Kitab 9 · Bab 36
Keutamaan menggunakan siwak (kayu khusus untuk membersihkan gigi) dan sifat-sifat kebersihan.
✦ 10 Hadith ✦
# 1
عَنْ أَبي هُريرَةَ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : « لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلى أُمَّتي ¬ أَوْ عَلى الناس ¬ لأمرْتُهُمْ بِالسِّواكِ معَ كلِّ صلاةٍ » متفقٌ عليه .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: "Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak (menggosok gigi dengan kayu siwak) setiap kali akan shalat."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan: Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya kebersihan mulut dan kesegaran nafas saat menghadap Allah dalam shalat, serta perhatian Nabi yang besar terhadap kemudahan bagi umatnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan bersiwak, terutama saat akan shalat, sebagai bentuk menjaga kebersihan dan kesegaran saat menghadap Allah. Nabi Muhammad ﷺ tidak memerintahkannya secara wajib karena sikap beliau yang penuh kasih dan tidak ingin memberatkan umatnya. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga kemudahan dalam beribadah serta anjuran kuat (sunnah mu'akkadah) untuk bersiwak.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan: Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya kebersihan mulut dan kesegaran nafas saat menghadap Allah dalam shalat, serta perhatian Nabi yang besar terhadap kemudahan bagi umatnya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan bersiwak, terutama saat akan shalat, sebagai bentuk menjaga kebersihan dan kesegaran saat menghadap Allah. Nabi Muhammad ﷺ tidak memerintahkannya secara wajib karena sikap beliau yang penuh kasih dan tidak ingin memberatkan umatnya. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga kemudahan dalam beribadah serta anjuran kuat (sunnah mu'akkadah) untuk bersiwak.
# 2
وَعنْ حُذيفَةَ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ ، قال : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذا قَامَ مِنَ النَّومِ يَشُوصُ فَاهُ بالسِّواكِ . متفقٌ عليه .
«الشَّوْص » : الدَّلكُ »
Terjemahan
Dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Adalah Rasulullah ﷺ apabila bangun dari tidur (malam), beliau menggosok mulutnya dengan siwak."
(Muttafaqun 'alaih)
"Asy-Syausu" artinya adalah menggosok (membersihkan).
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya menjaga kebersihan mulut, khususnya saat bangun tidur, sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah dan adab seorang Muslim. Perbuatan Nabi ﷺ ini mengandung hikmah kesehatan, yaitu membersihkan mulut dari bakteri yang berkembang selama tidur. Selain itu, penggunaan siwak juga bernilai sunnah dan mendatangkan pahala, menunjukkan bahwa Islam memperhatikan kebersihan sebagai bagian dari keimanan.
(Muttafaqun 'alaih)
"Asy-Syausu" artinya adalah menggosok (membersihkan).
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya menjaga kebersihan mulut, khususnya saat bangun tidur, sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah dan adab seorang Muslim. Perbuatan Nabi ﷺ ini mengandung hikmah kesehatan, yaitu membersihkan mulut dari bakteri yang berkembang selama tidur. Selain itu, penggunaan siwak juga bernilai sunnah dan mendatangkan pahala, menunjukkan bahwa Islam memperhatikan kebersihan sebagai bagian dari keimanan.
# 3
وَعَنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّه عَنْهَا قَالَتْ : كنَّا نُعِدُّ لرسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّه مَا شَاءَ أَن يبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ ، فَيتسَوَّكُ ، وَيَتَوَضَّأُ ويُصَلِّي » رواهُ مُسلمٌ .
Terjemahan
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Kami biasa menyiapkan siwak dan air wudhu untuk Rasulullah ﷺ. Lalu Allah membangunkan beliau pada waktu malam yang dikehendaki-Nya, maka beliau pun bersiwak, berwudhu, dan shalat.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya persiapan dan kesiapan fisik untuk ibadah. Dengan menyiapkan siwak dan air wudhu sebelumnya, Rasulullah ﷺ memudahkan dirinya untuk segera melaksanakan shalat malam saat terbangun. Ini menunjukkan keutamaan bersiwak (kebersihan mulut) dan menjaga kesucian, serta anjuran untuk memanfaatkan waktu malam untuk beribadah dengan penuh semangat dan tanpa penundaan.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan pentingnya persiapan dan kesiapan fisik untuk ibadah. Dengan menyiapkan siwak dan air wudhu sebelumnya, Rasulullah ﷺ memudahkan dirinya untuk segera melaksanakan shalat malam saat terbangun. Ini menunjukkan keutamaan bersiwak (kebersihan mulut) dan menjaga kesucian, serta anjuran untuk memanfaatkan waktu malam untuk beribadah dengan penuh semangat dan tanpa penundaan.
# 4
وعنْ أَنسٍ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « أَكثَرْتُ عَليكُمْ في السِّوَاكِ » رواهُ البُخاريُّ .
Terjemahan
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku telah banyak menyebutkan (keutamaan) siwak kepada kalian."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya penggunaan siwak dalam Islam. Nabi Muhammad ﷺ berulang kali menganjurkannya, menandakan bahwa hal ini bukan sekadar kebiasaan biasa, tetapi termasuk perkara yang sangat ditekankan (sunnah mu'akkadah). Anjuran yang berulang ini mengisyaratkan besarnya keutamaan siwak, baik dari segi kebersihan, kesehatan, maupun sebagai ibadah yang mendatangkan keridhaan Allah.
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya penggunaan siwak dalam Islam. Nabi Muhammad ﷺ berulang kali menganjurkannya, menandakan bahwa hal ini bukan sekadar kebiasaan biasa, tetapi termasuk perkara yang sangat ditekankan (sunnah mu'akkadah). Anjuran yang berulang ini mengisyaratkan besarnya keutamaan siwak, baik dari segi kebersihan, kesehatan, maupun sebagai ibadah yang mendatangkan keridhaan Allah.
# 5
وعَنْ شُرَيحِ بنِ هانِيءٍ قَالَ : قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّه عنْهَا : بأَيِّ شيءٍ كَان يَبْدَأُ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم إِذا دَخَلَ بَيْتَهُ ، قَالَتْ : بِالسِّوَاكِ ، روَاهُ مُسْلِمٌ .
Terjemahan
Dari Syuraih bin Hani, ia berkata: Aku bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha: "Apakah yang pertama kali dilakukan Rasulullah ﷺ ketika memasuki rumahnya?" Ia menjawab: "Bersiwak."
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa Nabi ﷺ memulai aktivitas di rumah dengan bersiwak, yang menekankan pentingnya menjaga kebersihan mulut dan kesegaran badan. Hal ini menunjukkan bahwa kebersihan, terutama kebersihan mulut, adalah bagian dari kesempurnaan ibadah dan adab seorang Muslim. Selain itu, tindakan ini juga mencerminkan sikap menghormati anggota keluarga dan menciptakan suasana yang menyenangkan dalam rumah tangga.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini mengajarkan bahwa Nabi ﷺ memulai aktivitas di rumah dengan bersiwak, yang menekankan pentingnya menjaga kebersihan mulut dan kesegaran badan. Hal ini menunjukkan bahwa kebersihan, terutama kebersihan mulut, adalah bagian dari kesempurnaan ibadah dan adab seorang Muslim. Selain itu, tindakan ini juga mencerminkan sikap menghormati anggota keluarga dan menciptakan suasana yang menyenangkan dalam rumah tangga.
# 6
وَعَنْ أَبي موسَى الأشعَرِيِّ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ ، قَاَل: دَخَلت عَلى النَّبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وطرَفُ السوَاكِ على لِسانِهِ . مُتَّفَقٌ عليهِ ، وهذا لَفْظُ مُسلِمٍ .
Terjemahan
Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku menemui Nabi ﷺ dan ujung siwak berada di lidah beliau.
(Muttafaqun 'alaih, ini adalah lafaz Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya bersiwak (membersihkan gigi dan mulut) dalam Islam, hingga menjadi kebiasaan rutin Nabi ﷺ. Posisi siwak di lidah beliau saat menerima tamu menegaskan kesegaran mulut adalah bagian dari kesempurnaan ibadah dan adab sehari-hari. Hal ini mengajarkan umat untuk selalu menjaga kebersihan dan kesegaran mulut, yang juga bernilai pahala dan meneladani sunnah Rasul.
(Muttafaqun 'alaih, ini adalah lafaz Muslim)
Penjelasan singkat: Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya bersiwak (membersihkan gigi dan mulut) dalam Islam, hingga menjadi kebiasaan rutin Nabi ﷺ. Posisi siwak di lidah beliau saat menerima tamu menegaskan kesegaran mulut adalah bagian dari kesempurnaan ibadah dan adab sehari-hari. Hal ini mengajarkan umat untuk selalu menjaga kebersihan dan kesegaran mulut, yang juga bernilai pahala dan meneladani sunnah Rasul.
# 7
وعنْ عائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْها ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « السِّواكُ مَطهَرةٌ للفَمِ مرْضَاةٌ للرَّبِّ » رواهُ النَّسائيُّ ، وابنُ خُزَيمةَ في صحيحهِ بأَسانيد صحيحةٍ .
وذكـر البخاريُّ رحمه اللَّه في صحيحهِ هذا الحديث تعليقا بصيغةِ الجزمِ فقال : وقالت عائشةُ رضي اللَّهُ عنها .
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siwak itu membersihkan mulut dan diridhai oleh Tuhan." Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya dengan sanad-sanad yang shahih.
Dan Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits ini dalam Shahihnya secara mu'allaq dengan bentuk jazm (kata kerja pasti), beliau berkata: Dan Aisyah radhiyallahu 'anha berkata.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan bersiwak dengan dua keistimewaan utama. Pertama, ia memiliki manfaat duniawi sebagai pembersih mulut. Kedua, ia bernilai ibadah yang mendatangkan keridhaan Allah. Penyebutannya dalam kitab hadis utama seperti Shahih Bukhari (secara mu'allaq) dan Shahih Ibnu Khuzaimah memperkuat kedudukannya. Dengan demikian, sunnah ini mengajarkan bahwa menjaga kebersihan fisik adalah bagian dari kesempurnaan ibadah dan jalan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Dan Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits ini dalam Shahihnya secara mu'allaq dengan bentuk jazm (kata kerja pasti), beliau berkata: Dan Aisyah radhiyallahu 'anha berkata.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan keutamaan bersiwak dengan dua keistimewaan utama. Pertama, ia memiliki manfaat duniawi sebagai pembersih mulut. Kedua, ia bernilai ibadah yang mendatangkan keridhaan Allah. Penyebutannya dalam kitab hadis utama seperti Shahih Bukhari (secara mu'allaq) dan Shahih Ibnu Khuzaimah memperkuat kedudukannya. Dengan demikian, sunnah ini mengajarkan bahwa menjaga kebersihan fisik adalah bagian dari kesempurnaan ibadah dan jalan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
# 8
وعَنْ أَبي هُريرةَ رضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ : « الفِطرةُ خَمسٌ ، أَوْ خمْسٌ مِنَ الفِطرةِ : الخِتان ، وَالاسْتِحْدَادُ ، وَتقلِيمُ الأَظفَارِ ، ونَتف الإِبِطِ ، وقَصُّ الشَّارِبِ » مُتفقٌ عليه .
الاسْتِحْدَادُ : حلْقُ العَانَةِ ، وهُو حَلقُ الشعْرِ الذي حَوْلَ الفرْجِ .
Terjemahan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Fithrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan memendangkan kumis." Muttafaqun 'alaih.
Al-Istihdad: Mencukur bulu kemaluan, yaitu mencukur rambut yang berada di sekitar kemaluan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan lima sunnah fitrah yang merupakan bagian dari kebersihan jasmani dan kesempurnaan penciptaan manusia. Perintah ini menekankan pentingnya menjaga kebersihan pribadi dan keindahan lahiriah sebagai cerminan kesucian batin dan ketaatan kepada Allah. Praktik-praktik tersebut juga mengandung nilai kesehatan dan menjadi pembeda identitas seorang muslim.
Al-Istihdad: Mencukur bulu kemaluan, yaitu mencukur rambut yang berada di sekitar kemaluan.
Penjelasan singkat: Hadis ini menjelaskan lima sunnah fitrah yang merupakan bagian dari kebersihan jasmani dan kesempurnaan penciptaan manusia. Perintah ini menekankan pentingnya menjaga kebersihan pribadi dan keindahan lahiriah sebagai cerminan kesucian batin dan ketaatan kepada Allah. Praktik-praktik tersebut juga mengandung nilai kesehatan dan menjadi pembeda identitas seorang muslim.
# 9
وعَنْ عائِشة رضيَ اللَّه عنْهَا قَالَتْ : قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « عَشرٌ مِنَ الفِطرَةِ: قَصُّ الشَّارِبِ ، وإِعفَاءُ اللِّحْيَةِ ، وَالسِّوَاكُ ، واسْتِنشَاقُ الماءِ ، وقَصُّ الأَظفَارِ ، وغَسلُ البَرَاجِمِ ، وَنَتفُ الإِبطِ ، وَحلقُ العانَة ، وانتِقاصُ المَاءِ » قال الرَّاوي : ونسِيتُ العاشِرة إِلاَّ أَن تَكون المَضمضَةُ ، قالَ وَكيعٌ ¬ وَهُوَ أَحَدُ روَاتِهِ ¬ : انتِقَاصُ الماءِ ، يَعني: الاسْتِنْجاءَ . رَواهُ مُسلِمٌ .
« البَراجِمُ » بالباءِ الموحدةِ والجيم ، وهي : « عُقَدُ الأَصَابِعِ » . « وَإِعْفَاءُ اللَّحْيَةِ » مَعْنَاهُ: لا يقُص مِنْهَا شَيئاً
Terjemahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sepuluh hal termasuk fithrah: memendangkan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (memasukkan air ke hidung), memotong kuku, mencuci ruas-ruas jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, dan istinja' (cebok dengan air)." Perawi berkata: Aku lupa yang kesepuluh kecuali mungkin berkumur-kumur. Waki' -salah seorang perawinya- berkata: "Intiqashul maa' (mengurangi air) maksudnya adalah istinja'." Diriwayatkan oleh Muslim.
"Al-Barajim" dengan ba' dan jim, artinya: "Buku-buku jari." "Dan memelihara jenggot" artinya: Tidak memotong sedikitpun darinya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan penampilan lahiriah sebagai bagian integral dari kesempurnaan fitrah (sifat asal) manusia. Perintah-perintah di dalamnya, seperti merapikan kumis dan jenggot serta membersihkan bagian tubuh tertentu, bertujuan untuk membentuk kepribadian muslim yang rapi, bersih, dan sehat. Dengan demikian, ibadah tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga mencakup perhatian terhadap kebersihan jasmani.
"Al-Barajim" dengan ba' dan jim, artinya: "Buku-buku jari." "Dan memelihara jenggot" artinya: Tidak memotong sedikitpun darinya.
Penjelasan singkat: Hadis ini menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan penampilan lahiriah sebagai bagian integral dari kesempurnaan fitrah (sifat asal) manusia. Perintah-perintah di dalamnya, seperti merapikan kumis dan jenggot serta membersihkan bagian tubuh tertentu, bertujuan untuk membentuk kepribadian muslim yang rapi, bersih, dan sehat. Dengan demikian, ibadah tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga mencakup perhatian terhadap kebersihan jasmani.
# 10
وَعَن ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّه عَنْهُمَا ، عن النَّبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : « أَحْفُوا الشَّوارِبَ وأَعْفُوا اللِّحَى » مُتفقُ عليهِ .
Terjemahan
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Cukurlah habis kumis dan peliharalah jenggot." Muttafaqun 'alaih.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dalam menjaga penampilan fisik yang menjadi pembeda antara muslim dan non-muslim. Perintah memendekkan kumis dan memanjangkan jenggot mengandung hikmah untuk menampilkan wajah yang bersih sekaligus menjaga fitrah penciptaan manusia. Dengan mengikuti petunjuk ini, seorang muslim menunjukkan ketaatan dan identitas keislamannya secara lahiriah.
Penjelasan singkat: Hadis ini menegaskan sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dalam menjaga penampilan fisik yang menjadi pembeda antara muslim dan non-muslim. Perintah memendekkan kumis dan memanjangkan jenggot mengandung hikmah untuk menampilkan wajah yang bersih sekaligus menjaga fitrah penciptaan manusia. Dengan mengikuti petunjuk ini, seorang muslim menunjukkan ketaatan dan identitas keislamannya secara lahiriah.