Kitab 8 · Bab 5
Apa yang dibaca saat menaiki kendaraan, ketika melakukan perjalanan.
✦ 4 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلۡفُلۡكِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ مَا تَرۡكَبُونَ * لِتَسۡتَوُۥاْ عَلَىٰ ظُهُورِهِۦ ثُمَّ تَذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ رَبِّكُمۡ إِذَا ٱسۡتَوَيۡتُمۡ عَلَيۡهِ وَتَقُولُواْ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُۥ مُقۡرِنِينَ * وَإِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ﴾[ الزخرف(12-14)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Dan Dia menciptakan untukmu kapal dan hewan ternak yang dapat kamu kendarai. Agar kamu dapat duduk di atas punggungnya, kemudian kamu mengingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan agar kamu mengucapkan, 'Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.'" (QS. Az-Zukhruf: 12-14).
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa segala kendaraan adalah nikmat dan penundukan dari Allah. Hikmahnya adalah agar kita selalu mengingat-Nya saat menikmatinya, lalu memuji dengan kalimat tasbih sebagai pengakuan bahwa semua itu semata-mata karunia Allah, bukan karena kemampuan kita. Ucapan "Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami" mengingatkan bahwa perjalanan duniawi ini bersifat sementara dan akan berakhir dengan kembali kepada Allah.
Penjelasan singkat: Ayat ini mengajarkan bahwa segala kendaraan adalah nikmat dan penundukan dari Allah. Hikmahnya adalah agar kita selalu mengingat-Nya saat menikmatinya, lalu memuji dengan kalimat tasbih sebagai pengakuan bahwa semua itu semata-mata karunia Allah, bukan karena kemampuan kita. Ucapan "Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami" mengingatkan bahwa perjalanan duniawi ini bersifat sementara dan akan berakhir dengan kembali kepada Allah.
# 2
وعن ابنِ عمر رَضِيَ اللَّه عنهما ، أَنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كانَ إِذا اسْتَوَى عَلَى بعِيرهِ خَارجاً إِلي سفَرٍ ، كَبَّرَ ثلاثاً ، ثُمَّ قالَ : «سبْحانَ الذي سخَّرَ لَنَا هذا وما كنَّا له مُقرنينَ، وَإِنَّا إِلى ربِّنَا لمُنقَلِبُونَ . اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ في سَفَرِنَا هذا البرَّ والتَّقوى ، ومِنَ العَمَلِ ما تَرْضى . اللَّهُمَّ هَوِّنْ علَيْنا سفَرَنَا هذا وَاطْوِ عنَّا بُعْدَهُ ، اللَّهُمَّ أَنتَ الصَّاحِبُ في السَّفَرِ ، وَالخَلِيفَةُ في الأهْلِ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وعْثَاءِ السَّفَرِ ، وكآبةِ المنظَرِ ، وَسُوءِ المنْقلَبِ في المالِ والأهلِ وَالوَلدِ » وإِذا رجَعَ قَالهُنَّ وزاد فيِهنَّ : « آيِبونَ تَائِبونَ عَابِدُون لِرَبِّنَا حَامِدُونَ » رواه مسلم .
معنى « مُقرِنِينَ » : مُطِيقِينَ .« والوَعْثاءُ » بفتحِ الواوِ وإسكان العين المهملة وبالثاءِ المثلثة وبالمد ، وَهي : الشِّدَّة . و « الكآبة » بِالمدِّ ، وهي : تَغَيُّرُ النَّفس مِنْ حُزنٍ ونحوه. « وَالمنقَلَبُ » : المرْجِعُ .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ apabila menaiki untanya untuk bepergian, beliau bertakbir tiga kali, kemudian membaca:
"Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebajikan dan ketakwaan, serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan pengganti (yang menjaga) keluarga (kami). Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga."
Apabila pulang dari perjalanan, beliau membaca doa yang sama dan menambahkan:
"Kami kembali dengan bertaubat, beribadah, dan memuji Tuhan kami." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa setiap perjalanan hendaknya dimulai dengan mengagungkan Allah (takbir) dan mengakui nikmat-Nya. Doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ memadukan permintaan kemudahan lahir dengan tujuan batin, yaitu ketakwaan dan amal yang diridhai. Intinya, perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan memohon perlindungan-Nya di perjalanan dan bagi keluarga yang ditinggalkan.
"Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebajikan dan ketakwaan, serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan pengganti (yang menjaga) keluarga (kami). Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga."
Apabila pulang dari perjalanan, beliau membaca doa yang sama dan menambahkan:
"Kami kembali dengan bertaubat, beribadah, dan memuji Tuhan kami." (Diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa setiap perjalanan hendaknya dimulai dengan mengagungkan Allah (takbir) dan mengakui nikmat-Nya. Doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ memadukan permintaan kemudahan lahir dengan tujuan batin, yaitu ketakwaan dan amal yang diridhai. Intinya, perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan memohon perlindungan-Nya di perjalanan dan bagi keluarga yang ditinggalkan.
# 3
وعن عبد اللَّه بن سرْجِس رضي اللَّه عنه قال : كان رسول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذا سافر يَتَعوَّذ مِن وعْثاءِ السفـَرِ ، وكآبةِ المُنْقَلَبِ ، والحوْرِ بعْد الكَوْنِ ، ودعْوةِ المظْلُومِ . وسوءِ المنْظَر في الأهْلِ والمَال . رواه مسلم .
هكذا هو في صحيح مسلم : الحوْرِ بعْدَ الكوْنِ ، بالنون ، وكذا رواه الترمذي ، والنسائي ، قال الترمذي : ويروي « الكوْرُ » بِالراءِ ، وكِلاهُما لهُ وجْهٌ . قال العلماءُ : ومعناه بالنونِ والراءِ جميعاً : الرُّجُوعُ مِن الاسْتقامَةِ أَوِ الزِّيادة إِلى النَّقْصِ . قالوا : وروايةُ الرَّاءِ مأْخُوذَةٌ مِنْ تكْوِير العِمامةِ ، وهُوَ لَفُّهَا وجمْعُها ، وروايةُ النون مِنَ الكَوْن ، مصْدَرُ «كانَ يكُونُ كَوناً » إذا وُجد واسْتَقرَّ .
Terjemahan
Dari Abdullah bin Sarjis radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ apabila bepergian, beliau berlindung dari kesulitan perjalanan, kepulangan yang menyedihkan, perubahan (nasib) setelah kemapanan, doa orang yang terzalimi, dan pemandangan yang buruk pada keluarga dan harta. (Diriwayatkan oleh Muslim).
Demikianlah dalam Shahih Muslim: "Al-hauri ba'dal kauni" (dengan nun). At-Tirmidzi dan An-Nasa'i juga meriwayatkan demikian. At-Tirmidzi berkata: Dan ada yang meriwayatkan "Al-kauri" (dengan ra'). Keduanya memiliki makna. Para ulama berkata: Maknanya, baik dengan nun maupun ra', adalah: kembali dari kelurusan atau dari bertambah kepada berkurang. Mereka berkata: Riwayat dengan ra' diambil dari kata "takwir al-'imamah" (melilitkan sorban), yaitu melipat dan mengumpulkannya. Sedangkan riwayat dengan nun dari kata "al-kaun" (ada), masdar dari "kaana yakunu kaunan" (dia ada).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai kesusahan duniawi, baik fisik maupun batin. Nabi ﷺ memberi contoh doa khusus saat bepergian, yang intinya meminta dijauhkan dari kesulitan perjalanan, kesedihan sepulang perjalanan, kemunduran nasib, serta dampak kezaliman dan hal buruk pada keluarga dan harta. Hikmahnya, seorang muslim harus selalu bersandar dan waspada, mengingat bahwa keselamatan dan kebaikan hidup sepenuhnya bergantung pada perlindungan-Nya.
Demikianlah dalam Shahih Muslim: "Al-hauri ba'dal kauni" (dengan nun). At-Tirmidzi dan An-Nasa'i juga meriwayatkan demikian. At-Tirmidzi berkata: Dan ada yang meriwayatkan "Al-kauri" (dengan ra'). Keduanya memiliki makna. Para ulama berkata: Maknanya, baik dengan nun maupun ra', adalah: kembali dari kelurusan atau dari bertambah kepada berkurang. Mereka berkata: Riwayat dengan ra' diambil dari kata "takwir al-'imamah" (melilitkan sorban), yaitu melipat dan mengumpulkannya. Sedangkan riwayat dengan nun dari kata "al-kaun" (ada), masdar dari "kaana yakunu kaunan" (dia ada).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai kesusahan duniawi, baik fisik maupun batin. Nabi ﷺ memberi contoh doa khusus saat bepergian, yang intinya meminta dijauhkan dari kesulitan perjalanan, kesedihan sepulang perjalanan, kemunduran nasib, serta dampak kezaliman dan hal buruk pada keluarga dan harta. Hikmahnya, seorang muslim harus selalu bersandar dan waspada, mengingat bahwa keselamatan dan kebaikan hidup sepenuhnya bergantung pada perlindungan-Nya.
# 4
وعن علِيِّ بن ربيعة قال : شَهدْتُ عليَّ بن أبي طالب رَضي اللَّه عنهُ أُتِيَ بِدابَّةٍ لِيَرْكَبَهَا ، فَلما وضَع رِجْلَهُ في الرِّكابِ قال : بِسْم اللَّهِ ، فلَمَّا اسْتَوَى على ظَهْرها قال : الحْمدُ للَّهِ الذي سَخَّرَ لَنَا هذا ، وما كُنَّا لَهُ مُقْرنينَ ، وإنَّا إلى ربِّنَا لمُنْقلِبُونَ ، ثُمَّ قال : الحمْدُ للَّهِ ثَلاثَ مرَّاتٍ ، ثُمَّ قال : اللَّه أَكْبرُ ثَلاثَ مرَّاتٍ ، ثُمَّ قال : سُبْحانَكَ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لي إِنَّه لا يغْفِرُ الذُّنُوب إِلاَّ أَنْتَ ، ثُمَّ ضحِك ، فَقِيل : يا أمِير المُؤْمِنينَ ، مِنْ أَيِّ شَيءٍ ضَحِكْتَ ؟ قال : رأَيتُ النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَعل كَما فعلْتُ ، ثُمَّ ضَحِكَ فقلتُ : يا رسول اللَّهِ مِنْ أَيِّ شَيء ضحكْتَ ؟ قال : « إِنَّ رَبَّك سُبْحانَهُ يَعْجب مِنْ عَبْده إذا قال : اغْفِرِ لي ذنُوبي، يَعْلَمُ أَنَّهُ لا يغْفِرُ الذَّنُوبَ غَيْرِي » . رواه أبو داود ، والترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ، وفي بعض النسخ : حسنٌ صحيحٌ . وهذا لفظ أَبي داود .
Terjemahan
'Ali bin Rabi'ah meriwayatkan: Aku melihat 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dibawakan seekor hewan tunggangan. Ketika ia meletakkan kakinya di atas tunggangan, ia membaca: "Bismillah" (Dengan nama Allah). Ketika ia duduk di atas punggungnya, ia membaca: "Alhamdulillah" (Segala puji bagi Allah). Kemudian ia membaca:
"Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."
Kemudian ia membaca doa itu tiga kali. Setelah itu, ia berdoa:
"Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau."
Kemudian ia tertawa. Ia ditanya: "Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau tertawa?" Ia menjawab: "Aku melihat Nabi ﷺ melakukan seperti yang aku lakukan, kemudian beliau tertawa. Lalu aku bertanya kepada beliau: 'Mengapa engkau tertawa?' Beliau menjawab: 'Sesungguhnya Tuhanmu senang kepada hamba-Nya ketika ia berkata: Ampunilah aku, karena ia tahu bahwa tidak ada yang dapat mengampuni selain Aku.'" (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits ini hasan).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab dan kesadaran spiritual dalam aktivitas sehari-hari, seperti berkendara. Ali bin Abi Thalib RA memulai dengan menyebut nama Allah, bersyukur atas nikmat yang diberikan, dan mengakui kekuasaan-Nya. Doa dan dzikir yang dibaca mencerminkan sikap tawakal, pengakuan atas ketergantungan kepada Allah, serta kesadaran akan akhirat (kembali kepada Tuhan). Intinya, setiap tindakan hendaknya diiringi dengan dzikir, syukur, dan penghambaan kepada Allah SWT.
"Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."
Kemudian ia membaca doa itu tiga kali. Setelah itu, ia berdoa:
"Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau."
Kemudian ia tertawa. Ia ditanya: "Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau tertawa?" Ia menjawab: "Aku melihat Nabi ﷺ melakukan seperti yang aku lakukan, kemudian beliau tertawa. Lalu aku bertanya kepada beliau: 'Mengapa engkau tertawa?' Beliau menjawab: 'Sesungguhnya Tuhanmu senang kepada hamba-Nya ketika ia berkata: Ampunilah aku, karena ia tahu bahwa tidak ada yang dapat mengampuni selain Aku.'" (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits ini hasan).
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan adab dan kesadaran spiritual dalam aktivitas sehari-hari, seperti berkendara. Ali bin Abi Thalib RA memulai dengan menyebut nama Allah, bersyukur atas nikmat yang diberikan, dan mengakui kekuasaan-Nya. Doa dan dzikir yang dibaca mencerminkan sikap tawakal, pengakuan atas ketergantungan kepada Allah, serta kesadaran akan akhirat (kembali kepada Tuhan). Intinya, setiap tindakan hendaknya diiringi dengan dzikir, syukur, dan penghambaan kepada Allah SWT.