Kitab 9 · Bab 35
Keutamaan salat malam Lailatul Qadr dan penjelasan tentang malam yang diharapkan sebagai malam tersebut.
✦ 9 Hadith ✦
# 1
قال اللَّه تعالى: ﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ*وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ*لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ*تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ*سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ﴾[سورة القدر(1-5)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam Lailatul Qadr (malam yang penuh ketetapan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadr itu? Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Para malaikat dan Jibril turun pada malam itu dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar."
(Al-Qadr: 1-5)
Penjelasan singkat: Surah Al-Qadr menjelaskan keagungan malam Lailatul Qadr, saat Al-Qur'an diturunkan. Malam ini nilainya melebihi seribu bulan, penuh dengan keberkahan, keturunan malaikat, dan keselamatan. Hikmahnya adalah anjuran untuk menghidupkan malam-malam di sepuluh akhir Ramadan dengan ibadah, mengharap rahmat dan pengampunan Allah, serta meraih kebaikan yang luar biasa.
(Al-Qadr: 1-5)
Penjelasan singkat: Surah Al-Qadr menjelaskan keagungan malam Lailatul Qadr, saat Al-Qur'an diturunkan. Malam ini nilainya melebihi seribu bulan, penuh dengan keberkahan, keturunan malaikat, dan keselamatan. Hikmahnya adalah anjuran untuk menghidupkan malam-malam di sepuluh akhir Ramadan dengan ibadah, mengharap rahmat dan pengampunan Allah, serta meraih kebaikan yang luar biasa.
# 2
وقال تعالى: ﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ ﴾[سورة الدخان(3)]
Terjemahan
Allah berfirman: "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada suatu malam yang diberkahi."
(Ad-Dukhan: 3)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan pada malam yang penuh keberkahan (Lailatul Qadar). Hal ini menunjukkan kemuliaan dan keagungan Al-Qur'an, serta waktu turunnya. Pelajaran utamanya adalah agar kita memuliakan Al-Qur'an, membacanya, mempelajari, dan mengamalkannya, khususnya di waktu-waktu yang mustajab seperti malam yang diberkahi.
(Ad-Dukhan: 3)
Penjelasan singkat: Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan pada malam yang penuh keberkahan (Lailatul Qadar). Hal ini menunjukkan kemuliaan dan keagungan Al-Qur'an, serta waktu turunnya. Pelajaran utamanya adalah agar kita memuliakan Al-Qur'an, membacanya, mempelajari, dan mengamalkannya, khususnya di waktu-waktu yang mustajab seperti malam yang diberkahi.
# 3
وَعَنْ أَبي هُريرةَ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ ، عن النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَنْ قام لَيْلَةَ القَدْرِ إِيماناً واحْتِسَاباً ، غُفِر لَهُ ما تقدَّم مِنْ ذنْبِهِ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang menegakkan (shalat) pada malam Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan: Hadits ini menegaskan keutamaan khusus beribadah pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan pengharapan, yang ganjarannya adalah pengampunan dosa.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar malam Lailatul Qadr. Ibadah pada malam itu, seperti shalat, tilawah, atau dzikir, yang dilandasi keimanan dan hanya mengharap pahala Allah (ikhlas), akan menghapus semua dosa yang telah lalu. Ini menjadi motivasi untuk bersungguh-sungguh mencari dan menghidupkan malam kemuliaan tersebut dengan amal shaleh.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan: Hadits ini menegaskan keutamaan khusus beribadah pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan pengharapan, yang ganjarannya adalah pengampunan dosa.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan besar malam Lailatul Qadr. Ibadah pada malam itu, seperti shalat, tilawah, atau dzikir, yang dilandasi keimanan dan hanya mengharap pahala Allah (ikhlas), akan menghapus semua dosa yang telah lalu. Ini menjadi motivasi untuk bersungguh-sungguh mencari dan menghidupkan malam kemuliaan tersebut dengan amal shaleh.
# 4
وعن ابنِ عُمر رضِيَ اللَّه عَنهما أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، أُرُوا ليْلَةَ القَدْرِ في المنَامِ في السَّبْعِ الأَواخِرِ ، فَقال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَرى رُؤيَاكُمْ قَدْ تَواطَأَتْ في السَّبْعِ الأَوَاخِرِ ، فَمَنْ كَانَ مُتحَرِّيهَا ، فَلْيَتَحرَّهَآ في السبْعِ الأَواخِرِ » متُفقٌ عليهِ .
Terjemahan
Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Sesungguhnya beberapa orang sahabat Nabi ﷺ diperlihatkan dalam mimpi bahwa Lailatul Qadr berada pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku melihat mimpi-mimpi kalian banyak yang sama, yaitu (terjadi) pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan. Maka barangsiapa yang ingin mencarinya (Lailatul Qadr), hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir bulan ini."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menguatkan anjuran untuk lebih bersungguh-sungguh beribadah pada tujuh malam terakhir Ramadhan, karena besar kemungkinan Lailatul Qadr berada di dalamnya. Mimpi para sahabat yang saling menguatkan, lalu dibenarkan oleh Nabi ﷺ, menunjukkan bahwa hal itu merupakan petunjuk dan dorongan dari Allah. Pelajaran utamanya adalah kita harus optimis dan meningkatkan usaha (ihtiar) pada waktu-waktu yang dijanjikan keberkahan, meskipun kepastiannya tetap menjadi rahasia Allah.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menguatkan anjuran untuk lebih bersungguh-sungguh beribadah pada tujuh malam terakhir Ramadhan, karena besar kemungkinan Lailatul Qadr berada di dalamnya. Mimpi para sahabat yang saling menguatkan, lalu dibenarkan oleh Nabi ﷺ, menunjukkan bahwa hal itu merupakan petunjuk dan dorongan dari Allah. Pelajaran utamanya adalah kita harus optimis dan meningkatkan usaha (ihtiar) pada waktu-waktu yang dijanjikan keberkahan, meskipun kepastiannya tetap menjadi rahasia Allah.
# 5
وعنْ عائِشَةَ رَضِيَ اللَّه عنْهَا ، قَالَتْ : كانَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُجاوِزُ في العَشْـرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رمضَانَ ، ويَقُول : « تحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في العشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضانَ» متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ biasa bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan (melebihi kesungguhan di malam lainnya), dan beliau bersabda: "Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan."
(Muttafaqun 'alaih)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan waktu utama untuk mencari Lailatul Qadr, yaitu pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Nabi Muhammad ﷺ memberikan contoh dengan meningkatkan intensitas ibadah pada malam-malam tersebut. Hikmahnya adalah agar umat Islam bersemangat dan konsisten dalam beribadah, khususnya di akhir Ramadhan, untuk meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan.
(Muttafaqun 'alaih)
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan dan waktu utama untuk mencari Lailatul Qadr, yaitu pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Nabi Muhammad ﷺ memberikan contoh dengan meningkatkan intensitas ibadah pada malam-malam tersebut. Hikmahnya adalah agar umat Islam bersemangat dan konsisten dalam beribadah, khususnya di akhir Ramadhan, untuk meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan.
# 6
وَعَنْها رَضِيَ اللَّه عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « تَحرّوْا لَيْلةَ القَدْرِ في الوتْـرِ من العَشْرِ الأَواخِرِ منْ رمَضَانَ » رواهُ البخاريُّ .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini memberikan panduan praktis untuk mencari Lailatul Qadr, yaitu pada malam-malam ganjil (seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29) di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ini menunjukkan anjuran untuk lebih bersungguh-sungguh (i'tikaf, shalat, dan doa) pada waktu-waktu tersebut. Petunjuk yang spesifik ini adalah bentuk rahmat Allah agar umat lebih mudah meraih keutamaan malam yang lebih baik dari seribu bulan.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini memberikan panduan praktis untuk mencari Lailatul Qadr, yaitu pada malam-malam ganjil (seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29) di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ini menunjukkan anjuran untuk lebih bersungguh-sungguh (i'tikaf, shalat, dan doa) pada waktu-waktu tersebut. Petunjuk yang spesifik ini adalah bentuk rahmat Allah agar umat lebih mudah meraih keutamaan malam yang lebih baik dari seribu bulan.
# 7
وعَنْهَا رَضَيَ اللَّه عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ رسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إِذا دَخَلَ العَشْرُ الأَوَاخِرُ مِنْ رمَضَانَ ، أَحْيا اللَّيْلَ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَه ، وجَدَّ وَشَدَّ المِئزرَ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Adalah Rasulullah ﷺ: "Apabila memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya (dengan ibadah), membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikat pinggangnya (menjauhi hubungan suami-istri untuk lebih fokus beribadah)."
(Muttafaqun 'alaih)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang puncak kesungguhan ibadah di bulan Ramadhan. Rasulullah ﷺ memberikan teladan dengan meningkatkan intensitas ibadah pada sepuluh malam terakhir, yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadr. Beliau menghidupkan malam dengan shalat dan dzikir, membangunkan keluarga untuk turut serta, serta mengencangkan ikat pinggang (menjauhi hubungan suami-istri) sebagai simbol fokus total dan keseriusan dalam meraih keutamaan malam-malam tersebut.
(Muttafaqun 'alaih)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang puncak kesungguhan ibadah di bulan Ramadhan. Rasulullah ﷺ memberikan teladan dengan meningkatkan intensitas ibadah pada sepuluh malam terakhir, yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadr. Beliau menghidupkan malam dengan shalat dan dzikir, membangunkan keluarga untuk turut serta, serta mengencangkan ikat pinggang (menjauhi hubungan suami-istri) sebagai simbol fokus total dan keseriusan dalam meraih keutamaan malam-malam tersebut.
# 8
وَعَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَجْتَهِدُ فِي رَمضانَ مَالا يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ، وفي العَشْرِ الأَوَاخِرِ منْه ، مَالا يَجْتَهدُ في غَيْرِهِ » رواهُ مسلمٌ .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Adalah Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh (dalam beribadah) pada bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di bulan lainnya. Dan pada sepuluh malam terakhirnya, beliau bersungguh-sungguh melebihi kesungguhan beliau di hari-hari lainnya."
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang keutamaan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah secara bertahap sesuai dengan keagungan waktu. Rasulullah ﷺ memberikan teladan untuk memanfaatkan momentum spiritual, seperti Ramadhan dan terutama sepuluh malam terakhirnya, dengan kesungguhan ekstra. Hikmahnya adalah agar seorang muslim bersemangat dalam ketaatan dan menyambut waktu-waktu utama dengan amal yang lebih banyak, mengejar pahala dan Lailatul Qadar.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan tentang keutamaan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah secara bertahap sesuai dengan keagungan waktu. Rasulullah ﷺ memberikan teladan untuk memanfaatkan momentum spiritual, seperti Ramadhan dan terutama sepuluh malam terakhirnya, dengan kesungguhan ekstra. Hikmahnya adalah agar seorang muslim bersemangat dalam ketaatan dan menyambut waktu-waktu utama dengan amal yang lebih banyak, mengejar pahala dan Lailatul Qadar.
# 9
وَعَنْهَا قَالَتْ : قُلْتُ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِن عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ ما أَقُولُ فيها ؟ قَالَ : « قُولي : اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العفْوَ فاعْفُ عنِّي » رواهُ التِرْمذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ صحيحٌ .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha juga, ia berkata: Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku tahu malam mana yang merupakan Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca?" Beliau menjawab: "Bacalah:
'Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni'
(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Maaf, Engkau menyukai pemberian maaf, maka maafkanlah aku)."
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia mengatakan hadits ini hasan sahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan doa utama pada Lailatul Qadr, yaitu memohon ampunan. Lafaz doanya singkat namun mencakup pengakuan bahwa Allah Maha Pemaaf dan menyukai sifat pemaaf. Intinya, hikmah terbesar di malam mulia itu adalah mendekat kepada Allah dengan memohon maghfirah-Nya, bukan sekadar menghitung keutamaannya. Ini menunjukkan bahwa esensi ibadah adalah ketundukan dan pengharapan ampunan Ilahi.
'Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni'
(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Maaf, Engkau menyukai pemberian maaf, maka maafkanlah aku)."
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia mengatakan hadits ini hasan sahih)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan doa utama pada Lailatul Qadr, yaitu memohon ampunan. Lafaz doanya singkat namun mencakup pengakuan bahwa Allah Maha Pemaaf dan menyukai sifat pemaaf. Intinya, hikmah terbesar di malam mulia itu adalah mendekat kepada Allah dengan memohon maghfirah-Nya, bukan sekadar menghitung keutamaannya. Ini menunjukkan bahwa esensi ibadah adalah ketundukan dan pengharapan ampunan Ilahi.