Kitab 6 · Bab 13
Sunah berjabat tangan saat bertemu, wajah berseri, tersenyum, mencium tangan orang shaleh dan anak-anak untuk menunjukkan kasih sayang, memeluk orang yang baru kembali dari perjalanan, dan tidak boleh membungkuk untuk memberi hormat.
✦ 9 Hadith ✦
# 1
عن أبي الخطاب قتادة قال : قلُت لأنس : أكَانتِ المُصافَحةُ في أصْحابِ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم؟ قال : نَعَمْ . رواه البخاري
Terjemahan
Dari Abu Al-Khattab, Qatadah, ia berkata: Aku bertanya kepada Anas radhiyallahu 'anhu: "Apakah salam-salaman para sahabat Rasulullah ﷺ ada yang berjabat tangan?" Ia menjawab: "Ya, ada." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa berjabat tangan (mushafahah) saat bersalam-salaman merupakan sunnah Nabi ﷺ yang diamalkan oleh para sahabat. Riwayat dari Anas bin Malik ini menunjukkan bahwa tradisi ini memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam. Selain sebagai bentuk penghormatan, jabat tangan juga berfungsi untuk menghapus dosa-dosa dan mempererat ukhuwah islamiyah di antara sesama muslim.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa berjabat tangan (mushafahah) saat bersalam-salaman merupakan sunnah Nabi ﷺ yang diamalkan oleh para sahabat. Riwayat dari Anas bin Malik ini menunjukkan bahwa tradisi ini memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam. Selain sebagai bentuk penghormatan, jabat tangan juga berfungsi untuk menghapus dosa-dosa dan mempererat ukhuwah islamiyah di antara sesama muslim.
# 2
وعن أنس رضي الله عنه قال : لَمَّا جَاءَ أهْلُ اليَمنِ قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « قَدْ جَاءَكُمْ أهْلُ الْيَمَنِ ، وَهُمْ أولُ مَنْ جَاءَ بالمُصَافَحَة » رواه أبو داود بإسناد صحيح .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Ketika orang-orang Yaman datang, Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang-orang Yaman telah datang kepada kalian." Mereka adalah orang-orang yang memulai salam-salaman (berjabat tangan) ini lebih dahulu. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk menghargai dan memuji kebiasaan baik yang berasal dari suatu kaum atau budaya, sebagaimana Rasulullah ﷺ memuji orang Yaman yang membawa tradisi bersalaman. Ini menunjukkan sikap terbuka dan apresiatif terhadap kebaikan dari mana pun asalnya. Selain itu, hadis ini juga menganjurkan untuk menyebarkan dan mempraktikkan kebiasaan positif seperti berjabat tangan yang dapat mempererat ukhuwah.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk menghargai dan memuji kebiasaan baik yang berasal dari suatu kaum atau budaya, sebagaimana Rasulullah ﷺ memuji orang Yaman yang membawa tradisi bersalaman. Ini menunjukkan sikap terbuka dan apresiatif terhadap kebaikan dari mana pun asalnya. Selain itu, hadis ini juga menganjurkan untuk menyebarkan dan mempraktikkan kebiasaan positif seperti berjabat tangan yang dapat mempererat ukhuwah.
# 3
وعن البراء رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « ما مِنْ مُسْلِمْيِن يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصافَحَانِ إلا غُفر لَهما قبل أن يفترقا » رواه أبو داود .
Terjemahan
Dari Al-Bara' radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan Allah mengampuni dosa-dosa mereka berdua sebelum mereka berpisah." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan agung dari salam dan jabat tangan sesama muslim. Ibadah sederhana ini menjadi sebab diampuninya dosa oleh Allah SWT, dengan syarat dilakukan dengan ikhlas dan menghindari maksiat. Hal ini mengajarkan pentingnya menjaga ukhuwah (persaudaraan) dan membersihkan hati dari dendam, serta mendorong untuk menyebarkan kedamaian dalam setiap pertemuan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan agung dari salam dan jabat tangan sesama muslim. Ibadah sederhana ini menjadi sebab diampuninya dosa oleh Allah SWT, dengan syarat dilakukan dengan ikhlas dan menghindari maksiat. Hal ini mengajarkan pentingnya menjaga ukhuwah (persaudaraan) dan membersihkan hati dari dendam, serta mendorong untuk menyebarkan kedamaian dalam setiap pertemuan.
# 4
وعن أنس رضي الله عنه قال : قال رجل : يا رسول الله ، الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أخَاُه أوْ صَديقَهُ أينْحني لَهُ ؟ قال : « لا » قال : أفَيَلتزمه ويقبله ؟ قال : « لا » قال : فَيَأْخُذُ بِيَده وَيُصَافِحُهُ ؟ قال : « نَعَم َ» رواه الترمذي وقال : حديث حسن .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya: "Wahai Rasulullah, apabila seseorang di antara kami bertemu saudaranya atau temannya, apakah ia harus membungkuk (untuk menghormati)?" Beliau menjawab: "Tidak." Ia bertanya lagi: "Apakah ia harus memeluk dan menciumnya?" Beliau menjawab: "Tidak." Laki-laki itu bertanya lagi: "Apakah ia harus berjabat tangan?" Beliau menjawab: "Ya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia berkata hadits ini hasan)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tata cara pertemuan sesama muslim yang sesuai sunnah. Rasulullah melarang membungkuk atau berpelukan/ciuman sebagai bentuk salam, karena menyerupai perbuatan non-muslim atau berlebihan. Beliau membolehkan dan menganjurkan berjabat tangan, karena itu bentuk salam yang sederhana, penuh keakraban, serta dapat menghapus dosa di antara mereka.
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tata cara pertemuan sesama muslim yang sesuai sunnah. Rasulullah melarang membungkuk atau berpelukan/ciuman sebagai bentuk salam, karena menyerupai perbuatan non-muslim atau berlebihan. Beliau membolehkan dan menganjurkan berjabat tangan, karena itu bentuk salam yang sederhana, penuh keakraban, serta dapat menghapus dosa di antara mereka.
# 5
وعن صَفْوان بن عَسَّال رضي الله عنه قال : قال يَهُودي لِصَاحبه اذْهب بنا إلى هذا النبي فأتيا رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَسَألاه عن تسْع آيات بَينات فَذَكرَ الْحَديث إلى قَوْله : فقَبَّلا يَدَهُ وَرِجْلَهُ وقالا : نَشْهَدُ أنَّكَ نبي . رواه الترمذي وغيره بأسانيد صحيحة.
Terjemahan
Dari Saffwan bin Assal radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seorang Yahudi berkata kepada temannya: "Pergilah bersama kami menemui Nabi ini." Maka keduanya pun pergi menemui Rasulullah ﷺ dan bertanya tentang sembilan tanda (mukjizat) yang membuktikan bahwa beliau adalah seorang Rasul. Ia menyebutkan hadits ini hingga kalimat: "Keduanya lalu mencium tangan dan kaki beliau sambil berkata: 'Kami bersaksi bahwa engkau adalah seorang Nabi'." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya dengan sanad yang shahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan bukti kenabian Rasulullah ﷺ yang dapat diterima oleh akal ahli kitin. Mukjizat dan ilmu yang beliau sampaikan mampu meyakinkan mereka hingga mengakui kerasulannya secara sukarela. Kisah ini juga menggambarkan akhlak mulia beliau dalam mendakwahkan Islam dengan hikmah dan dialog yang santun.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan bukti kenabian Rasulullah ﷺ yang dapat diterima oleh akal ahli kitin. Mukjizat dan ilmu yang beliau sampaikan mampu meyakinkan mereka hingga mengakui kerasulannya secara sukarela. Kisah ini juga menggambarkan akhlak mulia beliau dalam mendakwahkan Islam dengan hikmah dan dialog yang santun.
# 6
وعن ابن عمر رضي الله عنهما قصة قال فيها : فَدَنَوْنا من النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقَّبلْنا يده . رواه أبو داود .
Terjemahan
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan sebuah kisah, di dalamnya ia berkata: Kami mendekati Nabi ﷺ dan mencium tangan beliau. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kebolehan mencium tangan orang shalih sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan, khususnya kepada Nabi Muhammad ﷺ. Perbuatan sahabat mulia seperti Ibnu Umar ini menjadi dalil bagi umat Islam untuk menghormati ulama dan orang tua dengan adab yang mulia. Namun, penghormatan ini tidak boleh berlebihan hingga mengarah pada pengkultusan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kebolehan mencium tangan orang shalih sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan, khususnya kepada Nabi Muhammad ﷺ. Perbuatan sahabat mulia seperti Ibnu Umar ini menjadi dalil bagi umat Islam untuk menghormati ulama dan orang tua dengan adab yang mulia. Namun, penghormatan ini tidak boleh berlebihan hingga mengarah pada pengkultusan.
# 7
وعن عائشة رضي الله عنها قالت : قَدم : زَيْدُ بُن حَارثة المدينة ورسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في بَيْتي فأتَاهُ فَقَرَعَ الباب. فَقَام إليهْ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَجُرُّ ثوْبَهُ فاعتنقه وقبله » رواه الترمذي وقال : حديث حسن .
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Zaid bin Haritsah datang ke Madinah, sementara Rasulullah ﷺ berada di rumahku. Ia datang ke rumahku dan mengetuk pintu. Nabi pun bangun menyambutnya sambil menarik pakaian beliau, lalu memeluk dan menciumnya. (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia menyatakan bahwa hadits ini hasan)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan akhlak mulia Rasulullah ﷺ dalam memuliakan dan menyambut tamu, khususnya sahabat yang sangat dicintainya seperti Zaid bin Haritsah. Sikap beliau yang bangun dengan segera, meski dalam keadaan tidak lengkap berpakaian, lalu memeluk dan menciumnya, menggambarkan kedalaman cinta, kerendahan hati, dan kehangatan dalam persaudaraan Islam. Perilaku ini menjadi teladan bagi umat dalam menebarkan kasih sayang dan memuliakan sesama.
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan akhlak mulia Rasulullah ﷺ dalam memuliakan dan menyambut tamu, khususnya sahabat yang sangat dicintainya seperti Zaid bin Haritsah. Sikap beliau yang bangun dengan segera, meski dalam keadaan tidak lengkap berpakaian, lalu memeluk dan menciumnya, menggambarkan kedalaman cinta, kerendahan hati, dan kehangatan dalam persaudaraan Islam. Perilaku ini menjadi teladan bagi umat dalam menebarkan kasih sayang dan memuliakan sesama.
# 8
وعن أبي ذر رضي الله عنه قال : قال لي رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم «لاتَحقِرَنَّ مِنَ المعْرُوف شَيْئاً وَلَو أن تلقى أخاك بوجه طليق » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: "Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikit pun, meskipun hanya dengan wajah yang tersenyum saat bertemu saudaramu." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan agar seorang muslim tidak pernah memandang remeh bentuk kebaikan apa pun, sekecil apa pun itu. Memberikan senyuman tulus kepada sesama muslim adalah bagian dari kebaikan yang ringan dilakukan namun besar nilainya di sisi Allah. Hal ini mengajarkan bahwa pintu berbuat baik itu sangat luas dan mudah dijangkau, serta mendorong untuk selalu menebar kebaikan dalam interaksi sosial sehari-hari.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan agar seorang muslim tidak pernah memandang remeh bentuk kebaikan apa pun, sekecil apa pun itu. Memberikan senyuman tulus kepada sesama muslim adalah bagian dari kebaikan yang ringan dilakukan namun besar nilainya di sisi Allah. Hal ini mengajarkan bahwa pintu berbuat baik itu sangat luas dan mudah dijangkau, serta mendorong untuk selalu menebar kebaikan dalam interaksi sosial sehari-hari.
# 9
وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قبَّل النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم الحسن بن على رضي الله عنهما ، فقال ، الأقْرَعُ بن حَابس : إنَّ لي عَشَرةًَ مِنَ الْوَلَد ماَقَبَّلتُ مِنهُمْ أحَداَ . فقال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . « مَنْ لاَيَرْحَمْ لا يُرْحَمْ » متفق عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi ﷺ mencium Al-Hasan dan Al-Husain, cucu-cucu Ali radhiyallahu 'anhuma. Saat itu Al-Aqra' bin Habis berkata: "Sungguh, aku memiliki sepuluh anak, tetapi aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka." Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi (oleh Allah)." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kasih sayang dan kelembutan, terutama kepada anak, adalah bagian esensial dari akhlak Islam. Sikap keras dan kering tanpa cinta justru tercela. Hikmah utamanya adalah peringatan bahwa rahmat Allah sangat terkait dengan bagaimana manusia memberikan rahmat kepada sesama. Siapa yang tidak mengasihi, maka ia terhalang untuk dikasihi oleh Allah dan makhluk-Nya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan bahwa kasih sayang dan kelembutan, terutama kepada anak, adalah bagian esensial dari akhlak Islam. Sikap keras dan kering tanpa cinta justru tercela. Hikmah utamanya adalah peringatan bahwa rahmat Allah sangat terkait dengan bagaimana manusia memberikan rahmat kepada sesama. Siapa yang tidak mengasihi, maka ia terhalang untuk dikasihi oleh Allah dan makhluk-Nya.