✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Adab-Adab dalam Bepergian
Kitab 8 · Bab 6

Membaca takbir saat menaiki tempat yang tinggi, membaca "Subhanallah" saat turun ke tempat yang rendah, dan larangan mengeraskan suara saat bertakbir.

✦ 5 Hadith ✦
# 1
عن جابرٍ رضي اللَّه عنهُ قال : كُنَّا إِذا صعِدْنَا كَبَّرْنَا ، وإِذا نَزَلْنَا سبَّحْنا . رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Jabir, dia melaporkan: Ketika menaiki tempat tinggi, kami membaca: اَللهُ أَكْبَرُ (Allah Maha Besar) dan ketika menuruni tempat rendah, kami membaca: سُبْحَانَ الله (Mahasuci Allah).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk senantiasa mengingat Allah (dzikir) dalam setiap aktivitas, termasuk dalam perjalanan. Membaca takbir saat naik mengajarkan sikap tawadhu' dan mengagungkan kekuasaan-Nya, sedangkan tasbih saat turun mengandung makna pensucian Allah dari segala kekurangan. Ini juga merupakan bentuk rasa syukur dan permohonan perlindungan agar diberikan keselamatan.

# 2
وعن ابن عُمر رضي اللَّه عنهما قال : كانَ النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وجيُوشُهُ إِذا علَوُا الثَّنَايَا كَبَّرُوا ، وَإذا هَبطُوا سَبَّحوا . رواه أبو داود بإسناد صحيح .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Nabi ﷺ dan para prajurit beliau, ketika menaiki tempat tinggi, mereka membaca: اَللهُ أَكْبَرُ (Allah Maha Besar) dan ketika menuruni tempat rendah, mereka membaca: سُبْحَانَ الله (Mahasuci Allah). (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang sahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan untuk senantiasa mengingat Allah (dzikir) dalam setiap kondisi, termasuk dalam perjalanan. Membaca takbir saat naik ke tempat tinggi mengingatkan pada keagungan-Nya, sedangkan tasbih saat turun menyadarkan bahwa Allah Mahasuci dari segala kekurangan. Ini juga mengandung hikmah doa agar diberi kemudahan dan keselamatan, serta melatih diri untuk menyandarkan segala urusan hanya kepada Allah.

# 3
وعنهُ قال : كانَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إذا قَفَل مِنَ الحجِّ أَو العُمْرَةِ كُلَّما أَوْفى عَلى ثَنِيَّةٍ أَوْ فَدْفَد كَبَّر ثَلاثاً ، ثُمَّ قال : « لا إله إلاَّ اللَّه وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ المُلْك ولَهُ الحمْدُ ، وَهُو على كلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ . آيِبُونَ تَائِبُونَ عابِدُونَ ساجِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ . صدقَ اللَّه وَعْدهُ، وَنَصر عبْده ، وَهَزَمَ الأَحزَابَ وحْدَه » متفقٌ عليه . وفي روايةٍ لمسلم : إِذا قَفَل مِنَ الجيُوشِ أو السَّرَايا أَو الحجِّ أو العُمْرةِ . قوْلهُ : « أَوْفَى » أَي : ارْتَفَعَ ، وقولهُ : « فَدْفَد » هو بفتح الفاءَين بينهما دالٌ مهملةٌ ساكِنَةٌ ، وآخِرُهُ دال أُخرى وهو : « الغَليظُ المُرْتَفِع مِنَ الأرْض » .
Terjemahan
Dari beliau (Ibnu Umar) radhiyallahu 'anhu juga, dia berkata: Nabi ﷺ ketika kembali dari pelaksanaan haji atau umrah, setiap kali menaiki tempat tinggi atau bukit-bukit kecil, beliau membaca: اَللهُ أَكْبَرُ (Allah Maha Besar) sebanyak tiga kali. Kemudian membaca:
" لا إلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . آيِبُونَ ، تَائِبُونَ ، عَابِدُونَ ، سَاجِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ ، صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ ، وَهَزَمَ الأحْزَابَ وَحْدَهُ "
(Tiada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Kami adalah orang-orang yang kembali, bertaubat, beribadah, bersujud. Segala puji bagi Tuhan kami. Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan (yang bersekutu) dengan kekuasaan-Nya semata). (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim disebutkan: ketika beliau kembali dari peperangan, baik memimpin pasukan besar maupun kecil.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa perjalanan pulang dari ibadah haji, umrah, atau jihad bukanlah akhir dari penghambaan. Nabi ﷺ mengisi momen kembalinya dengan dzikir dan takbir, mengalihkan rasa bangga atas perjalanan menjadi rasa syukur dan pengagungan kepada Allah. Ucapan beliau menegaskan tauhid, ketundukan, serta keyakinan akan janji dan pertolongan Allah, mengingatkan bahwa setiap kesuksesan adalah milik-Nya semata.

# 4
وعن أَبي هُريرةَ رضي اللَّهُ عنهُ أَنَّ رجلاً قال : يا رسول اللَّه ، إني أُرِيدُ أَن أُسافِر فَأَوْصِنِي ، قال : « عَلَيْكَ بِتقوى اللَّهِ ، وَالتَّكبير عَلى كلِّ شَرفٍ فَلَمَّا ولَّي الرجُلُ قال: «اللَّهمَّ اطْوِ لهُ البُعْدَ ، وَهَوِّنْ عَليهِ السَّفر » رواه الترمذي وقال : حديث حسن .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Seorang laki-laki berkata: "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ingin melakukan perjalanan, maka berilah aku wasiat." Beliau bersabda: "Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan membaca: اَللهُ أَكْبَرُ (Allah Maha Besar) setiap kali kamu menaiki tempat tinggi." Ketika orang itu berbalik pergi, beliau berdoa: "Ya Allah! Persingkatlah jarak untuknya dan mudahkanlah perjalanannya."
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dia berkata: hadits ini hasan)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan dua bekal utama bagi musafir: bekal batin dan lahir. Bekal batin adalah ketakwaan kepada Allah sebagai pondasi segala urusan. Bekal lahirnya adalah dzikir dengan bertakbir di setiap dataran tinggi, yang bermakna mengagungkan Allah sekaligus menjadi penanda perjalanan. Doa Nabi untuk kemudahan perjalanan orang tersebut juga menunjukkan keutamaan mendoakan kebaikan bagi sesama muslim.

# 5
وعن أَبي موسى الأَشعَريِّ رضي اللَّه عنه قال : كنَّا مَع النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في سَفَرٍ ، فكنَّا إذا أَشرَفْنَا على وادٍ هَلَّلنَا وكَبَّرْنَا وَارْتَفَعتْ أَصوَاتنا فقالَ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « يا أَيُّهَا الناس ارْبَعُوا عَلى أَنْفُسِكم فَإنَّكم لا تَدعونَ أَصَمَّ وَلا غَائِباً . إنَّهُ مَعكُمْ ، إنَّهُ سَمِيعٌ قَريبٌ » متفقٌ عليه . « ارْبعُوا » بفتحِ الباءِ الموحدةِ أَيْ : ارْفقوا بأَنْفُسِكم .
Terjemahan
Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Kami pernah melakukan perjalanan bersama Nabi ﷺ, dan ketika kami menaiki tempat tinggi, kami membaca: " لا إلهَ إِلا اللهُ اَللهُ أَكْبَرُ" (Tiada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar) dan kami mengeraskan suara ketika membacanya. Beliau bersabda: "Wahai manusia! Rendahkanlah suara kalian, karena kalian tidak sedang berdoa kepada yang tuli atau yang tidak ada. Sesungguhnya kalian sedang berdoa kepada Yang Maha Mendengar lagi Mahadekat." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang adab berdoa dan berzikir. Nabi ﷺ mengingatkan agar tidak berteriak atau mengeraskan suara secara berlebihan karena Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat, bukan Dzat yang jauh atau tuli. Intinya, ibadah harus dilandasi kesadaran akan kehadiran Allah (ihsan) dan dilakukan dengan penuh kekhusyukan, rendah hati, serta menghindari sikap riya' atau mengganggu orang lain.