✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Adab-Adab Tidur
Kitab 5 · Bab 4

Mimpi dan hal-hal yang terkait dengannya.

✦ 8 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ ومن آياته منامكم بالليل والنهار ﴾ . (الروم 23)
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam." (Ar-Rum: 23).

Penjelasan singkat: Ayat ini mengajak manusia merenungi nikmat tidur sebagai tanda kekuasaan Allah. Tidur yang datang silih berganti di malam dan siang adalah sistem istirahat ilahi yang mengatur dan memulihkan kekuatan jasmani-rohani manusia. Ini menunjukkan kasih sayang Allah dalam mengatur kehidupan makhluk-Nya, sekaligus mengingatkan akan kelemahan manusia yang membutuhkan istirahat, berbeda dengan Allah Yang Maha Hidup dan Tak Pernah Tidur.

# 2
وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « لم يَبْقَ مِنَ النُبُوَّة إلا المبُشِّراتُ » قالوا : وَمَا المُبشِّراتُ ؟ قال : « الُّرؤْيَا الصَّالِحةُ » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak tersisa dari kenabian (setelahku) kecuali pemberi kabar gembira." Mereka bertanya: "Apakah pemberi kabar gembira itu?" Beliau menjawab: "Mimpi yang baik." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa setelah Nabi Muhammad ﷺ wafat, wahyu kenabian telah terputus. Yang tersisa hanyalah "al-mubassyirat", yaitu mimpi baik yang dialami oleh orang beriman. Mimpi baik ini merupakan bagian dari kenabian secara maknawi, sebagai kabar gembira dan isyarat dari Allah. Ia bukan sumber hukum, namun menjadi penyejuk hati dan penguat iman bagi seorang muslim.

# 3
وعنه أن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إذَا اقتَربَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الُمؤْمن تَكذبُ ، وَرُؤْيَا المُؤْمِنِ جُزْءٌ منْ ستَّةٍ وَأرْبَعيَنَ جُزْءًا مِنَ النُبُوةِ » متفق عليه . وفي رواية:« أصْدَقُكُم رُؤْيَا: أصْدُقكُم حَديثاً ».
Terjemahan
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه juga, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Ketika waktu hari kiamat semakin dekat, mimpi seorang mukmin hampir tidak pernah bohong. Dan mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari 46 bagian kenabian." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain disebutkan: "Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur ucapannya."

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan bahwa mimpi orang beriman yang saleh dapat menjadi kebenaran, terutama di akhir zaman. Mimpi tersebut merupakan bagian kecil dari karunia kenabian. Intinya, kejujuran dalam mimpi berkaitan erat dengan kejujuran dalam perkataan dan perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, seorang muslim harus senantiasa menjaga kebenaran dan kejujuran dalam semua aspek kehidupannya.

# 4
وعنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ رآني في المنَامِ فَسَيَرَانيِ في الَيَقَظَةِ أوْ كأنَّمَا رآني في اليَقَظَةِ لايَتَمثَّلُ الشَّيْطانُ بي » . متفق عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه lagi, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar melihatku (dalam keadaan terjaga), karena setan tidak bisa menyerupaiku." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kemuliaan dan perlindungan Allah atas pribadi Nabi Muhammad ﷺ, di mana setan tidak mampu menyerupai beliau. Mimpi yang benar melihat Nabi adalah karunia dan kabar gembira, serta bisa dianggap seperti melihat beliau dalam keadaan sadar karena kejelasan dan kebenarannya. Ini mengajarkan untuk memverifikasi mimpi dengan ajaran beliau dan menghindari klaim-klaim yang bertentangan dengan syariat.

# 5
وعن أبي سعيد الخدريِّ رضي الله عنه أنه سمِع النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « إذا رَأى أَحدُكُم رُؤْيَا يُحبُّهَا فَإنَّما هي من الله تعالى فَليَحْمَدِ الله عَلَيهَا وَلْيُحُدِّثْ بِها وفي رواية : فَلا يُحَدِّثْ بَها إلا مَنْ يُحِبُّ وَإذا رأى غَيَر ذَلك مما يَكرَهُ فإنَّمـا هي منَ الشَّيْطانِ فَليَسْتَعِذْ منْ شَرِّهَا وَلا يَذكْرها لأحد فإنها لا تضُُّره » متفق عليه .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه, dia berkata: Sesungguhnya dia mendengar Nabi ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang di antara kalian bermimpi melihat sesuatu yang disukainya, maka itu berasal dari Allah. Oleh karena itu, hendaklah dia memuji Allah dan menceritakannya (dalam riwayat lain: dia tidak boleh menceritakannya kecuali kepada orang yang disukainya). Dan apabila dia bermimpi melihat sesuatu yang tidak disukainya, maka itu berasal dari setan. Oleh karena itu, hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah dari keburukannya, dan jangan menceritakannya kepada siapa pun, maka hal itu tidak akan membahayakannya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan cara menyikapi mimpi berdasarkan jenisnya. Mimpi baik bersumber dari Allah, sehingga patut disyukuri dan boleh diceritakan kepada orang yang dipercaya. Sebaliknya, mimpi buruk berasal dari gangguan setan; sikap yang tepat adalah memohon perlindungan kepada Allah, tidak menceritakannya kepada siapa pun, dan yakin bahwa mimpi itu tidak akan membahayakan. Intinya, hadis ini membimbing kita untuk bersikap proporsional, bersyukur atas kebaikan, dan berlindung dari keburukan.

# 6
وعن أبي قتادة رضي الله عنه قال : قال النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « الرّؤيا الصَّالَحِةُ وفي رواية الرُّؤيَا الحَسَنَةُ منَ الله ، والحُلُم مِنَ الشَّيْطَان ، فَمَن رَأى شَيْئاً يَكرَهُهُ فَلْيَنْفُثْ عَن شِمَاله ثَلاَثاً ، ولْيَتَعَوَّذْ مِنَ الشَْيْطان فَإنَّها لا تَضُرُّهُ » متفق عليه . « النَّفثُ » نَفخٌ لطيفٌ لاريِقَ مَعَهُ.
Terjemahan
Dari Abu Qatadah رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Mimpi yang baik (dalam riwayat lain: mimpi yang indah) berasal dari Allah, sedangkan mimpi buruk berasal dari setan. Oleh karena itu, apabila seseorang bermimpi sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah dia meludah ke kiri tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari keburukannya, maka hal itu tidak akan membahayakannya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan asal-usul mimpi. Mimpi baik bersumber dari Allah sebagai kabar gembira atau isyarat kebaikan, sedangkan mimpi buruk berasal dari godaan setan untuk menakut-nakuti dan menyusahkan manusia. Rasulullah ﷺ mengajarkan solusi praktis dan spiritual saat mengalami mimpi buruk, yaitu dengan meludah ringan ke kiri tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah. Tindakan ini dilakukan untuk menolak gangguan setan dan agar mimpi buruk tersebut tidak membahayakan atau mempengaruhi diri pelakunya.

# 7
وعن جابر رضي الله عنه عن رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إذَا رَأى أحَدُكُم الرُّؤيا يَكْرَهُها فلْيبصُقْ عَن يَسَارِهِ ثَلاَثاً ، وْليَسْتَعِذْ بالله مِنَ الشَّيَطانِ ثَلاثاَ ، وليَتَحوَّل عَنْ جَنْبِهِ الذي كان عليه » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Jabir رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah dia meludah ke kirinya tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari keburukannya tiga kali, dan hendaklah dia mengubah posisi tidurnya." (Diriwayatkan oleh Muslim).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tuntunan praktis Nabi ﷺ untuk menghadapi mimpi buruk. Intinya adalah memutuskan pengaruh negatif dari setan dengan tiga tindakan: meludah kecil ke kiri sebagai simbol penolakan, memohon perlindungan kepada Allah (ta'awwudz), dan mengubah posisi tidur. Hikmahnya, seorang muslim diajari untuk proaktif, tidak pasif dicekam ketakutan, serta senantiasa bersandar pada Allah dan menjauhi gangguan syaitan dalam segala hal, bahkan dalam mimpi.

# 8
وعن أبي الأسقع واثلة بن الأسقع رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إنَّ من أعظَم الفَرى أن يَدَّعِي الرَّجُلُ إلى غَيْرِ أبِيه ، أوْ يُري عَيْنهُ مَالم تَرَ ، أوْ يقولَ على رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَا لَمْ يَقُلْ » رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Abu Al-'Ash bin Al-'Ash bin Wail As-Sahmi رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya di antara kedustaan yang paling besar adalah seseorang yang mengaku-ngaku (sebagai anak) kepada selain ayahnya (yang sebenarnya), atau mengaku melihat sesuatu yang matanya tidak melihatnya, atau mengatakan atas nama Rasulullah sesuatu yang tidak beliau sabdakan." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan tiga bentuk kedustaan besar yang sangat tercela. Pertama, dusta dalam nasab yang merusak kemurnian keturunan. Kedua, dusta dalam kesaksian atau pengakuan yang dapat menzalimi orang lain. Ketiga, dan yang paling utama dalam konteks keagamaan, adalah berdusta atas nama Rasulullah ﷺ dengan memalsukan hadis. Ini merupakan peringatan keras tentang bahaya memalsukan syariat dan betapa agungnya tanggung jawab dalam menyampaikan ajaran Nabi.