✦ Selamat Idul Fitri 1447 H 🌙 Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ✦
← Pahala
Kitab 9 · Bab 33

Keutamaan salat di waktu malam.

✦ 30 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا﴾[سورة الإسراء(79)]
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "Dan pada sebagian malam hari, shalat Tahajudlah kamu (Muhammad) sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (Al-Isra': 79)

Penjelasan singkat: Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakan shalat tahajud sebagai ibadah sunah. Perintah ini mengandung janji Allah SWT tentang kedudukan yang tinggi dan terpuji (al-Maqam al-Mahmud) bagi beliau. Hikmahnya, ibadah tahajud merupakan sarana pendekatan diri kepada Allah, mengokohkan ketakwaan, serta menjadi sebab meraih kemuliaan di dunia dan akhirat.

# 2
وقال تعالى : ﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ ﴾[سورة السجدة(16)]
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "Mereka meninggalkan tempat tidurnya..." (As-Sajdah: 16)

Penjelasan singkat: Ayat ini menggambarkan keutamaan ibadah malam (qiyamullail). "Meninggalkan tempat tidur" merupakan simbol pengorbanan dan kesungguhan hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah, mengutamakan ketaatan di atas kenikmatan duniawi. Hal ini mengajarkan bahwa puncak keimanan tercermin dari kesediaan berkorban waktu dan rasa nyaman untuk menghadap Sang Pencipta di saat kebanyakan manusia terlelap.

# 3
وقال تعالى: ﴿كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ﴾[سورة الذاريات(17)]
Terjemahan
Allah Ta'ala berfirman: "Mereka biasa tidur hanya sedikit di waktu malam (karena sibuk shalat)." (Adz-Dzariyat: 17)

Penjelasan singkat: Ayat ini menggambarkan kebiasaan orang-orang shalih yang sangat sedikit tidur di malam hari karena menggunakan waktunya untuk beribadah, khususnya shalat malam dan dzikir. Ini mengajarkan pentingnya mengisi waktu malam dengan amalan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah. Hikmahnya adalah mendidik jiwa untuk mengutamakan akhirat, melatih disiplin, serta menguatkan hubungan spiritual dengan Sang Pencipta di saat kebanyakan manusia terlelap.

# 4
وَعَن عائِشَةَ رَضِيَ اللَّه عَنْها ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتى تَتَفطَّر قَدَمَاه ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هذا يا رسُول اللَّهِ وَقد غُفِرَ لَكَ ما تَقَدَّم مِن ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ : « أَفَلا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا » . متفقٌ عليه . وعَنِ المغيرةِ بنِ شعبةَ نحوهُ ، متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam biasa shalat malam hingga kedua telapak kakinya pecah-pecah. Maka aku berkata kepadanya: 'Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah, padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni?' Beliau bersabda: 'Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?'" (Muttafaqun 'alaih). Dan dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu dengan hadits yang serupa. (Muttafaqun 'alaih)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar untuk menghapus dosa, tetapi sebagai wujud syukur dan ketundukan kepada Allah. Rasulullah, yang telah dijamin ampunan, tetap giat beribadah untuk memberikan teladan sempurna. Hikmahnya, seorang muslim harus beribadah dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh, didorong oleh rasa syukur dan cinta kepada Allah, bukan hanya karena takut akan siksa.

# 5
وَعَنْ عليٍّ رَضِيَ اللَّه عنْهُ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم طَرقَهُ وَفاطِمَةَ لَيْلاً ، فَقَالَ : « أَلا تُصلِّيَانِ ؟ » متفقٌ عليه . « طرقَةُ » : أَتَاهُ ليْلا .
Terjemahan
Dan dari Ali radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi dia dan Fatimah pada suatu malam, lalu bersabda: "Apakah kalian berdua tidak shalat (malam)?" (Muttafaqun 'alaih).
"Tharaqa" artinya: mendatanginya pada malam hari.

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keutamaan shalat malam (tahajud) dan anjuran untuk tidak menyia-nyiakannya. Nabi ﷺ secara langsung membangunkan keluarganya, menunjukkan bahwa ibadah ini penting meski berat. Ini juga menjadi teladan bagi suami-istri untuk saling mengingatkan dalam ketaatan. Hikmahnya, semangat beribadah harus dijaga kapan pun, bahkan di waktu istirahat, sebagai bentuk ketakwaan yang tulus.

# 6
وعَن سالمِ بنِ عبدِ اللَّهِ بنِ عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ رضِي اللَّه عَنْهُم ، عَن أَبِيِه : أَنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « نِعْمَ الرَّجلُ عبدُ اللَّهِ لَو كانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ » قالَ سالِمٌ : فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بعْدَ ذلكَ لا يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dan dari Salim bin Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhum, dari ayahnya: bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah (bin Umar), seandainya dia shalat malam." Salim berkata: "Maka setelah itu Abdullah tidak tidur di malam hari kecuali sedikit." (Muttafaqun 'alaih)

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan shalat malam (qiyamullail) dan betapa Nabi ﷺ mendorong sahabatnya untuk menyempurnakan amal kebaikan. Pujian Nabi yang bersyarat ini langsung dipahami dan diamalkan dengan sungguh-sungguh oleh Abdullah bin Umar, mencerminkan keteladanan dan semangat para sahabat dalam merespons tuntunan Rasulullah. Hikmahnya, seorang muslim harus terus berusaha meningkatkan ketaatannya dan menyambut setiap nasihat untuk menjadi lebih baik.

# 7
وَعن عبدِ اللَّهِ بنِ عَمْرِو بنِ العاصِ رضَيَ اللَّه عَنْهُمَا قالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « يَا عَبْدَ اللَّهِ لا تكن مِثْلَ فُلانٍ : كانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dan dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si fulan; dulu dia biasa shalat malam, lalu dia meninggalkan shalat malam." (Muttafaqun 'alaih)

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya istiqamah (konsistensi) dalam beribadah. Amalan yang sedikit tetapi berkelanjutan lebih dicintai Allah daripada amalan yang banyak namun terputus. Nabi mengingatkan agar tidak menyerupai orang yang meninggalkan kebiasaan baiknya, seperti shalat malam, karena hal itu dapat menghapus pahala dan menjerumuskan pada kelalaian.

# 8
وعن ابن مَسْعُودٍ رضيَ اللَّه عنْهُ ، قَالَ : ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم رَجُلٌ نَامَ لَيْلَةً حَتى أَصبحَ ، قالَ : « ذاكَ رَجُلٌ بال الشَّيْطَانُ في أُذنَيْهِ ¬ أَو قال : في أُذنِه ¬ » ، متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Disebutkan di hadapan Rasulullah ﷺ tentang seorang laki-laki yang tidur semalam suntuk hingga subuh. Beliau pun bersabda: "Orang itu telah dikencingi setan di kedua telinganya (atau dikencingi di satu telinganya)." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan: Hadits ini menjelaskan bahwa meninggalkan shalat malam atau subuh karena malas dan tidur terlalu lama adalah perbuatan yang dicela, dan digambarkan seolah-olah setan telah menguasainya dengan "mengencingi telinganya".

Penjelasan singkat: Hadis ini memberikan peringatan keras tentang bahaya malas dan lalai dari ibadah, khususnya shalat malam dan Subuh, karena tidur yang berlebihan. Gambaran "dikencingi setan" adalah metafora kuat yang menunjukkan bagaimana setan menguasai dan melumpuhkan semangat ibadah seseorang. Intinya, kita harus bersungguh-sungguh menjaga shalat wajib dan sunnah, serta memerangi kemalasan yang menjauhkan diri dari ketaatan.

# 9
وعن أَبي هُريرَةَ ، رَضِي اللَّه عَنْهُ ، أَنَّ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : « يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلى قافِيةِ رَأْسِ أَحَدِكُم ، إِذا هُوَ نَامَ ، ثَلاثَ عُقدٍ ، يَضرِب عَلى كلِّ عُقدَةٍ : عَلَيْكَ ليْلٌ طَويلٌ فَارقُدْ ، فإِنْ اسْتَيْقظَ ، فَذَكَرَ اللَّه تَعَالَى انحلَّت عُقْدَةٌ ، فإِنْ توضَّأَ انحَلَّت عُقدَةٌ ، فَإِن صلَّى انحَلَّت عُقدُهُ كُلُّهَا ، فأَصبَحَ نشِيطاً طَيِّب النَّفسِ ، وَإِلاَّ أَصبح خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلانَ » متفقٌ عليه . قافِيَةُ الرَّأْسِ : آخِرُهُ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Ketika salah seorang dari kalian tidur, setan mengikat tiga ikatan di belakang kepalanya, sambil menulis di setiap ikatan: 'Kamu memiliki malam yang panjang, maka tidurlah.' Jika dia bangun dan mengingat Allah, maka terlepaslah satu ikatan. Jika dia berwudhu, terlepaslah ikatan yang lain. Dan jika dia shalat, terlepaslah ikatan ketiga, sehingga dia bangun di pagi hari dalam keadaan bersemangat dan jiwa yang baik. Jika tidak melakukan itu, dia akan bangun di pagi hari dalam keadaan jiwa yang buruk dan malas." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan: Hadits ini menerangkan tentang godaan setan untuk membuat manusia malas beribadah malam. Mengingat Allah, berwudhu, dan shalat adalah cara untuk melepaskan ikatan godaan itu, sehingga seseorang bisa bangun dengan segar dan bersemangat.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa kemalasan di pagi hari dapat disebabkan oleh pengaruh setan. Untuk mengatasinya, Islam memberikan solusi praktis: bangun malam (tahajud) dengan diawali dzikir, wudhu, dan shalat. Rutinitas ibadah ini akan melepaskan ikatan gangguan setan, sehingga jiwa menjadi baik dan badan terasa segar serta bersemangat.

# 10
وَعن عبدِ اللَّهِ بنِ سَلاَمٍ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : « أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشوا السَّلامَ ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ ، وَصَلُّوا باللَّيْل وَالنَّاسُ نِيامٌ ، تَدخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلامٍ » . رواهُ الترمذيُّ وقالَ : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: "Wahai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, berilah makan (orang miskin), shalatlah di malam hari ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits ini hasan)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tiga amalan pokok untuk meraih surga: menyebarkan kedamaian (salam), peduli sosial (memberi makan), dan ibadah sunah di waktu sunyi (tahajud). Ketiganya menggabungkan hak sesama manusia dan hak Allah, membentuk pribadi yang baik secara horizontal dan vertikal. Dengan konsisten mengamalkannya, seorang muslim dijanjikan keselamatan dan masuk surga.

# 11
وَعنْ أَبي هُريرةَ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ قالَ : قالَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «أَفْضَلُ الصيَّامِ بعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ المُحَرَّمُ ، وَأَفْضَلُ الصَّلاةِ بعدَ الفَرِيضَةِ صَلاةُ اللَّيْل» رواه مُسلِمٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menetapkan prioritas utama dalam ibadah sunnah. Puasa sunnah paling utama dilakukan pada bulan Muharram, khususnya di hari 'Asyura. Sementara itu, shalat malam (seperti Tahajud) adalah shalat sunnah yang paling utama setelah shalat wajib. Dengan demikian, hadis ini membimbing umat untuk mengisi waktu-waktu khusus dengan amalan yang paling dicintai Allah.

# 12
وَعَنِ ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّه عَنْهُمَا ، أَن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : «صَلاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذا خِفْتَ الصُّبْح فَأَوْتِرْ بِواحِدَةِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: "Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika kamu khawatir masuk waktu subuh, maka shalat witirlah satu rakaat." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan tata cara shalat malam (tahajud). Shalat tersebut dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, dengan salam setiap dua rakaat. Hikmahnya adalah memberikan kemudahan dan menjaga kekhusyukan. Di akhir waktu, shalat ditutup dengan witir satu rakaat sebagai pengganjil, yang dapat dilakukan ketika telah dekat waktu Subuh.

# 13
وَعَنْهُ قَالَ :كَانَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُصلِّي منَ اللَّيْل مَثْنَى مَثْنَى ، وَيُوترُ بِرَكعة .متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari beliau (Ibnu Umar) radhiyallahu 'anhu juga, ia berkata: Nabi ﷺ shalat malam dua rakaat salam, dan beliau shalat witir satu rakaat. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan tata cara salat malam (tahajud) Nabi ﷺ, yaitu dikerjakan dua rakaat-dua rakaat dengan salam setiap dua rakaat. Kemudian, beliau menutupnya dengan salat witir satu rakaat. Pola ini mengajarkan kesempurnaan ibadah malam dengan memisahkan antara salat sunnah genap dan witir yang ganjil.

# 14
وعنْ أَنَسٍ رضِي اللَّه عَنْهُ ، قالَ : كَانَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُفطِرُ منَ الشَّهْرِ حتَّى نَظُنَّ أَنْ لا يصوم مِنهُ ، ويصَومُ حتَّى نَظُن أَن لا يُفْطِرَ مِنْهُ شَيْئاً ، وَكانَ لا تَشَاءُ أَنْ تَراهُ مِنَ اللَّيْلِ مُصَلِّياً إِلا رَأَيْتَهُ ، وَلا نَائماً إِلا رَأَيْتَهُ . رواهُ البخاريُّ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ pernah berbuka (tidak berpuasa sunnah) pada suatu bulan hingga kami mengira beliau tidak berpuasa sama sekali pada bulan itu. Dan beliau pernah berpuasa (sunnah) pada suatu bulan hingga kami mengira beliau tidak berbuka sama sekali. Dan jika kamu ingin melihat beliau shalat malam, kamu pasti bisa melihatnya (beliau shalat). Dan jika kamu ingin melihat beliau tidur malam, kamu pasti bisa melihatnya (beliau tidur). (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini menggambarkan keseimbangan dan keluwesan ibadah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau tidak membebani diri dengan rutinitas ibadah sunnah yang monoton, terkadang memperbanyak dan terkadang menguranginya, sehingga tidak memberatkan umatnya. Di sisi lain, beliau juga menunjukkan konsistensi dalam ibadah malam, namun tetap diselingi istirahat. Hikmahnya adalah meneladani sikap pertengahan, tidak berlebihan namun juga tidak bermalas-malasan, serta menjaga ibadah dengan cara yang berkelanjutan.

# 15
وعَنْ عائِشة رضي اللَّه عنْهَا ، أَنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كَان يُصلِّي إِحْدَى عَشرَةَ رَكْعَةً ¬ تَعْني في اللَّيْلِ ¬ يَسْجُدُ السَّجْدَةَ مِنْ ذلكَ قَدْر مَا يقْرَأُ أَحدُكُمْ خَمْسِين آية قَبْلَ أَن يرْفَعَ رَأْسهُ ، ويَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ قَبْل صَلاةِ الفَجْرِ ، ثُمَّ يضْطَجِعُ على شِقِّهِ الأَيمْنِ حَتَّى يأْتِيَهُ المُنَادِي للصلاةِ ، رواه البخاري .
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah ﷺ biasa shalat sebelas rakaat –maksudnya di malam hari–. Beliau sujud (lama) dalam shalatnya itu, kira-kira selama salah seorang dari kalian membaca lima puluh ayat sebelum mengangkat kepalanya. Dan beliau shalat dua rakaat sebelum shalat subuh, kemudian berbaring pada sisi kanannya hingga muadzin datang untuk shalat (mengumandangkan adzan). (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan tata cara salat malam (qiyamullail) Nabi ﷺ yang terdiri dari 11 rakaat dengan sujud yang lama, menunjukkan pentingnya tuma'ninah dan kekhusyukan. Kemudian, beliau mengerjakan salat sunnah fajar (qabliyah subuh) dan beristirahat sebentar di sisi kanan. Ini menjadi bimbingan praktis untuk menghidupkan malam dengan ibadah yang tenang dan tidak terburu-buru, serta menyempurnakannya dengan salat sunnah fajar dan istirahat sebelum salat subuh berjamaah.

# 16
وَعنْهَا قَالَتْ : ما كان رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَزِيدُ ¬ في رمضانَ وَلا في غَيْرِهِ ¬ عَلى إِحْدى عشرةَ رَكْعَةً : يُصلِّي أَرْبعاً فَلا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطولهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبعاً فَلا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطولهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاثاً . فَقُلْتُ : يا رسُولَ اللَّهِ أَتنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوترَ ،؟ فقال: « يا عائشةُ إِنَّ عيْنَيَّ تَنامانِ وَلا يَنامُ قلبي » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah –baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan– lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan tanya tentang bagus dan lamanya. Kemudian beliau shalat empat rakaat lagi, maka jangan tanya tentang bagus dan lamanya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat. Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum shalat witir?" Beliau menjawab: "Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur." (Muttafaqun 'alaih)

Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan tata cara shalat malam Nabi ﷺ yang tetap, yaitu 11 rakaat, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan. Polanya adalah 4 rakaat, 4 rakaat, lalu 3 rakaat witir, yang dikerjakan dengan khusyuk dan lama. Jawaban Nabi kepada Aisyah menunjukkan bahwa meskipun jasad beristirahat, hati dan kesadaran beliau tetap terjaga untuk beribadah kepada Allah.

# 17
وعنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كانَ يَنَامُ أَوَّل اللَّيْل ، ويقومُ آخِرهُ فَيُصلي . متفقٌ عليه.
Terjemahan
Dari beliau (Aisyah) juga, ia berkata: Nabi ﷺ tidur di awal malam dan bangun shalat di akhir malam (menjelang subuh). (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pola tidur yang sehat dan efektif, yaitu tidur di awal malam untuk menjaga kesehatan, lalu bangun di sepertiga malam terakhir untuk melaksanakan shalat tahajud atau qiyamullail. Ini menunjukkan keseimbangan antara hak tubuh untuk istirahat dan hak jiwa untuk beribadah. Dengan demikian, seorang muslim diajarkan untuk mengisi waktu malamnya dengan produktif, tidak hanya untuk tidur, tetapi juga untuk mendekatkan diri kepada Allah.

# 18
وعَن ابنِ مَسْعُودٍ رضِي اللَّه عَنْهُ ، قَالَ : صلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لَيُلَةً ، فَلَمْ يَزلْ قائماً حتى هَمَمْتُ بِأَمْرٍ سُوءٍ . قَيل : ما هَممْت ؟ قال : هَممْتُ أَنْ أَجْلِس وَأَدعهُ . متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku pernah shalat (malam) bersama Nabi ﷺ pada suatu malam. Beliau terus berdiri (shalat) hingga aku berniat melakukan suatu perbuatan buruk. Ditanyakan: "Apa yang kamu niatkan?" Ia menjawab: "Aku berniat untuk duduk dan meninggalkan beliau (sendirian)." (Muttafaqun 'alaih)

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kesempurnaan dan kekhusyukan shalat Nabi ﷺ, yang berdiri sangat lama hingga memberatkan sahabatnya. Niat buruk Ibnu Mas'ud untuk berhenti mengikuti imam menggambarkan betapa beratnya ujian kesabaran dalam ibadah. Hikmahnya, seorang muslim harus berusaha meneladani ketekunan Nabi dalam beribadah, sekaligus bersabar dan menguatkan diri ketika menghadapi kesulitan di dalamnya.

# 19
وعَنْ حُذيفَهَ رَضِيَ اللَّه عنْهُ ، قَالَ : صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، ذاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَح البقَرَةَ ، فقلتُ : يَرْكَعُ عِنْدَ المِئَةِ ، ثُمَّ مضى ، فقلتُ : يُصَلَّي بها في ركْعَةٍ ، فمَضَى ، فَقُلْتُ : يَرْكَعُ بها ، ثُمَّ افْتَتَح النِّسَاءَ فَقَرأَهَا ، ثُمَّ افْتَتَحَ آل عِمْرَانَ ، فَقَرَأَها ، يَقْرَأُ مُتَرَسِّلاً إِذا مَرَّ بِآيَةِ فِيها تَسْبيحٌ سَبَّحَ ، وَإِذا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ ، وإذا مَرَّ بتَعوَّذ تَعَوَّذَ ، ثُمَّ رَكَعَ ، فجعَل يَقُولُ : سُبْحَانَ ربِّي العظيمِ ، فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْواً مِنْ قِيَامِهِ ، ثُمَّ قال : سمِع اللَّه لمَنْ حَمِدَه ، رَبَّنَا لك الحْمدُ ، ثُمَّ قامَ طَويلاً قَرِيباً مِمَّا ركع ، ثُمَّ سَجد فَقَالَ : سُبْحانَ رَبِّيَ الأَعْلى فَكَانَ سَجُودُهُ قَرِيباً مِنْ قِيَامِهِ . رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Pada suatu malam aku shalat bersama Nabi ﷺ. Beliau mulai membaca surat Al-Baqarah. Aku berpikir, mungkin beliau akan ruku' pada ayat ke-100, tetapi beliau melanjutkan. Aku berpikir lagi, mungkin beliau akan membaca surat ini dalam satu rakaat, tetapi beliau melanjutkan. Setelah selesai surat itu, aku berpikir beliau akan ruku', tetapi beliau justru membaca surat An-Nisa', kemudian Ali 'Imran. Beliau membacanya dengan perlahan. Setiap kali melewati ayat yang berisi tasbih (penyucian Allah), beliau bertasbih. Setiap kali melewati ayat yang berisi permohonan, beliau memohon. Dan setiap kali melewati ayat yang berisi perlindungan, beliau meminta perlindungan. Kemudian beliau ruku' dan membaca: "Subhana Rabbiyal 'Azhim (Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung)". Lama ruku' beliau hampir sama dengan lama berdiri beliau. Kemudian beliau membaca: "Sami'allahu liman hamidah, Rabbana wa lakal hamd (Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya, wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji)." Kemudian beliau berdiri lagi, lamanya hampir sama dengan ruku' tadi. Kemudian beliau sujud dan membaca: "Subhana Rabbiyal A'la (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi)". Dan lama sujud beliau hampir sama dengan lama berdiri beliau. (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan memperpanjang bacaan dalam shalat malam (qiyamul lail), khususnya oleh Nabi ﷺ. Hikmahnya, kita diajarkan untuk membaca Al-Qur'an dengan tartil (perlahan), merenungi maknanya, serta berinteraksi dengan ayat-ayatnya dengan bertasbih, berdoa, dan memohon perlindungan sesuai konteks bacaan. Ini menjadi teladan dalam menghayati kalamullah saat shalat, bukan sekadar membacanya dengan cepat.

# 20
وَعَنْ جابرٍ رضِي اللَّه عنْهُ قَالَ : سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : أَيُّ الصَّلاةِ أَفْضَلُ ؟ قال : « طُولُ القُنُوتِ » . رواه مسلم . المرادُ بِالقنُوتِ : القِيَامُ .
Terjemahan
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ ditanya: "Shalat apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "(Shalat yang) lama berdirinya." (Diriwayatkan oleh Muslim). Yang dimaksud dengan al-qunut di sini adalah berdiri (dalam shalat).

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa keutamaan shalat terletak pada kekhusyukan dan ketenangan dalam menjalankannya, yang tercermin dari lamanya berdiri. "Qunut" di sini berarti berdiri lama dengan penuh penghayatan, bukan sekadar durasi fisik. Ini menekankan bahwa kualitas shalat diukur dari kehadiran hati dan ketundukan kepada Allah, bukan dari panjang atau singkatnya gerakan semata.

# 21
وَعَنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عَمْرو بنِ العَاصِ ، رَضيَ اللَّه عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: « أَحَبُّ الصَّلاةِ إلى اللَّهِ صَلاةُ دَاوُدَ ، وَأَحبُّ الصيامِ إلى اللَّهِ صِيامُ دَاوُدَ ، كانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْل وَيَقُومُ ثُلُثَهُ ويَنَامُ سُدُسَهُ وَيصومُ يَوماً وَيُفطِرُ يَوماً » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalatnya Dawud, dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasanya Dawud. Beliau tidur separuh malam, bangun shalat sepertiganya, dan tidur lagi seperenamnya. Dan beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan keutamaan meneladani ibadah Nabi Dawud yang dicintai Allah, yaitu dengan menjaga keseimbangan dan keberlanjutan (istimrar). Shalat malam dan puasa Dawud dilaksanakan dengan porsi yang moderat, tidak memberatkan, sehingga dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Hikmahnya adalah bahwa ibadah yang konsisten dan tidak berlebihan lebih utama daripada ibadah yang banyak namun cepat ditinggalkan karena kelelahan.

# 22
وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّه عنْهُ قَالَ : سمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقُولُ : « إِنَّ في اللَّيْلِ لَسَاعةً ، لا يُوافقُهَا رَجـُلٌ مُسلِمٌ يسأَلُ اللَّه تعالى خيراً من أمرِ الدُّنيا وَالآخِرِةَ إِلاَّ أَعْطاهُ إِيَّاهُ ، وَذلكَ كلَّ لَيْلَةٍ » رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya di malam hari terdapat suatu waktu, tidaklah seorang muslim memohon kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah Ta'ala pada waktu itu, melainkan Allah akan memberikannya kepadanya. Dan itu terjadi setiap malam." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan kemurahan Allah dan keberkahan waktu malam, khususnya pada sepertiga akhir. Ia mengajarkan bahwa doa adalah senjata utama muslim, dengan syarat ikhlas dan tepat waktu. Ini mendorong kita untuk gigih beribadah di malam hari, optimis bahwa permintaan yang tulus untuk kebaikan dunia-akhirat pasti dikabulkan.

# 23
وَعَنْ أَبي هُريرَةَ رَضِي اللَّه عَنْهُ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : إِذا قَامَ أَحَدُكُمِ مِنَ اللَّيْلِ فَليَفتَتحِ الصَّلاةَ بِركعَتَيْن خَفيفتيْنِ » رواهُ مسلِم .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian bangun (untuk shalat) di malam hari, maka mulailah shalatnya dengan dua rakaat yang ringan." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tata cara memulai shalat malam (tahajud atau qiyamullail). Rasulullah ﷺ menuntunkan agar membuka ibadah malam itu dengan dua rakaat shalat yang ringan dan tidak panjang. Ini bertujuan untuk membuka dan menyiapkan hati sebelum melanjutkan shalat-shalat berikutnya, serta menghindari rasa malas atau berat di awal. Dengan demikian, ibadah dapat dilakukan dengan penuh kekhusyukan dan kelapangan.

# 24
وَعَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّه عَنْها ، قالت : كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذا قام مِن اللَّيْلِ افتَتَحَ صَلاتَهُ بِرَكْعَتَيْن خَفيفَتَيْنِ ، رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Adalah Rasulullah ﷺ apabila bangun (untuk shalat) di malam hari, beliau memulai shalatnya dengan dua rakaat yang ringan. (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan sunnah Nabi ﷺ untuk memulai shalat malam (tahajud atau witir) dengan dua rakaat yang ringan dan singkat. Hal ini bertujuan sebagai pembuka dan pemanasan, agar jiwa dan badan lebih siap sebelum melanjutkan shalat-shalat yang lebih panjang. Dengan demikian, ibadah dapat dilaksanakan dengan khusyuk dan penuh kekhusuan, tidak terburu-buru.

# 25
وعَنْها ، رضِي اللَّه عنْهَا ، قالَتْ : كان رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذا فاتتْهُ الصَّلاةُ من اللَّيل مِنْ وجعٍ أَوْ غيرِهِ ، صَلَّى مِنَ النَّهارِ ثِنَتي عشَرة ركْعَة . رواه مسلِم .
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Adalah Rasulullah ﷺ apabila tertinggal shalat malam karena sakit atau lainnya, beliau shalat di siang hari sebanyak dua belas rakaat. (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan keutamaan shalat malam (tahajud/qiyamullail) dalam Islam. Rasulullah ﷺ sangat menjaga ibadah ini, sehingga jika terlewat karena uzur, beliau menggantinya di siang hari. Hal ini mengajarkan tentang komitmen dan kesungguhan dalam beribadah, serta fleksibilitas syariat dalam memberikan kemudahan bagi yang memiliki halangan.

# 26
وعنْ عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ رَضِي اللَّه عنْهُ ،قَال:قَالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم:«مَنْ نَام عن حِزْبِهِ ، أو عَنْ شْيءٍ مِنهُ ، فَقَرأهُ فِيما بينَ صَلاِةَ الفَجْرِ وصَلاةِ الظُّهْرِ ، كُتِب لهُ كأَنَّما قَرَأَهُ منَ اللَّيْلِ»رواه مسلم .
Terjemahan
Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang tidur dan tidak sempat membaca (hafalan Al-Qur'an) yang biasa dia baca atau sebagiannya, lalu dia membacanya antara shalat subuh dan zhuhur, maka akan dicatat untuknya seolah-olah dia membacanya di malam hari." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan kemudahan dan kasih sayang Allah dalam ibadah. Allah memberikan kelonggaran waktu bagi orang yang tertidur hingga luput dari wirid malamnya. Dengan membaca di antara waktu Subuh dan Zuhur, ia tetap mendapat pahala seperti membacanya di malam hari. Ini mengajarkan untuk tidak putus asa dan selalu berusaha menutup kekurangan dengan taubat dan mengganti ibadah.

# 27
وعَنْ أَبي هُريرة رَضِيَ اللَّه عنْهُ ، قال : قالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « رحِمَ اللَّه رَجُلا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ ، فصلىَّ وأيْقَظَ امرأَتهُ ، فإنْ أَبَتْ نَضحَ في وجْهِهَا الماءَ ، رَحِمَ اللَّهُ امَرَأَةً قَامت مِن اللَّيْلِ فَصلَّتْ ، وأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فإِن أَبي نَضَحَتْ في وجْهِهِ الماءَ » رواهُ أبو داود. بإِسنادِ صحيحٍ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari untuk shalat dan membangunkan istrinya untuk shalat. Jika istrinya enggan, ia memercikkan air sedikit ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang perempuan yang bangun di malam hari untuk shalat dan membangunkan suaminya untuk shalat. Jika suaminya enggan, ia memercikkan air sedikit ke wajahnya." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang sahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya saling menasihati dan membantu dalam ketaatan, khususnya dalam menegakkan shalat malam (tahajud). Suami dan istri diajarkan untuk menjadi mitra spiritual yang saling membangunkan dengan cara yang baik. Percikan air merupakan simbol dorongan yang lembut, bukan kekerasan, agar pasangan segera bangun tanpa menimbulkan rasa sakit atau marah. Intinya, hubungan rumah tangga yang baik adalah yang saling mengingatkan untuk ibadah.

# 28
وَعنْهُ وَعنْ أَبي سَعيدٍ رَضِي اللَّه عنهمَا ، قَالا : قالَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إذا أَيقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللَّيْل فَصَلَّيا أَوْ صَلَّى ركْعَتَينِ جَمِيعاً ، كُتِبَ في الذَّاكرِينَ وَالذَّكِراتِ » رواه أبو داود بإِسناد صحيحٍ .
Terjemahan
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila seorang laki-laki membangunkan istrinya, lalu mereka berdua shalat dua rakaat (pada malam hari), maka keduanya akan dicatat termasuk dalam golongan laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang sahih)

Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan keutamaan shalat malam yang dilakukan bersama suami-istri. Anjuran saling membangunkan menunjukkan pentingnya kerjasama dalam ketaatan dan menciptakan lingkungan rumah tangga yang penuh ibadah. Pahala yang dijanjikan, yaitu dicatat sebagai hamba yang banyak berdzikir, merupakan motivasi untuk konsisten dalam ibadah sunnah. Ini juga mengajarkan bahwa ibadah yang dilakukan berjamaah, sekalipun kecil, memiliki nilai dan keberkahan yang lebih besar.

# 29
وعــن عائِشة رضِيَ اللَّه عَنْها ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « إِذا نَعَس أَحَدُكُمْ في الصَّلاةِ ، فَلْيَرْقُدْ حتى يَذهَب عَنْهُ النَّومُ ، فَإِنَّ أَحدكُمْ إذا صَلى وهو ناعِسٌ ، لَعَلَّهُ يَذهَبُ يَستَغفِرُ فَيَسُبَّ نَفسهُ » متفقٌ عليهِ .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian mengantuk saat shalat, hendaklah ia tidur sampai kantuknya hilang. Karena jika ia shalat dalam keadaan mengantuk, mungkin ia bermaksud memohon ampun kepada Allah, tetapi justru mencela dirinya sendiri."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan: Hadits ini menyarankan untuk tidak memaksakan shalat saat sangat mengantuk, karena dikhawatirkan bacaan atau konsentrasinya salah tanpa disadari, seperti meminta ampun malah menjadi mencela diri.

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya kewaspadaan dan kehadiran hati (khusyuk) dalam ibadah. Shalat yang dikerjakan dalam keadaan sangat mengantuk berisiko mengurangi kekhusyukan dan menimbulkan kekeliruan dalam bacaan. Oleh karena itu, Islam memberikan keringanan untuk tidur sejenak guna mengembalikan kesegaran, agar ibadah dapat dilaksanakan dengan lebih sempurna dan terjaga keabsahannya.

# 30
وَعَنْ أَبي هُرَيرَةَ رَضِي اللَّه عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِذا قَامَ أَحدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَاستعجمَ القُرآنُ على لِسَانِهِ ، فَلَم يَدْرِ ما يقُولُ ، فَلْيضْطَجِعْ » رواه مُسلِمٌ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian bangun shalat malam, lalu bingung dalam bacaannya dan tidak tahu apa yang ia baca (karena mengantuk), hendaklah ia tidur."
(Diriwayatkan oleh Muslim)

Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya kualitas ibadah, khususnya dalam shalat malam dan tilawah Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ mengarahkan agar seseorang yang mengantuk hingga tidak sadar dengan bacaannya segera tidur. Hikmahnya adalah menjaga kesucian dan kehormatan firman Allah dari kelalaian, serta memastikan ibadah dilakukan dengan khusyuk dan kesadaran penuh.