحَمْدكَ أشْهدُ أنْ لا إله إلا أنْت أسْتغْفِركَ وَأتَوبُ إليْك : إلا غُفِرَ لَهُ ماَ كان َ في مجلسه ذلكَ » رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang duduk dalam suatu majelis, lalu banyak bicara dalam majelis itu, kemudian dia membaca sebelum berdiri dari majelis tersebut:
'Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.'
(Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).'
Maka akan diampuni dosa-dosanya yang terjadi dalam majelis itu." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia menyatakan: Hadits ini shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab penting dalam bermajelis. Rasulullah ﷺ memberikan solusi bagi kesalahan bicara yang kerap terjadi saat berkumpul, yaitu dengan membaca dzikir istighfar dan taubat sebelum bubar. Ini menunjukkan betapa mudahnya rahmat Allah bagi yang ingin bertaubat. Hikmahnya, kita dituntut untuk menutup setiap aktivitas, termasuk percakapan, dengan memohon ampunan-Nya.
'Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.'
(Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).'
Maka akan diampuni dosa-dosanya yang terjadi dalam majelis itu." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia menyatakan: Hadits ini shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab penting dalam bermajelis. Rasulullah ﷺ memberikan solusi bagi kesalahan bicara yang kerap terjadi saat berkumpul, yaitu dengan membaca dzikir istighfar dan taubat sebelum bubar. Ini menunjukkan betapa mudahnya rahmat Allah bagi yang ingin bertaubat. Hikmahnya, kita dituntut untuk menutup setiap aktivitas, termasuk percakapan, dengan memohon ampunan-Nya.
# 9
وعن أبي بَرْزَةَ رضي الله عنه قال : كان رسول صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقولُ بآخرة إذَا أرَادَ أنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجِلسِ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبَحَمْدكَ أشْهدُ أنْ لا إلهَ إلا أنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وأتُوبُ إِلَيْكَ » فقال رَجُلٌ يارسول الله إنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلاَ مَاكُنْتَ تَقُولُهُ فِيَما مَضَى ؟ قال : «ذلكَ كفَّارَةٌ لِماَ يَكُونُ في الْمجْلِسِ » رواه أبو داود ، ورواه الحاكم أبو عبد الله في المستدرك من رواية عائشة رضي الله عنها وقال :صحيح الإسناد.
Terjemahan
Dari Abu Barzah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ mengucapkan di akhir majelis sebelum berdiri dari berbagai pertemuan:
'Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.'
(Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).'
Seorang laki-laki bertanya: "Wahai Rasulullah, engkau membaca suatu kalimat yang belum pernah engkau baca sebelumnya?" Beliau menjawab: "Itu adalah penghapus dosa-dosa yang terjadi dalam majelis." (Diriwayatkan oleh Al-Hakim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab penting dalam bermajelis, yaitu menutup pertemuan dengan doa dan istighfar. Kalimat yang diajarkan Nabi ﷺ mengandung dzikir, pujian, pengakuan tauhid, serta permohonan ampun. Hikmahnya, ucapan ini berfungsi sebagai kaffarah (penebus) untuk dosa-dosa yang mungkin terjadi selama majelis, seperti ghibah, ucapan sia-sia, atau kesalahan lain, sehingga majelis kita ditutup dengan pengampunan Allah.
'Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.'
(Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).'
Seorang laki-laki bertanya: "Wahai Rasulullah, engkau membaca suatu kalimat yang belum pernah engkau baca sebelumnya?" Beliau menjawab: "Itu adalah penghapus dosa-dosa yang terjadi dalam majelis." (Diriwayatkan oleh Al-Hakim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab penting dalam bermajelis, yaitu menutup pertemuan dengan doa dan istighfar. Kalimat yang diajarkan Nabi ﷺ mengandung dzikir, pujian, pengakuan tauhid, serta permohonan ampun. Hikmahnya, ucapan ini berfungsi sebagai kaffarah (penebus) untuk dosa-dosa yang mungkin terjadi selama majelis, seperti ghibah, ucapan sia-sia, atau kesalahan lain, sehingga majelis kita ditutup dengan pengampunan Allah.
# 10
وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال : قَلَّمَا كان رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقوم من مَجْلس حتى يَدعُوَ بهؤلاَءِ الَّدعَوَاتِ « الَّلهمَّ اقْسِم لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ ما تحُولُ بِه بَيْنَنَا وبَينَ مَعٌصَِيتِك، ومن طَاعَتِكَ ماتُبَلِّغُنَا بِه جَنَّتَكَ، ومِنَ اْليَقيٍن ماتُهِوِّنُ بِه عَلَيْنا مَصَائِبَ الدُّنيَا . الَّلهُمَّ مَتِّعْنا بأسْمَاعِناَ، وأبْصَارناَ، وِقُوّتِنا ما أحييْتَنَا ، واجْعَلْهُ الوَارِثَ منَّا ، وِاجعَل ثَأرَنَا عَلى مَنْ ظَلَمَنَا، وانْصُرْنا عَلى مَنْ عادَانَا ، وَلا تَجْعلْ مُصيَبتَنا في دينَنا ، وَلا تَجْعلِ الدُّنْيَا أكبَرَ همِّنا ولا مبلغ عِلْمٍنَا ، وَلا تُسَلِّط عَلَيَنَا مَنْ لا يْرْحَمُناَ » رواه الترمذي وقال حديث حسن .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, bahwa Rasulullah ﷺ sangat jarang berdiri dari suatu majelis, kecuali beliau membaca doa ini:
"Allaahummah qsim lanaa min khasy-yatika maa tahullu bihi bainanaa wa baina ma'aashika, wa min thaa'atika maa tuballighunaa bihi jannataka, wa minal yaqiini maa tuhawwinu bihi 'alainaa masaaiibad dunyaa. Allaahumma matti'naa bi asmaa'inaa, wa abshaarinaa, wa quwwatinaa maa ahyaitanaa, waj'alhul waaritsa minnaa, waj'al tsaaranaa 'alaa man zhalamanaa, wanshurnaa 'alaa man 'aadaanaa, wa laa taj'al mushiibatanaa fii diininaa, wa laa taj'alid dunyaa akbara hamminaa, wa laa mablagha 'ilminaa, wa laa tusallith 'alainaa man laa yarhamunaa."
(Ya Allah, bagikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi antara kami dan maksiat kepada-Mu. Dan bagikanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami ke surga-Mu. Dan bagikanlah kepada kami keyakinan yang dapat meringankan musibah dunia atas kami. Ya Allah, nikmatilah kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami, dan jadikanlah itu sebagai warisan dari kami. Jadikanlah balas dendam kami atas orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam agama kami, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan utama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai puncak ilmu kami. Dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang yang tidak menyayangi kami)."
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia menyatakan: Hadits ini hasan).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa Rasulullah ﷺ rutin berdoa dengan permohonan inti untuk ketakwaan. Doa ini meminta diberikan rasa takut kepada Allah yang menjadi penghalang dari maksiat, ketekunan dalam taat hingga meraih surga, serta keteguhan hati yang memudahkan dalam menghadapi cobaan dunia. Selain itu, doa ini juga mengandung permintaan agar nikmat kesehatan dan kekuatan dimanfaatkan dalam ketaatan, serta perlindungan dari kezaliman.
"Allaahummah qsim lanaa min khasy-yatika maa tahullu bihi bainanaa wa baina ma'aashika, wa min thaa'atika maa tuballighunaa bihi jannataka, wa minal yaqiini maa tuhawwinu bihi 'alainaa masaaiibad dunyaa. Allaahumma matti'naa bi asmaa'inaa, wa abshaarinaa, wa quwwatinaa maa ahyaitanaa, waj'alhul waaritsa minnaa, waj'al tsaaranaa 'alaa man zhalamanaa, wanshurnaa 'alaa man 'aadaanaa, wa laa taj'al mushiibatanaa fii diininaa, wa laa taj'alid dunyaa akbara hamminaa, wa laa mablagha 'ilminaa, wa laa tusallith 'alainaa man laa yarhamunaa."
(Ya Allah, bagikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi antara kami dan maksiat kepada-Mu. Dan bagikanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami ke surga-Mu. Dan bagikanlah kepada kami keyakinan yang dapat meringankan musibah dunia atas kami. Ya Allah, nikmatilah kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami, dan jadikanlah itu sebagai warisan dari kami. Jadikanlah balas dendam kami atas orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam agama kami, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan utama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai puncak ilmu kami. Dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang yang tidak menyayangi kami)."
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia menyatakan: Hadits ini hasan).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa Rasulullah ﷺ rutin berdoa dengan permohonan inti untuk ketakwaan. Doa ini meminta diberikan rasa takut kepada Allah yang menjadi penghalang dari maksiat, ketekunan dalam taat hingga meraih surga, serta keteguhan hati yang memudahkan dalam menghadapi cobaan dunia. Selain itu, doa ini juga mengandung permintaan agar nikmat kesehatan dan kekuatan dimanfaatkan dalam ketaatan, serta perlindungan dari kezaliman.
# 11
وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم « مَا مِنْ قَوْمٍ يَقومونَ منْ مَجْلسٍ لا يَذكُرُون الله تعالى فيه إلا قَاموا عَنْ مِثلِ جيفَةِ حِمَارٍ وكانَ لَهُمْ حَسْرَةً » رواه أبو داود بإسناد صحيح .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap kelompok yang berdiri (berpisah) dari suatu majelis tanpa mengingat nama Allah dalam majelis itu, maka mereka berpisah seperti berpisah dari bangkai keledai, dan mereka akan menyesal."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keutamaan mengakhiri setiap pertemuan atau majelis dengan mengingat Allah (dzikir), seperti membaca doa kaffaratul majelis. Tanpa itu, majelis itu diibaratkan bangkai keledai yang kotor dan sia-sia, yang akan menjadi penyesalan di akhirat. Hikmahnya adalah agar setiap aktivitas kita bernilai ibadah dan dijauhkan dari ghibah atau percakapan sia-sia, serta ditutup dengan rahmat Allah.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih).
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keutamaan mengakhiri setiap pertemuan atau majelis dengan mengingat Allah (dzikir), seperti membaca doa kaffaratul majelis. Tanpa itu, majelis itu diibaratkan bangkai keledai yang kotor dan sia-sia, yang akan menjadi penyesalan di akhirat. Hikmahnya adalah agar setiap aktivitas kita bernilai ibadah dan dijauhkan dari ghibah atau percakapan sia-sia, serta ditutup dengan rahmat Allah.
# 12
وعنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَا جَلَسَ قَومٌ مَجْلِساً لم يَذْكرُوا الله تَعَالَى فيه ولَم يُصَُّلوا على نَبِيِّهم فيه إلاَّ كانَ عَلَيّهمْ تِرةٌ ، فإِنْ شاءَ عَذَّبَهُم ، وإنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُم » رواه الترمذي وقال حديث حسن .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه juga, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap kelompok yang duduk berkumpul tanpa mengingat nama Allah dan tanpa membaca shalawat kepada Nabi mereka, maka mereka akan merugi. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengazab mereka, atau mungkin mengampuni mereka." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia menyatakan: Hadits ini hasan).
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya memaknai setiap pertemuan dengan dzikir kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Tanpa kedua hal tersebut, suatu majelis dianggap memiliki kekurangan dan dapat mendatangkan kerugian. Hadis ini juga mengingatkan tentang rahmat Allah yang luas, di mana Dia berkehendak mutlak untuk memberikan ampunan atau siksa. Oleh karena itu, muslim dianjurkan membiasakan budaya mengingat Allah dan bershalawat dalam setiap perkumpulan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya memaknai setiap pertemuan dengan dzikir kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Tanpa kedua hal tersebut, suatu majelis dianggap memiliki kekurangan dan dapat mendatangkan kerugian. Hadis ini juga mengingatkan tentang rahmat Allah yang luas, di mana Dia berkehendak mutlak untuk memberikan ampunan atau siksa. Oleh karena itu, muslim dianjurkan membiasakan budaya mengingat Allah dan bershalawat dalam setiap perkumpulan.
# 13
وعنه عن رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم « مَنْ قعَدَ مَقْعَداً لم يَذْكُرِ الله تعالى فِيهِ كَانَت عليه مِنَ الله ترَة، وَمَن اضطجَعَ مُضْطَجَعاً لايَذْكرُ الله تعالى فيه كَاَنتْ عَليْه مِنَ الله تِرَةٌ َ» رواه أبو داود . وقد سبق قريبا ، وشَرَحْنَا « التِّرَةَ » فِيهِ
Terjemahan
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه juga, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang duduk di suatu tempat tanpa mengingat nama Allah, maka dia akan mendapat kerugian. Dan barangsiapa yang berbaring (tidur) di suatu tempat tanpa mengingat nama Allah, maka dia juga akan mendapat kerugian dari Allah." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud).
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya mengingat Allah (dzikir) dalam setiap keadaan dan aktivitas, bahkan saat duduk atau akan tidur. Kelalaian untuk berdzikir dinilai sebagai suatu "tirrah" (kerugian dan kekurangan dalam rahmat Allah). Intinya, seorang muslim diajarkan untuk senantiasa menghubungkan segala gerak-geriknya dengan Allah, agar hidupnya selalu bernilai ibadah dan terjaga dari sikap lalai.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya mengingat Allah (dzikir) dalam setiap keadaan dan aktivitas, bahkan saat duduk atau akan tidur. Kelalaian untuk berdzikir dinilai sebagai suatu "tirrah" (kerugian dan kekurangan dalam rahmat Allah). Intinya, seorang muslim diajarkan untuk senantiasa menghubungkan segala gerak-geriknya dengan Allah, agar hidupnya selalu bernilai ibadah dan terjaga dari sikap lalai.